KK
Siang, Malam, Musim, Tahun
Uren, Dagen, Maanden, Jaren
Informasi Lagu
692
Nomor
Kode
KK 692
Buku
Kidung Keesaan
Metronom
0
Pencipta Lagu
Jerman
Pencipta Syair
Rhijnvis Feith
Penerjemah
Johannes Mozes Malessy
Cross Ref.
KJ 331, KPJ 122
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
6 bait
Siang, malam, musim, tahun gilir ganti melenyap;
bayang-bayangnya berlalu, tiada satu yang tetap.
Hidup kita menjalani jangka waktu dunia;
tak terulang yang terjadi, tinggal tanggung jawabnya.
Orang hidup ditinggalkan oleh pendahulunya,
kita pun menuju makam bagai makhluk yang fana.
Dari bumi kita lahir dan kembali padaNya;
tanpa rahmat yang ilahi, apakah manusia?
Sungguh, Allah mengasihi dunia ciptaanNya:
dalam PutraNya sendiri Ia tinggal beserta.
Yang percaya kepadaNya, tak binasa tenggelam,
tapi hidup selamanya dalam Dia yang menang.
Walau zaman menghanyutkan tiap hal di dunia,
pengasihanMu, ya Tuhan, untuk slama-lamanya!
Di segala perubahan, dalam duka apapun,
dalam Kristus aku aman: kau menjadi Bapaku!
Bapa, Sumber pengasihan, Bapa dalam trang dan glap.
Bapa dalam kematian, pun di kubur yang senyap,
setiaMu tak berubah, kasihMu tetap teguh:
Bapa, kepadaMu jua kuserahkan diriku.
Siang, malam, musim, tahun, biar kamu melenyap;
dalam suka dan dukaku rahmat Allahku tetap!
TanganNya menuntun daku lewat zaman dunia
dan akhirnya ku selalu tinggal dalam rumahNya.
Slide Lirik
2 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu yang Anda maksud, **"Siang, Malam, Musim, Tahun"** (atau dalam bahasa Belanda aslinya: ***Uren, Dagen, Maanden, Jaren***), adalah salah satu lagu rohani klasik yang sangat populer di kalangan gereja-gereja reformasi, khususnya di Belanda dan Indonesia.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Penulis: Rhijnvis Feith
Lagu ini ditulis oleh **Rhijnvis Feith (1753–1824)**. Ia adalah seorang sastrawan, penyair, dan pejabat pemerintah berkebangsaan Belanda yang cukup terkemuka pada zamannya.
Feith dikenal bukan sebagai komposer musik, melainkan sebagai seorang penulis yang sangat religius dan memiliki apresiasi tinggi terhadap sastra. Ia hidup di masa transisi antara masa Pencerahan (Enlightenment) dan Romantisisme. Karyanya sering kali mencerminkan perenungan mendalam tentang kefanaan hidup dan ketergantungan manusia kepada Tuhan.
### 2. Konteks Penciptaan
Lagu ini ditulis sebagai bentuk **perenungan eksistensial tentang berlalunya waktu**. Judul aslinya, *Uren, Dagen, Maanden, Jaren*, menggambarkan urutan waktu dari yang terkecil (jam) hingga yang terbesar (tahun).
Pesan utama yang ingin disampaikan Feith adalah bahwa waktu yang terus berjalan—detik demi detik, hari demi hari—bukanlah sesuatu yang sia-sia, melainkan sebuah proses perjalanan hidup di bawah pengawasan dan kasih Tuhan. Lagu ini sering dikategorikan sebagai lagu "akhir tahun" atau lagu tentang "hidup yang fana", karena liriknya menuntut pendengarnya untuk menyadari bahwa usia manusia terus berkurang dan kematian semakin dekat.
### 3. Makna Lirik
Secara teologis, lagu ini mengajak orang percaya untuk:
* **Introspeksi:** Mengingat kembali apa yang telah dilakukan sepanjang waktu yang telah dilewati.
* **Kerendahan Hati:** Menyadari bahwa hidup ini singkat (fana).
* **Penyerahan Diri:** Mengajak pendengar untuk menyerahkan masa depan yang tidak pasti (hari esok) ke dalam tangan Tuhan.
Bagian yang paling menyentuh dari lagu ini adalah kesadaran bahwa meski waktu terus bergerak maju, setiap momen tetap berada dalam kendali Sang Pencipta.
### 4. Melodi dan Adaptasi
Lagu ini menjadi sangat terkenal karena musiknya yang bersifat *chorale* (gaya paduan suara gereja yang khidmat). Di Belanda, lagu ini menjadi lagu wajib yang hampir selalu dinyanyikan pada kebaktian penutupan tahun (malam tahun baru).
Di Indonesia, lagu ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai bagian dari buku nyanyian gerejawi (seperti PKJ atau buku nyanyian gereja lainnya). Terjemahannya mempertahankan esensi yang sama, yaitu tentang perjalanan waktu yang membawa manusia semakin dekat kepada akhir hidup dan pertemuan dengan Tuhan.
### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Bertahan?
Ada beberapa alasan mengapa karya Rhijnvis Feith ini tetap relevan hingga sekarang:
1. **Universalitas Waktu:** Siapa pun, terlepas dari latar belakangnya, pasti merasakan bahwa waktu berjalan sangat cepat. Lagu ini memberikan suara atas perasaan tersebut.
2. **Keseimbangan Emosional:** Lagu ini tidak terkesan "menakut-nakuti" tentang kematian, melainkan memberikan rasa damai bagi mereka yang mempercayai Tuhan di tengah ketidakpastian masa depan.
3. **Kesederhanaan:** Liriknya yang lugas—dimulai dari daftar satuan waktu—membuatnya sangat mudah diingat dan dipahami secara emosional.
**Kesimpulan:**
*Uren, Dagen, Maanden, Jaren* adalah refleksi puitis dari Rhijnvis Feith tentang bagaimana manusia seharusnya memandang waktu. Ini bukan sekadar lagu untuk merayakan tahun baru, melainkan sebuah doa syukur dan permohonan agar setiap waktu yang tersisa diisi dengan makna di hadapan Tuhan.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Penulis: Rhijnvis Feith
Lagu ini ditulis oleh **Rhijnvis Feith (1753–1824)**. Ia adalah seorang sastrawan, penyair, dan pejabat pemerintah berkebangsaan Belanda yang cukup terkemuka pada zamannya.
Feith dikenal bukan sebagai komposer musik, melainkan sebagai seorang penulis yang sangat religius dan memiliki apresiasi tinggi terhadap sastra. Ia hidup di masa transisi antara masa Pencerahan (Enlightenment) dan Romantisisme. Karyanya sering kali mencerminkan perenungan mendalam tentang kefanaan hidup dan ketergantungan manusia kepada Tuhan.
### 2. Konteks Penciptaan
Lagu ini ditulis sebagai bentuk **perenungan eksistensial tentang berlalunya waktu**. Judul aslinya, *Uren, Dagen, Maanden, Jaren*, menggambarkan urutan waktu dari yang terkecil (jam) hingga yang terbesar (tahun).
Pesan utama yang ingin disampaikan Feith adalah bahwa waktu yang terus berjalan—detik demi detik, hari demi hari—bukanlah sesuatu yang sia-sia, melainkan sebuah proses perjalanan hidup di bawah pengawasan dan kasih Tuhan. Lagu ini sering dikategorikan sebagai lagu "akhir tahun" atau lagu tentang "hidup yang fana", karena liriknya menuntut pendengarnya untuk menyadari bahwa usia manusia terus berkurang dan kematian semakin dekat.
### 3. Makna Lirik
Secara teologis, lagu ini mengajak orang percaya untuk:
* **Introspeksi:** Mengingat kembali apa yang telah dilakukan sepanjang waktu yang telah dilewati.
* **Kerendahan Hati:** Menyadari bahwa hidup ini singkat (fana).
* **Penyerahan Diri:** Mengajak pendengar untuk menyerahkan masa depan yang tidak pasti (hari esok) ke dalam tangan Tuhan.
Bagian yang paling menyentuh dari lagu ini adalah kesadaran bahwa meski waktu terus bergerak maju, setiap momen tetap berada dalam kendali Sang Pencipta.
### 4. Melodi dan Adaptasi
Lagu ini menjadi sangat terkenal karena musiknya yang bersifat *chorale* (gaya paduan suara gereja yang khidmat). Di Belanda, lagu ini menjadi lagu wajib yang hampir selalu dinyanyikan pada kebaktian penutupan tahun (malam tahun baru).
Di Indonesia, lagu ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai bagian dari buku nyanyian gerejawi (seperti PKJ atau buku nyanyian gereja lainnya). Terjemahannya mempertahankan esensi yang sama, yaitu tentang perjalanan waktu yang membawa manusia semakin dekat kepada akhir hidup dan pertemuan dengan Tuhan.
### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Bertahan?
Ada beberapa alasan mengapa karya Rhijnvis Feith ini tetap relevan hingga sekarang:
1. **Universalitas Waktu:** Siapa pun, terlepas dari latar belakangnya, pasti merasakan bahwa waktu berjalan sangat cepat. Lagu ini memberikan suara atas perasaan tersebut.
2. **Keseimbangan Emosional:** Lagu ini tidak terkesan "menakut-nakuti" tentang kematian, melainkan memberikan rasa damai bagi mereka yang mempercayai Tuhan di tengah ketidakpastian masa depan.
3. **Kesederhanaan:** Liriknya yang lugas—dimulai dari daftar satuan waktu—membuatnya sangat mudah diingat dan dipahami secara emosional.
**Kesimpulan:**
*Uren, Dagen, Maanden, Jaren* adalah refleksi puitis dari Rhijnvis Feith tentang bagaimana manusia seharusnya memandang waktu. Ini bukan sekadar lagu untuk merayakan tahun baru, melainkan sebuah doa syukur dan permohonan agar setiap waktu yang tersisa diisi dengan makna di hadapan Tuhan.