NKB
Engkau Sabar Menanti
O Jesus, Thou Art Standing
Informasi Lagu
9
Nomor
Do=Es
Nada Dasar
Kode
NKB 9
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Nada Dasar
Do=Es
Ketukan
4 ketuk ketuk
Metronom
80
Jumlah Bait
3 bait
Pencipta Lagu
Edward Husband / Justin Heinrich Knecht (1843)
Pencipta Syair
William W. How (1823)
Penerjemah
E.L. Pohan (1917)
Cross Ref.
NP 229, NKI 117, KK 71
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
Engkau sabar menanti, sedikit tak jemu
menunggu ‘ku bukakan bagiMu pintuku.
Tuhanku ‘ku akui: ‘Ku pakai namaMu,
tetapi ‘ku biarkan di luar Rajaku.
Engkau ketuk pintuku, ‘ku lihatlah jelas.
bekas luka di tangan dan muka yang welas.
Sebab dosaku jua terkancing pintuku;
dan ‘Kau sabar menunggu ‘ku buka hatiku.
Engkau menyapa daku dengan lemah-lembut:
“Untukmu t’lah ‘Ku tahan derita kemelut.
Beginikah caramu menyambut Tuhanmu?”
O Yesus, b’rilah ampun! Masuki hatiku.
Slide Lirik
3 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu "Engkau Sabar Menanti," yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai "O Jesus, Thou Art Standing," adalah salah satu himne Kristen yang paling menyentuh dan abadi. Kisah di baliknya melibatkan kontribusi dari tiga tokoh penting yang berbeda zaman dan latar belakang, menghasilkan sebuah mahakarya yang terus mengundang refleksi dan pertobatan.
Mari kita telusuri kisah detailnya:
---
### **1. William Walsham How (Penulis Lirik): Sang Uskup bagi Kaum Miskin**
* **Latar Belakang:** William Walsham How (1823-1897) adalah seorang pendeta Anglikan Inggris yang kemudian menjadi Uskup Bedford dan Uskup Wakefield. Ia dikenal sebagai "Uskup Anak-anak" atau "Uskup Orang Miskin" karena dedikasinya yang mendalam terhadap pelayanan pastoral, terutama bagi masyarakat miskin di daerah perkotaan London yang padat dan terpinggirkan pada era Victoria.
* **Karakter dan Inspirasi:** How adalah sosok yang rendah hati, praktis, dan sangat peduli terhadap jiwa-jiwa. Ia memiliki hati seorang gembala sejati. Hymne-hymnenya seringkali sederhana, langsung, dan penuh dengan kehangatan devosi, berfokus pada kehidupan Kristen yang praktis, pelayanan, dan kasih Kristus.
* **Penulisan Lirik "O Jesus, Thou Art Standing":** Lirik ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1867 dalam koleksi Hymne dan Syairnya (*Hymns and Other Verses*).
* **Sumber Inspirasi Alkitabiah:** Ayat kunci yang sangat mungkin menginspirasi How adalah **Wahyu 3:20**: *"Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku."* Selain itu, perumpamaan tentang perjamuan kawin (Matius 22) dan kisah orang yang mengetuk pintu tengah malam (Lukas 11) juga mungkin memengaruhi pesannya.
* **Konteks Pastoral:** Sebagai pendeta dan uskup, How sering menyaksikan orang-orang yang, meskipun mendengar Injil, menunda-nunda keputusan, ragu-ragu, atau bahkan menolak panggilan Kristus. Ia melihat hati yang tertutup oleh kesibukan duniawi, rasa malu, atau ketidakpedulian. Lirik ini adalah seruan lembut namun mendesak dari Kristus yang sabar menanti, mengetuk pintu hati yang tertutup.
* **Analisis Lirik:**
* **Bait Pertama:** Menggambarkan Yesus yang berdiri di luar, mengetuk, dengan rambut basah karena embun dan wajah yang sedih. Ini melukiskan ketekunan Kristus yang tak kenal lelah, bahkan dalam kondisi yang sulit atau diabaikan. Kesedihan-Nya bukan karena kemarahan, tetapi karena kasih yang tak terbalas.
* **Bait Kedua:** Menanyakan mengapa hati manusia begitu beku dan dingin, menolak undangan yang penuh kasih ini. Ini adalah teguran lembut terhadap ketidakpedulian dan egoisme manusia.
* **Bait Ketiga:** Mengingatkan akan pengorbanan Kristus di kayu salib—tangan, kaki, dan dahi-Nya terluka. Mengapa setelah semua itu, kita masih menolak-Nya?
* **Bait Keempat:** Sebuah janji penghiburan bagi mereka yang menerima-Nya: Kristus akan datang dan tinggal di hati mereka, dan semua kebahagiaan akan menjadi milik mereka. Ini adalah puncak undangan—kepenuhan hidup dalam persekutuan dengan Kristus.
* **Esensi Lirik:** Lirik How adalah permohonan pribadi dari Yesus kepada setiap individu. Ini bukan tentang khotbah yang menghakimi, melainkan undangan yang tulus dan sabar dari Kristus yang penuh kasih, yang terus-menerus mengetuk, menunggu hati manusia untuk terbuka.
### **2. Justin Heinrich Knecht (Komposer Melodi "Rheims"): Musisi Klasik Jerman**
* **Latar Belakang:** Justin Heinrich Knecht (1752-1817) adalah seorang komposer, organis, konduktor, dan ahli teori musik Jerman yang hidup jauh sebelum William Walsham How. Ia adalah seorang musisi klasik, dan karyanya tidak secara langsung ditulis sebagai himne gereja dalam pengertian Anglikan.
* **Melodi "Rheims":** Melodi yang kini dikenal sebagai "Rheims" (terkadang dieja "Reims") dan menjadi melodi standar untuk "O Jesus, Thou Art Standing" sebenarnya adalah adaptasi dari salah satu karya Knecht yang lebih tua. Beberapa sumber menyebutkan melodi ini berasal dari operanya, *Die Aeolsharfe* (1807), atau karya sakral lainnya. Melodi ini kemudian diadaptasi dan dipopulerkan di Inggris.
* **Pernikahan Lirik dan Melodi:** Yang menarik adalah bahwa lirik How dan melodi Knecht awalnya tidak berhubungan. Melodi "Rheims" baru dipasangkan dengan lirik How *bertahun-tahun setelah* keduanya diciptakan secara terpisah. Ini adalah contoh umum dalam sejarah himne, di mana lirik yang kuat dipadukan dengan melodi yang cocok untuk menciptakan kesatuan yang lebih besar. Melodi Knecht yang khusyuk, agung, dan sedikit melankolis sangat cocok dengan keseriusan dan kelembutan lirik How.
### **3. Edward Husband (Penggubah / Popularizer): Tokoh yang Mengkombinasikan**
* **Peran:** Edward Husband (1843-1908) seringkali dikreditkan dalam himne ini, meskipun bukan sebagai penulis lirik maupun pencipta melodi asli. Peran Husband kemungkinan besar adalah sebagai **arranger** (penggubah) atau **popularizer** yang pertama kali secara efektif memadukan lirik William Walsham How dengan melodi "Rheims" karya Justin Heinrich Knecht, atau setidaknya membuat aransemen yang menyatukan keduanya menjadi versi yang kini dikenal luas dan dicetak dalam berbagai buku nyanyian.
* **Konteks:** Pada akhir abad ke-19, himne-himne sering diedit, diaransemen ulang, dan dipasangkan dengan melodi yang berbeda untuk penggunaan di gereja-gereja. Edward Husband, sebagai seorang musisi dan komposer himne, kemungkinan memainkan peran krusial dalam memperkenalkan kombinasi yang kini kita kenal.
---
### **Warisan "Engkau Sabar Menanti"**
Ketika lirik How yang puitis dan mendalam dipadukan dengan melodi Knecht yang kuat dan emosional (difasilitasi oleh Husband), sebuah himne yang sangat kuat dan abadi pun lahir.
* **Pesan Universal:** Pesan "Engkau Sabar Menanti" sangat universal. Ini adalah himne tentang kesabaran, kasih karunia, dan undangan pribadi Yesus kepada setiap hati. Ini berbicara tentang kerinduan ilahi untuk persekutuan dengan manusia, meskipun manusia sering menolak atau menunda.
* **Pengaruh:** Lagu ini telah menjadi favorit di banyak denominasi Kristen di seluruh dunia, termasuk di Indonesia dengan judul "Engkau Sabar Menanti." Terjemahan bahasa Indonesianya berhasil menangkap esensi kelembutan dan kesabaran Kristus yang mengetuk pintu hati.
* **Relevansi Abadi:** Bahkan di zaman modern, di mana kebisingan dan kesibukan sering menenggelamkan suara hati nurani, lagu ini tetap relevan. Ia mengingatkan kita untuk berhenti sejenak, mendengarkan ketukan lembut Kristus, dan membuka hati kita kepada-Nya. Ini adalah himne yang mendorong pertobatan, rekonsiliasi, dan kehidupan yang lebih dalam dengan Tuhan.
Dengan demikian, "Engkau Sabar Menanti" adalah hasil kolaborasi lintas generasi dan lintas batas negara, yang dimulai dari hati seorang uskup yang peduli, diiringi melodi seorang musisi klasik, dan disatukan oleh seorang penggubah yang bijak, untuk terus memberkati jutaan jiwa hingga hari ini.
Mari kita telusuri kisah detailnya:
---
### **1. William Walsham How (Penulis Lirik): Sang Uskup bagi Kaum Miskin**
* **Latar Belakang:** William Walsham How (1823-1897) adalah seorang pendeta Anglikan Inggris yang kemudian menjadi Uskup Bedford dan Uskup Wakefield. Ia dikenal sebagai "Uskup Anak-anak" atau "Uskup Orang Miskin" karena dedikasinya yang mendalam terhadap pelayanan pastoral, terutama bagi masyarakat miskin di daerah perkotaan London yang padat dan terpinggirkan pada era Victoria.
* **Karakter dan Inspirasi:** How adalah sosok yang rendah hati, praktis, dan sangat peduli terhadap jiwa-jiwa. Ia memiliki hati seorang gembala sejati. Hymne-hymnenya seringkali sederhana, langsung, dan penuh dengan kehangatan devosi, berfokus pada kehidupan Kristen yang praktis, pelayanan, dan kasih Kristus.
* **Penulisan Lirik "O Jesus, Thou Art Standing":** Lirik ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1867 dalam koleksi Hymne dan Syairnya (*Hymns and Other Verses*).
* **Sumber Inspirasi Alkitabiah:** Ayat kunci yang sangat mungkin menginspirasi How adalah **Wahyu 3:20**: *"Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku."* Selain itu, perumpamaan tentang perjamuan kawin (Matius 22) dan kisah orang yang mengetuk pintu tengah malam (Lukas 11) juga mungkin memengaruhi pesannya.
* **Konteks Pastoral:** Sebagai pendeta dan uskup, How sering menyaksikan orang-orang yang, meskipun mendengar Injil, menunda-nunda keputusan, ragu-ragu, atau bahkan menolak panggilan Kristus. Ia melihat hati yang tertutup oleh kesibukan duniawi, rasa malu, atau ketidakpedulian. Lirik ini adalah seruan lembut namun mendesak dari Kristus yang sabar menanti, mengetuk pintu hati yang tertutup.
* **Analisis Lirik:**
* **Bait Pertama:** Menggambarkan Yesus yang berdiri di luar, mengetuk, dengan rambut basah karena embun dan wajah yang sedih. Ini melukiskan ketekunan Kristus yang tak kenal lelah, bahkan dalam kondisi yang sulit atau diabaikan. Kesedihan-Nya bukan karena kemarahan, tetapi karena kasih yang tak terbalas.
* **Bait Kedua:** Menanyakan mengapa hati manusia begitu beku dan dingin, menolak undangan yang penuh kasih ini. Ini adalah teguran lembut terhadap ketidakpedulian dan egoisme manusia.
* **Bait Ketiga:** Mengingatkan akan pengorbanan Kristus di kayu salib—tangan, kaki, dan dahi-Nya terluka. Mengapa setelah semua itu, kita masih menolak-Nya?
* **Bait Keempat:** Sebuah janji penghiburan bagi mereka yang menerima-Nya: Kristus akan datang dan tinggal di hati mereka, dan semua kebahagiaan akan menjadi milik mereka. Ini adalah puncak undangan—kepenuhan hidup dalam persekutuan dengan Kristus.
* **Esensi Lirik:** Lirik How adalah permohonan pribadi dari Yesus kepada setiap individu. Ini bukan tentang khotbah yang menghakimi, melainkan undangan yang tulus dan sabar dari Kristus yang penuh kasih, yang terus-menerus mengetuk, menunggu hati manusia untuk terbuka.
### **2. Justin Heinrich Knecht (Komposer Melodi "Rheims"): Musisi Klasik Jerman**
* **Latar Belakang:** Justin Heinrich Knecht (1752-1817) adalah seorang komposer, organis, konduktor, dan ahli teori musik Jerman yang hidup jauh sebelum William Walsham How. Ia adalah seorang musisi klasik, dan karyanya tidak secara langsung ditulis sebagai himne gereja dalam pengertian Anglikan.
* **Melodi "Rheims":** Melodi yang kini dikenal sebagai "Rheims" (terkadang dieja "Reims") dan menjadi melodi standar untuk "O Jesus, Thou Art Standing" sebenarnya adalah adaptasi dari salah satu karya Knecht yang lebih tua. Beberapa sumber menyebutkan melodi ini berasal dari operanya, *Die Aeolsharfe* (1807), atau karya sakral lainnya. Melodi ini kemudian diadaptasi dan dipopulerkan di Inggris.
* **Pernikahan Lirik dan Melodi:** Yang menarik adalah bahwa lirik How dan melodi Knecht awalnya tidak berhubungan. Melodi "Rheims" baru dipasangkan dengan lirik How *bertahun-tahun setelah* keduanya diciptakan secara terpisah. Ini adalah contoh umum dalam sejarah himne, di mana lirik yang kuat dipadukan dengan melodi yang cocok untuk menciptakan kesatuan yang lebih besar. Melodi Knecht yang khusyuk, agung, dan sedikit melankolis sangat cocok dengan keseriusan dan kelembutan lirik How.
### **3. Edward Husband (Penggubah / Popularizer): Tokoh yang Mengkombinasikan**
* **Peran:** Edward Husband (1843-1908) seringkali dikreditkan dalam himne ini, meskipun bukan sebagai penulis lirik maupun pencipta melodi asli. Peran Husband kemungkinan besar adalah sebagai **arranger** (penggubah) atau **popularizer** yang pertama kali secara efektif memadukan lirik William Walsham How dengan melodi "Rheims" karya Justin Heinrich Knecht, atau setidaknya membuat aransemen yang menyatukan keduanya menjadi versi yang kini dikenal luas dan dicetak dalam berbagai buku nyanyian.
* **Konteks:** Pada akhir abad ke-19, himne-himne sering diedit, diaransemen ulang, dan dipasangkan dengan melodi yang berbeda untuk penggunaan di gereja-gereja. Edward Husband, sebagai seorang musisi dan komposer himne, kemungkinan memainkan peran krusial dalam memperkenalkan kombinasi yang kini kita kenal.
---
### **Warisan "Engkau Sabar Menanti"**
Ketika lirik How yang puitis dan mendalam dipadukan dengan melodi Knecht yang kuat dan emosional (difasilitasi oleh Husband), sebuah himne yang sangat kuat dan abadi pun lahir.
* **Pesan Universal:** Pesan "Engkau Sabar Menanti" sangat universal. Ini adalah himne tentang kesabaran, kasih karunia, dan undangan pribadi Yesus kepada setiap hati. Ini berbicara tentang kerinduan ilahi untuk persekutuan dengan manusia, meskipun manusia sering menolak atau menunda.
* **Pengaruh:** Lagu ini telah menjadi favorit di banyak denominasi Kristen di seluruh dunia, termasuk di Indonesia dengan judul "Engkau Sabar Menanti." Terjemahan bahasa Indonesianya berhasil menangkap esensi kelembutan dan kesabaran Kristus yang mengetuk pintu hati.
* **Relevansi Abadi:** Bahkan di zaman modern, di mana kebisingan dan kesibukan sering menenggelamkan suara hati nurani, lagu ini tetap relevan. Ia mengingatkan kita untuk berhenti sejenak, mendengarkan ketukan lembut Kristus, dan membuka hati kita kepada-Nya. Ini adalah himne yang mendorong pertobatan, rekonsiliasi, dan kehidupan yang lebih dalam dengan Tuhan.
Dengan demikian, "Engkau Sabar Menanti" adalah hasil kolaborasi lintas generasi dan lintas batas negara, yang dimulai dari hati seorang uskup yang peduli, diiringi melodi seorang musisi klasik, dan disatukan oleh seorang penggubah yang bijak, untuk terus memberkati jutaan jiwa hingga hari ini.