KJ
'Yang Sengsara' Itulah
Man of Sorrows
Informasi Lagu
181
Nomor
Do=C
Nada Dasar
Kode
KJ 181
Buku
Kidung Jemaat
Nada Dasar
Do=C
Ketukan
4 ketuk ketuk
Metronom
0
Jumlah Bait
5 bait
Style
Live8Beat
Pencipta Lagu
Philip P. Bliss (1875)
Pencipta Syair
Philip P. Bliss (1875)
Penerjemah
Yamuger (1982)
Cross Ref.
NP 81, PPK 228
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
5 bait
"Yang Sengsara" itulah Putra Allah mulia,
Penebus manusia. Haleluya, puji Dia!
Ganti aku Dialah yang dihukum, disesah.
Bebas aku olehNya. Haleluya, puji Dia!
Kita salah dan lemah; Ia tidak bercela.
Damai pulih olehNya. Haleluya, puji Dia!
Di salib di Golgota "Selesailah!" sabdaNya.
Kini sorga arasyNya. Haleluya, puji Dia!
Bila Raja mulia menjemput jemaatNya,
kidung kita bergema, "Haleluya, puji Dia!
Slide Lirik
5 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Man of Sorrows"** (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai **"Yang Sengsara"** atau **"Pria Penuh Kesengsaraan"**) adalah salah satu himne Kristen yang paling mendalam, yang ditulis oleh **Philip P. Bliss** pada tahun 1875.
Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita harus melihat siapa Philip Bliss dan bagaimana perspektif teologisnya membentuk karya tersebut.
### 1. Sosok Philip P. Bliss
Philip P. Bliss adalah seorang penulis lagu rohani Amerika yang sangat produktif di abad ke-19. Ia bekerja sama erat dengan penginjil terkenal, Dwight L. Moody. Bliss dikenal bukan hanya karena bakat musiknya, tetapi juga karena kedalaman imannya. Ia sering menciptakan lagu yang berfokus pada pengorbanan Kristus, yang sering kali menjadi bagian dari kebaktian kebangunan rohani yang dipimpin oleh Moody.
### 2. Inspirasi Alkitabiah
Lagu ini tidak lahir dari sebuah tragedi pribadi yang mendadak, melainkan dari perenungan mendalam Bliss terhadap **Yesaya 53:3**, yang berbunyi:
> *"Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang mendapat kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan."*
Bliss ingin membuat lagu yang mampu menggambarkan betapa lengkapnya penderitaan yang dialami Yesus Kristus sebagai "Pria Penuh Kesengsaraan" (*Man of Sorrows*) demi menebus dosa manusia.
### 3. Makna Liriknya
Lirik lagu ini adalah sebuah "ringkasan teologis" tentang kehidupan Kristus:
* **Bait pertama:** Menggambarkan inkarnasi dan kerelaan Yesus untuk datang ke dunia yang berdosa untuk disalibkan.
* **Bait kedua:** Menyoroti bagaimana Yesus menanggung penghinaan dan penolakan manusia—Ia dianggap tidak berharga oleh dunia, padahal Ia adalah Anak Allah.
* **Bait ketiga:** Fokus pada ketaatan-Nya hingga mati di kayu salib.
* **Bait penutup:** Menegaskan bahwa meskipun Ia menderita, Ia telah bangkit dan menang, sehingga umat manusia yang percaya kepada-Nya mendapatkan keselamatan.
Kekuatan lagu ini terletak pada kalimat pengulangannya: **"Hallelujah! What a Savior!"** (Haleluya! Juruselamat yang luar biasa!). Bliss ingin memberikan kontras antara penderitaan yang luar biasa (kesengsaraan) dengan kemenangan yang luar biasa (Haleluya).
### 4. Akhir Hidup yang Ironis
Kisah di balik lagu ini menjadi semakin "hidup" ketika kita melihat akhir hidup Philip P. Bliss sendiri. Hanya setahun setelah ia menulis lagu tersebut, pada malam Natal tahun 1876, Bliss dan istrinya tewas dalam **Tragedi Kereta Api Ashtabula** di Ohio, Amerika Serikat.
Kereta yang mereka tumpangi tergelincir dan terbakar saat melintasi jembatan. Bliss sebenarnya sempat berhasil keluar dari reruntuhan kereta, namun ia kembali masuk ke dalam kobaran api karena tidak ingin meninggalkan istrinya yang terjebak. Keduanya tewas dalam peristiwa tersebut.
Bagi banyak orang Kristen, kematian Bliss dipandang sebagai cerminan dari pesan dalam lagunya sendiri: **sebuah pengorbanan diri yang total.** Ia menulis tentang seorang Juruselamat yang rela menderita dan mati demi orang lain, dan hidupnya sendiri berakhir dalam tindakan pengorbanan yang serupa bagi orang yang ia kasihi.
### Mengapa Lagu Ini Begitu Berkesan?
Lagu *Man of Sorrows* tetap populer hingga hari ini karena ia membawa pendengarnya masuk ke dalam "empati ilahi." Lagu ini tidak hanya sekadar menceritakan sejarah, tetapi memaksa pendengar untuk merenungkan:
1. **Dosa:** Betapa berat dosa kita sehingga menuntut pengorbanan yang begitu besar.
2. **Kasih:** Betapa besar kasih Kristus yang rela menanggung semuanya sendirian.
3. **Respons:** Mengajak kita untuk menyembah (Hallelujah) atas anugerah tersebut.
Dalam banyak kebaktian gereja, terutama menjelang perayaan Paskah atau Jumat Agung, lagu ini sering dinyanyikan sebagai pengingat bahwa "Pria Penuh Kesengsaraan" itu bukan sekadar tokoh masa lalu, melainkan Juruselamat yang hidup yang telah memenangkan segalanya bagi mereka yang percaya.
Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita harus melihat siapa Philip Bliss dan bagaimana perspektif teologisnya membentuk karya tersebut.
### 1. Sosok Philip P. Bliss
Philip P. Bliss adalah seorang penulis lagu rohani Amerika yang sangat produktif di abad ke-19. Ia bekerja sama erat dengan penginjil terkenal, Dwight L. Moody. Bliss dikenal bukan hanya karena bakat musiknya, tetapi juga karena kedalaman imannya. Ia sering menciptakan lagu yang berfokus pada pengorbanan Kristus, yang sering kali menjadi bagian dari kebaktian kebangunan rohani yang dipimpin oleh Moody.
### 2. Inspirasi Alkitabiah
Lagu ini tidak lahir dari sebuah tragedi pribadi yang mendadak, melainkan dari perenungan mendalam Bliss terhadap **Yesaya 53:3**, yang berbunyi:
> *"Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang mendapat kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan."*
Bliss ingin membuat lagu yang mampu menggambarkan betapa lengkapnya penderitaan yang dialami Yesus Kristus sebagai "Pria Penuh Kesengsaraan" (*Man of Sorrows*) demi menebus dosa manusia.
### 3. Makna Liriknya
Lirik lagu ini adalah sebuah "ringkasan teologis" tentang kehidupan Kristus:
* **Bait pertama:** Menggambarkan inkarnasi dan kerelaan Yesus untuk datang ke dunia yang berdosa untuk disalibkan.
* **Bait kedua:** Menyoroti bagaimana Yesus menanggung penghinaan dan penolakan manusia—Ia dianggap tidak berharga oleh dunia, padahal Ia adalah Anak Allah.
* **Bait ketiga:** Fokus pada ketaatan-Nya hingga mati di kayu salib.
* **Bait penutup:** Menegaskan bahwa meskipun Ia menderita, Ia telah bangkit dan menang, sehingga umat manusia yang percaya kepada-Nya mendapatkan keselamatan.
Kekuatan lagu ini terletak pada kalimat pengulangannya: **"Hallelujah! What a Savior!"** (Haleluya! Juruselamat yang luar biasa!). Bliss ingin memberikan kontras antara penderitaan yang luar biasa (kesengsaraan) dengan kemenangan yang luar biasa (Haleluya).
### 4. Akhir Hidup yang Ironis
Kisah di balik lagu ini menjadi semakin "hidup" ketika kita melihat akhir hidup Philip P. Bliss sendiri. Hanya setahun setelah ia menulis lagu tersebut, pada malam Natal tahun 1876, Bliss dan istrinya tewas dalam **Tragedi Kereta Api Ashtabula** di Ohio, Amerika Serikat.
Kereta yang mereka tumpangi tergelincir dan terbakar saat melintasi jembatan. Bliss sebenarnya sempat berhasil keluar dari reruntuhan kereta, namun ia kembali masuk ke dalam kobaran api karena tidak ingin meninggalkan istrinya yang terjebak. Keduanya tewas dalam peristiwa tersebut.
Bagi banyak orang Kristen, kematian Bliss dipandang sebagai cerminan dari pesan dalam lagunya sendiri: **sebuah pengorbanan diri yang total.** Ia menulis tentang seorang Juruselamat yang rela menderita dan mati demi orang lain, dan hidupnya sendiri berakhir dalam tindakan pengorbanan yang serupa bagi orang yang ia kasihi.
### Mengapa Lagu Ini Begitu Berkesan?
Lagu *Man of Sorrows* tetap populer hingga hari ini karena ia membawa pendengarnya masuk ke dalam "empati ilahi." Lagu ini tidak hanya sekadar menceritakan sejarah, tetapi memaksa pendengar untuk merenungkan:
1. **Dosa:** Betapa berat dosa kita sehingga menuntut pengorbanan yang begitu besar.
2. **Kasih:** Betapa besar kasih Kristus yang rela menanggung semuanya sendirian.
3. **Respons:** Mengajak kita untuk menyembah (Hallelujah) atas anugerah tersebut.
Dalam banyak kebaktian gereja, terutama menjelang perayaan Paskah atau Jumat Agung, lagu ini sering dinyanyikan sebagai pengingat bahwa "Pria Penuh Kesengsaraan" itu bukan sekadar tokoh masa lalu, melainkan Juruselamat yang hidup yang telah memenangkan segalanya bagi mereka yang percaya.
Cross Reference
Sama Tema
Sengsara Yesus dan Jumat Agung
Di Larut Malam yang Gelap
KJ
Jurus'lamat Dunia
KJ
Tersalib dan Sengsara
KJ
Yesus, Tuhanku, Apakah DosaMu
KJ
Hai Dunia, Lihat Tuhan
KJ
Hai Dunia, Lihat Tuhan
KJ
Hai Dunia, Lihat Tuhan
KJ
Memandang Salib Rajaku
KJ
Kepala yang Berdarah
KJ
Pataka Raja Majulah
KJ
Lihat Bunda yang Berduka
KJ
Siapa Tergantung di Salib di Sana
KJ
'Ku Heran, Jurus'lamatku
KJ
'Ku Heran, Jurus'lamatku
KJ
Penebusku Disalib
KJ
Di Luar Tembok Negeri
KJ
Golgota, Tempat Tuhanku Disalib
KJ
Kar'na KasihNya Padaku
KJ
Yesus, Kau Kehidupanku
KJ
Lihatlah Kayu Salib
KJ
Lihat Salib di Atas Bukit Golgota
KJ
Menjulang Nyata Atas Bukit Kala
KJ
Yesus Sayang Padaku
KJ
Kasih Tuhanku Sungguh Besar
KJ
Saat Sedih
KJ