NKB
Atas Bumi Nan Permai
For the Beauty of the Earth
Informasi Lagu
32
Nomor
Do=As
Nada Dasar
Kode
NKB 32a
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Nada Dasar
Do=As
Ketukan
4 ketuk ketuk
Jumlah Bait
4 bait
Pencipta Lagu
Conrad Kocher (1786)
Pencipta Syair
Folliott S. Pierpoint (1835)
Penerjemah
Tim Nyanyian GKI (1989)
Cross Ref.
NP 103
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Atas bumi nan permai, atas langit nan cerah,
atas kasih tersemai dalam hidup semesta:
Kristus, kami naikkanlah syukur, puji dan sembah.
Atas tiap kurnia pada pagi dan petang,
atas bukit dan lembah, surya, bintang yang terang:
Kristus, kami naikkanlah syukur, puji dan sembah.
Atas kasih yang mesra di antara manusia,
atas sanak saudara dalam sorga dan dunia:
Kristus, kami naikkanlah syukur, puji dan sembah.
Atas g’reja yang betah dalam doa dan kerja,
atas korban baktinya bagi Raja semesta:
Kristus, kami naikkanlah syukur, puji dan sembah.
Slide Lirik
5 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Atas Bumi Nan Permai"** (judul asli bahasa Inggris: ***"For the Beauty of the Earth"***) adalah salah satu himne (lagu pujian) Kristen yang paling dicintai di dunia. Keindahan lagu ini terletak pada kesederhanaannya yang merayakan keajaiban ciptaan Tuhan.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu ini:
### 1. Penulis Lirik: Folliott S. Pierpoint (1835–1917)
Lirik lagu ini ditulis oleh **Folliott S. Pierpoint**, seorang penyair dan guru asal Inggris. Kisah penciptaannya sangat berkaitan dengan momen perenungan pribadi di alam.
* **Inspirasi:** Pada tahun 1864, saat Pierpoint berusia 29 tahun, ia sedang berjalan-jalan di sekitar kota kelahirannya, Bath, Inggris. Pemandangan pedesaan Somerset yang sangat indah dan permai di musim semi saat itu menyentuh hatinya secara mendalam.
* **Proses Penulisan:** Sambil mengagumi keindahan alam, ia merasa terdorong untuk menulis puisi sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Sang Pencipta. Puisi aslinya berjudul *"The Sacrifice of Praise"* (Pengorbanan Pujian).
* **Makna Lirik:** Puisi tersebut awalnya dimaksudkan untuk perayaan Perjamuan Kudus (Ekaristi). Itulah sebabnya, di setiap bait aslinya, Pierpoint selalu mengakhiri dengan kalimat: *"Christ our God, to thee we raise this our sacrifice of praise"* (Kristus Allah kami, bagi-Mu kami persembahkan pengorbanan pujian ini). Ia memandang seluruh keindahan dunia sebagai hadiah yang layak dibalas dengan pujian.
### 2. Komponis Musik: Conrad Kocher (1786–1872)
Meskipun liriknya ditulis oleh Pierpoint, melodi yang kita kenal sekarang (sering disebut sebagai nada *"DIX"*) diciptakan oleh **Conrad Kocher**, seorang komposer dan pengajar musik asal Jerman.
* **Asal-usul Melodi:** Musik ini sebenarnya tidak ditulis khusus untuk puisi Pierpoint. Kocher menulis melodi ini pada tahun 1838 untuk sebuah himne Jerman yang berjudul *"Treuer Heiland, wir sind hier"* (Juru Selamat yang Setia, kami di sini).
* **Penyatuan:** Bertahun-tahun kemudian, melodi yang ceria dan harmonis ini dianggap sangat cocok dengan lirik Pierpoint yang penuh rasa syukur. Lagu ini kemudian dipublikasikan dalam buku himne *Hymns Ancient and Modern* (1861) dan sejak itu menjadi paduan yang tak terpisahkan.
### 3. Mengapa Lagu Ini Begitu Istimewa?
Lagu ini bertahan melintasi zaman karena beberapa alasan:
1. **Apresiasi Terhadap Ciptaan:** Liriknya mencakup segalanya—dari keindahan bumi, langit, pepohonan, burung, hingga hubungan manusia seperti kasih sayang keluarga dan persahabatan. Ini adalah lagu tentang rasa syukur yang sangat "membumi".
2. **Struktur Musik:** Melodi "DIX" karya Kocher memiliki irama yang mantap namun gembira (dalam tangga nada *C Major* atau *G Major*), membuatnya mudah dinyanyikan oleh jemaat dalam paduan suara maupun sendirian.
3. **Universalitas:** Meskipun awalnya ditulis dalam konteks teologis Kristen, liriknya begitu indah dan bersifat universal sehingga banyak orang dari berbagai latar belakang sering menggunakannya dalam acara-acara yang merayakan keindahan alam atau rasa syukur.
### Ringkasan Makna dalam Bahasa Indonesia
Dalam versi bahasa Indonesia (*Nyanyian Kidung Baru* atau *Kidung Jemaat*), lagu ini diterjemahkan dengan sangat baik. Bait pertamanya merangkum esensi lagu tersebut:
> *Atas bumi nan permai, atas langit nan cerah,*
> *Atas kasih yang memancar, dalam diri sesama,*
> *Tuhan, kami persembahkan, pujian bagi nama-Mu.*
**Kesimpulan:**
Lagu ini adalah bukti bahwa inspirasi besar bisa muncul dari hal-hal sederhana—sebuah jalan kaki di pagi yang cerah. Pierpoint berhasil mengubah kekagumannya terhadap pemandangan alam menjadi doa yang abadi, sementara Kocher memberikan nada yang membuat doa tersebut terasa hidup setiap kali dilantunkan.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu ini:
### 1. Penulis Lirik: Folliott S. Pierpoint (1835–1917)
Lirik lagu ini ditulis oleh **Folliott S. Pierpoint**, seorang penyair dan guru asal Inggris. Kisah penciptaannya sangat berkaitan dengan momen perenungan pribadi di alam.
* **Inspirasi:** Pada tahun 1864, saat Pierpoint berusia 29 tahun, ia sedang berjalan-jalan di sekitar kota kelahirannya, Bath, Inggris. Pemandangan pedesaan Somerset yang sangat indah dan permai di musim semi saat itu menyentuh hatinya secara mendalam.
* **Proses Penulisan:** Sambil mengagumi keindahan alam, ia merasa terdorong untuk menulis puisi sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Sang Pencipta. Puisi aslinya berjudul *"The Sacrifice of Praise"* (Pengorbanan Pujian).
* **Makna Lirik:** Puisi tersebut awalnya dimaksudkan untuk perayaan Perjamuan Kudus (Ekaristi). Itulah sebabnya, di setiap bait aslinya, Pierpoint selalu mengakhiri dengan kalimat: *"Christ our God, to thee we raise this our sacrifice of praise"* (Kristus Allah kami, bagi-Mu kami persembahkan pengorbanan pujian ini). Ia memandang seluruh keindahan dunia sebagai hadiah yang layak dibalas dengan pujian.
### 2. Komponis Musik: Conrad Kocher (1786–1872)
Meskipun liriknya ditulis oleh Pierpoint, melodi yang kita kenal sekarang (sering disebut sebagai nada *"DIX"*) diciptakan oleh **Conrad Kocher**, seorang komposer dan pengajar musik asal Jerman.
* **Asal-usul Melodi:** Musik ini sebenarnya tidak ditulis khusus untuk puisi Pierpoint. Kocher menulis melodi ini pada tahun 1838 untuk sebuah himne Jerman yang berjudul *"Treuer Heiland, wir sind hier"* (Juru Selamat yang Setia, kami di sini).
* **Penyatuan:** Bertahun-tahun kemudian, melodi yang ceria dan harmonis ini dianggap sangat cocok dengan lirik Pierpoint yang penuh rasa syukur. Lagu ini kemudian dipublikasikan dalam buku himne *Hymns Ancient and Modern* (1861) dan sejak itu menjadi paduan yang tak terpisahkan.
### 3. Mengapa Lagu Ini Begitu Istimewa?
Lagu ini bertahan melintasi zaman karena beberapa alasan:
1. **Apresiasi Terhadap Ciptaan:** Liriknya mencakup segalanya—dari keindahan bumi, langit, pepohonan, burung, hingga hubungan manusia seperti kasih sayang keluarga dan persahabatan. Ini adalah lagu tentang rasa syukur yang sangat "membumi".
2. **Struktur Musik:** Melodi "DIX" karya Kocher memiliki irama yang mantap namun gembira (dalam tangga nada *C Major* atau *G Major*), membuatnya mudah dinyanyikan oleh jemaat dalam paduan suara maupun sendirian.
3. **Universalitas:** Meskipun awalnya ditulis dalam konteks teologis Kristen, liriknya begitu indah dan bersifat universal sehingga banyak orang dari berbagai latar belakang sering menggunakannya dalam acara-acara yang merayakan keindahan alam atau rasa syukur.
### Ringkasan Makna dalam Bahasa Indonesia
Dalam versi bahasa Indonesia (*Nyanyian Kidung Baru* atau *Kidung Jemaat*), lagu ini diterjemahkan dengan sangat baik. Bait pertamanya merangkum esensi lagu tersebut:
> *Atas bumi nan permai, atas langit nan cerah,*
> *Atas kasih yang memancar, dalam diri sesama,*
> *Tuhan, kami persembahkan, pujian bagi nama-Mu.*
**Kesimpulan:**
Lagu ini adalah bukti bahwa inspirasi besar bisa muncul dari hal-hal sederhana—sebuah jalan kaki di pagi yang cerah. Pierpoint berhasil mengubah kekagumannya terhadap pemandangan alam menjadi doa yang abadi, sementara Kocher memberikan nada yang membuat doa tersebut terasa hidup setiap kali dilantunkan.