NKB
'Ku Ini Adalah Musafir
The Wayfaring Stranger
Informasi Lagu
149
Nomor
Kode
NKB 149
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Metronom
0
Pencipta Lagu
Spiritual Amerika
Pencipta Syair
Anonim
Penerjemah
E.L. Pohan
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
‘Ku ini adalah musafir yang dibuana berlelah.
Di negeri yang aku tuju tiada duka dan kesah.
Di sana akan ‘ku jumpai taulanku yang dulu pergi.
‘Ku seberangilah sungai Yordan, ke neg’riku yang berseri.
Awan gelap menyelubungku, jalan berduri dan terjal.
Namun ‘ku lihat di depanku neg’riku indah dan kekal.
Di sana tiada air mata, tiada orang bersedih.
‘Ku seberangilah sungai Yordan, ke neg’riku yang berseri.
Akan ‘ku puji nama Yesus yang memanduku di gelap.
Bersama handai menyanyikan puji-pujian menggegap.
‘Kan ‘ku kenakanlah mahkota yang oleh Tuhan diberi.
‘Ku seberangilah sungai Yordan, ke neg’riku yang berseri.
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"The Wayfaring Stranger"** (juga dikenal sebagai "I Am a Poor Wayfaring Stranger") adalah salah satu lagu paling ikonik dan melankolis dalam tradisi musik rakyat Amerika. Untuk memahami kisahnya, kita harus melihat melampaui liriknya dan menyelami sejarah sosial serta spiritual Amerika pada abad ke-18 dan ke-19.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu ini:
### 1. Asal-usul yang Misterius (Anonim)
Seperti banyak lagu *folk* Amerika, tidak ada satu orang pun yang bisa diklaim sebagai penulis lagu ini. Lagunya bersifat **anonim** dan berkembang melalui tradisi lisan. Namun, para sejarawan musik sepakat bahwa lagu ini berakar dari tradisi **Appalachia** dan **musik gereja kulit putih** di Amerika Selatan pada awal 1800-an.
Lagu ini diyakini memiliki akar melodi dari lagu rakyat Skotlandia atau Irlandia (mengingat banyaknya imigran dari sana ke wilayah Appalachia). Struktur nadanya menggunakan tangga nada *Dorian* yang memberikan kesan "sedih namun kuat," yang sangat khas dengan musik rakyat pegunungan.
### 2. Konteks Spiritual: "Great Awakening"
Lagu ini lahir di tengah periode yang dikenal sebagai **"Second Great Awakening"** di Amerika (sekitar awal abad ke-19). Pada masa itu, terjadi kebangkitan keagamaan besar-besaran di pedalaman Amerika.
* **Pesan Utama:** Lagu ini bukan sekadar tentang perjalanan fisik, melainkan metafora perjalanan hidup seorang Kristen menuju "tanah perjanjian" atau surga setelah kematian.
* **Makna "Musafir" (*Wayfaring Stranger*):** Pada masa itu, orang-orang sering hidup dalam kemiskinan, ketidakpastian, dan kesulitan hidup di perbatasan (*frontier*). Menganggap diri sebagai "musafir" adalah cara bagi mereka untuk menormalisasi penderitaan duniawi. Mereka percaya bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara, dan rumah sejati mereka ada di "sana" (surga).
### 3. Lirik yang Menghibur di Tengah Penderitaan
Liriknya sangat jujur mengenai realitas kehidupan manusia:
> *"I'm just a poor wayfaring stranger, while traveling through this world of woe."*
> (Aku hanyalah musafir yang malang, saat mengembara melalui dunia yang penuh kesedihan ini.)
Lirik ini merujuk pada penderitaan, rasa sakit, dan godaan yang harus dihadapi manusia. Namun, ada harapan yang kuat di bagian akhir:
> *"I'm going there to see my father... I'm going there no more to roam."*
> (Aku pergi ke sana untuk menemui ayahku... Aku pergi ke sana untuk tidak lagi mengembara.)
Bagi masyarakat Amerika masa itu, lagu ini menjadi lagu pengantar jenazah (*funeral song*) yang sangat populer karena memberikan kenyamanan bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan akhir dari sebuah perjalanan yang melelahkan.
### 4. Penyebaran melalui *Shape-Note Singing*
Lagu ini mulai tercatat dalam buku-buku nyanyian (hymnals) pada tahun 1850-an, terutama dalam sistem **"Shape-Note Singing"** (metode notasi musik untuk membantu orang awam membaca musik tanpa latihan formal). Karena buku-buku ini dibawa berkeliling oleh para guru musik yang berpindah-pindah, lagu ini tersebar luas ke seluruh pelosok Amerika.
### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Legendaris?
Keunikan lagu ini terletak pada **kerendahan hatinya**. Ia tidak membicarakan kejayaan atau kekuasaan, melainkan kerentanan manusia.
* **Era Perang Saudara:** Lagu ini menjadi sangat populer selama Perang Saudara Amerika (1861–1865). Bagi para tentara yang jauh dari rumah dan menghadapi kematian setiap hari, lirik "tidak lagi mengembara" memiliki resonansi emosional yang luar biasa kuat.
* **Modernisasi:** Di abad ke-20, lagu ini diangkat kembali oleh tokoh musik besar seperti Burl Ives, Bill Monroe, Johnny Cash, Emmylou Harris, hingga Ed Sheeran. Mereka semua melihat "The Wayfaring Stranger" sebagai lagu tentang isolasi manusia dan pencarian makna hidup.
### Kesimpulan
"The Wayfaring Stranger" adalah cerminan dari jiwa Amerika masa lalu—masyarakat yang hidup keras, penuh dengan keyakinan religius yang mendalam, dan selalu merasa seperti tamu di dunia ini. Lagu ini bertahan hingga hari ini karena tema **"kerinduan akan rumah"** adalah pengalaman universal manusia yang tidak lekang oleh waktu. Lagu ini mengingatkan kita bahwa tidak peduli seberapa berat perjalanan hidup kita, kita semua hanyalah musafir yang sedang menuju tempat peristirahatan terakhir.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu ini:
### 1. Asal-usul yang Misterius (Anonim)
Seperti banyak lagu *folk* Amerika, tidak ada satu orang pun yang bisa diklaim sebagai penulis lagu ini. Lagunya bersifat **anonim** dan berkembang melalui tradisi lisan. Namun, para sejarawan musik sepakat bahwa lagu ini berakar dari tradisi **Appalachia** dan **musik gereja kulit putih** di Amerika Selatan pada awal 1800-an.
Lagu ini diyakini memiliki akar melodi dari lagu rakyat Skotlandia atau Irlandia (mengingat banyaknya imigran dari sana ke wilayah Appalachia). Struktur nadanya menggunakan tangga nada *Dorian* yang memberikan kesan "sedih namun kuat," yang sangat khas dengan musik rakyat pegunungan.
### 2. Konteks Spiritual: "Great Awakening"
Lagu ini lahir di tengah periode yang dikenal sebagai **"Second Great Awakening"** di Amerika (sekitar awal abad ke-19). Pada masa itu, terjadi kebangkitan keagamaan besar-besaran di pedalaman Amerika.
* **Pesan Utama:** Lagu ini bukan sekadar tentang perjalanan fisik, melainkan metafora perjalanan hidup seorang Kristen menuju "tanah perjanjian" atau surga setelah kematian.
* **Makna "Musafir" (*Wayfaring Stranger*):** Pada masa itu, orang-orang sering hidup dalam kemiskinan, ketidakpastian, dan kesulitan hidup di perbatasan (*frontier*). Menganggap diri sebagai "musafir" adalah cara bagi mereka untuk menormalisasi penderitaan duniawi. Mereka percaya bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara, dan rumah sejati mereka ada di "sana" (surga).
### 3. Lirik yang Menghibur di Tengah Penderitaan
Liriknya sangat jujur mengenai realitas kehidupan manusia:
> *"I'm just a poor wayfaring stranger, while traveling through this world of woe."*
> (Aku hanyalah musafir yang malang, saat mengembara melalui dunia yang penuh kesedihan ini.)
Lirik ini merujuk pada penderitaan, rasa sakit, dan godaan yang harus dihadapi manusia. Namun, ada harapan yang kuat di bagian akhir:
> *"I'm going there to see my father... I'm going there no more to roam."*
> (Aku pergi ke sana untuk menemui ayahku... Aku pergi ke sana untuk tidak lagi mengembara.)
Bagi masyarakat Amerika masa itu, lagu ini menjadi lagu pengantar jenazah (*funeral song*) yang sangat populer karena memberikan kenyamanan bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan akhir dari sebuah perjalanan yang melelahkan.
### 4. Penyebaran melalui *Shape-Note Singing*
Lagu ini mulai tercatat dalam buku-buku nyanyian (hymnals) pada tahun 1850-an, terutama dalam sistem **"Shape-Note Singing"** (metode notasi musik untuk membantu orang awam membaca musik tanpa latihan formal). Karena buku-buku ini dibawa berkeliling oleh para guru musik yang berpindah-pindah, lagu ini tersebar luas ke seluruh pelosok Amerika.
### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Legendaris?
Keunikan lagu ini terletak pada **kerendahan hatinya**. Ia tidak membicarakan kejayaan atau kekuasaan, melainkan kerentanan manusia.
* **Era Perang Saudara:** Lagu ini menjadi sangat populer selama Perang Saudara Amerika (1861–1865). Bagi para tentara yang jauh dari rumah dan menghadapi kematian setiap hari, lirik "tidak lagi mengembara" memiliki resonansi emosional yang luar biasa kuat.
* **Modernisasi:** Di abad ke-20, lagu ini diangkat kembali oleh tokoh musik besar seperti Burl Ives, Bill Monroe, Johnny Cash, Emmylou Harris, hingga Ed Sheeran. Mereka semua melihat "The Wayfaring Stranger" sebagai lagu tentang isolasi manusia dan pencarian makna hidup.
### Kesimpulan
"The Wayfaring Stranger" adalah cerminan dari jiwa Amerika masa lalu—masyarakat yang hidup keras, penuh dengan keyakinan religius yang mendalam, dan selalu merasa seperti tamu di dunia ini. Lagu ini bertahan hingga hari ini karena tema **"kerinduan akan rumah"** adalah pengalaman universal manusia yang tidak lekang oleh waktu. Lagu ini mengingatkan kita bahwa tidak peduli seberapa berat perjalanan hidup kita, kita semua hanyalah musafir yang sedang menuju tempat peristirahatan terakhir.