Informasi Lagu
146
Nomor
Kode
NKB 146
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Metronom
0
Pencipta Lagu
Tradisional Perancis
Pencipta Syair
Henry Scott Holland
Penerjemah
H.A. Pandopo
Cross Ref.
GB 307 , KMM 113
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Hakim dalam t’rang abadi, Raja mahamulia, Surya kebenaran kami, bumiMu tahirlah. (2x) B’ri sejahtera sorgawi dan sembuhkan dunia!
Rindulah seluruh makhluk menantikan saatMu; bumi jangan lagi takluk pada kodrat yang semu. (2x) B’rilah damai dan berkatMu, ganti duka dan keluh.
Nyatakan kekuasaanMu; kegelapan halaulah dan dengan pedang firmanMu bawalah sejahtera. (2x) Dikuduskanlah namaMu di seluruh dunia!
Slide Lirik 3 slide
Slide 1 — NKB 146 1
Slide 2 — NKB 146 2
Slide 3 — NKB 146 3
Partitur / Not
Partitur Chord NKB 146
Sejarah Lagu
Lagu himne *"Judge Eternal, Throned in Splendour"* (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Hakim dalam T’rang Abadi"*) adalah salah satu karya sastra rohani yang paling menyentuh dan memiliki latar belakang sejarah yang sangat menarik.

Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu ini:

### 1. Penulis Lirik: Henry Scott Holland (1847–1918)
Henry Scott Holland bukanlah seorang komposer musik, melainkan seorang **Teolog dan Canon (kanon) di Katedral St. Paul, London**. Ia adalah tokoh intelektual Kristen yang sangat berpengaruh pada masanya.

Lirik lagu ini sebenarnya **bukan dimaksudkan sebagai lirik lagu sejak awal**. Teks ini berasal dari sebuah **khotbah** atau renungan yang ia sampaikan pada tahun 1902. Fokus dari pemikiran Holland saat itu adalah tentang penderitaan, tanggung jawab sosial, dan harapan akan keadilan Tuhan di tengah dunia yang kacau setelah masa Perang Boer dan masa transisi abad ke-20.

### 2. Konteks "T’rang Abadi"
Lirik ini ditulis untuk merespons kondisi dunia yang sedang penuh dengan konflik, kemiskinan, dan ketidakpastian. Holland ingin menyampaikan bahwa di balik kekacauan dunia, ada "Hakim yang bertakhta dalam kemuliaan" yang memantau setiap langkah manusia.

Pesan utamanya adalah **panggilan untuk bertindak**. Bagi Holland, iman bukanlah pelarian dari dunia, melainkan motivasi untuk memperbaiki kondisi dunia yang rusak. Bait-baitnya menekankan bahwa karena Tuhan adalah hakim yang adil, maka manusia dipanggil untuk membangun masyarakat yang adil, menyembuhkan yang terluka, dan bekerja untuk perdamaian.

### 3. Asal Usul Melodi: Tradisional Prancis
Meskipun liriknya ditulis oleh Holland di Inggris, melodi yang paling ikonik untuk lagu ini adalah melodi tradisional Prancis yang dikenal dengan judul **"PICARDY"**.

* **Asal-usul Melodi:** Melodi *Picardy* berasal dari lagu rakyat Prancis abad ke-17 yang berjudul *"Chanson populaire"* atau *"Let All Mortal Flesh Keep Silence"*.
* **Karakteristik:** Melodi ini memiliki nuansa modal (bukan tangga nada mayor/minor biasa) yang memberikan kesan kuno, misterius, sekaligus agung.
* **Penyatuan:** Penggabungan lirik Holland dengan melodi *Picardy* menjadi sangat populer setelah lagu ini dimasukkan ke dalam buku nyanyian gerejawi *The English Hymnal* pada tahun 1906. Editor buku tersebut, **Ralph Vaughan Williams**, adalah tokoh yang berjasa memopulerkan melodi-melodi rakyat ke dalam musik gereja, dan ia merasa melodi *Picardy* sangat cocok dengan kedalaman teologis kata-kata Holland.

### 4. Ringkasan Pesan dalam Lirik
Jika kita membedah liriknya, ada tiga poin utama yang menjadi napas lagu ini:

1. **Kedaulatan Tuhan:** Tuhan digambarkan sebagai Hakim yang agung (Throned in Splendour), yang berdiri di atas sejarah manusia.
2. **Kebutuhan akan Pemulihan:** Liriknya mengakui bahwa dunia penuh dengan "luka" dan "dosa" yang membutuhkan pengampunan serta tangan Tuhan untuk memulihkan.
3. **Tanggung Jawab Umat:** Bait terakhir biasanya menjadi klimaks yang kuat: sebuah doa agar manusia diberi keberanian untuk mengabdi, bekerja, dan menanggung beban sesama di tengah dunia yang fana menuju kekekalan.

### Mengapa Lagu Ini Begitu Bertahan?
*Hakim dalam T’rang Abadi* tetap dinyanyikan di banyak gereja di seluruh dunia karena kemampuannya menyeimbangkan antara **transendensi Tuhan** (Tuhan yang jauh dan agung) dengan **imanensi Tuhan** (Tuhan yang hadir dalam perjuangan manusia di bumi).

Bagi para jemaat, menyanyikan lagu ini bukan hanya sekadar memuji Tuhan, tetapi juga sebuah pernyataan komitmen untuk hidup dengan integritas di tengah dunia yang tidak adil, dengan keyakinan bahwa pada akhirnya, "Hakim yang bertakhta dalam kemuliaan" akan membawa terang-Nya ke dalam kegelapan dunia.

Dalam tradisi gereja Protestan di Indonesia, lagu ini sering muncul di buku nyanyian seperti *Kidung Jemaat* atau *Nyanyikanlah Kidung Baru*, yang sering digunakan dalam ibadah-ibadah yang menekankan pada keadilan sosial dan penyerahan diri.