NKB
ApiNya Berkobar Dalam Hatiku
I Can Feel the Fire Aburning
Informasi Lagu
104
Nomor
Kode
NKB 104
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Metronom
0
Pencipta Lagu
W. Elmo Mercer
Pencipta Syair
W. Elmo Mercer
Penerjemah
K.P. Nugroho
Cross Ref.
KK 280
Syair / Lirik
4 bait
ApiNya berkobar dalam hatiku,
‘Ku girang kar’na Yesus yang memb’ri.
Dihangatkan jiwaku, tak perlu ‘ku mengeluh,
darahNya membasuh diriku bersih.
ApiNya terang, jiwaku senang,
muliakanlah Tuhanku;
Haleluya bergemar, Yesus Raja yang benar,
apiNya berkobar dalam hatiku.
ApiNya berkobar dalam hatiku,
gembira hatiku selamanya.
‘Ku bersaksi berseru: ”Yesus Jurus’lamatku”
kar’na ‘ku berpegang pada janjiNya.
ApiNya terang, jiwaku senang,
muliakanlah Tuhanku;
Haleluya bergemar, Yesus Raja yang benar,
apiNya berkobar dalam hatiku.
ApiNya berkobar dalam hatiku,
jiwaku s’lamat kar’na kuasaNya.
Nyala kasih dalamku, mengalahkan seteru;
Roh memimpin hidupku seluruhnya.
ApiNya terang, jiwaku senang,
muliakanlah Tuhanku;
Haleluya bergemar, Yesus Raja yang benar,
apiNya berkobar dalam hatiku.
ApiNya berkobar dalam hatiku,
dinyalakan iman, harapanku.
‘Ku bersaksi bagiNya, muliakan namaNya,
agar nyata kasih Kristus, Tuhanku.
ApiNya terang, jiwaku senang,
muliakanlah Tuhanku;
Haleluya bergemar, Yesus Raja yang benar,
apiNya berkobar dalam hatiku.
Slide Lirik
5 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu "I Can Feel The Fire Aburning" (atau dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai "Apinya Berkobar Dalam Hatiku") adalah salah satu himne gospel yang paling bersemangat dan digemari, terutama di kalangan gereja-gereja yang menekankan pengalaman rohani yang mendalam dan karunia Roh Kudus. Di balik liriknya yang sederhana namun penuh kuasa, terdapat kisah inspirasi dan konteks rohani yang kaya dari penulisnya, William Elmo Mercer.
Mari kita selami kisahnya dengan detail:
---
**William Elmo Mercer: Sang Komposer dengan Hati yang Terbakar**
William Elmo Mercer (1917-1999), atau yang lebih dikenal dengan W. E. Mercer, adalah seorang komposer, aranjer, dan penerbit musik gospel Amerika yang sangat produktif. Ia merupakan figur penting dalam genre musik Southern Gospel dan Sacred Harp. Mercer dikenal sebagai seorang pria dengan iman yang kuat dan pengalaman rohani yang mendalam, yang sering kali menjadi dasar dari karya-karya musiknya.
Mercer berafiliasi erat dengan Church of God (Cleveland, Tennessee), sebuah denominasi Pentakosta. Latar belakang Pentakosta ini sangat krusial dalam memahami inspirasi di balik "I Can Feel The Fire." Gereja-gereja Pentakosta dan gerakan kekudusan (Holiness Movement) secara historis sangat menekankan pengalaman pribadi dengan Roh Kudus, yang sering digambarkan dengan metafora "api" – api pemurnian, api gairah, api kuasa, dan api kehadiran ilahi.
**Kelahiran "Apinya Berkobar": Tahun 1951**
Lagu "I Can Feel The Fire Aburning" ditulis oleh W. E. Mercer pada tahun **1951**. Era pasca-Perang Dunia II adalah masa kebangkitan rohani yang kuat di Amerika Serikat, dengan banyak kamp-kamp kebangunan rohani (revival meetings) dan pertemuan gereja yang berapi-api. Di tengah suasana ini, Mercer, seperti banyak orang percaya lainnya, sangat haus akan pengalaman rohani yang lebih dalam dan nyata.
Inspirasi untuk lagu ini tidak datang dari sekadar pemikiran teologis abstrak, melainkan dari **pengalaman pribadi dan observasi yang mendalam**. Mercer sendiri, sebagai seorang yang dibesarkan dalam tradisi yang menekankan pengalaman Roh Kudus, kemungkinan besar merasakan "api" tersebut dalam hatinya. Ia menyaksikan bagaimana Roh Kudus bekerja dalam kehidupan orang-orang, membawa sukacita, pembaruan, dan kekuatan.
Kata "api" dalam konteks ini adalah metafora yang kaya akan makna biblis dan rohani:
1. **Api Roh Kudus (Kisah Para Rasul 2):** Mengacu pada peristiwa Pentakosta, di mana lidah-lidah api hinggap di atas para rasul, memberi mereka kuasa dan keberanian untuk memberitakan Injil. Ini melambangkan pengisian dan pemberdayaan oleh Roh Kudus.
2. **Api Pemurnian (Maleakhi 3:2-3):** Api sering digunakan untuk menggambarkan proses pemurnian, di mana kotoran dibakar habis, meninggalkan emas murni. Ini adalah api yang membersihkan dosa dan menguduskan hati.
3. **Api Gairah dan Semangat:** Api juga melambangkan semangat yang membara, gairah yang tak terbatas dalam melayani Tuhan, dan cinta yang membara kepada-Nya.
4. **Api Kehadiran Ilahi (Keluaran 3):** Seperti Musa di depan semak yang menyala, api adalah tanda kehadiran Tuhan yang kudus dan berdaulat.
Mercer ingin menangkap esensi dari pengalaman rohani yang kuat ini ke dalam sebuah lagu yang bisa dinyanyikan oleh jemaat. Ia ingin orang-orang tidak hanya memahami konsep Roh Kudus secara intelektual, tetapi juga *merasakan* kehadiran-Nya secara nyata dalam hati mereka.
**Lirik yang Sederhana, Pesan yang Menggema**
Lirik lagu ini, dengan pengulangan frasa seperti "I can feel the fire aburning" dan "down in my soul," sangat langsung dan pribadi. Ini adalah sebuah kesaksian – pernyataan "aku bisa merasakan" – yang tidak hanya deskriptif tetapi juga persuasif. Melodi dan harmoninya yang khas gospel Southern semakin memperkuat nuansa kegembiraan dan antusiasme rohani.
Mercer menulis lirik ini untuk memicu respons emosional dan spiritual. Ia ingin setiap orang yang menyanyikannya atau mendengarkannya dapat mengidentifikasi diri dengan perasaan tersebut: perasaan sukacita yang meluap, kehangatan kehadiran Roh Kudus, dan gairah yang baru untuk Tuhan.
**Dampak dan Warisan**
"I Can Feel The Fire Aburning" dengan cepat menjadi himne klasik dan favorit di banyak gereja Pentakosta dan gerakan kekudusan. Lagu ini:
* **Membawa Kebangunan Rohani:** Sering dinyanyikan dalam pertemuan kebangunan rohani, lagu ini menjadi sarana untuk mengundang kehadiran Roh Kudus dan mendorong jemaat untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.
* **Menjadi Lagu Kesaksian:** Bagi banyak orang, lagu ini menjadi ekspresi pribadi dari pengalaman mereka akan Roh Kudus, memberikan suara pada sukacita dan damai sejahtera yang mereka rasakan.
* **Menginspirasi Generasi:** Lagu ini telah dinyanyikan dan direkam oleh banyak artis gospel selama puluhan tahun, terus menginspirasi generasi baru untuk mencari dan merasakan "api" Roh Kudus dalam kehidupan mereka.
* **Mencerminkan Teologi Pentakosta:** Lagu ini adalah representasi yang indah dari inti sari teologi Pentakosta, yang menekankan pengalaman empiris tentang keselamatan, kekudusan, dan pengisian Roh Kudus.
Singkatnya, "I Can Feel The Fire Aburning" adalah lebih dari sekadar lagu; ia adalah manifestasi musik dari pengalaman spiritual yang mendalam, lahir dari hati seorang komposer yang sendiri merasakan api ilahi. William Elmo Mercer tidak hanya menulis sebuah lagu, tetapi ia menciptakan sebuah jembatan emosional dan spiritual yang memungkinkan jutaan orang untuk berseru, "Aku bisa merasakan api itu berkobar dalam hatiku!"
Mari kita selami kisahnya dengan detail:
---
**William Elmo Mercer: Sang Komposer dengan Hati yang Terbakar**
William Elmo Mercer (1917-1999), atau yang lebih dikenal dengan W. E. Mercer, adalah seorang komposer, aranjer, dan penerbit musik gospel Amerika yang sangat produktif. Ia merupakan figur penting dalam genre musik Southern Gospel dan Sacred Harp. Mercer dikenal sebagai seorang pria dengan iman yang kuat dan pengalaman rohani yang mendalam, yang sering kali menjadi dasar dari karya-karya musiknya.
Mercer berafiliasi erat dengan Church of God (Cleveland, Tennessee), sebuah denominasi Pentakosta. Latar belakang Pentakosta ini sangat krusial dalam memahami inspirasi di balik "I Can Feel The Fire." Gereja-gereja Pentakosta dan gerakan kekudusan (Holiness Movement) secara historis sangat menekankan pengalaman pribadi dengan Roh Kudus, yang sering digambarkan dengan metafora "api" – api pemurnian, api gairah, api kuasa, dan api kehadiran ilahi.
**Kelahiran "Apinya Berkobar": Tahun 1951**
Lagu "I Can Feel The Fire Aburning" ditulis oleh W. E. Mercer pada tahun **1951**. Era pasca-Perang Dunia II adalah masa kebangkitan rohani yang kuat di Amerika Serikat, dengan banyak kamp-kamp kebangunan rohani (revival meetings) dan pertemuan gereja yang berapi-api. Di tengah suasana ini, Mercer, seperti banyak orang percaya lainnya, sangat haus akan pengalaman rohani yang lebih dalam dan nyata.
Inspirasi untuk lagu ini tidak datang dari sekadar pemikiran teologis abstrak, melainkan dari **pengalaman pribadi dan observasi yang mendalam**. Mercer sendiri, sebagai seorang yang dibesarkan dalam tradisi yang menekankan pengalaman Roh Kudus, kemungkinan besar merasakan "api" tersebut dalam hatinya. Ia menyaksikan bagaimana Roh Kudus bekerja dalam kehidupan orang-orang, membawa sukacita, pembaruan, dan kekuatan.
Kata "api" dalam konteks ini adalah metafora yang kaya akan makna biblis dan rohani:
1. **Api Roh Kudus (Kisah Para Rasul 2):** Mengacu pada peristiwa Pentakosta, di mana lidah-lidah api hinggap di atas para rasul, memberi mereka kuasa dan keberanian untuk memberitakan Injil. Ini melambangkan pengisian dan pemberdayaan oleh Roh Kudus.
2. **Api Pemurnian (Maleakhi 3:2-3):** Api sering digunakan untuk menggambarkan proses pemurnian, di mana kotoran dibakar habis, meninggalkan emas murni. Ini adalah api yang membersihkan dosa dan menguduskan hati.
3. **Api Gairah dan Semangat:** Api juga melambangkan semangat yang membara, gairah yang tak terbatas dalam melayani Tuhan, dan cinta yang membara kepada-Nya.
4. **Api Kehadiran Ilahi (Keluaran 3):** Seperti Musa di depan semak yang menyala, api adalah tanda kehadiran Tuhan yang kudus dan berdaulat.
Mercer ingin menangkap esensi dari pengalaman rohani yang kuat ini ke dalam sebuah lagu yang bisa dinyanyikan oleh jemaat. Ia ingin orang-orang tidak hanya memahami konsep Roh Kudus secara intelektual, tetapi juga *merasakan* kehadiran-Nya secara nyata dalam hati mereka.
**Lirik yang Sederhana, Pesan yang Menggema**
Lirik lagu ini, dengan pengulangan frasa seperti "I can feel the fire aburning" dan "down in my soul," sangat langsung dan pribadi. Ini adalah sebuah kesaksian – pernyataan "aku bisa merasakan" – yang tidak hanya deskriptif tetapi juga persuasif. Melodi dan harmoninya yang khas gospel Southern semakin memperkuat nuansa kegembiraan dan antusiasme rohani.
Mercer menulis lirik ini untuk memicu respons emosional dan spiritual. Ia ingin setiap orang yang menyanyikannya atau mendengarkannya dapat mengidentifikasi diri dengan perasaan tersebut: perasaan sukacita yang meluap, kehangatan kehadiran Roh Kudus, dan gairah yang baru untuk Tuhan.
**Dampak dan Warisan**
"I Can Feel The Fire Aburning" dengan cepat menjadi himne klasik dan favorit di banyak gereja Pentakosta dan gerakan kekudusan. Lagu ini:
* **Membawa Kebangunan Rohani:** Sering dinyanyikan dalam pertemuan kebangunan rohani, lagu ini menjadi sarana untuk mengundang kehadiran Roh Kudus dan mendorong jemaat untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.
* **Menjadi Lagu Kesaksian:** Bagi banyak orang, lagu ini menjadi ekspresi pribadi dari pengalaman mereka akan Roh Kudus, memberikan suara pada sukacita dan damai sejahtera yang mereka rasakan.
* **Menginspirasi Generasi:** Lagu ini telah dinyanyikan dan direkam oleh banyak artis gospel selama puluhan tahun, terus menginspirasi generasi baru untuk mencari dan merasakan "api" Roh Kudus dalam kehidupan mereka.
* **Mencerminkan Teologi Pentakosta:** Lagu ini adalah representasi yang indah dari inti sari teologi Pentakosta, yang menekankan pengalaman empiris tentang keselamatan, kekudusan, dan pengisian Roh Kudus.
Singkatnya, "I Can Feel The Fire Aburning" adalah lebih dari sekadar lagu; ia adalah manifestasi musik dari pengalaman spiritual yang mendalam, lahir dari hati seorang komposer yang sendiri merasakan api ilahi. William Elmo Mercer tidak hanya menulis sebuah lagu, tetapi ia menciptakan sebuah jembatan emosional dan spiritual yang memungkinkan jutaan orang untuk berseru, "Aku bisa merasakan api itu berkobar dalam hatiku!"