KJ
Gapuramu Lapangkanlah
Macht hoch die Tur, die Tor macht weit
Informasi Lagu
87
Nomor
Do = F
Nada Dasar
Kode
KJ 87
Buku
Kidung Jemaat
Nada Dasar
Do = F
Ketukan
6/4 ketuk
Metronom
144
Jumlah Bait
5 bait
Style
FinalWaltz, 105
Pencipta Lagu
Georg Weissel (1623)
Penerjemah
Yamuger (1980)
Asal Usul
Kitab Frey linghausen, 1704
Cross Ref.
MK 14, BE 38, KK 153, PS 449
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
5 bait
Gapuramu lapangkanlah menyambut Raja mulia,
Sang Maharaja semesta dan Juruslamat dunia;
Sejahtera dibawaNya. Dengan meriah nyanyilah,
"Terpuji Penebus, Gembala yang kudus."
Benar dan adil hukumNya, dan rahmat lambang kuasaNya!
MahkotaNya kekal kudus, wahanaNya lemah lembut.
Berakhirlah keluh kesah. Dengan meriah soraklah,
"Terpuji Penebus, Penolong yang kudus."
Selamat berbahagia negri yang memilikiNya.
Selamat hati yang rendah yang sudah dimasukiNya.
Selaku Surya yang benar dibriNya nikmat yang besar.
Terpuji Penebus, Pelipur yang kudus.
Gapuramu lapangkanlah, hatimu jadi rumahNya;
lambaikan daun di tanganmu menyongsong Raja Agungmu.
Sang Juruslamat tlah dekat membawa hidup dan berkat.
Terpuji Penebus, Pendamai yang kudus.
Ya Kristus, Juruslamatku, kubuka hati bagiMu.
Ya Tuhan, masuk dan beri pengasihanMu tak henti
Dan Roh Kudus jadikanlah Penunjuk jalan yang baka.
NamaMu, Penebus terpujilah terus!
Slide Lirik
5 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu "Macht hoch die Tür, die Tor macht weit" (dalam bahasa Indonesia: "Gapuramu Lapangkanlah" atau "Siapkanlah Jalan Bagi-Nya") adalah salah satu himne Adven paling dicintai dan abadi dalam tradisi Kristen Barat. Kisah di baliknya melibatkan seorang pendeta Jerman yang hidup di masa penuh gejolak, sebuah teks Mazmur kuno, dan sebuah himne yang melampaui waktu untuk menjadi seruan persiapan spiritual.
Mari kita selami detail kisahnya:
---
### **1. Sang Penulis Lirik: Georg Weissel (1590-1635)**
Kisah lagu ini berpusat pada pribadi **Georg Weissel**, seorang pendeta Lutheran dan penyair himne Jerman yang lahir di Domnau, Prusia Timur (sekarang Domnowo, Rusia) pada tahun 1590. Ia menempuh pendidikan teologi di Universitas Königsberg, Wittenberg, Leipzig, Jena, dan Marburg.
Weissel hidup di masa yang sangat sulit dan penuh penderitaan bagi Jerman dan Eropa: era **Perang Tiga Puluh Tahun (1618-1648)**. Konflik brutal ini menghancurkan sebagian besar Eropa Tengah, menyebabkan kelaparan, wabah penyakit, dan kematian jutaan orang. Di tengah kekacauan politik dan kehancuran sosial-ekonomi yang meluas, orang-orang sangat membutuhkan harapan dan penghiburan spiritual.
Pada tahun 1623, Weissel ditunjuk sebagai pastor pertama di Gereja Altrossgarten di Königsberg. Gereja ini baru saja selesai dibangun dan akan didedikasikan pada Hari Minggu Adven pertama tahun itu. Dalam suasana peresmian gereja baru, namun di bawah bayang-bayang perang dan wabah, Weissel menulis himne ini untuk Misa Adven pertama di gereja barunya.
### **2. Inspirasi Alkitab: Mazmur 24**
Lirik Weissel secara langsung dan kuat terinspirasi oleh **Mazmur 24, ayat 7-10**:
> "Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan! Siapakah itu Raja Kemuliaan? TUHAN, jaya dan perkasa, TUHAN, perkasa dalam peperangan! Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan! Siapakah Dia itu Raja Kemuliaan? TUHAN semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!"
Mazmur ini awalnya dinyanyikan oleh umat Israel saat Tabut Perjanjian diarak menuju Yerusalem, atau saat Raja Daud dan pasukannya memasuki kota. Ini adalah seruan untuk membuka gerbang-gerbang kota yang megah agar Sang Raja yang Agung, TUHAN sendiri, dapat masuk dengan segala kemuliaan-Nya.
Bagi Weissel dan jemaatnya di abad ke-17, ayat-ayat ini memiliki makna ganda:
* **Historis**: Mengingat kedatangan Yesus ke Yerusalem sebagai Raja.
* **Eskatologis**: Mengantisipasi Kedatangan Kedua Kristus sebagai Raja Kemuliaan di akhir zaman.
* **Pribadi/Spiritual**: Lebih penting lagi, ia menafsirkan Mazmur ini sebagai seruan untuk membuka "gerbang" hati manusia agar Yesus, Raja Kemuliaan, dapat masuk dan bertahta.
### **3. Penciptaan Lagu: Sebuah Seruan Adven (1623)**
Pada Hari Minggu Adven pertama tahun 1623, dalam upacara peresmian Gereja Altrossgarten, Georg Weissel memperkenalkan himne yang baru ditulisnya: "Macht hoch die Tür, die Tor macht weit."
* **Liriknya** adalah seruan yang berani dan penuh pengharapan di tengah dunia yang gelap. Weissel tidak hanya berbicara tentang membuka gerbang fisik gereja yang baru, tetapi juga gerbang spiritual hati dan pikiran.
* **Tema Adven** sangat sentral: masa penantian, persiapan, dan antisipasi kedatangan Kristus. Namun, ia tidak hanya menggambarkan Kristus sebagai bayi yang lemah di palungan, tetapi sebagai "Raja Kemuliaan" ("der König der Herrlichkeit") yang agung, berkuasa, dan akan datang untuk menghakimi dan menyelamatkan. Ini memberikan kekuatan dan keberanian bagi jemaat yang sedang berjuang.
* **Melodi aslinya** tidak sepenuhnya pasti, tetapi diyakini telah menggunakan melodi yang populer pada masa itu atau disesuaikan dari lagu rakyat Jerman. Melodi yang paling dikenal saat ini sering dikaitkan dengan J. A. Freylinghausen (penyusun buku himne terkenal) atau lingkungan musisi di Halle/Dresden pada abad ke-17.
Dalam himnenya, Weissel secara metaforis membandingkan diri kita dengan gerbang-gerbang kuno yang perlu diangkat dan diluaskan, bukan karena kita dapat mencapai kemuliaan dengan usaha sendiri, tetapi agar Kristus, Sang Terang, dapat masuk dan mengusir kegelapan dari jiwa kita. Dia menyebut Kristus sebagai "Terang dunia", "Terang yang kekal", dan "Putra Kebenaran", menekankan bahwa kedatangan-Nya membawa terang dan harapan ke dalam kegelapan dosa dan penderitaan.
### **4. Peran Kitab Nyanyian Freylinghausen**
Nama **Kitab Nyanyian Freylinghausen** mengacu pada **"Geistreiches Gesangbuch"** (Buku Himne Spiritual) yang disusun oleh **Johann Anastasius Freylinghausen (1670-1739)**. Freylinghausen adalah seorang teolog Pietis dan salah satu tokoh penting dalam Gerakan Pietisme Jerman.
Buku himnenya, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1704, sangat berpengaruh. Ia mengumpulkan banyak himne Jerman yang ada, termasuk karya-karya lama dan baru, dan sering kali menyertakan melodi yang sudah distandarisasi atau populer. "Macht hoch die Tür" termasuk salah satu himne yang Freylinghausen masukkan dalam koleksinya.
Dengan dimasukkannya himne Weissel ke dalam "Geistreiches Gesangbuch" karya Freylinghausen, lagu ini memperoleh popularitas yang luas di kalangan jemaat Pietis dan Gereja Lutheran pada umumnya. Ini membantu melestarikan dan menyebarkan himne ini ke seluruh Jerman dan, pada akhirnya, ke seluruh dunia Kristen. Freylinghausen berperan besar dalam menetapkan melodi yang kita kenal sekarang sebagai melodi standar untuk lirik Weissel, meskipun melodi ini mungkin bukan yang pertama kali digunakan oleh Weissel sendiri.
### **5. Warisan dan Signifikansi**
"Macht hoch die Tür, die Tor macht weit" telah menjadi himne Adven klasik karena beberapa alasan:
* **Pesan Abadi**: Seruannya untuk persiapan spiritual, untuk membuka hati bagi Kristus, adalah pesan yang relevan di setiap zaman.
* **Kekuatan Teologis**: Ini menggambarkan Kristus bukan hanya sebagai bayi yang tak berdaya, tetapi sebagai Raja yang berkuasa, membawa harapan dan tujuan.
* **Simbolisme yang Kuat**: Metafora gerbang dan pintu yang terbuka sangat kuat dan mudah dipahami.
* **Koneksi Historis**: Lagu ini berfungsi sebagai pengingat akan ketahanan iman di tengah penderitaan yang ekstrem.
Dalam terjemahan bahasa Indonesia, seperti "Gapuramu Lapangkanlah" atau "Siapkanlah Jalan Bagi-Nya," lagu ini terus menginspirasi umat percaya untuk menyambut Kristus—baik dalam perayaan Natal, dalam hidup sehari-hari, maupun dalam pengharapan akan kedatangan-Nya yang kedua kali. Ini adalah warisan abadi dari seorang pendeta yang di tengah kegelapan, memilih untuk menyanyikan tentang terang dan kemuliaan Raja Surgawi.
Mari kita selami detail kisahnya:
---
### **1. Sang Penulis Lirik: Georg Weissel (1590-1635)**
Kisah lagu ini berpusat pada pribadi **Georg Weissel**, seorang pendeta Lutheran dan penyair himne Jerman yang lahir di Domnau, Prusia Timur (sekarang Domnowo, Rusia) pada tahun 1590. Ia menempuh pendidikan teologi di Universitas Königsberg, Wittenberg, Leipzig, Jena, dan Marburg.
Weissel hidup di masa yang sangat sulit dan penuh penderitaan bagi Jerman dan Eropa: era **Perang Tiga Puluh Tahun (1618-1648)**. Konflik brutal ini menghancurkan sebagian besar Eropa Tengah, menyebabkan kelaparan, wabah penyakit, dan kematian jutaan orang. Di tengah kekacauan politik dan kehancuran sosial-ekonomi yang meluas, orang-orang sangat membutuhkan harapan dan penghiburan spiritual.
Pada tahun 1623, Weissel ditunjuk sebagai pastor pertama di Gereja Altrossgarten di Königsberg. Gereja ini baru saja selesai dibangun dan akan didedikasikan pada Hari Minggu Adven pertama tahun itu. Dalam suasana peresmian gereja baru, namun di bawah bayang-bayang perang dan wabah, Weissel menulis himne ini untuk Misa Adven pertama di gereja barunya.
### **2. Inspirasi Alkitab: Mazmur 24**
Lirik Weissel secara langsung dan kuat terinspirasi oleh **Mazmur 24, ayat 7-10**:
> "Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan! Siapakah itu Raja Kemuliaan? TUHAN, jaya dan perkasa, TUHAN, perkasa dalam peperangan! Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan! Siapakah Dia itu Raja Kemuliaan? TUHAN semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!"
Mazmur ini awalnya dinyanyikan oleh umat Israel saat Tabut Perjanjian diarak menuju Yerusalem, atau saat Raja Daud dan pasukannya memasuki kota. Ini adalah seruan untuk membuka gerbang-gerbang kota yang megah agar Sang Raja yang Agung, TUHAN sendiri, dapat masuk dengan segala kemuliaan-Nya.
Bagi Weissel dan jemaatnya di abad ke-17, ayat-ayat ini memiliki makna ganda:
* **Historis**: Mengingat kedatangan Yesus ke Yerusalem sebagai Raja.
* **Eskatologis**: Mengantisipasi Kedatangan Kedua Kristus sebagai Raja Kemuliaan di akhir zaman.
* **Pribadi/Spiritual**: Lebih penting lagi, ia menafsirkan Mazmur ini sebagai seruan untuk membuka "gerbang" hati manusia agar Yesus, Raja Kemuliaan, dapat masuk dan bertahta.
### **3. Penciptaan Lagu: Sebuah Seruan Adven (1623)**
Pada Hari Minggu Adven pertama tahun 1623, dalam upacara peresmian Gereja Altrossgarten, Georg Weissel memperkenalkan himne yang baru ditulisnya: "Macht hoch die Tür, die Tor macht weit."
* **Liriknya** adalah seruan yang berani dan penuh pengharapan di tengah dunia yang gelap. Weissel tidak hanya berbicara tentang membuka gerbang fisik gereja yang baru, tetapi juga gerbang spiritual hati dan pikiran.
* **Tema Adven** sangat sentral: masa penantian, persiapan, dan antisipasi kedatangan Kristus. Namun, ia tidak hanya menggambarkan Kristus sebagai bayi yang lemah di palungan, tetapi sebagai "Raja Kemuliaan" ("der König der Herrlichkeit") yang agung, berkuasa, dan akan datang untuk menghakimi dan menyelamatkan. Ini memberikan kekuatan dan keberanian bagi jemaat yang sedang berjuang.
* **Melodi aslinya** tidak sepenuhnya pasti, tetapi diyakini telah menggunakan melodi yang populer pada masa itu atau disesuaikan dari lagu rakyat Jerman. Melodi yang paling dikenal saat ini sering dikaitkan dengan J. A. Freylinghausen (penyusun buku himne terkenal) atau lingkungan musisi di Halle/Dresden pada abad ke-17.
Dalam himnenya, Weissel secara metaforis membandingkan diri kita dengan gerbang-gerbang kuno yang perlu diangkat dan diluaskan, bukan karena kita dapat mencapai kemuliaan dengan usaha sendiri, tetapi agar Kristus, Sang Terang, dapat masuk dan mengusir kegelapan dari jiwa kita. Dia menyebut Kristus sebagai "Terang dunia", "Terang yang kekal", dan "Putra Kebenaran", menekankan bahwa kedatangan-Nya membawa terang dan harapan ke dalam kegelapan dosa dan penderitaan.
### **4. Peran Kitab Nyanyian Freylinghausen**
Nama **Kitab Nyanyian Freylinghausen** mengacu pada **"Geistreiches Gesangbuch"** (Buku Himne Spiritual) yang disusun oleh **Johann Anastasius Freylinghausen (1670-1739)**. Freylinghausen adalah seorang teolog Pietis dan salah satu tokoh penting dalam Gerakan Pietisme Jerman.
Buku himnenya, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1704, sangat berpengaruh. Ia mengumpulkan banyak himne Jerman yang ada, termasuk karya-karya lama dan baru, dan sering kali menyertakan melodi yang sudah distandarisasi atau populer. "Macht hoch die Tür" termasuk salah satu himne yang Freylinghausen masukkan dalam koleksinya.
Dengan dimasukkannya himne Weissel ke dalam "Geistreiches Gesangbuch" karya Freylinghausen, lagu ini memperoleh popularitas yang luas di kalangan jemaat Pietis dan Gereja Lutheran pada umumnya. Ini membantu melestarikan dan menyebarkan himne ini ke seluruh Jerman dan, pada akhirnya, ke seluruh dunia Kristen. Freylinghausen berperan besar dalam menetapkan melodi yang kita kenal sekarang sebagai melodi standar untuk lirik Weissel, meskipun melodi ini mungkin bukan yang pertama kali digunakan oleh Weissel sendiri.
### **5. Warisan dan Signifikansi**
"Macht hoch die Tür, die Tor macht weit" telah menjadi himne Adven klasik karena beberapa alasan:
* **Pesan Abadi**: Seruannya untuk persiapan spiritual, untuk membuka hati bagi Kristus, adalah pesan yang relevan di setiap zaman.
* **Kekuatan Teologis**: Ini menggambarkan Kristus bukan hanya sebagai bayi yang tak berdaya, tetapi sebagai Raja yang berkuasa, membawa harapan dan tujuan.
* **Simbolisme yang Kuat**: Metafora gerbang dan pintu yang terbuka sangat kuat dan mudah dipahami.
* **Koneksi Historis**: Lagu ini berfungsi sebagai pengingat akan ketahanan iman di tengah penderitaan yang ekstrem.
Dalam terjemahan bahasa Indonesia, seperti "Gapuramu Lapangkanlah" atau "Siapkanlah Jalan Bagi-Nya," lagu ini terus menginspirasi umat percaya untuk menyambut Kristus—baik dalam perayaan Natal, dalam hidup sehari-hari, maupun dalam pengharapan akan kedatangan-Nya yang kedua kali. Ini adalah warisan abadi dari seorang pendeta yang di tengah kegelapan, memilih untuk menyanyikan tentang terang dan kemuliaan Raja Surgawi.
Cross Reference
MK 14, BE 38, KK 153, PS 449
Paruak Ma Harbangan I
BE
Gapuramu Lapangkanlah
KK
Gapuramu lapangkanlah
MK
Gapuramu lapangkanlah
PS
Sama Tema
Penantian Mesias dan Masa Adven
Kau yang Lama Dinantikan
KJ
Hatiku Bersukaria
KJ
Waktu Herodes Raja di Yudea
KJ
Mahaterpuji Allahku
KJ
Kiranya Langit Terbelah
KJ
O, Datanglah, Imanuel
KJ
Jurus'lamat Datanglah
KJ
Terbitlah Bintang Timur
KJ
Ya Yesus, Dikau Kurindukan
KJ
Kusongsong Bagaimana
KJ
Pencipta Bintang Semesta
KJ
Hai Waris Kerajaan
KJ
Berlayar Baht'ra Rahmat
KJ
Bernyanyilah, Puteri Sion
KJ
Putri Sion, Nyanyilah
KJ