Informasi Lagu
121
Nomor
Kode
KLIK 121
Buku
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR
Metronom
0
Jumlah Bait
3 bait
Style
ChristmasWaltz
Pencipta Lagu
Peter Philip Bilhorn (1896)
Pencipta Syair
Peter Philip Bilhorn (1896)
Cross Ref.
KPJ 381, KK 605
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Di waktu ku masih kecil Gembira dan senang Tiada duka ku kenang Tak kunjung mengerang Di sore hari nan sepi, ibuku bertelut Sujud berdoa ku dengar, namaku disebut Reff Di doa ibuku namaku disebut Di doa ibu kudengar Ada namaku disebut
Seringlah ini kukenang Di masa yang berat Di kala hidup mendesak Dan nyaris ku sesat Melintas gambar ibuku sewaktu bertelut Kembali sayup ku dengar namaku disebut Reff
Sekarang dia tlah pergi Ke rumah yang senang Namun kasihNya padaku Selalu ku kenang Kelak di sana kamipun Bersama bertelut, memuji Tuhan Yang dengar, namaku disebut Reff
Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — KLIK 121 1
Slide 2 — KLIK 121 2
Slide 3 — KLIK 121 3
Slide 4 — KLIK 121 4
Partitur / Not
Partitur Chord KLIK 121
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"Di Waktu 'Ku Masih Kecil"** (judul asli bahasa Inggris: *"I Am Praying for You"* atau sering dikenal dengan baris pertamanya *"I Have a Savior"*), yang ditulis oleh **Peter Philip Bilhorn**, adalah sebuah kisah tentang kasih seorang ibu dan kekuatan doa yang tidak pernah putus.

Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu tersebut:

### 1. Latar Belakang Peter Philip Bilhorn
Peter Philip Bilhorn (1865–1936) adalah seorang penginjil, penyanyi, dan penulis lagu asal Amerika Serikat. Ia dikenal sebagai musisi yang sering mengadakan perjalanan penginjilan (evangelistik). Namun, sebelum ia menjadi tokoh agama yang dikenal, masa kecilnya penuh dengan tantangan.

### 2. Sosok Ibu yang Berdoa
Kisah lagu ini berakar pada kenangan masa kecil Bilhorn tentang ibunya. Sang ibu adalah seorang wanita yang sangat saleh dan memiliki beban yang besar untuk kerohanian anak-anaknya.

Di tengah kesibukan dan tantangan hidup, sang ibu selalu meluangkan waktu khusus untuk mendoakan anak-anaknya satu per satu. Bilhorn menceritakan bahwa ia sering mendengar ibunya menyebut namanya dalam doa dengan penuh kasih dan ketulusan. Baginya, doa-doa tersebut adalah "jangkar" yang menahannya saat ia mulai beranjak dewasa dan menghadapi dunia.

### 3. Momen Inspirasi
Suatu ketika, saat Bilhorn sedang dalam perjalanan penginjilannya, ia teringat kembali pada masa-masa kecilnya. Ia merenungkan bagaimana kasih sayang seorang ibu yang setia mendoakannya telah membentuk karakternya dan membimbingnya menuju iman kepada Kristus.

Ia ingin menulis sebuah lagu yang tidak hanya mengungkapkan syukur atas doa seorang ibu, tetapi juga mengingatkan setiap orang bahwa meskipun seorang ibu mungkin sudah tiada atau tidak bisa lagi menemani secara fisik, doa-doa yang pernah dipanjatkan itu tetap memiliki kuasa dan kenangan yang abadi.

Liriknya menekankan pada **keamanan dan perlindungan** yang dirasakan seseorang saat ia tahu ada seseorang yang dengan sungguh-sungguh berdoa untuknya.

### 4. Makna Lagu
Dalam lagu ini, Bilhorn ingin menyampaikan pesan bahwa:
* **Doa adalah warisan:** Doa seorang ibu adalah warisan rohani yang paling berharga bagi seorang anak.
* **Pengingat iman:** Lagu ini sering digunakan dalam ibadah untuk mengingatkan para ibu tentang betapa pentingnya mendoakan anak-anak mereka, dan bagi anak-anak untuk menghargai kasih orang tua.
* **Penghiburan:** Bagi mereka yang mungkin merasa jauh dari Tuhan atau sedang berada di masa sulit, mengingat bahwa ada seseorang (seperti ibu) yang telah mendoakan mereka dapat memberikan kekuatan untuk kembali kepada iman.

### 5. Adaptasi di Indonesia
Di Indonesia, lagu ini menjadi sangat populer di kalangan gereja-gereja, terutama dalam kebaktian keluarga atau ibadah Hari Ibu. Terjemahannya yang menyentuh hati—yang dimulai dengan *"Di waktu 'ku masih kecil, ibuku berdoa..."*—sangat membekas di ingatan banyak orang karena melodi yang sederhana namun emosional.

### Kesimpulan
Lagu ini bukan sekadar komposisi musik, melainkan sebuah **monumen syukur**. Peter Philip Bilhorn berhasil mengubah kenangan intim di masa kecilnya menjadi sebuah pujian universal. Setiap kali lagu ini dinyanyikan, ia menjadi pengingat bahwa doa seorang ibu yang tulus tidak akan pernah sia-sia, dan cinta yang dipancarkan melalui doa akan tetap hidup melampaui waktu.