NKB
Di Dalam Kristus Bertemu
In Christ There is No East or West
Informasi Lagu
192
Nomor
Kode
NKB 192
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Metronom
0
Pencipta Lagu
I-to Loh
Pencipta Syair
John Oxenham
Penerjemah
YAMUGER
Dengarkan di YouTube
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Di Dalam Kristus Bertemu"** (*In Christ There Is No East or West*) adalah salah satu himne yang paling ikonik dalam sejarah kekristenan yang menyuarakan tentang kesatuan, persaudaraan universal, dan penghapusan sekat-sekat perbedaan.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu ini:
### 1. Penulis Lirik: John Oxenham (1908)
Lirik asli lagu ini ditulis oleh seorang penulis asal Inggris bernama **John Oxenham** (nama pena dari William Arthur Dunkerley). Ia menulis puisi ini pada tahun **1908** untuk sebuah buku berjudul *Bees in Amber*.
Oxenham hidup di masa ketika dunia sedang terkotak-kotak oleh imperialisme, nasionalisme yang sempit, dan rasisme. Puisi ini ditulis sebagai visi teologis bahwa di dalam iman kepada Yesus Kristus, segala perbedaan ras, etnis, dan geografis—yang diwakili oleh "Timur" dan "Barat"—tidak lagi memiliki arti.
Pesan intinya sangat kuat: **Kristus adalah pemersatu yang meruntuhkan tembok pemisah.**
### 2. Lirik Asli (Terjemahan Bebas)
Lirik asli John Oxenham menekankan kasih sebagai kunci kesatuan:
> *"In Christ there is no East or West, In Him no South or North, But one great fellowship of love Throughout the whole wide earth."*
(Di dalam Kristus tidak ada Timur atau Barat, di dalam Dia tidak ada Selatan atau Utara, melainkan satu persekutuan kasih yang besar di seluruh bumi.)
### 3. I-to Loh dan Peran dalam Konteks Asia
Nama **I-to Loh** (Loh I-to) sering muncul berkaitan dengan lagu ini karena kontribusinya dalam memperkenalkan dan mengadaptasi himne ini ke dalam konteks Asia, khususnya dalam buku *Sound the Bamboo* (buku himne gereja-gereja Asia).
I-to Loh adalah seorang ahli musik gerejawi terkemuka dari Taiwan. Ia memahami bahwa lagu ini sangat relevan bagi gereja-gereja di Asia yang saat itu sering terjebak dalam pengaruh kolonialisme atau konflik etnis. I-to Loh berperan besar dalam memastikan bahwa pesan persatuan ini tidak hanya menjadi konsep Barat, tetapi dapat dirasakan oleh orang Asia sebagai persekutuan yang setara.
### 4. Makna Teologis di Balik Lirik
Lagu ini bukan sekadar nyanyian, melainkan "deklarasi iman" tentang Tubuh Kristus:
* **Menghapus Geografi:** Penyebutan Timur, Barat, Utara, dan Selatan melambangkan seluruh arah mata angin, yang berarti tidak ada wilayah di bumi yang terkecualikan dari kasih Allah.
* **Kasih sebagai Ikatan:** Bait lagu ini menegaskan bahwa iman bukan tentang doktrin yang kaku, melainkan tentang "persekutuan kasih" (*fellowship of love*).
* **Panggilan untuk Melayani:** Liriknya sering kali berlanjut pada ajakan untuk bergabung dengan orang-orang percaya di seluruh dunia dalam pelayanan kemanusiaan, demi "memerdekakan dunia dari penderitaan."
### 5. Penggunaan Musik
Lagu ini sering dinyanyikan dengan berbagai melodi. Salah satu melodi yang paling populer digunakan adalah **"McKee"**, yang diadaptasi dari lagu spiritual Afrika-Amerika oleh Harry T. Burleigh. Penggunaan melodi ini sangat bermakna karena menambah dimensi "persaudaraan lintas ras" pada lagu tersebut, menghubungkan lirik Oxenham dengan penderitaan dan perjuangan orang kulit hitam di Amerika.
### Mengapa Lagu ini Tetap Relevan?
Hingga hari ini, *Di Dalam Kristus Bertemu* tetap menjadi lagu wajib dalam berbagai pertemuan ekumenis dunia (seperti di Dewan Gereja-gereja Dunia/WCC). Lagu ini menjadi pengingat bahwa:
1. Gereja dipanggil untuk melampaui batas-batas politik dan nasionalisme.
2. Perbedaan budaya adalah kekayaan, bukan alasan untuk perpecahan.
3. Identitas sebagai pengikut Kristus harus lebih tinggi daripada identitas kesukuan atau kebangsaan seseorang.
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **kerinduan akan dunia yang bersatu di bawah kasih Tuhan**, sebuah visi yang ditulis seratus tahun lalu namun tetap menjadi tantangan nyata bagi dunia yang hari ini masih terpecah belah oleh konflik.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu ini:
### 1. Penulis Lirik: John Oxenham (1908)
Lirik asli lagu ini ditulis oleh seorang penulis asal Inggris bernama **John Oxenham** (nama pena dari William Arthur Dunkerley). Ia menulis puisi ini pada tahun **1908** untuk sebuah buku berjudul *Bees in Amber*.
Oxenham hidup di masa ketika dunia sedang terkotak-kotak oleh imperialisme, nasionalisme yang sempit, dan rasisme. Puisi ini ditulis sebagai visi teologis bahwa di dalam iman kepada Yesus Kristus, segala perbedaan ras, etnis, dan geografis—yang diwakili oleh "Timur" dan "Barat"—tidak lagi memiliki arti.
Pesan intinya sangat kuat: **Kristus adalah pemersatu yang meruntuhkan tembok pemisah.**
### 2. Lirik Asli (Terjemahan Bebas)
Lirik asli John Oxenham menekankan kasih sebagai kunci kesatuan:
> *"In Christ there is no East or West, In Him no South or North, But one great fellowship of love Throughout the whole wide earth."*
(Di dalam Kristus tidak ada Timur atau Barat, di dalam Dia tidak ada Selatan atau Utara, melainkan satu persekutuan kasih yang besar di seluruh bumi.)
### 3. I-to Loh dan Peran dalam Konteks Asia
Nama **I-to Loh** (Loh I-to) sering muncul berkaitan dengan lagu ini karena kontribusinya dalam memperkenalkan dan mengadaptasi himne ini ke dalam konteks Asia, khususnya dalam buku *Sound the Bamboo* (buku himne gereja-gereja Asia).
I-to Loh adalah seorang ahli musik gerejawi terkemuka dari Taiwan. Ia memahami bahwa lagu ini sangat relevan bagi gereja-gereja di Asia yang saat itu sering terjebak dalam pengaruh kolonialisme atau konflik etnis. I-to Loh berperan besar dalam memastikan bahwa pesan persatuan ini tidak hanya menjadi konsep Barat, tetapi dapat dirasakan oleh orang Asia sebagai persekutuan yang setara.
### 4. Makna Teologis di Balik Lirik
Lagu ini bukan sekadar nyanyian, melainkan "deklarasi iman" tentang Tubuh Kristus:
* **Menghapus Geografi:** Penyebutan Timur, Barat, Utara, dan Selatan melambangkan seluruh arah mata angin, yang berarti tidak ada wilayah di bumi yang terkecualikan dari kasih Allah.
* **Kasih sebagai Ikatan:** Bait lagu ini menegaskan bahwa iman bukan tentang doktrin yang kaku, melainkan tentang "persekutuan kasih" (*fellowship of love*).
* **Panggilan untuk Melayani:** Liriknya sering kali berlanjut pada ajakan untuk bergabung dengan orang-orang percaya di seluruh dunia dalam pelayanan kemanusiaan, demi "memerdekakan dunia dari penderitaan."
### 5. Penggunaan Musik
Lagu ini sering dinyanyikan dengan berbagai melodi. Salah satu melodi yang paling populer digunakan adalah **"McKee"**, yang diadaptasi dari lagu spiritual Afrika-Amerika oleh Harry T. Burleigh. Penggunaan melodi ini sangat bermakna karena menambah dimensi "persaudaraan lintas ras" pada lagu tersebut, menghubungkan lirik Oxenham dengan penderitaan dan perjuangan orang kulit hitam di Amerika.
### Mengapa Lagu ini Tetap Relevan?
Hingga hari ini, *Di Dalam Kristus Bertemu* tetap menjadi lagu wajib dalam berbagai pertemuan ekumenis dunia (seperti di Dewan Gereja-gereja Dunia/WCC). Lagu ini menjadi pengingat bahwa:
1. Gereja dipanggil untuk melampaui batas-batas politik dan nasionalisme.
2. Perbedaan budaya adalah kekayaan, bukan alasan untuk perpecahan.
3. Identitas sebagai pengikut Kristus harus lebih tinggi daripada identitas kesukuan atau kebangsaan seseorang.
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **kerinduan akan dunia yang bersatu di bawah kasih Tuhan**, sebuah visi yang ditulis seratus tahun lalu namun tetap menjadi tantangan nyata bagi dunia yang hari ini masih terpecah belah oleh konflik.