Informasi Lagu
196
Nomor
Kode
KPKA 196
Buku
Kidung Pasamuwan Kristen Anyar
Metronom
0
Cross Ref.
NR 84, KJ 54, KK 358, BE 279, KPJ 195
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Sabdaning Allah Hyang Widi yeku kitab suci panuntuning gung manungsa mring lampah utama wah mbereg mring pitobat tyang ngorong sih rahmat nglipur manah kang sisah ngiyatken kang semplah
Mugi sabdanipun Gusti sinerat ing ati, budi saya mindhak murni wit rehing Roh Suci, tresna mring mengsah ugi wah dhateng sesami, mbabar bebener nyata wah tentrem raharja.
Sabdeng Allah Maha tresna den undhangna wrata, winulangna dhateng brayat lan grengsenging tekad, ing dalu, enjing, siang mrih tuwuhing iman, tansah setya ngabekti klayan trusing ati.
Slide Lirik 3 slide
Slide 1 — KPKA 196 1
Slide 2 — KPKA 196 2
Slide 3 — KPKA 196 3
Partitur / Not
Partitur Chord KPKA 196
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"Kula Datan Badhe Nrimah"** (Bahasa Jawa) atau yang dikenal dengan judul aslinya dalam bahasa Belanda **"Wij Geven Het Niet Over"** adalah sebuah narasi tentang keteguhan iman, keberanian di tengah penindasan, dan identitas spiritual di masa-masa kelam sejarah.

Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:

### 1. Asal Usul Musik: Johann Michael Haydn
Melodi lagu ini berasal dari karya komponis klasik **Johann Michael Haydn** (1737–1806), adik dari Joseph Haydn yang lebih terkenal. Melodi ini diambil dari sebuah lagu pujian gerejawi klasik yang memiliki nuansa khidmat, megah, namun penuh refleksi. Dalam tradisi gereja, melodi ini sering digunakan untuk mengiringi teks-teks yang bersifat perenungan mendalam.

### 2. Konteks Sejarah: "Wij Geven Het Niet Over"
Lirik aslinya, *"Wij Geven Het Niet Over"* (Kami Tidak Akan Menyerah), lahir di tengah **Perang Dunia II**, tepatnya di masa pendudukan Nazi Jerman di Belanda.

* **Latar Belakang:** Lagu ini ditulis sebagai bentuk perlawanan spiritual. Pada masa itu, banyak orang Kristen di Belanda menghadapi tekanan berat untuk mengikuti ideologi Nazi yang bertentangan dengan iman Kristiani.
* **Makna:** Frasa *"Wij geven het niet over"* berarti "Kami tidak akan menyerah" atau "Kami tidak akan menyerahkan (iman/identitas) ini." Lagu ini menjadi semacam "lagu perjuangan bawah tanah" yang dinyanyikan oleh kelompok-kelompok perlawanan dan jemaat gereja yang tetap setia pada keyakinan mereka meski berada di bawah ancaman penangkapan atau eksekusi. Lagu ini adalah pernyataan bahwa meskipun fisik mereka mungkin kalah oleh perang, jiwa dan iman mereka tidak bisa ditundukkan.

### 3. Transformasi ke Bahasa Jawa: Petrus Johannes Moeton
Setelah perang usai, lagu ini dibawa ke Indonesia oleh para misionaris atau pendeta yang memiliki latar belakang sejarah di Belanda, salah satunya **Petrus Johannes Moeton**.

Di Indonesia, lagu ini diadaptasi ke dalam bahasa Jawa dengan judul **"Kula Datan Badhe Nrimah"**. Namun, terjadi pergeseran makna yang sangat menarik:

* **Perubahan Makna:** Jika versi Belanda (*Wij Geven Het Niet Over*) adalah tentang **perlawanan** terhadap tirani, versi Jawa (*Kula Datan Badhe Nrimah*) berubah menjadi ekspresi **penyerahan diri yang radikal** kepada Tuhan.
* **"Kula Datan Badhe Nrimah":** Secara harfiah berarti "Saya tidak akan sekadar menerima (nasib begitu saja)" atau bisa juga dipahami sebagai "Saya tidak akan (hanya) pasrah," melainkan sebuah komitmen untuk terus melangkah bersama Tuhan meskipun situasi sulit. Dalam banyak konteks liturgi gereja di Jawa, lagu ini dimaknai sebagai tekad seseorang untuk tetap setia mengikut Tuhan dalam kondisi apa pun, baik dalam suka maupun duka.
* **Adaptasi Budaya:** Petrus Johannes Moeton berhasil membungkus pesan keteguhan iman tersebut ke dalam struktur bahasa Jawa yang puitis dan pas dengan alunan melodi Michael Haydn yang melankolis.

### 4. Mengapa Lagu Ini Begitu Penting?
Lagu ini menjadi sangat ikonik di kalangan gereja-gereja di Jawa karena beberapa alasan:
1. **Kedalaman Melodi:** Melodi Michael Haydn memberikan kesan agung yang membuat jemaat merasa berada dalam kehadiran Tuhan yang kudus.
2. **Kekuatan Lirik:** Bagi masyarakat Jawa yang sering mengedepankan sikap *nrimo* (menerima keadaan), lirik "Kula Datan Badhe Nrimah" justru memberikan pemahaman baru bahwa beriman bukan berarti pasif, melainkan sebuah perjuangan aktif untuk tetap setia.
3. **Memori Kolektif:** Lagu ini sering dinyanyikan pada saat-saat reflektif, seperti ibadah Jumat Agung, perjamuan kudus, atau momen-momen perkabungan, di mana iman seseorang diuji oleh keadaan hidup.

### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini adalah perjalanan dari **medan perang di Eropa** menuju **kehidupan iman di tanah Jawa**. Dari sebuah pekik perlawanan terhadap penindasan Nazi, lagu ini bertransformasi menjadi doa keteguhan iman yang mendalam dalam bahasa Jawa. Lagu ini mengingatkan penggunanya bahwa iman bukan sekadar menerima nasib, melainkan keberanian untuk tetap berdiri teguh di jalan yang benar, apa pun tantangannya.