Informasi Lagu
10
Nomor
Kode
NP 10
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
tak dikenal
Pencipta Syair
Catherine Winkworth
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
Pujilah Tuhan, Pencipta Yang Mahakuasa! Hai jiwaku, puji juru Selamat dunia! Yang mendengar, Mari ikut bergemar, Pujilah Tuhan di baitNya.
Pujilah Tuhan, Penguasa bumi dan surga, Yang melindungi umatNya di bawah sayapNya! Sadarilah, Hasrat kita slamanya Jadi atas kehendakNya.
Pujilah Tuhan! Kerja kita diberkatiNya; Tiap hari kasih karunia Tuhan melimpah; Dan camkanlah akan kuasa Allah Bagi yang dilindungiNya.
Pujilah Tuhan, Hai sgala yang ada dalamku! Hai sgala makhluk di bumi, pujilah Tuhanmu! Amin kita kumandangkan merata; Pujilah Tuhan selalu. Amin.
Partitur / Not
Partitur Chord NP 10
Sejarah Lagu
Lagu pujian **"Praise to the Lord, the Almighty"** (Bahasa Indonesia: *Pujilah Tuhan Yang Mahakuasa*) adalah salah satu lagu rohani paling agung dalam sejarah kekristenan. Meskipun sering dikaitkan dengan penerjemahnya, Catherine Winkworth, lagu ini memiliki akar sejarah yang sangat dalam, lahir dari pergumulan iman di tengah masa yang kelam.

Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:

### 1. Pencipta Asli: Joachim Neander (1680)
Lirik aslinya ditulis dalam bahasa Jerman dengan judul *"Lobe den Herren, den mächtigen König der Ehren"* oleh **Joachim Neander**.

Neander adalah seorang teolog dan guru dari Jerman. Kisah hidupnya sangat menarik: pada masa mudanya, ia dikenal sebagai sosok yang liar dan tidak religius. Namun, suatu hari ia menghadiri kebaktian hanya untuk mengejek. Justru di sana, hatinya tersentuh dan ia bertobat.

Ia kemudian menjadi seorang "pengembara" yang suka mencari ketenangan di lembah-lembah sungai untuk berdoa. Lembah tempat ia sering merenung, *Düssel Valley*, kemudian dihormati dengan nama **Neanderthal** (ya, nama lembah yang sama tempat fosil manusia purba ditemukan, diambil dari nama keluarga Joachim Neander).

Neander menulis lagu ini pada tahun **1680**, saat ia sedang menderita penyakit tuberkulosis yang parah. Ia menulisnya sebagai ungkapan syukur yang mendalam di tengah kondisi fisiknya yang melemah, namun imannya justru semakin kuat. Ia meninggal hanya beberapa bulan setelah menulis lagu ini, di usia yang sangat muda (30 tahun).

### 2. Inspirasi Alkitabiah
Lagu ini didasarkan pada **Mazmur 103** (yang dimulai dengan "Pujilah TUHAN, hai jiwaku!") dan **Mazmur 150**. Neander menciptakan komposisi yang sangat teologis namun puitis. Ia mengajak seluruh "ciptaan" untuk memuji Tuhan sebagai Raja yang memerintah atas alam semesta, yang melindungi, menopang, dan menyembuhkan.

### 3. Peran Catherine Winkworth (1863)
Selama hampir dua abad, lagu ini hanya dikenal di Jerman. Baru pada tahun **1863**, **Catherine Winkworth**, seorang penerjemah ulung asal Inggris, menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris.

Winkworth memiliki peran besar dalam memperkenalkan himne-himne Lutheran Jerman ke dunia berbahasa Inggris melalui karyanya *Lyra Germanica*. Terjemahannya bukan sekadar alih bahasa, melainkan penyesuaian sastra yang mempertahankan semangat aslinya. Karena keindahan terjemahannya, lagu ini menjadi sangat populer di gereja-gereja Anglikan dan Protestan di seluruh dunia hingga hari ini.

### 4. Melodi: *Lobe den Herren*
Melodi yang kita kenal sekarang pertama kali muncul dalam sebuah buku nyanyian di Stralsund pada tahun 1665. Meskipun melodi ini sudah ada sebelum Neander menulis liriknya, ia menggunakan melodi tersebut untuk liriknya. Melodi ini memiliki karakteristik yang megah, berwibawa, dan penuh kemenangan—sangat cocok dengan tema liriknya yang memuliakan kedaulatan Tuhan.

### Mengapa lagu ini begitu istimewa?
Kisah di balik lagu ini adalah tentang **perspektif**. Joachim Neander menulis lagu ini bukan di atas takhta kemegahan, melainkan di ambang kematian karena penyakit.

* Liriknya mengajak kita untuk "melihat apa yang bisa dilakukan oleh kuasa Allah" (*Ponder anew what the Almighty can do*).
* Ia mengajarkan bahwa di tengah penderitaan pribadi, seseorang masih bisa memiliki alasan untuk memuji Tuhan karena kedaulatan-Nya yang tidak pernah berubah.

Hingga hari ini, lagu *Pujilah Tuhan Yang Mahakuasa* tetap menjadi salah satu himne paling populer yang sering dinyanyikan dalam perayaan-perayaan gerejawi, termasuk menjadi salah satu lagu favorit mendiang Ratu Elizabeth II. Lagu ini adalah pengingat bahwa iman yang sejati seringkali lahir dari "lembah" yang paling dalam.