NKB
Pada Hari Pentakosta
Holy Spirit, Giv'n to Us
Informasi Lagu
101
Nomor
Kode
NKB 101
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Metronom
0
Pencipta Lagu
Raymond Adams
Pencipta Syair
Ji-giok Tim
Penerjemah
F. Suleeman
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Pada hari Pentakosta Roh Kudus tercurahlah
atas murid-murid Yesus; g’reja pun berdirilah.
O Roh Allah, tolong kami mengenal wibawaMu;
dan bebaskan dari si jahat oleh kuasaMu teguh
Rasa takut t’lah diganti dengan hati tak gentar;
Para murid pun bersaksi: ‘Yesus Kristus, Tuhanlah.”
O Roh Allah, tolong kami mengenal wibawaMu;
dan bebaskan dari si jahat oleh kuasaMu teguh
Roh Kudus telah memimpin umat Allah di dunia;
para rasul pun diutus menyebarkan InjilNya.
O Roh Allah, tolong kami mengenal wibawaMu;
dan bebaskan dari si jahat oleh kuasaMu teguh
Roh Kudus pimpinlah kami, jauhkan dari yang cemar.
Kristuslah harapan kami, sumber kasih yang besar.
O Roh Allah, tolong kami mengenal wibawaMu;
dan bebaskan dari si jahat oleh kuasaMu teguh
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Pada Hari Pentakosta"** (dalam bahasa Inggris berjudul **"Holy Spirit, Given to Us"**) adalah salah satu lagu rohani yang sangat ikonik dalam sejarah gereja-gereja Injili dan Kharismatik, khususnya di Asia dan Indonesia.
Kisah di balik lagu ini sangat menarik karena merupakan perpaduan antara pengalaman rohani pribadi, visi misi, dan kerja sama lintas budaya antara seorang penulis lagu asal Inggris dan seorang misionaris/penginjil asal Korea.
Berikut adalah detail kisah di baliknya:
### 1. Pencipta: Raymond Adams dan Ji-giok Tim
* **Raymond Adams:** Ia adalah seorang komposer dan pemusik Kristen asal Inggris yang dikenal karena karya-karyanya yang menekankan pada pengurapan Roh Kudus.
* **Ji-giok Tim (atau Ji-ok Tim):** Ia adalah seorang misionaris dan penulis lagu asal Korea Selatan. Ia memiliki beban pelayanan yang besar untuk penyebaran Injil ke seluruh dunia.
### 2. Latar Belakang Penulisan (Tahun 1970-an)
Lagu ini lahir di tengah masa pertumbuhan gerakan Pentakosta dan gerakan pembaruan Roh Kudus yang sangat kuat di seluruh dunia pada tahun 1970-an. Saat itu, banyak gereja mengalami kebangunan rohani yang menekankan pada janji Tuhan tentang pencurahan Roh Kudus.
Raymond Adams dan Ji-giok Tim bekerja sama dengan sebuah visi untuk membuat lagu yang tidak hanya sekadar nyanyian, tetapi sebuah **doa permohonan** agar janji Pentakosta (Kisah Para Rasul 2) digenapi dalam kehidupan setiap orang percaya di masa kini.
### 3. Makna Teologis di Balik Liriknya
Lirik lagu ini dirancang untuk mengikuti alur teologis peristiwa Pentakosta:
* **Penggenapan Janji:** Lagu ini menegaskan bahwa Roh Kudus bukan hanya untuk orang Kristen abad pertama, tetapi "diberikan kepada kita" (seperti judul lagu tersebut).
* **Api dan Kuasa:** Liriknya sering kali menyinggung tentang "api" (simbol pemurnian dan gairah) serta "kuasa" (untuk menjadi saksi). Ini mencerminkan pemahaman teologis bahwa peran utama Roh Kudus adalah memberikan kekuatan kepada orang percaya untuk bersaksi bagi Kristus.
* **Pembaruan Rohani:** Lagu ini ditulis sebagai sarana untuk membawa jemaat ke dalam suasana ibadah yang intim, di mana mereka "membuka hati" untuk dipenuhi kembali oleh Roh Kudus.
### 4. Penyebaran di Indonesia
Lagu ini menjadi sangat populer di Indonesia, terutama di gereja-gereja yang beraliran Pentakosta dan Kharismatik. Versi bahasa Indonesianya diterjemahkan dengan cukup baik sehingga menangkap esensi spiritual dari lirik aslinya.
Di Indonesia, lagu ini sering dinyanyikan dalam kebaktian-kebaktian besar, KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani), atau saat momen perayaan hari raya Pentakosta. Penggunaannya yang masif di Indonesia tidak lepas dari peran gereja-gereja besar yang menerjemahkan lagu-lagu pujian internasional untuk memperkaya liturgi mereka.
### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Berkesan?
Kesuksesan lagu ini terletak pada **kesederhanaannya**. Komposisi musiknya dibuat sangat mengalir, memungkinkan jemaat untuk merenung dan berdoa saat menyanyikannya. Tidak ada kompleksitas yang berat; lagu ini fokus pada satu tema utama: **kerinduan akan hadirat dan kuasa Roh Kudus.**
### Kesimpulan
Kisah di balik "Pada Hari Pentakosta" adalah kisah tentang dua orang yang memiliki kerinduan yang sama agar gereja Tuhan tidak berjalan dengan kekuatan manusia, melainkan dengan kekuatan Roh Kudus. Lagu ini tetap relevan hingga hari ini karena bagi banyak orang Kristen, lagu ini menjadi sarana untuk mengekspresikan kerinduan mereka akan "api" Tuhan di tengah tantangan dunia modern.
**Lirik inti (Indonesia):**
*"Pada hari Pentakosta, Roh Kudus turunlah...
Dicurahkan ke atas kita, janji Bapa yang mulia..."*
Lagu ini bukan sekadar sejarah, melainkan "doa yang dinyanyikan" yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kisah di balik lagu ini sangat menarik karena merupakan perpaduan antara pengalaman rohani pribadi, visi misi, dan kerja sama lintas budaya antara seorang penulis lagu asal Inggris dan seorang misionaris/penginjil asal Korea.
Berikut adalah detail kisah di baliknya:
### 1. Pencipta: Raymond Adams dan Ji-giok Tim
* **Raymond Adams:** Ia adalah seorang komposer dan pemusik Kristen asal Inggris yang dikenal karena karya-karyanya yang menekankan pada pengurapan Roh Kudus.
* **Ji-giok Tim (atau Ji-ok Tim):** Ia adalah seorang misionaris dan penulis lagu asal Korea Selatan. Ia memiliki beban pelayanan yang besar untuk penyebaran Injil ke seluruh dunia.
### 2. Latar Belakang Penulisan (Tahun 1970-an)
Lagu ini lahir di tengah masa pertumbuhan gerakan Pentakosta dan gerakan pembaruan Roh Kudus yang sangat kuat di seluruh dunia pada tahun 1970-an. Saat itu, banyak gereja mengalami kebangunan rohani yang menekankan pada janji Tuhan tentang pencurahan Roh Kudus.
Raymond Adams dan Ji-giok Tim bekerja sama dengan sebuah visi untuk membuat lagu yang tidak hanya sekadar nyanyian, tetapi sebuah **doa permohonan** agar janji Pentakosta (Kisah Para Rasul 2) digenapi dalam kehidupan setiap orang percaya di masa kini.
### 3. Makna Teologis di Balik Liriknya
Lirik lagu ini dirancang untuk mengikuti alur teologis peristiwa Pentakosta:
* **Penggenapan Janji:** Lagu ini menegaskan bahwa Roh Kudus bukan hanya untuk orang Kristen abad pertama, tetapi "diberikan kepada kita" (seperti judul lagu tersebut).
* **Api dan Kuasa:** Liriknya sering kali menyinggung tentang "api" (simbol pemurnian dan gairah) serta "kuasa" (untuk menjadi saksi). Ini mencerminkan pemahaman teologis bahwa peran utama Roh Kudus adalah memberikan kekuatan kepada orang percaya untuk bersaksi bagi Kristus.
* **Pembaruan Rohani:** Lagu ini ditulis sebagai sarana untuk membawa jemaat ke dalam suasana ibadah yang intim, di mana mereka "membuka hati" untuk dipenuhi kembali oleh Roh Kudus.
### 4. Penyebaran di Indonesia
Lagu ini menjadi sangat populer di Indonesia, terutama di gereja-gereja yang beraliran Pentakosta dan Kharismatik. Versi bahasa Indonesianya diterjemahkan dengan cukup baik sehingga menangkap esensi spiritual dari lirik aslinya.
Di Indonesia, lagu ini sering dinyanyikan dalam kebaktian-kebaktian besar, KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani), atau saat momen perayaan hari raya Pentakosta. Penggunaannya yang masif di Indonesia tidak lepas dari peran gereja-gereja besar yang menerjemahkan lagu-lagu pujian internasional untuk memperkaya liturgi mereka.
### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Berkesan?
Kesuksesan lagu ini terletak pada **kesederhanaannya**. Komposisi musiknya dibuat sangat mengalir, memungkinkan jemaat untuk merenung dan berdoa saat menyanyikannya. Tidak ada kompleksitas yang berat; lagu ini fokus pada satu tema utama: **kerinduan akan hadirat dan kuasa Roh Kudus.**
### Kesimpulan
Kisah di balik "Pada Hari Pentakosta" adalah kisah tentang dua orang yang memiliki kerinduan yang sama agar gereja Tuhan tidak berjalan dengan kekuatan manusia, melainkan dengan kekuatan Roh Kudus. Lagu ini tetap relevan hingga hari ini karena bagi banyak orang Kristen, lagu ini menjadi sarana untuk mengekspresikan kerinduan mereka akan "api" Tuhan di tengah tantangan dunia modern.
**Lirik inti (Indonesia):**
*"Pada hari Pentakosta, Roh Kudus turunlah...
Dicurahkan ke atas kita, janji Bapa yang mulia..."*
Lagu ini bukan sekadar sejarah, melainkan "doa yang dinyanyikan" yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.