KMM
Di Jalan Hidup Yang Lebar Sempit
Make Me A Blessing , Out in the Highways and Byways of Life
Informasi Lagu
97
Nomor
Kode
KMM 97
Buku
Kidung Muda Mudi
Metronom
0
Cross Ref.
NKB 200, GB 284
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Make Me a Blessing"** (dikenal dalam bahasa Indonesia sebagai **"Di Jalan Hidup yang Lebar, Sempit"**) adalah salah satu lagu rohani klasik yang memiliki pesan mendalam tentang kerinduan seseorang untuk menjadi alat di tangan Tuhan.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Pencipta Lagu
Lagu ini merupakan hasil kolaborasi dari dua tokoh musik gerejawi asal Amerika Serikat pada awal abad ke-20:
* **Lirik:** Ditulis oleh **Ira Bishop Wilson (1880–1950)**. Wilson adalah seorang komposer, editor musik, dan penulis lagu yang sangat produktif di zamannya.
* **Musik/Komposisi:** Ditulis oleh **George Sylvester Schuler (1882–1973)**. Schuler adalah seorang musisi gereja yang berpengaruh, guru musik di Moody Bible Institute, dan komposer yang mendedikasikan hidupnya untuk melayani melalui musik.
### 2. Latar Belakang dan Konteks
Lagu ini diciptakan pada tahun **1924**. Pada masa itu, Amerika Serikat dan dunia sedang berada dalam periode pasca-Perang Dunia I, di mana banyak orang mengalami kelelahan jiwa, ketidakpastian, dan kerinduan akan makna hidup yang lebih mendalam.
Kisah di balik lagu ini tidak spesifik merujuk pada sebuah tragedi besar, melainkan lahir dari **refleksi teologis** kedua penciptanya. Schuler dan Wilson ingin menciptakan sebuah "lagu doa" yang sederhana namun universal. Mereka ingin menangkap perasaan orang Kristen yang menyadari bahwa hidup di dunia ini (yang digambarkan sebagai "jalan yang lebar dan sempit") hanyalah tempat persinggahan sementara.
Pesan utama yang ingin mereka sampaikan adalah: *"Karena hidup ini singkat, jangan biarkan aku lewat begitu saja tanpa memberikan dampak bagi orang lain."*
### 3. Makna Lirik
Lirik lagu ini mencerminkan filosofi hidup Kristen yang berpusat pada pelayanan. Mari kita bedah maknanya:
* **"Di jalan hidup yang lebar, sempit..."**: Ini adalah pengakuan bahwa hidup tidak selalu mulus. Ada suka dan duka. Namun, di mana pun kita berada, kita dipanggil untuk membawa terang.
* **"Banyaklah orang yang jatuh dalam dosa"**: Ini adalah bentuk empati terhadap penderitaan sesama manusia yang tersesat atau mengalami kesulitan hidup.
* **"Jadikan daku berkat..."**: Ini adalah inti dari doa lagu ini. Penulis lagu tidak meminta kekayaan atau kesuksesan duniawi, melainkan meminta kepada Tuhan untuk memakai dirinya sebagai saluran berkat bagi orang lain.
* **Refrain (Chorus):** *"Jadikan daku berkat, jadikan daku berkat, di jalan hidup ini, jadikan daku berkat."* Pengulangan ini menunjukkan sebuah permohonan yang mendesak dan kerendahan hati.
### 4. Pengaruh Lagu
Sejak diterbitkan pada tahun 1924, lagu ini menjadi sangat populer di lingkungan gereja-gereja evangelikal dan protestan di seluruh dunia. Kepopulerannya bukan karena melodinya yang megah, melainkan karena **kedalaman doa** di dalamnya yang bisa dirasakan oleh siapa saja—baik orang awam maupun pelayan Tuhan.
Lagu ini sering dinyanyikan dalam:
* Acara pengutusan misionaris.
* Kebaktian doa mingguan.
* Sebagai lagu refleksi setelah mendengar khotbah tentang kasih dan pelayanan.
### Kesimpulan
Kisah di balik "Make Me a Blessing" adalah kisah tentang **kerelaan untuk dipakai Tuhan**. Ira B. Wilson dan George S. Schuler tidak sedang menulis tentang teori agama yang rumit; mereka menuliskan sebuah komitmen hidup.
Bagi banyak orang, lagu ini bukan sekadar nyanyian, melainkan "janji" atau doa harian. Saat seseorang menyanyikan lagu ini, mereka sedang diingatkan bahwa setiap langkah kaki kita di "jalan hidup" ini memiliki tujuan: yaitu menjadi berkat bagi sesama sebelum perjalanan kita di dunia ini berakhir.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Pencipta Lagu
Lagu ini merupakan hasil kolaborasi dari dua tokoh musik gerejawi asal Amerika Serikat pada awal abad ke-20:
* **Lirik:** Ditulis oleh **Ira Bishop Wilson (1880–1950)**. Wilson adalah seorang komposer, editor musik, dan penulis lagu yang sangat produktif di zamannya.
* **Musik/Komposisi:** Ditulis oleh **George Sylvester Schuler (1882–1973)**. Schuler adalah seorang musisi gereja yang berpengaruh, guru musik di Moody Bible Institute, dan komposer yang mendedikasikan hidupnya untuk melayani melalui musik.
### 2. Latar Belakang dan Konteks
Lagu ini diciptakan pada tahun **1924**. Pada masa itu, Amerika Serikat dan dunia sedang berada dalam periode pasca-Perang Dunia I, di mana banyak orang mengalami kelelahan jiwa, ketidakpastian, dan kerinduan akan makna hidup yang lebih mendalam.
Kisah di balik lagu ini tidak spesifik merujuk pada sebuah tragedi besar, melainkan lahir dari **refleksi teologis** kedua penciptanya. Schuler dan Wilson ingin menciptakan sebuah "lagu doa" yang sederhana namun universal. Mereka ingin menangkap perasaan orang Kristen yang menyadari bahwa hidup di dunia ini (yang digambarkan sebagai "jalan yang lebar dan sempit") hanyalah tempat persinggahan sementara.
Pesan utama yang ingin mereka sampaikan adalah: *"Karena hidup ini singkat, jangan biarkan aku lewat begitu saja tanpa memberikan dampak bagi orang lain."*
### 3. Makna Lirik
Lirik lagu ini mencerminkan filosofi hidup Kristen yang berpusat pada pelayanan. Mari kita bedah maknanya:
* **"Di jalan hidup yang lebar, sempit..."**: Ini adalah pengakuan bahwa hidup tidak selalu mulus. Ada suka dan duka. Namun, di mana pun kita berada, kita dipanggil untuk membawa terang.
* **"Banyaklah orang yang jatuh dalam dosa"**: Ini adalah bentuk empati terhadap penderitaan sesama manusia yang tersesat atau mengalami kesulitan hidup.
* **"Jadikan daku berkat..."**: Ini adalah inti dari doa lagu ini. Penulis lagu tidak meminta kekayaan atau kesuksesan duniawi, melainkan meminta kepada Tuhan untuk memakai dirinya sebagai saluran berkat bagi orang lain.
* **Refrain (Chorus):** *"Jadikan daku berkat, jadikan daku berkat, di jalan hidup ini, jadikan daku berkat."* Pengulangan ini menunjukkan sebuah permohonan yang mendesak dan kerendahan hati.
### 4. Pengaruh Lagu
Sejak diterbitkan pada tahun 1924, lagu ini menjadi sangat populer di lingkungan gereja-gereja evangelikal dan protestan di seluruh dunia. Kepopulerannya bukan karena melodinya yang megah, melainkan karena **kedalaman doa** di dalamnya yang bisa dirasakan oleh siapa saja—baik orang awam maupun pelayan Tuhan.
Lagu ini sering dinyanyikan dalam:
* Acara pengutusan misionaris.
* Kebaktian doa mingguan.
* Sebagai lagu refleksi setelah mendengar khotbah tentang kasih dan pelayanan.
### Kesimpulan
Kisah di balik "Make Me a Blessing" adalah kisah tentang **kerelaan untuk dipakai Tuhan**. Ira B. Wilson dan George S. Schuler tidak sedang menulis tentang teori agama yang rumit; mereka menuliskan sebuah komitmen hidup.
Bagi banyak orang, lagu ini bukan sekadar nyanyian, melainkan "janji" atau doa harian. Saat seseorang menyanyikan lagu ini, mereka sedang diingatkan bahwa setiap langkah kaki kita di "jalan hidup" ini memiliki tujuan: yaitu menjadi berkat bagi sesama sebelum perjalanan kita di dunia ini berakhir.