NP
Ya Hembuskan RohMu
Breathe on Me, Breath of God
Informasi Lagu
93
Nomor
Kode
NP 93
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
Robert Jackson
Pencipta Syair
Edwin Hatch
Cross Ref.
GB 191, NKI 34
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Ya hembuskan RohMu
Bri hidup yang baru,
Agar tiap perbuatanku
Meniru perbuatanMu.
Ya hembuskan RohMu
Hatiku sucikan,
Dan kehendakku jadilah
Sesuai kehendak Tuhan.
Ya hembuskan RohMu
Aku Kau kuasai,
Agar seluruh hidupku
Penuh api ilahi.
Ya hembuskan RohMu
Agar ku hidup trus,
Hingga sempurna hidupku
Dalam surga yang kudus. Amin.
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Breathe on Me, Breath of God"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Ya Hembuskan Roh-Mu"*) adalah salah satu himne klasik yang paling dicintai dalam tradisi Kristen. Kekuatan lagu ini terletak pada kesederhanaannya yang mendalam, yang berbicara tentang penyerahan diri sepenuhnya kepada Roh Kudus.
Berikut adalah kisah mendalam di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Sosok Penulis: Edwin Hatch
Lirik lagu ini ditulis oleh **Edwin Hatch (1835–1889)**, seorang pendeta Anglikan asal Inggris, akademisi, dan teolog terkemuka. Ia bukan sekadar penulis lagu, melainkan seorang sarjana yang sangat dihormati di Universitas Oxford.
Meskipun ia adalah seorang intelektual yang sibuk, kehidupan rohani Hatch sangat mendalam. Ia dikenal karena pemikirannya yang progresif namun tetap berakar pada spiritualitas yang kuat.
### 2. Konteks Penciptaan (1878)
Lirik ini sebenarnya **bukan dimaksudkan untuk menjadi lagu jemaat** saat pertama kali ditulis. Hatch menuliskannya sebagai sebuah puisi doa pribadi yang ia terbitkan dalam sebuah buku kumpulan puisi berjudul *Towards Fields of Light* pada tahun 1878.
Judul asli puisi tersebut adalah *"Inspiration"* (Inspirasi). Hatch menuliskan puisi ini sebagai bentuk kerinduan pribadinya untuk mengalami pembaruan rohani yang nyata—bukan sekadar pengetahuan teologis di kepalanya, melainkan kehidupan ilahi yang mengalir melalui napas (Roh) Tuhan ke dalam jiwanya.
### 3. Pemilihan Melodi: Robert Jackson
Puisi tersebut kemudian menarik perhatian para penyusun buku nyanyian gerejawi. Pada tahun 1888, puisi tersebut disandingkan dengan melodi yang digubah oleh **Robert Jackson (1842–1914)**, seorang organis dan komposer gereja asal Inggris.
Jackson memberikan nama untuk melodi tersebut **"Veni Spiritus"** (Bahasa Latin untuk "Datanglah Roh"). Perpaduan antara kedalaman lirik Hatch yang puitis dan melodi Jackson yang tenang namun khidmat menjadikan lagu ini sangat kontemplatif dan terasa seperti sebuah doa yang diucapkan dalam keheningan.
### 4. Makna di Balik Lirik
Lagu ini sangat kuat karena setiap baitnya menggambarkan "napas" Tuhan yang bekerja dalam aspek yang berbeda dalam diri manusia:
* **Bait 1:** Memohon agar napas Tuhan menghidupkan jiwa yang mati dan menyucikan apa yang kotor (*"Breathe on me, Breath of God, fill me with life anew..."*).
* **Bait 2:** Memohon agar kehendak Tuhan menyatu dengan kehendak manusia, sehingga tidak ada lagi dualisme antara keinginan pribadi dan Tuhan (*"Breathe on me, Breath of God, until my heart is pure..."*).
* **Bait 3:** Memohon agar jiwa manusia "melebur" ke dalam Tuhan, sehingga tidak ada lagi batas antara hidup kita dengan hidup-Nya (*"Breathe on me, Breath of God, till I am wholly Thine..."*).
* **Bait 4:** Berbicara tentang kekekalan. Napas Tuhan adalah napas yang akan terus berhembus hingga kita berada di hadirat-Nya selamanya.
### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Berpengaruh?
Lagu ini menjadi sangat ikonik karena ia menangkap esensi dari **ketergantungan manusia kepada Tuhan**. Kata "Breathe" (Hembuskan/Napas) merujuk pada kisah penciptaan manusia di kitab Kejadian, di mana Tuhan menghembuskan napas kehidupan ke dalam hidung manusia.
Dengan menyanyikan lagu ini, jemaat diajak untuk kembali pada momen penciptaan tersebut: mengakui bahwa tanpa "napas" (Roh Kudus) dari Tuhan, manusia hanyalah debu tanpa nyawa.
### Kesimpulan
Edwin Hatch mungkin tidak pernah membayangkan bahwa puisi doa pribadinya akan dinyanyikan oleh jutaan orang di seluruh dunia. Lagu ini tetap relevan hingga hari ini karena ia menyuarakan kerinduan yang universal: **kebutuhan untuk dihidupkan kembali, disucikan, dan dipersatukan dengan Sang Pencipta melalui napas Roh Kudus.**
Saat kita menyanyikan lagu ini, kita tidak hanya sekadar bernyanyi, tetapi sedang menaikkan permohonan agar Tuhan mengambil alih kendali napas dan kehidupan kita sepenuhnya.
Berikut adalah kisah mendalam di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Sosok Penulis: Edwin Hatch
Lirik lagu ini ditulis oleh **Edwin Hatch (1835–1889)**, seorang pendeta Anglikan asal Inggris, akademisi, dan teolog terkemuka. Ia bukan sekadar penulis lagu, melainkan seorang sarjana yang sangat dihormati di Universitas Oxford.
Meskipun ia adalah seorang intelektual yang sibuk, kehidupan rohani Hatch sangat mendalam. Ia dikenal karena pemikirannya yang progresif namun tetap berakar pada spiritualitas yang kuat.
### 2. Konteks Penciptaan (1878)
Lirik ini sebenarnya **bukan dimaksudkan untuk menjadi lagu jemaat** saat pertama kali ditulis. Hatch menuliskannya sebagai sebuah puisi doa pribadi yang ia terbitkan dalam sebuah buku kumpulan puisi berjudul *Towards Fields of Light* pada tahun 1878.
Judul asli puisi tersebut adalah *"Inspiration"* (Inspirasi). Hatch menuliskan puisi ini sebagai bentuk kerinduan pribadinya untuk mengalami pembaruan rohani yang nyata—bukan sekadar pengetahuan teologis di kepalanya, melainkan kehidupan ilahi yang mengalir melalui napas (Roh) Tuhan ke dalam jiwanya.
### 3. Pemilihan Melodi: Robert Jackson
Puisi tersebut kemudian menarik perhatian para penyusun buku nyanyian gerejawi. Pada tahun 1888, puisi tersebut disandingkan dengan melodi yang digubah oleh **Robert Jackson (1842–1914)**, seorang organis dan komposer gereja asal Inggris.
Jackson memberikan nama untuk melodi tersebut **"Veni Spiritus"** (Bahasa Latin untuk "Datanglah Roh"). Perpaduan antara kedalaman lirik Hatch yang puitis dan melodi Jackson yang tenang namun khidmat menjadikan lagu ini sangat kontemplatif dan terasa seperti sebuah doa yang diucapkan dalam keheningan.
### 4. Makna di Balik Lirik
Lagu ini sangat kuat karena setiap baitnya menggambarkan "napas" Tuhan yang bekerja dalam aspek yang berbeda dalam diri manusia:
* **Bait 1:** Memohon agar napas Tuhan menghidupkan jiwa yang mati dan menyucikan apa yang kotor (*"Breathe on me, Breath of God, fill me with life anew..."*).
* **Bait 2:** Memohon agar kehendak Tuhan menyatu dengan kehendak manusia, sehingga tidak ada lagi dualisme antara keinginan pribadi dan Tuhan (*"Breathe on me, Breath of God, until my heart is pure..."*).
* **Bait 3:** Memohon agar jiwa manusia "melebur" ke dalam Tuhan, sehingga tidak ada lagi batas antara hidup kita dengan hidup-Nya (*"Breathe on me, Breath of God, till I am wholly Thine..."*).
* **Bait 4:** Berbicara tentang kekekalan. Napas Tuhan adalah napas yang akan terus berhembus hingga kita berada di hadirat-Nya selamanya.
### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Berpengaruh?
Lagu ini menjadi sangat ikonik karena ia menangkap esensi dari **ketergantungan manusia kepada Tuhan**. Kata "Breathe" (Hembuskan/Napas) merujuk pada kisah penciptaan manusia di kitab Kejadian, di mana Tuhan menghembuskan napas kehidupan ke dalam hidung manusia.
Dengan menyanyikan lagu ini, jemaat diajak untuk kembali pada momen penciptaan tersebut: mengakui bahwa tanpa "napas" (Roh Kudus) dari Tuhan, manusia hanyalah debu tanpa nyawa.
### Kesimpulan
Edwin Hatch mungkin tidak pernah membayangkan bahwa puisi doa pribadinya akan dinyanyikan oleh jutaan orang di seluruh dunia. Lagu ini tetap relevan hingga hari ini karena ia menyuarakan kerinduan yang universal: **kebutuhan untuk dihidupkan kembali, disucikan, dan dipersatukan dengan Sang Pencipta melalui napas Roh Kudus.**
Saat kita menyanyikan lagu ini, kita tidak hanya sekadar bernyanyi, tetapi sedang menaikkan permohonan agar Tuhan mengambil alih kendali napas dan kehidupan kita sepenuhnya.