NP
Allah Bapa, Sumber Kurnia
Come, Thou Fount of Every Blessing
Informasi Lagu
13
Nomor
Kode
NP 13
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
tak dikenal
Pencipta Syair
Robert Robinson
Cross Ref.
KJ 240a, NKI 155
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
Allah Bapa, Sumber kurnia, Ku memuja namaMu.
Sungai rahmatMu, ya Bapa, Membri kidung dalamku.
Ajar aku trus bermadah, Ya laksana malakMu;
Karna kasihMu melimpah, Bergembira hatiku.
Hingga saat skarang ini PimpinanMu beserta.
O semoga Kau sendiri Antar aku ke surga!
Dulu kala kumerana Dalam dosa terjerat;
DarahMu yang berkuasa Mencurahkan selamat.
KebajikanMu betapa Meliputi hidupku!
Kasih karuniaMu, Bapa, Membri damai di kalbu.
Bila kuingin menyimpang, Luruskanlah jalanku;
Bila imanku bergoncang, Curahkanlah kuasaMu! Amin.
Slide Lirik
3 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu pujian **"Come, Thou Fount of Every Blessing"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Allah Bapa, Sumber Kurnia"*) adalah salah satu kisah pertobatan paling dramatis dan mengharukan dalam sejarah musik rohani.
Lagu ini ditulis oleh **Robert Robinson** pada tahun **1758**, saat ia baru berusia 22 tahun. Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:
### 1. Masa Muda yang Penuh Pemberontakan
Robert Robinson lahir di Norfolk, Inggris, pada tahun 1735. Ia kehilangan ayahnya saat masih kecil, dan karena kemiskinan, ia tumbuh menjadi remaja yang liar dan pemberontak. Pada usia 17 tahun, ia bergabung dengan kelompok pemuda yang suka mabuk-mabukan dan membuat onar di kota London.
Suatu hari, ia dan teman-temannya pergi ke sebuah kebaktian hanya untuk mengejek pengkhotbah terkenal saat itu, **George Whitefield**. Mereka berniat mencari hiburan dengan mengolok-olok orang-orang yang sedang beribadah.
### 2. Pertobatan yang Mengguncang
Namun, rencana itu berubah total. Saat Whitefield berkhotbah tentang penghakiman yang akan datang (berdasarkan ayat Matius 3:7), hati Robinson tersentuh secara luar biasa. Ia merasa setiap kata yang diucapkan pengkhotbah itu seperti ditujukan langsung kepada dosa-dosanya.
Robinson meninggalkan gereja dalam keadaan ketakutan dan penuh pergumulan batin selama tiga tahun berikutnya. Ia merasa dirinya terlalu buruk untuk diampuni. Akhirnya, pada usia 20 tahun, ia menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan dan menemukan kedamaian yang ia cari.
### 3. Lahirnya Lagu Tersebut
Tiga tahun setelah pertobatannya, Robinson menjadi seorang pengkhotbah Methodist. Ia menulis "Come, Thou Fount of Every Blessing" untuk disiapkan sebagai lagu penutup kebaktian peringatan Pentakosta.
Liriknya adalah refleksi dari pengalaman hidupnya sendiri:
* *"Hitherto by Thy help I’ve come"* (Sejauh ini oleh pertolongan-Mu aku datang) — merujuk pada bagaimana Tuhan membawanya keluar dari kehidupan liarnya.
* *"Prone to wander, Lord, I feel it; Prone to leave the God I love"* (Cenderung menyimpang, ya Tuhan, aku merasakannya; Cenderung meninggalkan Allah yang kukasihi) — ini adalah pengakuan jujur Robinson atas sifat manusianya yang lemah dan mudah jatuh kembali ke dalam dosa.
### 4. Legenda tentang "Lupa Diri"
Ada sebuah legenda terkenal (meskipun akurasinya sering diperdebatkan oleh sejarawan) yang sering diceritakan tentang Robinson di masa tuanya.
Dikatakan bahwa bertahun-tahun kemudian, Robinson menjauh dari iman dan menjadi pribadi yang pahit. Suatu hari, saat sedang bepergian dengan kereta kuda, ia duduk bersebelahan dengan seorang wanita muda yang tidak mengenalinya. Wanita itu sedang membaca buku nyanyian rohani dan menyenandungkan "Come, Thou Fount of Every Blessing."
Wanita itu bertanya kepada Robinson, "Apa pendapat Anda tentang lagu yang indah ini?"
Robinson, dengan berlinang air mata, menjawab, "Nyonya, saya adalah orang miskin dan malang yang menulis lagu itu bertahun-tahun yang lalu, dan saya akan memberikan seluruh dunia jika saya bisa merasakan kembali apa yang saya rasakan saat saya menulisnya."
### Mengapa Lagu ini Begitu Berkesan?
Lagu ini tetap abadi karena kejujurannya. Kebanyakan lagu pujian berfokus pada keagungan Tuhan, namun lirik Robinson secara berani mengakui **kerapuhan manusia**. Bagian *"Prone to wander"* adalah pengakuan yang sangat manusiawi, yang membuat setiap orang yang menyanyikannya merasa bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan menjaga iman.
Di Indonesia, lagu ini sering dinyanyikan dengan nada yang khidmat, menjadi pengingat bagi jemaat untuk terus bersandar pada "Ebenezer" (batu pertolongan) Tuhan, seperti yang tertulis dalam lirik aslinya: *"Here I raise my Ebenezer; Hither by Thy help I’m come."* (Di sini kudirikan batu pertolongan, oleh pertolongan-Mu aku sampai di sini).
Lagu ini ditulis oleh **Robert Robinson** pada tahun **1758**, saat ia baru berusia 22 tahun. Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:
### 1. Masa Muda yang Penuh Pemberontakan
Robert Robinson lahir di Norfolk, Inggris, pada tahun 1735. Ia kehilangan ayahnya saat masih kecil, dan karena kemiskinan, ia tumbuh menjadi remaja yang liar dan pemberontak. Pada usia 17 tahun, ia bergabung dengan kelompok pemuda yang suka mabuk-mabukan dan membuat onar di kota London.
Suatu hari, ia dan teman-temannya pergi ke sebuah kebaktian hanya untuk mengejek pengkhotbah terkenal saat itu, **George Whitefield**. Mereka berniat mencari hiburan dengan mengolok-olok orang-orang yang sedang beribadah.
### 2. Pertobatan yang Mengguncang
Namun, rencana itu berubah total. Saat Whitefield berkhotbah tentang penghakiman yang akan datang (berdasarkan ayat Matius 3:7), hati Robinson tersentuh secara luar biasa. Ia merasa setiap kata yang diucapkan pengkhotbah itu seperti ditujukan langsung kepada dosa-dosanya.
Robinson meninggalkan gereja dalam keadaan ketakutan dan penuh pergumulan batin selama tiga tahun berikutnya. Ia merasa dirinya terlalu buruk untuk diampuni. Akhirnya, pada usia 20 tahun, ia menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan dan menemukan kedamaian yang ia cari.
### 3. Lahirnya Lagu Tersebut
Tiga tahun setelah pertobatannya, Robinson menjadi seorang pengkhotbah Methodist. Ia menulis "Come, Thou Fount of Every Blessing" untuk disiapkan sebagai lagu penutup kebaktian peringatan Pentakosta.
Liriknya adalah refleksi dari pengalaman hidupnya sendiri:
* *"Hitherto by Thy help I’ve come"* (Sejauh ini oleh pertolongan-Mu aku datang) — merujuk pada bagaimana Tuhan membawanya keluar dari kehidupan liarnya.
* *"Prone to wander, Lord, I feel it; Prone to leave the God I love"* (Cenderung menyimpang, ya Tuhan, aku merasakannya; Cenderung meninggalkan Allah yang kukasihi) — ini adalah pengakuan jujur Robinson atas sifat manusianya yang lemah dan mudah jatuh kembali ke dalam dosa.
### 4. Legenda tentang "Lupa Diri"
Ada sebuah legenda terkenal (meskipun akurasinya sering diperdebatkan oleh sejarawan) yang sering diceritakan tentang Robinson di masa tuanya.
Dikatakan bahwa bertahun-tahun kemudian, Robinson menjauh dari iman dan menjadi pribadi yang pahit. Suatu hari, saat sedang bepergian dengan kereta kuda, ia duduk bersebelahan dengan seorang wanita muda yang tidak mengenalinya. Wanita itu sedang membaca buku nyanyian rohani dan menyenandungkan "Come, Thou Fount of Every Blessing."
Wanita itu bertanya kepada Robinson, "Apa pendapat Anda tentang lagu yang indah ini?"
Robinson, dengan berlinang air mata, menjawab, "Nyonya, saya adalah orang miskin dan malang yang menulis lagu itu bertahun-tahun yang lalu, dan saya akan memberikan seluruh dunia jika saya bisa merasakan kembali apa yang saya rasakan saat saya menulisnya."
### Mengapa Lagu ini Begitu Berkesan?
Lagu ini tetap abadi karena kejujurannya. Kebanyakan lagu pujian berfokus pada keagungan Tuhan, namun lirik Robinson secara berani mengakui **kerapuhan manusia**. Bagian *"Prone to wander"* adalah pengakuan yang sangat manusiawi, yang membuat setiap orang yang menyanyikannya merasa bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan menjaga iman.
Di Indonesia, lagu ini sering dinyanyikan dengan nada yang khidmat, menjadi pengingat bagi jemaat untuk terus bersandar pada "Ebenezer" (batu pertolongan) Tuhan, seperti yang tertulis dalam lirik aslinya: *"Here I raise my Ebenezer; Hither by Thy help I’m come."* (Di sini kudirikan batu pertolongan, oleh pertolongan-Mu aku sampai di sini).