Informasi Lagu
195
Nomor
Kode
KPJ 195
Buku
Kidung Pasamuwan Jawi
Metronom
0
Jumlah Bait
3 bait
Pencipta Lagu
Johann Michael Haydn (1737)
Pencipta Syair
Petrus Johannes Moeton (1837)
Cross Ref.
KJ 54, KK 358, BE 279, KPKA 196, NR 84
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Kula datan badhe nrimah, datan badhe rila, pepadhang saking Yehuwah tinampik prajalma. Tan badhe sabdeng Allah pikekah kawula sinrahken dhateng mengsah kang ambek daksiya.
Sabdeng Allah gung piguna mring sepuh-anema. Kang ringkih sinantosakken, lesah kiniyatken. Tyang kang wangkot ing manah nulya dados lembah; samya dadya sembada wit sabdeng Kang Kwasa.
Ing manah kula sinerah sabdanipun Gusti, mrih kula kanthi urmat setya ing prajanji. Sanadyan ardi goyah, jagad badhe sirna, nging sabdaning Yehuwah langgeng ing tyas kula.
Slide Lirik 3 slide
Slide 1 — KPJ 195 1
Slide 2 — KPJ 195 2
Slide 3 — KPJ 195 3
Partitur / Not
Partitur Chord KPJ 195
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"Kula Datan Badhe Nrimah"** (Bahasa Jawa) atau yang dikenal dengan judul aslinya dalam bahasa Belanda **"Wij Geven Het Niet Over"** adalah sebuah narasi tentang keteguhan iman, keberanian di tengah penindasan, dan identitas spiritual di masa-masa kelam sejarah.

Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:

### 1. Asal Usul Musik: Johann Michael Haydn
Melodi lagu ini berasal dari karya komponis klasik **Johann Michael Haydn** (1737–1806), adik dari Joseph Haydn yang lebih terkenal. Melodi ini diambil dari sebuah lagu pujian gerejawi klasik yang memiliki nuansa khidmat, megah, namun penuh refleksi. Dalam tradisi gereja, melodi ini sering digunakan untuk mengiringi teks-teks yang bersifat perenungan mendalam.

### 2. Konteks Sejarah: "Wij Geven Het Niet Over"
Lirik aslinya, *"Wij Geven Het Niet Over"* (Kami Tidak Akan Menyerah), lahir di tengah **Perang Dunia II**, tepatnya di masa pendudukan Nazi Jerman di Belanda.

* **Latar Belakang:** Lagu ini ditulis sebagai bentuk perlawanan spiritual. Pada masa itu, banyak orang Kristen di Belanda menghadapi tekanan berat untuk mengikuti ideologi Nazi yang bertentangan dengan iman Kristiani.
* **Makna:** Frasa *"Wij geven het niet over"* berarti "Kami tidak akan menyerah" atau "Kami tidak akan menyerahkan (iman/identitas) ini." Lagu ini menjadi semacam "lagu perjuangan bawah tanah" yang dinyanyikan oleh kelompok-kelompok perlawanan dan jemaat gereja yang tetap setia pada keyakinan mereka meski berada di bawah ancaman penangkapan atau eksekusi. Lagu ini adalah pernyataan bahwa meskipun fisik mereka mungkin kalah oleh perang, jiwa dan iman mereka tidak bisa ditundukkan.

### 3. Transformasi ke Bahasa Jawa: Petrus Johannes Moeton
Setelah perang usai, lagu ini dibawa ke Indonesia oleh para misionaris atau pendeta yang memiliki latar belakang sejarah di Belanda, salah satunya **Petrus Johannes Moeton**.

Di Indonesia, lagu ini diadaptasi ke dalam bahasa Jawa dengan judul **"Kula Datan Badhe Nrimah"**. Namun, terjadi pergeseran makna yang sangat menarik:

* **Perubahan Makna:** Jika versi Belanda (*Wij Geven Het Niet Over*) adalah tentang **perlawanan** terhadap tirani, versi Jawa (*Kula Datan Badhe Nrimah*) berubah menjadi ekspresi **penyerahan diri yang radikal** kepada Tuhan.
* **"Kula Datan Badhe Nrimah":** Secara harfiah berarti "Saya tidak akan sekadar menerima (nasib begitu saja)" atau bisa juga dipahami sebagai "Saya tidak akan (hanya) pasrah," melainkan sebuah komitmen untuk terus melangkah bersama Tuhan meskipun situasi sulit. Dalam banyak konteks liturgi gereja di Jawa, lagu ini dimaknai sebagai tekad seseorang untuk tetap setia mengikut Tuhan dalam kondisi apa pun, baik dalam suka maupun duka.
* **Adaptasi Budaya:** Petrus Johannes Moeton berhasil membungkus pesan keteguhan iman tersebut ke dalam struktur bahasa Jawa yang puitis dan pas dengan alunan melodi Michael Haydn yang melankolis.

### 4. Mengapa Lagu Ini Begitu Penting?
Lagu ini menjadi sangat ikonik di kalangan gereja-gereja di Jawa karena beberapa alasan:
1. **Kedalaman Melodi:** Melodi Michael Haydn memberikan kesan agung yang membuat jemaat merasa berada dalam kehadiran Tuhan yang kudus.
2. **Kekuatan Lirik:** Bagi masyarakat Jawa yang sering mengedepankan sikap *nrimo* (menerima keadaan), lirik "Kula Datan Badhe Nrimah" justru memberikan pemahaman baru bahwa beriman bukan berarti pasif, melainkan sebuah perjuangan aktif untuk tetap setia.
3. **Memori Kolektif:** Lagu ini sering dinyanyikan pada saat-saat reflektif, seperti ibadah Jumat Agung, perjamuan kudus, atau momen-momen perkabungan, di mana iman seseorang diuji oleh keadaan hidup.

### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini adalah perjalanan dari **medan perang di Eropa** menuju **kehidupan iman di tanah Jawa**. Dari sebuah pekik perlawanan terhadap penindasan Nazi, lagu ini bertransformasi menjadi doa keteguhan iman yang mendalam dalam bahasa Jawa. Lagu ini mengingatkan penggunanya bahwa iman bukan sekadar menerima nasib, melainkan keberanian untuk tetap berdiri teguh di jalan yang benar, apa pun tantangannya.