NKB
Bila 'Ku Berdoa
When I Kneel to Pray
Informasi Lagu
140
Nomor
Kode
NKB 140
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Metronom
0
Jumlah Bait
3 bait
Pencipta Lagu
G.T. Speer
Pencipta Syair
H. Buffum
Penerjemah
K.P. Nugroho
Cross Ref.
KK 540, KLIK 421
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
Tuhan sambut jiwaku, bila ‘ku berdoa;
Dia dan ‘ku bertemu, bila ‘ku berdoa.
Bila ‘ku berdoa, bila ‘ku berdoa,
Tuhan sambut jiwaku, bila ‘ku berdoa.
Tiada bimbang dan gentar, bila ‘ku berdoa;
hatiku pun bergemar, bila ‘ku berdoa.
Bila ‘ku berdoa, bila ‘ku berdoa,
Tuhan sambut jiwaku, bila ‘ku berdoa.
Yesus tahu dan mengerti, bila ‘ku berdoa;
pengampunan diberi, bila ‘ku berdoa.
Bila ‘ku berdoa, bila ‘ku berdoa,
Tuhan sambut jiwaku, bila ‘ku berdoa.
Slide Lirik
3 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"When I Kneel to Pray"** (atau yang sering dikenal dalam bahasa Indonesia dengan judul **"Tuhan Sambut Jiwaku"**) adalah sebuah mahakarya dalam genre musik gospel klasik Amerika. Untuk memahami kisahnya, kita harus melihat dua tokoh di baliknya: **Herbert Emery Buffum** (penulis lirik/melodi asli) dan **George Thomas Speer** (keluarga Speer yang mempopulerkannya).
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Sosok Herbert Emery Buffum (Penulis Asli)
Herbert Emery Buffum (1879–1939) adalah seorang penginjil dan penulis lagu gospel asal Amerika yang sangat produktif pada awal abad ke-20. Ia adalah sosok yang sangat rohani dan sering menulis lagu berdasarkan pengalaman pribadinya dalam doa dan hubungannya dengan Tuhan.
Lagu "When I Kneel to Pray" ditulis oleh Buffum pada era 1920-an. Lirik lagu ini lahir dari refleksi mendalam Buffum tentang **kerendahan hati di hadapan Tuhan**. Baginya, doa bukan sekadar rutinitas atau ritual, melainkan momen "penyerahan diri total" (surrender).
### 2. Makna di Balik Lirik
Secara lirik, lagu ini menggambarkan sebuah kontras antara beban hidup yang berat di dunia dan ketenangan yang ditemukan saat seseorang "berlutut untuk berdoa".
* **Pesan Utama:** Ketika penulis merasa dunia ini penuh dengan kegelisahan, masalah, dan godaan, ia menemukan "pelabuhan" (sanctuary) hanya dengan berlutut.
* **Inti Teologis:** Lagu ini menekankan bahwa di hadapan Tuhan, manusia menanggalkan segala egonya. "Tuhan Sambut Jiwaku" (judul dalam bahasa Indonesia) merefleksikan kerinduan jiwa untuk diterima, dikuatkan, dan dijamah oleh kehadiran Allah saat manusia merasa tidak berdaya.
### 3. Peran Keluarga Speer (George Thomas Speer)
Meskipun Buffum yang menulisnya, lagu ini menjadi legenda melalui **The Speer Family**. George Thomas Speer, patriark dari keluarga penyanyi gospel legendaris ini, sangat mencintai lagu tersebut.
* **Mengapa lagu ini menjadi besar?** Keluarga Speer adalah pelopor musik gospel di radio Amerika pada tahun 1930-an dan 40-an. Mereka sering menyanyikan lagu ini dalam gaya harmoni empat bagian (quartet gospel) yang khas.
* **Koneksi Emosional:** Bagi keluarga Speer, lagu ini bukan sekadar lagu pertunjukan. Mereka sering membawakan lagu ini di gereja-gereja kecil dengan suasana yang sangat khidmat. Kesaksian hidup keluarga Speer—yang mengalami banyak tantangan selama masa Depresi Besar di Amerika—membuat lirik "When I Kneel to Pray" terasa sangat nyata dan jujur bagi para pendengarnya.
### 4. Transformasi ke Bahasa Indonesia
Di Indonesia, lagu ini menjadi sangat populer di kalangan gereja-gereja injili dan karismatik. Judul "Tuhan Sambut Jiwaku" menjadi sangat berkesan karena:
1. **Melodinya yang melankolis:** Irama lagu ini memaksa pendengarnya untuk melambat dan merenung.
2. **Lirik yang "Personal":** Terjemahan dalam bahasa Indonesia berhasil menangkap esensi "lutut" sebagai simbol penyerahan diri. Banyak orang Kristen di Indonesia menggunakan lagu ini sebagai lagu saat teduh atau lagu respons di akhir khotbah.
### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **kebutuhan manusia akan intimasi dengan Sang Pencipta**. Herbert Buffum menulisnya saat ia merasa perlu mendekat kepada Tuhan, dan keluarga Speer membawanya ke seluruh pelosok Amerika untuk menunjukkan bahwa berdoa bukan tentang seberapa hebat kata-kata kita, melainkan tentang kerelaan hati untuk datang berlutut.
Hingga hari ini, lagu ini tetap relevan karena pesannya bersifat universal: **di tengah kebisingan dunia, satu-satunya tempat yang paling aman bagi jiwa adalah ketika kita berlutut di hadapan Tuhan.**
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Sosok Herbert Emery Buffum (Penulis Asli)
Herbert Emery Buffum (1879–1939) adalah seorang penginjil dan penulis lagu gospel asal Amerika yang sangat produktif pada awal abad ke-20. Ia adalah sosok yang sangat rohani dan sering menulis lagu berdasarkan pengalaman pribadinya dalam doa dan hubungannya dengan Tuhan.
Lagu "When I Kneel to Pray" ditulis oleh Buffum pada era 1920-an. Lirik lagu ini lahir dari refleksi mendalam Buffum tentang **kerendahan hati di hadapan Tuhan**. Baginya, doa bukan sekadar rutinitas atau ritual, melainkan momen "penyerahan diri total" (surrender).
### 2. Makna di Balik Lirik
Secara lirik, lagu ini menggambarkan sebuah kontras antara beban hidup yang berat di dunia dan ketenangan yang ditemukan saat seseorang "berlutut untuk berdoa".
* **Pesan Utama:** Ketika penulis merasa dunia ini penuh dengan kegelisahan, masalah, dan godaan, ia menemukan "pelabuhan" (sanctuary) hanya dengan berlutut.
* **Inti Teologis:** Lagu ini menekankan bahwa di hadapan Tuhan, manusia menanggalkan segala egonya. "Tuhan Sambut Jiwaku" (judul dalam bahasa Indonesia) merefleksikan kerinduan jiwa untuk diterima, dikuatkan, dan dijamah oleh kehadiran Allah saat manusia merasa tidak berdaya.
### 3. Peran Keluarga Speer (George Thomas Speer)
Meskipun Buffum yang menulisnya, lagu ini menjadi legenda melalui **The Speer Family**. George Thomas Speer, patriark dari keluarga penyanyi gospel legendaris ini, sangat mencintai lagu tersebut.
* **Mengapa lagu ini menjadi besar?** Keluarga Speer adalah pelopor musik gospel di radio Amerika pada tahun 1930-an dan 40-an. Mereka sering menyanyikan lagu ini dalam gaya harmoni empat bagian (quartet gospel) yang khas.
* **Koneksi Emosional:** Bagi keluarga Speer, lagu ini bukan sekadar lagu pertunjukan. Mereka sering membawakan lagu ini di gereja-gereja kecil dengan suasana yang sangat khidmat. Kesaksian hidup keluarga Speer—yang mengalami banyak tantangan selama masa Depresi Besar di Amerika—membuat lirik "When I Kneel to Pray" terasa sangat nyata dan jujur bagi para pendengarnya.
### 4. Transformasi ke Bahasa Indonesia
Di Indonesia, lagu ini menjadi sangat populer di kalangan gereja-gereja injili dan karismatik. Judul "Tuhan Sambut Jiwaku" menjadi sangat berkesan karena:
1. **Melodinya yang melankolis:** Irama lagu ini memaksa pendengarnya untuk melambat dan merenung.
2. **Lirik yang "Personal":** Terjemahan dalam bahasa Indonesia berhasil menangkap esensi "lutut" sebagai simbol penyerahan diri. Banyak orang Kristen di Indonesia menggunakan lagu ini sebagai lagu saat teduh atau lagu respons di akhir khotbah.
### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **kebutuhan manusia akan intimasi dengan Sang Pencipta**. Herbert Buffum menulisnya saat ia merasa perlu mendekat kepada Tuhan, dan keluarga Speer membawanya ke seluruh pelosok Amerika untuk menunjukkan bahwa berdoa bukan tentang seberapa hebat kata-kata kita, melainkan tentang kerelaan hati untuk datang berlutut.
Hingga hari ini, lagu ini tetap relevan karena pesannya bersifat universal: **di tengah kebisingan dunia, satu-satunya tempat yang paling aman bagi jiwa adalah ketika kita berlutut di hadapan Tuhan.**