KJ
Di Dalam Kristus Bertemu
In Christ There is No East Or West
Informasi Lagu
259
Nomor
Kode
KJ 259
Buku
Kidung Jemaat
Metronom
86
Style
Live8Beat
Cross Ref.
KK 572
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Di dalam Kristus bertemu seluruh dunia;
terpadu umat Penebus di dalam kasihNya.
Semua hati terlebur di dalam TubuhNya,
berkarya akrab dan tekun di pelayananNya.
Bergandeng tanganlah erat apapun bangsamu:
pengabdi Bapa yang kudus, tentulah kawanku.
Di dalam Kristus bertemu seluruh dunia;
cerminan kasih Penebus umatNya yang esa.
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"In Christ There Is No East or West"** (atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan judul **"Di Dalam Kristus Bertemu"**) adalah salah satu himne Kristen yang paling berpengaruh dalam mengusung pesan persatuan, kesetaraan, dan persaudaraan lintas batas budaya dan ras.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu ini:
### 1. Penulis Lirik: John Oxenham
Lirik lagu ini ditulis oleh **John Oxenham** (nama pena dari William Arthur Dunkerley, 1852–1941). Oxenham adalah seorang penulis novel dan penyair asal Inggris yang sangat produktif.
Ia menulis lirik ini pada tahun **1908**. Saat itu, dunia sedang berada dalam masa ketegangan sosial dan imperialisme yang tinggi. Oxenham tergerak oleh keyakinan bahwa kekristenan seharusnya tidak terkotak-kotak oleh batas geografis, budaya, atau ras. Baginya, Injil adalah pesan universal yang meruntuhkan tembok pemisah.
Lirik yang ia tulis bukan hanya sebuah nyanyian gerejawi, melainkan sebuah pernyataan iman yang radikal bagi zamannya—di mana segregasi rasial masih sangat kental di banyak belahan dunia.
### 2. Komposer Musik: Alexander Robert Reinagle
Melodi yang paling umum digunakan untuk lagu ini diambil dari gubahan **Alexander Robert Reinagle** (1799–1877), seorang musisi dan komposer asal Inggris.
Melodi ini sebenarnya bukan ditulis khusus untuk lirik Oxenham. Musik aslinya berjudul **"St. Peter"**, yang dikarang oleh Reinagle pada tahun 1836. Awalnya, musik ini sering digunakan untuk mengiringi mazmur atau himne lain. Baru kemudian, para penyunting buku nyanyian gereja (hymnal) menjodohkan melodi *St. Peter* yang tenang, megah, namun sederhana ini dengan lirik karya John Oxenham. Perpaduan ini menjadi sangat populer karena melodi tersebut dianggap sangat selaras dengan pesan persatuan yang disampaikan oleh liriknya.
### 3. Makna Teologis dan Sosial
Lirik lagu ini menyampaikan pesan yang sangat kuat:
* **"Di dalam Kristus tidak ada Timur atau Barat"**: Mengacu pada bagaimana iman mengabaikan orientasi geografis.
* **"Di dalam-Nya tidak ada Selatan atau Utara"**: Mengacu pada penghapusan perbedaan asal-usul.
* **"Satu keluarga di dalam kasih"**: Inti dari lagu ini adalah bahwa semua orang percaya adalah satu keluarga, terlepas dari warna kulit, budaya, atau kebangsaan.
Pada awal abad ke-20, pesan ini sangat menantang karena banyak gereja saat itu masih terpisah-pisah berdasarkan ras atau kelas sosial. Lagu ini menjadi "himne penggerak" bagi gerakan ekumenisme—gerakan untuk menyatukan berbagai denominasi dan suku bangsa dalam satu tubuh Kristus.
### 4. Pengaruh Lagu dalam Sejarah
Lagu ini sering dinyanyikan dalam pertemuan-pertemuan internasional, konferensi perdamaian, dan peristiwa di mana persatuan lintas budaya diperlukan. Salah satu momen yang sangat ikonik adalah saat lagu ini dinyanyikan untuk merayakan berakhirnya masa apartheid di Afrika Selatan, atau dalam berbagai acara solidaritas kemanusiaan.
### 5. Versi Bahasa Indonesia
Dalam buku nyanyian gereja di Indonesia, seperti *Kidung Jemaat* (KJ) nomor 445, lagu ini diterjemahkan dengan judul **"Di Dalam Kristus Bertemu"**. Terjemahannya tetap setia pada pesan asli Oxenham, menekankan bahwa "yang terpencar disatukan dalam kasih-Nya" dan "kasih-Nya meruntuhkan tembok pemisah".
### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **"pertemuan"**. John Oxenham memberikan visi tentang dunia yang bersatu dalam Kristus, sementara Alexander Reinagle memberikan "kendaraan" musik yang abadi bagi visi tersebut. Hingga hari ini, lagu ini tetap menjadi pengingat bahwa di hadapan Tuhan, sekat-sekat manusiawi yang kita ciptakan sendiri sebenarnya tidak ada artinya.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu ini:
### 1. Penulis Lirik: John Oxenham
Lirik lagu ini ditulis oleh **John Oxenham** (nama pena dari William Arthur Dunkerley, 1852–1941). Oxenham adalah seorang penulis novel dan penyair asal Inggris yang sangat produktif.
Ia menulis lirik ini pada tahun **1908**. Saat itu, dunia sedang berada dalam masa ketegangan sosial dan imperialisme yang tinggi. Oxenham tergerak oleh keyakinan bahwa kekristenan seharusnya tidak terkotak-kotak oleh batas geografis, budaya, atau ras. Baginya, Injil adalah pesan universal yang meruntuhkan tembok pemisah.
Lirik yang ia tulis bukan hanya sebuah nyanyian gerejawi, melainkan sebuah pernyataan iman yang radikal bagi zamannya—di mana segregasi rasial masih sangat kental di banyak belahan dunia.
### 2. Komposer Musik: Alexander Robert Reinagle
Melodi yang paling umum digunakan untuk lagu ini diambil dari gubahan **Alexander Robert Reinagle** (1799–1877), seorang musisi dan komposer asal Inggris.
Melodi ini sebenarnya bukan ditulis khusus untuk lirik Oxenham. Musik aslinya berjudul **"St. Peter"**, yang dikarang oleh Reinagle pada tahun 1836. Awalnya, musik ini sering digunakan untuk mengiringi mazmur atau himne lain. Baru kemudian, para penyunting buku nyanyian gereja (hymnal) menjodohkan melodi *St. Peter* yang tenang, megah, namun sederhana ini dengan lirik karya John Oxenham. Perpaduan ini menjadi sangat populer karena melodi tersebut dianggap sangat selaras dengan pesan persatuan yang disampaikan oleh liriknya.
### 3. Makna Teologis dan Sosial
Lirik lagu ini menyampaikan pesan yang sangat kuat:
* **"Di dalam Kristus tidak ada Timur atau Barat"**: Mengacu pada bagaimana iman mengabaikan orientasi geografis.
* **"Di dalam-Nya tidak ada Selatan atau Utara"**: Mengacu pada penghapusan perbedaan asal-usul.
* **"Satu keluarga di dalam kasih"**: Inti dari lagu ini adalah bahwa semua orang percaya adalah satu keluarga, terlepas dari warna kulit, budaya, atau kebangsaan.
Pada awal abad ke-20, pesan ini sangat menantang karena banyak gereja saat itu masih terpisah-pisah berdasarkan ras atau kelas sosial. Lagu ini menjadi "himne penggerak" bagi gerakan ekumenisme—gerakan untuk menyatukan berbagai denominasi dan suku bangsa dalam satu tubuh Kristus.
### 4. Pengaruh Lagu dalam Sejarah
Lagu ini sering dinyanyikan dalam pertemuan-pertemuan internasional, konferensi perdamaian, dan peristiwa di mana persatuan lintas budaya diperlukan. Salah satu momen yang sangat ikonik adalah saat lagu ini dinyanyikan untuk merayakan berakhirnya masa apartheid di Afrika Selatan, atau dalam berbagai acara solidaritas kemanusiaan.
### 5. Versi Bahasa Indonesia
Dalam buku nyanyian gereja di Indonesia, seperti *Kidung Jemaat* (KJ) nomor 445, lagu ini diterjemahkan dengan judul **"Di Dalam Kristus Bertemu"**. Terjemahannya tetap setia pada pesan asli Oxenham, menekankan bahwa "yang terpencar disatukan dalam kasih-Nya" dan "kasih-Nya meruntuhkan tembok pemisah".
### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **"pertemuan"**. John Oxenham memberikan visi tentang dunia yang bersatu dalam Kristus, sementara Alexander Reinagle memberikan "kendaraan" musik yang abadi bagi visi tersebut. Hingga hari ini, lagu ini tetap menjadi pengingat bahwa di hadapan Tuhan, sekat-sekat manusiawi yang kita ciptakan sendiri sebenarnya tidak ada artinya.
Cross Reference
KK 572
Di Dalam Kristus Bertemu
KK
Sama Tema
Gereja dan Kerajaan Allah
Sungguh, Kerajaan Allah di Bumi Tak Kalah
KJ
Yesuslah Raja yang Menang
KJ
Yesuslah Raja yang Menang
KJ
Serikat Persaudaraan
KJ
Allahmu Benteng yang Teguh
KJ
Allahmu Benteng yang Teguh
KJ
Maju, Berjuanglah Terus
KJ
Batu Penjuru Gereja
KJ
Majulah, Majulah
KJ
Kristus, Penolong Umat yang Percaya
KJ
Di Seluruh Dunia
KJ
Kita Satu di Dalam Tuhan
KJ
Aku Gereja, Kau Pun Gereja
KJ
Satu Tubuh Kita
KJ
Dalam Dunia Penuh Kerusuhan
KJ
Yerusalem, Mulia dan Kudus
KJ