Informasi Lagu
189
Nomor
Kode
NP 189
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
tradsional Latin
Pencipta Syair
Isaac Watts
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
Bila kuingat salibNya, Dimana Yesus dipaku, Harta yang dulu kusembah Tidak mengikat hidupku.
Kiranya rasa banggaku Hanya di dalam Almasih. Kubuang nafsu hatiku Karna korbanNya yang suci.
Lihatlah pada dahiNya: Duka dan kasih tercurah. Dahsyat mahkota duriNya: Yang hina jadi yang mulia.
Andaikan dapat kuberi Alam semesta padaMu, Karna kasihMu yang murni Kupersembahkan diriku. Amin.
Partitur / Not
Partitur Chord NP 189
Sejarah Lagu
Lagu **"When I Survey the Wondrous Cross"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan menjadi **"Bila Kuingat Salib-Nya"**) dianggap oleh banyak kritikus musik dan teolog sebagai salah satu himne (lagu pujian) Kristen terbaik dan paling agung yang pernah ditulis dalam bahasa Inggris.

Berikut adalah kisah mendalam di balik penciptaan lagu ini:

### 1. Sosok Penulis: Isaac Watts (1674–1748)
Isaac Watts dikenal sebagai "Bapak Himne Bahasa Inggris". Pada masanya, gereja-gereja di Inggris (khususnya kaum Puritan) hanya diperbolehkan menyanyikan Mazmur dari Alkitab dalam bentuk syair yang kaku. Watts merasa jemu dengan nyanyian yang monoton dan merasa bahwa umat Kristen perlu menyanyikan perasaan pribadi mereka kepada Tuhan melalui puisi yang lebih hidup.

Ia menulis lagu ini pada tahun **1707** untuk persiapan perjamuan kudus di gerejanya. Saat itu, Watts baru berusia 33 tahun.

### 2. Latar Belakang Penulisan
Inspirasi utama Watts dalam menulis lagu ini adalah **Galatia 6:14**, yang berbunyi: *"Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia."*

Watts ingin membawa jemaatnya untuk tidak sekadar melihat salib sebagai peristiwa sejarah, melainkan sebagai pusat dari pengalaman spiritual seseorang. Ia ingin pendengarnya merenungkan pengorbanan Kristus yang "menakjubkan" (*wondrous*) dan bagaimana pengorbanan itu menuntut respons total dari kehidupan manusia.

### 3. Analisis Lirik: Sebuah Perjalanan Kontemplasi
Lagu ini dibagi menjadi empat bagian yang membawa pendengar masuk ke dalam sebuah perjalanan batin:

* **Bait 1: Pandangan pada Salib.** Penulis memandang salib tempat "Raja Kemuliaan" wafat. Di sini, kekayaan duniawi dan kebanggaan diri menjadi tidak berarti.
* **Bait 2: Melepaskan Kebanggaan.** Watts menyatakan bahwa ia tidak ingin bermegah lagi, kecuali pada kematian Kristus. Ia membuang segala kesombongan hidupnya.
* **Bait 3: Penderitaan Kristus.** Ini adalah bagian paling emosional. Ia menggambarkan bagaimana kepala, tangan, dan kaki Yesus yang berdarah mengalirkan "kasih dan duka" yang tak terukur. Ia menyimpulkan bahwa tidak ada mahkota duri yang bisa menandingi cinta kasih-Nya.
* **Bait 4: Respons Total (Klimaks).** Ini adalah bait yang paling terkenal. Watts menulis:
> *"Were the whole realm of nature mine, / That were an offering far too small; / Love so amazing, so divine, / Demands my soul, my life, my all."*
> (Jika seluruh dunia ini milikku, itu pun persembahan yang terlalu kecil; kasih yang begitu menakjubkan, begitu ilahi, menuntut jiwaku, hidupku, segalanya.)

### 4. Melodi yang Menyertainya
Meskipun Watts menulis liriknya pada 1707, lagu ini sekarang paling sering dinyanyikan dengan melodi bernama **"Hamburg"** yang disusun oleh **Lowell Mason** pada tahun 1824. Melodi ini lambat, agung, dan sangat khidmat, yang sangat kontras dengan kerumitan bait-bait awal yang sering menggunakan melodi "Rockingham".

### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Berpengaruh?
Kekuatan lagu ini terletak pada **kontras yang tajam**. Watts tidak menggunakan bahasa yang berbunga-bunga, melainkan bahasa yang langsung menusuk ke hati.

Bagi orang Kristen, lagu ini bukan sekadar lagu melankolis tentang kematian, melainkan sebuah pernyataan komitmen radikal. Inti dari pesan Isaac Watts adalah: **Jika Tuhan telah memberikan segalanya untuk saya di salib, maka respon saya tidak bisa hanya setengah-setengah.** Hidup saya harus menjadi persembahan bagi-Nya.

**Fakta Menarik:**
Matthew Arnold, seorang penyair dan kritikus sastra terkenal di abad ke-19, pernah mengatakan bahwa jika ia harus memilih satu lagu saja yang dianggap memiliki kekuatan sastra dan spiritual paling murni dalam bahasa Inggris, ia akan memilih *When I Survey the Wondrous Cross* karya Isaac Watts ini.