PPK
Orang Sengsara
Man of Sorrows What a Name
Informasi Lagu
228
Nomor
Kode
PPK 228
Buku
Puji Pujian Kristen
Metronom
0
Cross Ref.
KJ 181, NP 81
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Yesus Orang sengsara
sebutan Anak Allah
penebus rang berdosa
Haleluya Juru Slamat.
Menanggung malu maki
Dia Domba tak berdosa
darah peneguh janji
Haleluya Juru Slamat.
Kami hina berdosa
Dia Domba tak bernoda
namun ku ditebusNya
Haleluya Juru Slamat.
Disalib di Golgota
Sudah genap seruNya
kini mulia di surga
Haleluya Juru Slamat.
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Man of Sorrows"** (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai **"Yang Sengsara"** atau **"Pria Penuh Kesengsaraan"**) adalah salah satu himne Kristen yang paling mendalam, yang ditulis oleh **Philip P. Bliss** pada tahun 1875.
Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita harus melihat siapa Philip Bliss dan bagaimana perspektif teologisnya membentuk karya tersebut.
### 1. Sosok Philip P. Bliss
Philip P. Bliss adalah seorang penulis lagu rohani Amerika yang sangat produktif di abad ke-19. Ia bekerja sama erat dengan penginjil terkenal, Dwight L. Moody. Bliss dikenal bukan hanya karena bakat musiknya, tetapi juga karena kedalaman imannya. Ia sering menciptakan lagu yang berfokus pada pengorbanan Kristus, yang sering kali menjadi bagian dari kebaktian kebangunan rohani yang dipimpin oleh Moody.
### 2. Inspirasi Alkitabiah
Lagu ini tidak lahir dari sebuah tragedi pribadi yang mendadak, melainkan dari perenungan mendalam Bliss terhadap **Yesaya 53:3**, yang berbunyi:
> *"Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang mendapat kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan."*
Bliss ingin membuat lagu yang mampu menggambarkan betapa lengkapnya penderitaan yang dialami Yesus Kristus sebagai "Pria Penuh Kesengsaraan" (*Man of Sorrows*) demi menebus dosa manusia.
### 3. Makna Liriknya
Lirik lagu ini adalah sebuah "ringkasan teologis" tentang kehidupan Kristus:
* **Bait pertama:** Menggambarkan inkarnasi dan kerelaan Yesus untuk datang ke dunia yang berdosa untuk disalibkan.
* **Bait kedua:** Menyoroti bagaimana Yesus menanggung penghinaan dan penolakan manusia—Ia dianggap tidak berharga oleh dunia, padahal Ia adalah Anak Allah.
* **Bait ketiga:** Fokus pada ketaatan-Nya hingga mati di kayu salib.
* **Bait penutup:** Menegaskan bahwa meskipun Ia menderita, Ia telah bangkit dan menang, sehingga umat manusia yang percaya kepada-Nya mendapatkan keselamatan.
Kekuatan lagu ini terletak pada kalimat pengulangannya: **"Hallelujah! What a Savior!"** (Haleluya! Juruselamat yang luar biasa!). Bliss ingin memberikan kontras antara penderitaan yang luar biasa (kesengsaraan) dengan kemenangan yang luar biasa (Haleluya).
### 4. Akhir Hidup yang Ironis
Kisah di balik lagu ini menjadi semakin "hidup" ketika kita melihat akhir hidup Philip P. Bliss sendiri. Hanya setahun setelah ia menulis lagu tersebut, pada malam Natal tahun 1876, Bliss dan istrinya tewas dalam **Tragedi Kereta Api Ashtabula** di Ohio, Amerika Serikat.
Kereta yang mereka tumpangi tergelincir dan terbakar saat melintasi jembatan. Bliss sebenarnya sempat berhasil keluar dari reruntuhan kereta, namun ia kembali masuk ke dalam kobaran api karena tidak ingin meninggalkan istrinya yang terjebak. Keduanya tewas dalam peristiwa tersebut.
Bagi banyak orang Kristen, kematian Bliss dipandang sebagai cerminan dari pesan dalam lagunya sendiri: **sebuah pengorbanan diri yang total.** Ia menulis tentang seorang Juruselamat yang rela menderita dan mati demi orang lain, dan hidupnya sendiri berakhir dalam tindakan pengorbanan yang serupa bagi orang yang ia kasihi.
### Mengapa Lagu Ini Begitu Berkesan?
Lagu *Man of Sorrows* tetap populer hingga hari ini karena ia membawa pendengarnya masuk ke dalam "empati ilahi." Lagu ini tidak hanya sekadar menceritakan sejarah, tetapi memaksa pendengar untuk merenungkan:
1. **Dosa:** Betapa berat dosa kita sehingga menuntut pengorbanan yang begitu besar.
2. **Kasih:** Betapa besar kasih Kristus yang rela menanggung semuanya sendirian.
3. **Respons:** Mengajak kita untuk menyembah (Hallelujah) atas anugerah tersebut.
Dalam banyak kebaktian gereja, terutama menjelang perayaan Paskah atau Jumat Agung, lagu ini sering dinyanyikan sebagai pengingat bahwa "Pria Penuh Kesengsaraan" itu bukan sekadar tokoh masa lalu, melainkan Juruselamat yang hidup yang telah memenangkan segalanya bagi mereka yang percaya.
Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita harus melihat siapa Philip Bliss dan bagaimana perspektif teologisnya membentuk karya tersebut.
### 1. Sosok Philip P. Bliss
Philip P. Bliss adalah seorang penulis lagu rohani Amerika yang sangat produktif di abad ke-19. Ia bekerja sama erat dengan penginjil terkenal, Dwight L. Moody. Bliss dikenal bukan hanya karena bakat musiknya, tetapi juga karena kedalaman imannya. Ia sering menciptakan lagu yang berfokus pada pengorbanan Kristus, yang sering kali menjadi bagian dari kebaktian kebangunan rohani yang dipimpin oleh Moody.
### 2. Inspirasi Alkitabiah
Lagu ini tidak lahir dari sebuah tragedi pribadi yang mendadak, melainkan dari perenungan mendalam Bliss terhadap **Yesaya 53:3**, yang berbunyi:
> *"Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang mendapat kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan."*
Bliss ingin membuat lagu yang mampu menggambarkan betapa lengkapnya penderitaan yang dialami Yesus Kristus sebagai "Pria Penuh Kesengsaraan" (*Man of Sorrows*) demi menebus dosa manusia.
### 3. Makna Liriknya
Lirik lagu ini adalah sebuah "ringkasan teologis" tentang kehidupan Kristus:
* **Bait pertama:** Menggambarkan inkarnasi dan kerelaan Yesus untuk datang ke dunia yang berdosa untuk disalibkan.
* **Bait kedua:** Menyoroti bagaimana Yesus menanggung penghinaan dan penolakan manusia—Ia dianggap tidak berharga oleh dunia, padahal Ia adalah Anak Allah.
* **Bait ketiga:** Fokus pada ketaatan-Nya hingga mati di kayu salib.
* **Bait penutup:** Menegaskan bahwa meskipun Ia menderita, Ia telah bangkit dan menang, sehingga umat manusia yang percaya kepada-Nya mendapatkan keselamatan.
Kekuatan lagu ini terletak pada kalimat pengulangannya: **"Hallelujah! What a Savior!"** (Haleluya! Juruselamat yang luar biasa!). Bliss ingin memberikan kontras antara penderitaan yang luar biasa (kesengsaraan) dengan kemenangan yang luar biasa (Haleluya).
### 4. Akhir Hidup yang Ironis
Kisah di balik lagu ini menjadi semakin "hidup" ketika kita melihat akhir hidup Philip P. Bliss sendiri. Hanya setahun setelah ia menulis lagu tersebut, pada malam Natal tahun 1876, Bliss dan istrinya tewas dalam **Tragedi Kereta Api Ashtabula** di Ohio, Amerika Serikat.
Kereta yang mereka tumpangi tergelincir dan terbakar saat melintasi jembatan. Bliss sebenarnya sempat berhasil keluar dari reruntuhan kereta, namun ia kembali masuk ke dalam kobaran api karena tidak ingin meninggalkan istrinya yang terjebak. Keduanya tewas dalam peristiwa tersebut.
Bagi banyak orang Kristen, kematian Bliss dipandang sebagai cerminan dari pesan dalam lagunya sendiri: **sebuah pengorbanan diri yang total.** Ia menulis tentang seorang Juruselamat yang rela menderita dan mati demi orang lain, dan hidupnya sendiri berakhir dalam tindakan pengorbanan yang serupa bagi orang yang ia kasihi.
### Mengapa Lagu Ini Begitu Berkesan?
Lagu *Man of Sorrows* tetap populer hingga hari ini karena ia membawa pendengarnya masuk ke dalam "empati ilahi." Lagu ini tidak hanya sekadar menceritakan sejarah, tetapi memaksa pendengar untuk merenungkan:
1. **Dosa:** Betapa berat dosa kita sehingga menuntut pengorbanan yang begitu besar.
2. **Kasih:** Betapa besar kasih Kristus yang rela menanggung semuanya sendirian.
3. **Respons:** Mengajak kita untuk menyembah (Hallelujah) atas anugerah tersebut.
Dalam banyak kebaktian gereja, terutama menjelang perayaan Paskah atau Jumat Agung, lagu ini sering dinyanyikan sebagai pengingat bahwa "Pria Penuh Kesengsaraan" itu bukan sekadar tokoh masa lalu, melainkan Juruselamat yang hidup yang telah memenangkan segalanya bagi mereka yang percaya.