KMM
Yunus Yunus Pergilah
Jona, Jona gehe nach Nineve
Informasi Lagu
95
Nomor
Kode
KMM 95
Buku
Kidung Muda Mudi
Metronom
0
Dengarkan di YouTube
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Jona, Jona"** (atau dalam bahasa Jerman: *Jona, Jona*) karya **Eberhard Laue** yang diterbitkan pada tahun **1968** merupakan sebuah karya yang lahir dari konteks pergerakan musik gerejawi Jerman yang sedang mengalami transformasi besar pada era 60-an.
Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita harus melihat tiga aspek utama: sosok penciptanya, konteks zaman saat lagu itu lahir, dan pesan teologis yang ingin disampaikan.
### 1. Latar Belakang Pencipta: Eberhard Laue
Eberhard Laue adalah seorang musisi gereja, komponis, dan organis asal Jerman yang sangat aktif pada pertengahan abad ke-20. Ia adalah bagian dari gerakan *Neues Geistliches Lied* (Lagu Rohani Baru) di Jerman.
Pada tahun 1960-an, gereja-gereja di Jerman (baik Protestan maupun Katolik) mulai merasa bahwa lagu-lagu pujian tradisional (koral klasik) terasa terlalu kaku bagi generasi muda pasca-Perang Dunia II. Laue adalah salah satu tokoh yang mencoba menjembatani tradisi musik gereja dengan gaya yang lebih modern, ritmis, dan lirik yang menyentuh realitas hidup manusia.
### 2. Konteks Zaman (1968)
Tahun 1968 adalah tahun yang sangat signifikan secara global. Di Jerman, tahun ini ditandai dengan gejolak sosial, protes mahasiswa, dan pencarian identitas moral pasca-perang.
* **"Jona, Jona"** muncul sebagai bentuk refleksi teologis yang relevan dengan keresahan saat itu.
* Kisah Yunus dalam Alkitab sering kali disalahpahami hanya sebagai cerita tentang "ikan besar." Namun, bagi Laue dan rekan-rekannya, kisah Yunus adalah tentang **pelarian manusia dari panggilan Tuhan** dan **keengganan manusia untuk menghadapi kenyataan/tugas sulit.**
### 3. Makna Teologis dalam Lagu
Dalam lagu ini, Eberhard Laue tidak sekadar menceritakan ulang kisah Yunus, tetapi menjadikannya cermin bagi pendengarnya. Berikut adalah poin-poin utama yang tertuang dalam narasi lagu tersebut:
* **Pelarian Diri:** Yunus digambarkan sebagai sosok yang mencoba lari dari perintah Tuhan untuk pergi ke Niniwe. Dalam interpretasi Laue, Niniwe mewakili tempat-tempat "tidak nyaman" atau orang-orang yang tidak kita sukai—tugas yang berat yang ingin kita hindari.
* **Ketakutan dan Ketidaktaatan:** Lagu ini menyoroti ketakutan manusia. Yunus takut akan tugasnya, ia takut akan kemarahan Tuhan, atau mungkin ia takut akan penolakan. Laue menggunakan sosok Yunus untuk bertanya kepada pendengar: *"Di mana kamu bersembunyi? Ke arah mana kapalmu berlayar ketika Tuhan memanggilmu?"*
* **Penyertaan Tuhan:** Terlepas dari pelariannya, pesan yang ingin disampaikan Laue adalah bahwa manusia tidak bisa benar-benar bersembunyi dari Tuhan. Ikan besar, badai, dan perjalanan Yunus adalah bentuk "intervensi kasih" Tuhan agar manusia kembali ke jalan yang benar.
### 4. Gaya Musik dan Estetika
Secara musikal, lagu ini memiliki karakteristik khas *Neues Geistliches Lied*:
* **Sederhana namun kuat:** Melodinya dirancang agar mudah dinyanyikan oleh jemaat, baik dengan iringan gitar maupun organ.
* **Narasi yang kuat:** Liriknya berfungsi seperti sebuah cerita (ballad). Ini adalah cara Laue untuk membuat jemaat lebih merenungkan kisah alkitabiah secara emosional, bukan sekadar sebagai doktrin yang dingin.
### Kesimpulan
Lagu "Jona, Jona" karya Eberhard Laue (1968) adalah upaya untuk **mendekatkan kisah Alkitab ke ruang tamu atau ruang batin manusia modern.** Lagu ini bukan hanya tentang seorang nabi yang ditelan ikan, melainkan tentang **"Yunus di dalam diri kita masing-masing"**: rasa takut, keinginan untuk kabur dari tanggung jawab, dan akhirnya, penerimaan terhadap panggilan Tuhan meski harus melalui badai kehidupan.
Hingga hari ini, lagu ini tetap populer di banyak gereja berbahasa Jerman sebagai lagu perenungan yang sangat jujur mengenai hubungan manusia dengan panggilan Tuhan.
Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita harus melihat tiga aspek utama: sosok penciptanya, konteks zaman saat lagu itu lahir, dan pesan teologis yang ingin disampaikan.
### 1. Latar Belakang Pencipta: Eberhard Laue
Eberhard Laue adalah seorang musisi gereja, komponis, dan organis asal Jerman yang sangat aktif pada pertengahan abad ke-20. Ia adalah bagian dari gerakan *Neues Geistliches Lied* (Lagu Rohani Baru) di Jerman.
Pada tahun 1960-an, gereja-gereja di Jerman (baik Protestan maupun Katolik) mulai merasa bahwa lagu-lagu pujian tradisional (koral klasik) terasa terlalu kaku bagi generasi muda pasca-Perang Dunia II. Laue adalah salah satu tokoh yang mencoba menjembatani tradisi musik gereja dengan gaya yang lebih modern, ritmis, dan lirik yang menyentuh realitas hidup manusia.
### 2. Konteks Zaman (1968)
Tahun 1968 adalah tahun yang sangat signifikan secara global. Di Jerman, tahun ini ditandai dengan gejolak sosial, protes mahasiswa, dan pencarian identitas moral pasca-perang.
* **"Jona, Jona"** muncul sebagai bentuk refleksi teologis yang relevan dengan keresahan saat itu.
* Kisah Yunus dalam Alkitab sering kali disalahpahami hanya sebagai cerita tentang "ikan besar." Namun, bagi Laue dan rekan-rekannya, kisah Yunus adalah tentang **pelarian manusia dari panggilan Tuhan** dan **keengganan manusia untuk menghadapi kenyataan/tugas sulit.**
### 3. Makna Teologis dalam Lagu
Dalam lagu ini, Eberhard Laue tidak sekadar menceritakan ulang kisah Yunus, tetapi menjadikannya cermin bagi pendengarnya. Berikut adalah poin-poin utama yang tertuang dalam narasi lagu tersebut:
* **Pelarian Diri:** Yunus digambarkan sebagai sosok yang mencoba lari dari perintah Tuhan untuk pergi ke Niniwe. Dalam interpretasi Laue, Niniwe mewakili tempat-tempat "tidak nyaman" atau orang-orang yang tidak kita sukai—tugas yang berat yang ingin kita hindari.
* **Ketakutan dan Ketidaktaatan:** Lagu ini menyoroti ketakutan manusia. Yunus takut akan tugasnya, ia takut akan kemarahan Tuhan, atau mungkin ia takut akan penolakan. Laue menggunakan sosok Yunus untuk bertanya kepada pendengar: *"Di mana kamu bersembunyi? Ke arah mana kapalmu berlayar ketika Tuhan memanggilmu?"*
* **Penyertaan Tuhan:** Terlepas dari pelariannya, pesan yang ingin disampaikan Laue adalah bahwa manusia tidak bisa benar-benar bersembunyi dari Tuhan. Ikan besar, badai, dan perjalanan Yunus adalah bentuk "intervensi kasih" Tuhan agar manusia kembali ke jalan yang benar.
### 4. Gaya Musik dan Estetika
Secara musikal, lagu ini memiliki karakteristik khas *Neues Geistliches Lied*:
* **Sederhana namun kuat:** Melodinya dirancang agar mudah dinyanyikan oleh jemaat, baik dengan iringan gitar maupun organ.
* **Narasi yang kuat:** Liriknya berfungsi seperti sebuah cerita (ballad). Ini adalah cara Laue untuk membuat jemaat lebih merenungkan kisah alkitabiah secara emosional, bukan sekadar sebagai doktrin yang dingin.
### Kesimpulan
Lagu "Jona, Jona" karya Eberhard Laue (1968) adalah upaya untuk **mendekatkan kisah Alkitab ke ruang tamu atau ruang batin manusia modern.** Lagu ini bukan hanya tentang seorang nabi yang ditelan ikan, melainkan tentang **"Yunus di dalam diri kita masing-masing"**: rasa takut, keinginan untuk kabur dari tanggung jawab, dan akhirnya, penerimaan terhadap panggilan Tuhan meski harus melalui badai kehidupan.
Hingga hari ini, lagu ini tetap populer di banyak gereja berbahasa Jerman sebagai lagu perenungan yang sangat jujur mengenai hubungan manusia dengan panggilan Tuhan.