KK
Menghadapi Hari Esok
Wir Pfl?fen Und Wir Streuen
Informasi Lagu
693
Nomor
Kode
KK 693
Buku
Kidung Keesaan
Metronom
0
Pencipta Lagu
Michiel Karatem
Pencipta Syair
Yamuger
Dengarkan di YouTube
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Menghadapi Hari Esok"** (yang dalam bahasa Jerman berjudul asli ***"Wir Pflügen und Wir Streuen"***) adalah salah satu lagu yang sangat ikonik dalam buku nyanyian gerejawi di Indonesia, yaitu **Kidung Jemaat (KJ) No. 306**.
Berikut adalah kisah di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Asal-Usul Penulis (Matthias Claudius)
Lirik asli lagu ini ditulis oleh **Matthias Claudius** (1740–1815), seorang penyair Jerman yang dikenal dengan gaya penulisannya yang sederhana namun mendalam, sering kali mengangkat tema alam dan ketergantungan manusia kepada Tuhan.
Lirik asli dalam bahasa Jerman, *“Wir pflügen und wir streuen den Samen auf das Land”* (Kami membajak dan kami menyebar benih di ladang), ditulis pada tahun **1782**. Lagu ini awalnya dimaksudkan sebagai lagu syukur atas panen (*Erntedankfest*). Claudius ingin mengungkapkan bahwa meskipun manusia bekerja keras membajak dan menabur, pada akhirnya keberhasilan panen sepenuhnya bergantung pada berkat dan pemeliharaan Tuhan.
### 2. Komposer Musik (Johann Abraham Peter Schulz)
Melodi yang kita kenal sekarang diciptakan oleh **Johann Abraham Peter Schulz** pada tahun **1800**. Schulz adalah seorang komposer ternama pada masanya yang berhasil mengawinkan lirik Claudius yang sederhana dengan melodi yang megah namun hangat. Kombinasi ini membuat lagu tersebut menjadi salah satu "hymne" atau lagu gerejawi paling populer di dunia berbahasa Jerman.
### 3. Adaptasi ke Bahasa Indonesia (Yamuger)
Masuknya lagu ini ke dalam buku **Kidung Jemaat** adalah hasil kerja keras dari **Yamuger (Yayasan Musik Gereja Indonesia)**. Yamuger memiliki peran vital dalam menerjemahkan dan mengadaptasi lagu-lagu liturgi dunia agar bisa diterima oleh jemaat di Indonesia.
* **Penerjemah:** Lirik dalam bahasa Indonesia bukanlah terjemahan harfiah kata-per-kata dari bahasa Jerman, melainkan adaptasi yang disesuaikan dengan konteks teologis Indonesia. Fokusnya digeser dari sekadar "syukur atas panen" menjadi "penyerahan diri menghadapi masa depan".
* **Makna:** Judul "Menghadapi Hari Esok" mencerminkan semangat iman bahwa dalam setiap langkah kehidupan—baik saat bekerja, berjuang, maupun menghadapi ketidakpastian hari esok—Tuhanlah yang memegang kendali.
### 4. Makna Teologis di Balik Lagu
Lagu ini sering dinyanyikan karena mengandung pesan yang sangat kuat bagi kehidupan sehari-hari:
1. **Pengakuan atas Usaha Manusia:** Lirik "Kami membajak... kami menyebar benih" mengakui bahwa manusia punya tanggung jawab untuk bekerja keras.
2. **Kedaulatan Tuhan:** Lirik "Tetapi semua itu berkat Tuhanlah," menjadi pengingat bahwa hasil akhir (keberhasilan, kesehatan, keselamatan) bukan hanya hasil usaha manusia, melainkan anugerah Tuhan.
3. **Penghiburan:** Bait-bait lagu ini memberikan rasa tenang bagi jemaat bahwa mereka tidak perlu takut akan masa depan, karena "Tangan Tuhan yang membuka jalan."
### Mengapa Lagu ini Terkenal?
Di Indonesia, lagu ini sangat populer dalam kebaktian Minggu. Melodinya yang *majestic* (megah) namun mudah diikuti menjadikannya sangat cocok untuk dinyanyikan oleh jemaat dalam jumlah besar.
**Ringkasan:**
Lagu ini adalah contoh kolaborasi lintas zaman dan budaya. Berawal dari puisi syukur panen di Jerman abad ke-18, kemudian diberi melodi oleh seorang maestro Jerman, dan akhirnya diadaptasi oleh Yamuger ke dalam bahasa Indonesia sebagai lagu kepercayaan jemaat akan penyertaan Tuhan dalam menghadapi masa depan yang misterius.
Jika Anda mendengarkan bait pertamanya, *"Menghadapi hari esok, tiada ku tahu apakah..."*, lagu ini memang dirancang untuk menyentuh sisi manusiawi yang paling rapuh—yaitu ketidakpastian akan masa depan—dan menjawabi keraguan tersebut dengan iman kepada pemeliharaan Tuhan.
Berikut adalah kisah di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Asal-Usul Penulis (Matthias Claudius)
Lirik asli lagu ini ditulis oleh **Matthias Claudius** (1740–1815), seorang penyair Jerman yang dikenal dengan gaya penulisannya yang sederhana namun mendalam, sering kali mengangkat tema alam dan ketergantungan manusia kepada Tuhan.
Lirik asli dalam bahasa Jerman, *“Wir pflügen und wir streuen den Samen auf das Land”* (Kami membajak dan kami menyebar benih di ladang), ditulis pada tahun **1782**. Lagu ini awalnya dimaksudkan sebagai lagu syukur atas panen (*Erntedankfest*). Claudius ingin mengungkapkan bahwa meskipun manusia bekerja keras membajak dan menabur, pada akhirnya keberhasilan panen sepenuhnya bergantung pada berkat dan pemeliharaan Tuhan.
### 2. Komposer Musik (Johann Abraham Peter Schulz)
Melodi yang kita kenal sekarang diciptakan oleh **Johann Abraham Peter Schulz** pada tahun **1800**. Schulz adalah seorang komposer ternama pada masanya yang berhasil mengawinkan lirik Claudius yang sederhana dengan melodi yang megah namun hangat. Kombinasi ini membuat lagu tersebut menjadi salah satu "hymne" atau lagu gerejawi paling populer di dunia berbahasa Jerman.
### 3. Adaptasi ke Bahasa Indonesia (Yamuger)
Masuknya lagu ini ke dalam buku **Kidung Jemaat** adalah hasil kerja keras dari **Yamuger (Yayasan Musik Gereja Indonesia)**. Yamuger memiliki peran vital dalam menerjemahkan dan mengadaptasi lagu-lagu liturgi dunia agar bisa diterima oleh jemaat di Indonesia.
* **Penerjemah:** Lirik dalam bahasa Indonesia bukanlah terjemahan harfiah kata-per-kata dari bahasa Jerman, melainkan adaptasi yang disesuaikan dengan konteks teologis Indonesia. Fokusnya digeser dari sekadar "syukur atas panen" menjadi "penyerahan diri menghadapi masa depan".
* **Makna:** Judul "Menghadapi Hari Esok" mencerminkan semangat iman bahwa dalam setiap langkah kehidupan—baik saat bekerja, berjuang, maupun menghadapi ketidakpastian hari esok—Tuhanlah yang memegang kendali.
### 4. Makna Teologis di Balik Lagu
Lagu ini sering dinyanyikan karena mengandung pesan yang sangat kuat bagi kehidupan sehari-hari:
1. **Pengakuan atas Usaha Manusia:** Lirik "Kami membajak... kami menyebar benih" mengakui bahwa manusia punya tanggung jawab untuk bekerja keras.
2. **Kedaulatan Tuhan:** Lirik "Tetapi semua itu berkat Tuhanlah," menjadi pengingat bahwa hasil akhir (keberhasilan, kesehatan, keselamatan) bukan hanya hasil usaha manusia, melainkan anugerah Tuhan.
3. **Penghiburan:** Bait-bait lagu ini memberikan rasa tenang bagi jemaat bahwa mereka tidak perlu takut akan masa depan, karena "Tangan Tuhan yang membuka jalan."
### Mengapa Lagu ini Terkenal?
Di Indonesia, lagu ini sangat populer dalam kebaktian Minggu. Melodinya yang *majestic* (megah) namun mudah diikuti menjadikannya sangat cocok untuk dinyanyikan oleh jemaat dalam jumlah besar.
**Ringkasan:**
Lagu ini adalah contoh kolaborasi lintas zaman dan budaya. Berawal dari puisi syukur panen di Jerman abad ke-18, kemudian diberi melodi oleh seorang maestro Jerman, dan akhirnya diadaptasi oleh Yamuger ke dalam bahasa Indonesia sebagai lagu kepercayaan jemaat akan penyertaan Tuhan dalam menghadapi masa depan yang misterius.
Jika Anda mendengarkan bait pertamanya, *"Menghadapi hari esok, tiada ku tahu apakah..."*, lagu ini memang dirancang untuk menyentuh sisi manusiawi yang paling rapuh—yaitu ketidakpastian akan masa depan—dan menjawabi keraguan tersebut dengan iman kepada pemeliharaan Tuhan.