Informasi Lagu
381
Nomor
Kode
KPJ 381
Buku
Kidung Pasamuwan Jawi
Jumlah Bait
4 bait
Style
ChristmasWaltz
Pencipta Lagu
Peter Philip Bilhorn (1896)
Pencipta Syair
Peter Philip Bilhorn (1896)
Penerjemah
Epafroditus Laurentius Pohan Shn (E.L. Pohan) (1973)
Cross Ref.
KLIK 121, KK 605
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 5 bait
Nalikane cilikanku, kepati senengku; tan nate ana pasambat, bungahku tan kendhat. Sorene sawise sepi, ibuku memuji, ing pandonga kang ingatur, jenengku sinebut.
Pandongane ibu anyebut jenengku; ing pandongane ibuku tansah anyebut jenengku.
Aku sangsaya kelingan, jroning kasusahan, yen urip lagi cilaka, atiku nalangsa; sakal eling mring ibuku kang sujud manengku; ing batinku trus keprungu, anyebut jenengku
Lamun atiku pribadi, iku kang dakanut, aruming sabdane Gusti, kudune dakturut; nalika urip sangsara, ngadhepi rubeda, eling pandongane ibu anyebut jenengku.
Sawusnya ibu tan ana, wit sowan Sang Rama, nanging dhawuhe mring aku, kang tansah dakgugu. Mbesuk ing kana tinemu, barengan sumungku; pamujine kang dakrungu, anyebut jenengku.
Slide Lirik 5 slide
Slide 1 — KPJ 381 1
Slide 2 — KPJ 381 2
Slide 3 — KPJ 381 3
Slide 4 — KPJ 381 4
Slide 5 — KPJ 381 5
Partitur / Not
Partitur Chord KPJ 381
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"Di Waktu 'Ku Masih Kecil"** (judul asli bahasa Inggris: *"I Am Praying for You"* atau sering dikenal dengan baris pertamanya *"I Have a Savior"*), yang ditulis oleh **Peter Philip Bilhorn**, adalah sebuah kisah tentang kasih seorang ibu dan kekuatan doa yang tidak pernah putus.

Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu tersebut:

### 1. Latar Belakang Peter Philip Bilhorn
Peter Philip Bilhorn (1865–1936) adalah seorang penginjil, penyanyi, dan penulis lagu asal Amerika Serikat. Ia dikenal sebagai musisi yang sering mengadakan perjalanan penginjilan (evangelistik). Namun, sebelum ia menjadi tokoh agama yang dikenal, masa kecilnya penuh dengan tantangan.

### 2. Sosok Ibu yang Berdoa
Kisah lagu ini berakar pada kenangan masa kecil Bilhorn tentang ibunya. Sang ibu adalah seorang wanita yang sangat saleh dan memiliki beban yang besar untuk kerohanian anak-anaknya.

Di tengah kesibukan dan tantangan hidup, sang ibu selalu meluangkan waktu khusus untuk mendoakan anak-anaknya satu per satu. Bilhorn menceritakan bahwa ia sering mendengar ibunya menyebut namanya dalam doa dengan penuh kasih dan ketulusan. Baginya, doa-doa tersebut adalah "jangkar" yang menahannya saat ia mulai beranjak dewasa dan menghadapi dunia.

### 3. Momen Inspirasi
Suatu ketika, saat Bilhorn sedang dalam perjalanan penginjilannya, ia teringat kembali pada masa-masa kecilnya. Ia merenungkan bagaimana kasih sayang seorang ibu yang setia mendoakannya telah membentuk karakternya dan membimbingnya menuju iman kepada Kristus.

Ia ingin menulis sebuah lagu yang tidak hanya mengungkapkan syukur atas doa seorang ibu, tetapi juga mengingatkan setiap orang bahwa meskipun seorang ibu mungkin sudah tiada atau tidak bisa lagi menemani secara fisik, doa-doa yang pernah dipanjatkan itu tetap memiliki kuasa dan kenangan yang abadi.

Liriknya menekankan pada **keamanan dan perlindungan** yang dirasakan seseorang saat ia tahu ada seseorang yang dengan sungguh-sungguh berdoa untuknya.

### 4. Makna Lagu
Dalam lagu ini, Bilhorn ingin menyampaikan pesan bahwa:
* **Doa adalah warisan:** Doa seorang ibu adalah warisan rohani yang paling berharga bagi seorang anak.
* **Pengingat iman:** Lagu ini sering digunakan dalam ibadah untuk mengingatkan para ibu tentang betapa pentingnya mendoakan anak-anak mereka, dan bagi anak-anak untuk menghargai kasih orang tua.
* **Penghiburan:** Bagi mereka yang mungkin merasa jauh dari Tuhan atau sedang berada di masa sulit, mengingat bahwa ada seseorang (seperti ibu) yang telah mendoakan mereka dapat memberikan kekuatan untuk kembali kepada iman.

### 5. Adaptasi di Indonesia
Di Indonesia, lagu ini menjadi sangat populer di kalangan gereja-gereja, terutama dalam kebaktian keluarga atau ibadah Hari Ibu. Terjemahannya yang menyentuh hati—yang dimulai dengan *"Di waktu 'ku masih kecil, ibuku berdoa..."*—sangat membekas di ingatan banyak orang karena melodi yang sederhana namun emosional.

### Kesimpulan
Lagu ini bukan sekadar komposisi musik, melainkan sebuah **monumen syukur**. Peter Philip Bilhorn berhasil mengubah kenangan intim di masa kecilnya menjadi sebuah pujian universal. Setiap kali lagu ini dinyanyikan, ia menjadi pengingat bahwa doa seorang ibu yang tulus tidak akan pernah sia-sia, dan cinta yang dipancarkan melalui doa akan tetap hidup melampaui waktu.