Informasi Lagu
188
Nomor
Kode
NP 188
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
George N. Allen
Pencipta Syair
Thomas Shepherd
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Layakkah Tuhanku saja Memikul salib brat? Bagiku pun tentu ada, Yang harus kuangkat.
Salibku kan kuangkat trus, Ya, sampai ajalku; Kelak dibri oleh Yesus Mahkota bagiku.
O kayu salib nan indah! Mahkota nan mulia! Ya, waktu Yesus turunlah, Jiwaku kan megah.
Partitur / Not
Partitur Chord NP 188
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"Must Jesus Bear the Cross Alone?"** (yang dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan menjadi **"Layakkah Tuhanku Saja?"**) adalah sebuah perjalanan sejarah yang melibatkan dua tokoh dari abad yang berbeda, yang disatukan oleh perenungan mendalam tentang pengorbanan Kristus dan panggilan bagi orang percaya.

Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:

### 1. Penulis Lirik: Thomas Shepherd (1665–1739)
Lirik asli lagu ini ditulis oleh **Thomas Shepherd**, seorang pendeta asal Inggris. Shepherd hidup di masa di mana ia harus berkorban demi keyakinannya. Pada tahun 1662, terjadi peristiwa *Great Ejection* di Inggris, di mana ribuan pendeta dikeluarkan dari Gereja Inggris karena mereka menolak untuk tunduk pada aturan ibadah yang ditetapkan pemerintah.

Shepherd adalah seorang pendeta non-konformis yang melayani dengan penuh keteguhan meski harus menghadapi tekanan dan pengucilan. Ia menulis puisi/himne ini sekitar tahun 1693. Inti dari lirik aslinya adalah sebuah pertanyaan reflektif: **"Apakah Yesus harus memikul salib sendirian, sementara dunia yang lain bebas?"**

Shepherd ingin mengingatkan jemaatnya bahwa pengikut Kristus dipanggil untuk memikul salib mereka sendiri sebagai bentuk ketaatan. Lirik aslinya memiliki nada yang cukup berat dan menantang kesetiaan iman seseorang.

### 2. Komposer Musik: George N. Allen (1812–1877)
Lebih dari satu abad kemudian, musik yang kita kenal sekarang diciptakan oleh **George N. Allen**. Allen adalah seorang profesor musik di Oberlin College, Ohio, Amerika Serikat.

Pada tahun 1844, Allen menggubah melodi untuk lirik karya Thomas Shepherd tersebut. Melodi yang ia ciptakan diberi nama **"MAITLAND"**. Nama ini diambil dari nama seorang teman atau kolega (kemungkinan besar merujuk pada pengaruh lingkungan akademisnya di masa itu). Melodi Allen sangat pas dengan lirik Shepherd; alunan nadanya terkesan khusyuk, kontemplatif, dan memberikan ruang bagi pendengar untuk merenungkan pertanyaan retoris dalam lirik tersebut.

### 3. Makna dan Pesan Lagu
Lagu ini bukanlah sekadar lagu sedih, melainkan sebuah **"panggilan untuk berkorban"**.

* **Bait pertama:** Menantang kesadaran umat Kristen. Jika Yesus memikul salib untuk menebus dosa dunia, apakah pantas jika pengikut-Nya justru mencari hidup yang mudah dan menghindari penderitaan demi iman?
* **Bait-bait selanjutnya:** Menegaskan bahwa setiap orang percaya memiliki "salibnya masing-masing". Salib di sini bukan berarti harus disalibkan secara fisik, melainkan beban, tantangan, penolakan, atau penderitaan yang harus dihadapi karena seseorang memilih untuk hidup benar di hadapan Tuhan.
* **Penutup:** Lagu ini berakhir dengan janji penghiburan, bahwa setelah salib (penderitaan) di dunia ini, akan ada mahkota (kemuliaan) yang menanti di surga.

### 4. Mengapa Lagu ini Tetap Relevan?
Lagu "Layakkah Tuhanku Saja?" tetap bertahan selama berabad-abad karena kejujurannya. Di tengah dunia yang sering kali menawarkan kenyamanan instan, lagu ini hadir sebagai pengingat keras namun lembut bagi setiap orang Kristen. Ia membawa pendengar untuk tidak hanya bersyukur atas keselamatan yang Yesus berikan, tetapi juga bertanya, *"Apa yang sudah aku korbankan untuk mengikuti-Nya?"*

Dalam buku-buku himne klasik, lagu ini sering dimasukkan dalam kategori **"Consecration" (Penyerahan Diri)**. Ia tidak dimaksudkan untuk dinyanyikan dengan santai, melainkan sebagai sebuah doa pengakuan dan komitmen untuk setia memikul salib, apapun risikonya, mengikuti jejak Sang Guru.

**Kesimpulannya:** Lagu ini adalah hasil kolaborasi lintas zaman: perenungan seorang pendeta yang tertindas di abad ke-17 (Shepherd) yang kemudian diberi sayap melalui komposisi musik seorang pengajar di abad ke-19 (Allen), untuk terus menggugah nurani orang percaya di seluruh dunia hingga hari ini.