KPJ
Kula Pitados
Informasi Lagu
122
Nomor
Kode
KPJ 122
Buku
Kidung Pasamuwan Jawi
Metronom
0
Cross Ref.
KJ 331, KPK 103, KK 692
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Kula pitados ing Allah, Sang Rama Kang Makwasa;
ingkang nitahaken langit lan bumi saisinya.
Kula pitados ing Gusti Yesus Kristus
Kang Putra ontang - anting lan kesasih,
Gusti Pamarta kula.
Kang sampun kabobotaken sing kwasane Roh Suci;
miyos saking prawan Maryam, nahanaken pisakit
kala Pontius Pilatus ingkang ngasta bupatya:
sinalib nglampahi séda, tumedhak mring antaka
Tigang dintenipun wungu sing antaka, dyan minggah
dhateng suwarga, apinarak nèng tengenipun Allah
Sang Rama Kang Mahakwasa, king ngriku badhé rawuh.
angadili tiyang ingkang gesang lan ingkang pejah.
Nggih pitados ing Roh Suci wah malih wontenipun
pasamwan Kristen satunggil, kang suci sarta umum.
Patunggilané pra suci, pangapuntening dosa,
tanginira para mati, kang sarta gesang baka.
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu yang Anda maksud, **"Siang, Malam, Musim, Tahun"** (atau dalam bahasa Belanda aslinya: ***Uren, Dagen, Maanden, Jaren***), adalah salah satu lagu rohani klasik yang sangat populer di kalangan gereja-gereja reformasi, khususnya di Belanda dan Indonesia.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Penulis: Rhijnvis Feith
Lagu ini ditulis oleh **Rhijnvis Feith (1753–1824)**. Ia adalah seorang sastrawan, penyair, dan pejabat pemerintah berkebangsaan Belanda yang cukup terkemuka pada zamannya.
Feith dikenal bukan sebagai komposer musik, melainkan sebagai seorang penulis yang sangat religius dan memiliki apresiasi tinggi terhadap sastra. Ia hidup di masa transisi antara masa Pencerahan (Enlightenment) dan Romantisisme. Karyanya sering kali mencerminkan perenungan mendalam tentang kefanaan hidup dan ketergantungan manusia kepada Tuhan.
### 2. Konteks Penciptaan
Lagu ini ditulis sebagai bentuk **perenungan eksistensial tentang berlalunya waktu**. Judul aslinya, *Uren, Dagen, Maanden, Jaren*, menggambarkan urutan waktu dari yang terkecil (jam) hingga yang terbesar (tahun).
Pesan utama yang ingin disampaikan Feith adalah bahwa waktu yang terus berjalan—detik demi detik, hari demi hari—bukanlah sesuatu yang sia-sia, melainkan sebuah proses perjalanan hidup di bawah pengawasan dan kasih Tuhan. Lagu ini sering dikategorikan sebagai lagu "akhir tahun" atau lagu tentang "hidup yang fana", karena liriknya menuntut pendengarnya untuk menyadari bahwa usia manusia terus berkurang dan kematian semakin dekat.
### 3. Makna Lirik
Secara teologis, lagu ini mengajak orang percaya untuk:
* **Introspeksi:** Mengingat kembali apa yang telah dilakukan sepanjang waktu yang telah dilewati.
* **Kerendahan Hati:** Menyadari bahwa hidup ini singkat (fana).
* **Penyerahan Diri:** Mengajak pendengar untuk menyerahkan masa depan yang tidak pasti (hari esok) ke dalam tangan Tuhan.
Bagian yang paling menyentuh dari lagu ini adalah kesadaran bahwa meski waktu terus bergerak maju, setiap momen tetap berada dalam kendali Sang Pencipta.
### 4. Melodi dan Adaptasi
Lagu ini menjadi sangat terkenal karena musiknya yang bersifat *chorale* (gaya paduan suara gereja yang khidmat). Di Belanda, lagu ini menjadi lagu wajib yang hampir selalu dinyanyikan pada kebaktian penutupan tahun (malam tahun baru).
Di Indonesia, lagu ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai bagian dari buku nyanyian gerejawi (seperti PKJ atau buku nyanyian gereja lainnya). Terjemahannya mempertahankan esensi yang sama, yaitu tentang perjalanan waktu yang membawa manusia semakin dekat kepada akhir hidup dan pertemuan dengan Tuhan.
### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Bertahan?
Ada beberapa alasan mengapa karya Rhijnvis Feith ini tetap relevan hingga sekarang:
1. **Universalitas Waktu:** Siapa pun, terlepas dari latar belakangnya, pasti merasakan bahwa waktu berjalan sangat cepat. Lagu ini memberikan suara atas perasaan tersebut.
2. **Keseimbangan Emosional:** Lagu ini tidak terkesan "menakut-nakuti" tentang kematian, melainkan memberikan rasa damai bagi mereka yang mempercayai Tuhan di tengah ketidakpastian masa depan.
3. **Kesederhanaan:** Liriknya yang lugas—dimulai dari daftar satuan waktu—membuatnya sangat mudah diingat dan dipahami secara emosional.
**Kesimpulan:**
*Uren, Dagen, Maanden, Jaren* adalah refleksi puitis dari Rhijnvis Feith tentang bagaimana manusia seharusnya memandang waktu. Ini bukan sekadar lagu untuk merayakan tahun baru, melainkan sebuah doa syukur dan permohonan agar setiap waktu yang tersisa diisi dengan makna di hadapan Tuhan.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Penulis: Rhijnvis Feith
Lagu ini ditulis oleh **Rhijnvis Feith (1753–1824)**. Ia adalah seorang sastrawan, penyair, dan pejabat pemerintah berkebangsaan Belanda yang cukup terkemuka pada zamannya.
Feith dikenal bukan sebagai komposer musik, melainkan sebagai seorang penulis yang sangat religius dan memiliki apresiasi tinggi terhadap sastra. Ia hidup di masa transisi antara masa Pencerahan (Enlightenment) dan Romantisisme. Karyanya sering kali mencerminkan perenungan mendalam tentang kefanaan hidup dan ketergantungan manusia kepada Tuhan.
### 2. Konteks Penciptaan
Lagu ini ditulis sebagai bentuk **perenungan eksistensial tentang berlalunya waktu**. Judul aslinya, *Uren, Dagen, Maanden, Jaren*, menggambarkan urutan waktu dari yang terkecil (jam) hingga yang terbesar (tahun).
Pesan utama yang ingin disampaikan Feith adalah bahwa waktu yang terus berjalan—detik demi detik, hari demi hari—bukanlah sesuatu yang sia-sia, melainkan sebuah proses perjalanan hidup di bawah pengawasan dan kasih Tuhan. Lagu ini sering dikategorikan sebagai lagu "akhir tahun" atau lagu tentang "hidup yang fana", karena liriknya menuntut pendengarnya untuk menyadari bahwa usia manusia terus berkurang dan kematian semakin dekat.
### 3. Makna Lirik
Secara teologis, lagu ini mengajak orang percaya untuk:
* **Introspeksi:** Mengingat kembali apa yang telah dilakukan sepanjang waktu yang telah dilewati.
* **Kerendahan Hati:** Menyadari bahwa hidup ini singkat (fana).
* **Penyerahan Diri:** Mengajak pendengar untuk menyerahkan masa depan yang tidak pasti (hari esok) ke dalam tangan Tuhan.
Bagian yang paling menyentuh dari lagu ini adalah kesadaran bahwa meski waktu terus bergerak maju, setiap momen tetap berada dalam kendali Sang Pencipta.
### 4. Melodi dan Adaptasi
Lagu ini menjadi sangat terkenal karena musiknya yang bersifat *chorale* (gaya paduan suara gereja yang khidmat). Di Belanda, lagu ini menjadi lagu wajib yang hampir selalu dinyanyikan pada kebaktian penutupan tahun (malam tahun baru).
Di Indonesia, lagu ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai bagian dari buku nyanyian gerejawi (seperti PKJ atau buku nyanyian gereja lainnya). Terjemahannya mempertahankan esensi yang sama, yaitu tentang perjalanan waktu yang membawa manusia semakin dekat kepada akhir hidup dan pertemuan dengan Tuhan.
### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Bertahan?
Ada beberapa alasan mengapa karya Rhijnvis Feith ini tetap relevan hingga sekarang:
1. **Universalitas Waktu:** Siapa pun, terlepas dari latar belakangnya, pasti merasakan bahwa waktu berjalan sangat cepat. Lagu ini memberikan suara atas perasaan tersebut.
2. **Keseimbangan Emosional:** Lagu ini tidak terkesan "menakut-nakuti" tentang kematian, melainkan memberikan rasa damai bagi mereka yang mempercayai Tuhan di tengah ketidakpastian masa depan.
3. **Kesederhanaan:** Liriknya yang lugas—dimulai dari daftar satuan waktu—membuatnya sangat mudah diingat dan dipahami secara emosional.
**Kesimpulan:**
*Uren, Dagen, Maanden, Jaren* adalah refleksi puitis dari Rhijnvis Feith tentang bagaimana manusia seharusnya memandang waktu. Ini bukan sekadar lagu untuk merayakan tahun baru, melainkan sebuah doa syukur dan permohonan agar setiap waktu yang tersisa diisi dengan makna di hadapan Tuhan.
Cross Reference
KJ 331, KPK 103, KK 692
Siang, Malam, Musim, Tahun
KJ
Siang, Malam, Musim, Tahun
KK
Pangaken Pitados
KPK
Sama Tema
Kidung Pangakening Pitados
Aku Duwe Pamarta
KPJ
Allah Ingkang Masuci
KPJ
Allah Kang Dados Pepadhang
KPJ
Allah Yeku Pangen Kula
KPJ
Allah Yeku Pangen Satuhu
KPJ
Allahe Para Pracaya
KPJ
Amarema
KPJ
Amung Kumandel Iku
KPJ
Amung Wonten Ing Sariraning Gusti Yesus
KPJ
Gesang Kebak Kekeran
KPJ
Gusti Pangayom Kang Setya
KPJ
Gusti Pangungsen Kula
KPJ
Gusti Yesus Pamarta
KPJ
Gusti Yesus Pangen Kula
KPJ
Gusti Yesus Sang Pamarta
KPJ
Gusti, Sestu Kula Tresna
KPJ
Iba Rahjeng Tyang Kang Sami Sumendhe
KPJ
Kabegjan Kang Sejati
KPJ
Kala Kula Dhawah
KPJ
Kasetyaning Allah Datan Gingsir
KPJ
Krana Gusti Kula
KPJ
Kula Mboten Badhe Nilar
KPJ
Kula Nggunggung-Nggunggung Gusti
KPJ
Kula Pitados Mring Gusti
KPJ
Kula Sestu Ndherek Gusti
KPJ
Lamun Kula Mlampah
KPJ
Nadyan Kula Nandhang Sangsara
KPJ
Nggen Kawula Makarya
KPJ
Nitenana Sihe Gusti
KPJ
Nyebuta "Gusti" Mring Sang Kristus
KPJ
Paduka Pangen Utami
KPJ
Para Bangsa Samya Ngraman
KPJ
Pitulung Kita Kang Rosa
KPJ
Pracaya Lan Pasrah
KPJ
Pundi Margi Ingkang Kwawi Ngingkiraken
KPJ
Rahayu Wong Kang Mursid
KPJ
Rahayu Wong Wedi-Asih
KPJ
Sakehing Was-Sumelangmu Pasrahna
KPJ
Sang Kristus Tameng Santosa
KPJ
Sang Yehuwah, Yen Allah Kula
KPJ
Sihe Allah Gung Sanyata
KPJ
Tiyang Pitados
KPJ
Tyang Duraka Samya Nyatroni Kawula
KPJ
Yen Kula Sumrep, O Gusti
KPJ
Yen Nunggil Lan Gusti
KPJ
Yen Praharaning Urip Anerjang
KPJ
Yen Sira Sangsara
KPJ
Yesus Roti Panguripan
KPJ