NP
Kudengar BerkatMu Turun
Lord, I Hear of Showers of Blessing
Informasi Lagu
124
Nomor
Kode
NP 124
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
William B. Bradbury
Pencipta Syair
Elizabeth Codner
Cross Ref.
KJ 235, KK 283, NR 76, BE 465, KKb 162
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
5 bait
Kudengar berkatMu turun
Bagai hujan yang lebat;
Aku bagai tanah gurun,
Kurang air alhayat.
Sayanglah padaku:
Brilah air hayatMu!
Jangan lalu, Allah Bapa,
Hidupku penuh sesal;
Hatiku yang kring, O brilah
Hujan rahmat yang kekal.
Sayanglah padaku:
Brilah hujan rahmatMu.
Jangan lalu, Tuhan Yesus,
Aku harap padaMu;
Aku rindu, Mahakudus;
Kunantikan suaraMu.
Sayanglah padaku:
Kunantikan suaraMu.
Jangan lalu, ya Roh Kudus;
Kau celikkan yang buta;
Kaulah saksi prihal Yesus;
Kuasa firmanMu megah.
Sayanglah padaku:
Brilah kuasa firmanMu!
KasihMu, ya Yesus Kristus,
RahmatMu, ya Allahku,
KuasaMu, ya Rohulkudus,
Nyatakanlah dalamku.
Sayanglah padaku:
Nyatakanlah dalamku!
Slide Lirik
5 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Kudengar Berkat-Mu Turun"** (judul asli: *Lord, I Hear of Showers of Blessing*) adalah salah satu himne klasik yang paling dicintai di dunia. Kisah di balik lagu ini berkaitan erat dengan kerinduan akan kebangkitan rohani dan kesadaran akan kasih karunia Tuhan.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu ini:
### 1. Penulis Lirik: Elizabeth Codner (1860)
Lirik lagu ini ditulis oleh **Elizabeth Codner** (1824–1919), seorang penulis asal Inggris. Ia adalah seorang wanita yang setia melayani Tuhan dan memiliki perhatian besar terhadap pelayanan di kalangan anak-anak muda.
Kisah di balik lirik ini berakar pada **Kebangkitan Rohani Irlandia tahun 1859-1860**. Pada masa itu, berita tentang lawatan Tuhan yang luar biasa (sering disebut sebagai "hujan berkat") menyebar luas ke seluruh penjuru Inggris dan Irlandia. Orang-orang mengalami pertobatan yang mendalam dan perubahan hidup yang radikal.
Elizabeth Codner merasa tersentuh sekaligus merasa "tertinggal" secara rohani saat mendengar laporan tentang bagaimana Roh Kudus bekerja secara dahsyat di tempat-tempat lain. Ia menulis puisi ini sebagai **doa pribadi yang mendesak**. Ia tidak ingin hanya mendengar cerita tentang berkat Tuhan yang dicurahkan pada orang lain, tetapi ia juga ingin Tuhan melawat dirinya sendiri dan komunitasnya secara pribadi.
Liriknya mencerminkan kerendahan hati: *"Jangan lewatkan aku, ya Tuhan" (Pass me not, O gracious Father).* Ini adalah seruan jujur seseorang yang merasa tidak layak namun sangat haus akan kehadiran Tuhan.
### 2. Komposer: William Batchelder Bradbury (1863)
Lirik Elizabeth Codner kemudian bertemu dengan musik yang digubah oleh **William B. Bradbury** (1816–1868), seorang komposer musik gereja terkemuka dari Amerika Serikat.
Bradbury dikenal sebagai sosok yang sangat produktif dalam menyusun lagu-lagu sekolah Minggu dan himne. Ia menggabungkan lirik puitis Codner dengan melodi yang melankolis namun penuh harapan. Nada yang diciptakan Bradbury sangat cocok dengan nuansa "permohonan" yang ada dalam liriknya—sebuah melodi yang terasa seperti bisikan doa yang sungguh-sungguh.
### 3. Makna dan Pesan Lagu
Lagu ini memiliki struktur yang sangat emosional:
* **Bait 1:** Mengakui bahwa Tuhan sedang mencurahkan berkat-Nya kepada orang lain. Penulis merasa bersyukur namun sekaligus merasa perlu untuk "dijamah" juga.
* **Bait 2:** Mengakui kelemahan diri sendiri. *"Meski aku hina, Tuhan, ingatlah diriku."* Ini adalah pengakuan bahwa berkat Tuhan adalah anugerah, bukan karena usaha manusia.
* **Bait 3:** Fokus pada penyerahan diri. Penulis menyatakan bahwa ia datang dengan tangan hampa dan hanya mengandalkan kasih setia Tuhan.
* **Bait 4:** Penutup yang penuh pengharapan akan pembaharuan rohani.
### 4. Dampak Lagu
Sejak diterbitkan, lagu ini menjadi lagu wajib dalam berbagai pertemuan kebangkitan rohani (*revival meetings*) di Amerika dan Inggris. Lagu ini menjadi sangat populer karena menyentuh aspek manusiawi yang paling dalam: **kerinduan untuk tidak dilewati oleh Tuhan.**
Bagi banyak orang Kristen, lagu ini menjadi sarana untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan, terutama ketika mereka merasa iman mereka sedang dingin atau ketika mereka sangat membutuhkan campur tangan Tuhan dalam hidup mereka.
### Kesimpulan
Secara sederhana, kisah di balik lagu ini adalah tentang **kerendahan hati**. Elizabeth Codner tidak menulis lagu ini dari posisi seseorang yang sudah "penuh", melainkan dari posisi seseorang yang "haus". Ia mengingatkan kita bahwa ketika kita mendengar kabar baik tentang bagaimana Tuhan memberkati orang lain, respon yang benar bukanlah rasa iri atau sekadar menjadi penonton, melainkan datang kepada Tuhan dan memohon, *"Tuhan, jangan lewatkan aku, berkati juga hidupku."*
Dalam bahasa Indonesia, lagu ini sering dinyanyikan dengan judul **"Kudengar Berkat-Mu Turun"** dan tercantum dalam berbagai buku nyanyian gereja (seperti Kidung Jemaat atau NKB) sebagai pengingat akan kasih karunia Tuhan yang tak terbatas.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu ini:
### 1. Penulis Lirik: Elizabeth Codner (1860)
Lirik lagu ini ditulis oleh **Elizabeth Codner** (1824–1919), seorang penulis asal Inggris. Ia adalah seorang wanita yang setia melayani Tuhan dan memiliki perhatian besar terhadap pelayanan di kalangan anak-anak muda.
Kisah di balik lirik ini berakar pada **Kebangkitan Rohani Irlandia tahun 1859-1860**. Pada masa itu, berita tentang lawatan Tuhan yang luar biasa (sering disebut sebagai "hujan berkat") menyebar luas ke seluruh penjuru Inggris dan Irlandia. Orang-orang mengalami pertobatan yang mendalam dan perubahan hidup yang radikal.
Elizabeth Codner merasa tersentuh sekaligus merasa "tertinggal" secara rohani saat mendengar laporan tentang bagaimana Roh Kudus bekerja secara dahsyat di tempat-tempat lain. Ia menulis puisi ini sebagai **doa pribadi yang mendesak**. Ia tidak ingin hanya mendengar cerita tentang berkat Tuhan yang dicurahkan pada orang lain, tetapi ia juga ingin Tuhan melawat dirinya sendiri dan komunitasnya secara pribadi.
Liriknya mencerminkan kerendahan hati: *"Jangan lewatkan aku, ya Tuhan" (Pass me not, O gracious Father).* Ini adalah seruan jujur seseorang yang merasa tidak layak namun sangat haus akan kehadiran Tuhan.
### 2. Komposer: William Batchelder Bradbury (1863)
Lirik Elizabeth Codner kemudian bertemu dengan musik yang digubah oleh **William B. Bradbury** (1816–1868), seorang komposer musik gereja terkemuka dari Amerika Serikat.
Bradbury dikenal sebagai sosok yang sangat produktif dalam menyusun lagu-lagu sekolah Minggu dan himne. Ia menggabungkan lirik puitis Codner dengan melodi yang melankolis namun penuh harapan. Nada yang diciptakan Bradbury sangat cocok dengan nuansa "permohonan" yang ada dalam liriknya—sebuah melodi yang terasa seperti bisikan doa yang sungguh-sungguh.
### 3. Makna dan Pesan Lagu
Lagu ini memiliki struktur yang sangat emosional:
* **Bait 1:** Mengakui bahwa Tuhan sedang mencurahkan berkat-Nya kepada orang lain. Penulis merasa bersyukur namun sekaligus merasa perlu untuk "dijamah" juga.
* **Bait 2:** Mengakui kelemahan diri sendiri. *"Meski aku hina, Tuhan, ingatlah diriku."* Ini adalah pengakuan bahwa berkat Tuhan adalah anugerah, bukan karena usaha manusia.
* **Bait 3:** Fokus pada penyerahan diri. Penulis menyatakan bahwa ia datang dengan tangan hampa dan hanya mengandalkan kasih setia Tuhan.
* **Bait 4:** Penutup yang penuh pengharapan akan pembaharuan rohani.
### 4. Dampak Lagu
Sejak diterbitkan, lagu ini menjadi lagu wajib dalam berbagai pertemuan kebangkitan rohani (*revival meetings*) di Amerika dan Inggris. Lagu ini menjadi sangat populer karena menyentuh aspek manusiawi yang paling dalam: **kerinduan untuk tidak dilewati oleh Tuhan.**
Bagi banyak orang Kristen, lagu ini menjadi sarana untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan, terutama ketika mereka merasa iman mereka sedang dingin atau ketika mereka sangat membutuhkan campur tangan Tuhan dalam hidup mereka.
### Kesimpulan
Secara sederhana, kisah di balik lagu ini adalah tentang **kerendahan hati**. Elizabeth Codner tidak menulis lagu ini dari posisi seseorang yang sudah "penuh", melainkan dari posisi seseorang yang "haus". Ia mengingatkan kita bahwa ketika kita mendengar kabar baik tentang bagaimana Tuhan memberkati orang lain, respon yang benar bukanlah rasa iri atau sekadar menjadi penonton, melainkan datang kepada Tuhan dan memohon, *"Tuhan, jangan lewatkan aku, berkati juga hidupku."*
Dalam bahasa Indonesia, lagu ini sering dinyanyikan dengan judul **"Kudengar Berkat-Mu Turun"** dan tercantum dalam berbagai buku nyanyian gereja (seperti Kidung Jemaat atau NKB) sebagai pengingat akan kasih karunia Tuhan yang tak terbatas.
Cross Reference
KJ 235, KK 283, NR 76, BE 465, KKb 162
Pasupasu Lehononmu
BE
Kudengar BerkatMu Turun
KJ
Kudengar Berkatmu Turun
KK
Abdi Nguping Berkah Turun
KKb
Tuhanku, Berkat-Mu Limpah
NR
Sama Tema
Pekerjaan Allah, Anugerah Kasih Karunia