Informasi Lagu
186
Nomor
Kode
NKB 186
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Metronom
0
Pencipta Lagu
George W. Chadwick
Pencipta Syair
Anonim
Penerjemah
F. Suleeman
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
‘Ku cari Tuhan, lalu aku tahu, Dia menggugahku mencariNya; Bukanlah aku menemukanNya, ‘ku ditemukanNya.
Tanganku, Tuhan, ‘Kau genggam erat, ‘ku jalan t’rus, dan tidak ‘kan sesat. Bukanlah aku yang memandangMu, ‘Kaulah memandangku.
‘Ku dapat, ‘ku kasihi Tuhanku, itulah jawab hatiku penuh. Lama telah ‘Kau menyertaiku; ‘Kau mengasihiku.
Partitur / Not
Partitur Chord NKB 186
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"Ku Cari Tuhan"** (atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan judul asli **"I Sought the Lord"**) adalah sebuah perjalanan sejarah yang cukup unik karena melibatkan percampuran antara puisi anonim, komposisi musik klasik, dan adaptasi di lingkungan gerejawi.

Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:

### 1. Asal-Usul Lirik: Puisi "I Sought the Lord"
Lirik dari lagu ini sebenarnya berasal dari sebuah puisi yang bersifat **anonim**. Puisi ini sering dikaitkan dengan pengalaman spiritual yang mendalam tentang seseorang yang mencari Tuhan, namun kemudian menyadari bahwa Tuhanlah yang sebenarnya lebih dahulu mencari dirinya.

Tema utamanya adalah **"Prevenient Grace"** (Anugerah yang Mendahului): keyakinan bahwa keinginan manusia untuk mencari Tuhan sebenarnya adalah respon terhadap Tuhan yang telah terlebih dahulu memanggil dan menarik manusia kepada-Nya.

### 2. Peran George W. Chadwick (Sang Komposer)
**George Whitefield Chadwick (1854–1931)** adalah seorang komposer ternama asal Amerika Serikat yang menjadi tokoh sentral dalam "New England School" musik klasik. Ia adalah seorang organis dan direktur di *New England Conservatory of Music*.

Chadwick menggubah musik untuk puisi ini sebagai salah satu bagian dari karya musik paduan suara (anthem) gerejawi. Dalam komposisi aslinya, lagu ini memiliki nuansa musik klasik yang megah namun intim. Chadwick dikenal mahir dalam menciptakan harmoni yang emosional, yang mendukung pesan kerinduan dalam lirik tersebut.

### 3. Mengapa "Anonim"?
Dalam banyak literatur musik gereja, penulis lirik "I Sought the Lord" sering kali ditulis sebagai "Anonymous" karena sumber aslinya sulit dilacak ke satu penulis spesifik. Ada spekulasi bahwa lirik ini berakar dari tradisi puisi rohani Inggris abad ke-19, namun karena popularitasnya yang menyebar secara lisan dan melalui selebaran gereja, kepemilikan hak cipta atas lirik tersebut hilang atau memang tidak pernah diklaim secara formal.

### 4. Makna dan Pesan Lagu
Lagu ini sangat dicintai karena menceritakan dinamika "kejaran" spiritual:
* **Bait awal:** Menggambarkan usaha manusia yang penuh jerih payah untuk menemukan Tuhan di tengah kesepian, ketakutan, atau kebingungan dunia.
* **Bait klimaks:** Menggambarkan momen "aha!" di mana si pencari sadar bahwa ia tidak perlu mencari jauh-jauh karena Tuhanlah yang sebenarnya telah membimbing langkahnya selama ini.

Salah satu kutipan lirik yang paling menyentuh adalah bagian yang menegaskan bahwa Tuhan adalah "Gembala" yang tidak akan membiarkan domba-Nya tersesat meskipun domba itu sendiri merasa sedang mencari-Nya.

### 5. Adaptasi di Indonesia
Di Indonesia, lagu ini menjadi sangat populer di kalangan gereja-gereja karena terjemahan bahasa Indonesianya yang sangat puitis dan menyentuh hati. Lagu ini sering dibawakan dalam kebaktian Minggu, perjamuan kudus, atau momen refleksi pribadi.

Beberapa versi lagu ini di Indonesia sering kali diaransemen ulang, namun struktur melodi dasar yang diciptakan oleh Chadwick tetap menjadi fondasi yang memberikan kesan "klasik" dan "khidmat".

### Kesimpulan
Kisah lagu ini adalah sebuah paradoks yang indah: **seorang komposer ternama (Chadwick) memberikan nyawa berupa melodi kepada sebuah puisi yang tak bernama (anonim).** Hasilnya adalah sebuah lagu yang tidak lagi milik siapa-siapa, melainkan milik setiap orang yang pernah merasa tersesat dan akhirnya menemukan bahwa Tuhan selalu ada di sana, menunggu untuk ditemukan.

Jika Anda mendengarkan versi orkestra atau paduan suara dari komposisi George W. Chadwick ini, Anda akan merasakan bagaimana musik tersebut sengaja dibangun untuk membawa pendengarnya dari suasana "mencari dengan resah" menuju "menemukan dengan damai".