KJ
Siapa Tergantung di Salib di Sana
Wie hangt er zo deerlijk geteisterd
Informasi Lagu
173
Nomor
Kode
KJ 173
Buku
Kidung Jemaat
Metronom
0
Cross Ref.
KK 240
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
5 bait
Siapa tergantung di salib di sana,
tertimpa siksaan dan bencana,
penuh dengan luka, dirundung hukuman?
Apakah yang sudah dituduhkan?
Di salib di sana, menanggung sengsara,
tergantunglah Anak domba Allah.
Tiada salahNya selain mengasihi,
dan itu di tolak dunia ini.
Jikalau kasihNya sempurna sejati,
mengapakah Ia harus mati?
Mengapakah Ia menyangkal diriNya
sehingga dipandang hina dina?
UpahNya yaitu pahala sentosa
yang datang dengan tebusan dosa.
Curahan darahNya menutup semua;
o lihat nestapa dan bilurNya!
Ya Yesus, ya Tuhan yang maharahmani,
kasihMu tak dapat diimbangi!
Di sorga, di bumi, terima kiranya
pujian dan hormat selamanya!
Slide Lirik
5 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu rohani yang sangat menyentuh hati ini, yang dalam bahasa Belanda berjudul ***"Wie hangt er zo deerlijk geteisterd"***, adalah sebuah karya sastra dan teologi yang lahir dari kedalaman iman seorang penyair dan ilustrator ternama asal Belanda bernama **Jan Luyken** (1649–1712).
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik karya tersebut:
### 1. Sosok Jan Luyken: Dari Seni ke Pertobatan
Untuk memahami lagu ini, kita harus memahami siapa Jan Luyken. Ia adalah seorang seniman, pengukir (*engraver*), dan penyair dari Amsterdam. Pada masa mudanya, ia hidup sebagai seniman sekuler yang menikmati kesuksesan duniawi.
Namun, pada usia 26 tahun, Luyken mengalami **pengalaman pertobatan yang radikal**. Ia meninggalkan kehidupan duniawinya yang hedonistik dan bergabung dengan kelompok kaum *Pietist* (sebuah gerakan yang menekankan kesalehan pribadi dan kedekatan emosional dengan Tuhan). Sejak saat itu, seluruh karyanya—baik puisi maupun ilustrasi—didedikasikan sepenuhnya untuk kemuliaan Kristus dan perenungan penderitaan-Nya.
### 2. Konteks Buku *Duytse Lier*
Lagu ini bukan sekadar lagu yang ditulis begitu saja, melainkan bagian dari kumpulan puisi rohani berjudul ***"Duytse Lier"*** (Kecapi Belanda) yang diterbitkan pertama kali pada tahun **1671**.
Buku ini berisi puisi-puisi yang sangat kontemplatif tentang penderitaan Kristus. Luyken memiliki kemampuan unik untuk melukiskan gambar melalui kata-kata. Ia tidak hanya menulis tentang fakta historis penyaliban, tetapi mengajak pembacanya untuk **"berdiri di bawah salib"** dan merenungkan apa artinya penderitaan itu bagi keselamatan jiwa manusia.
### 3. Makna Lirik: "Siapa Tergantung Begitu Tersiksa"
Judul lagu ini, *"Wie hangt er zo deerlijk geteisterd"*, secara literal berarti *"Siapa yang tergantung begitu tersiksa/teraniaya dengan parah"*.
* **Latar Belakang Teologis:** Luyken sangat dipengaruhi oleh teologi *Pietisme* yang menekankan empati mendalam terhadap penderitaan Kristus (*Compassio*). Lagu ini ditulis sebagai bentuk dialog batin antara jiwa manusia yang berdosa dengan Kristus yang tersalib.
* **Fokus pada Luka Kristus:** Luyken menggunakan bahasa yang sangat deskriptif dan emosional untuk menggambarkan luka-luka Kristus. Tujuannya adalah untuk membuat orang yang menyanyikannya merasa bahwa dosa-dosa merekalah yang menyebabkan penderitaan tersebut. Ini adalah ciri khas sastra abad ke-17 yang sering disebut sebagai *"Passionsfrömmigkeit"* (kesalehan akan sengsara).
### 4. Mengapa Lagu Ini Menjadi Ikonik?
* **Kedalaman Emosi:** Lagu ini tidak menggunakan bahasa yang megah atau teologis yang rumit. Ia menggunakan bahasa yang sangat manusiawi, seolah-olah seseorang sedang melihat langsung ke arah salib dengan air mata berlinang.
* **Pertanyaan Retoris:** Judulnya sendiri adalah sebuah pertanyaan yang menggugah. Bagi pendengar pada masa itu, pertanyaan *"Siapa?"* dijawab dengan kesadaran diri: *"Itu adalah Tuhanku, yang menanggung hukumanku."*
* **Warisan Luyken:** Jan Luyken dikenal sebagai salah satu penulis puisi rohani Belanda yang paling berpengaruh. Karyanya tetap bertahan selama berabad-abad karena kejujuran ekspresi imannya yang tidak dibuat-buat.
### 5. Adaptasi di Indonesia
Di Indonesia, lagu ini dikenal melalui buku-buku nyanyian gerejawi (terutama di lingkungan gereja-gereja yang berlatar belakang tradisi Reformed atau Belanda). Liriknya diterjemahkan untuk mempertahankan suasana duka yang mendalam (biasanya dinyanyikan dalam irama yang lambat dan khidmat, terutama pada Jumat Agung atau perjamuan kudus).
**Kesimpulan:**
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang seorang seniman yang telah "menemukan" kasih Tuhan dan ingin mengajak dunia untuk berhenti sejenak dari kesibukan hidup demi memandang salib. Jan Luyken tidak ingin kita hanya membaca kisah penyaliban sebagai sejarah, tetapi sebagai sebuah kenyataan yang seharusnya menghancurkan hati kita, membuat kita bertobat, dan akhirnya membawa kita pada sukacita karena pengampunan yang diberikan di atas salib tersebut.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik karya tersebut:
### 1. Sosok Jan Luyken: Dari Seni ke Pertobatan
Untuk memahami lagu ini, kita harus memahami siapa Jan Luyken. Ia adalah seorang seniman, pengukir (*engraver*), dan penyair dari Amsterdam. Pada masa mudanya, ia hidup sebagai seniman sekuler yang menikmati kesuksesan duniawi.
Namun, pada usia 26 tahun, Luyken mengalami **pengalaman pertobatan yang radikal**. Ia meninggalkan kehidupan duniawinya yang hedonistik dan bergabung dengan kelompok kaum *Pietist* (sebuah gerakan yang menekankan kesalehan pribadi dan kedekatan emosional dengan Tuhan). Sejak saat itu, seluruh karyanya—baik puisi maupun ilustrasi—didedikasikan sepenuhnya untuk kemuliaan Kristus dan perenungan penderitaan-Nya.
### 2. Konteks Buku *Duytse Lier*
Lagu ini bukan sekadar lagu yang ditulis begitu saja, melainkan bagian dari kumpulan puisi rohani berjudul ***"Duytse Lier"*** (Kecapi Belanda) yang diterbitkan pertama kali pada tahun **1671**.
Buku ini berisi puisi-puisi yang sangat kontemplatif tentang penderitaan Kristus. Luyken memiliki kemampuan unik untuk melukiskan gambar melalui kata-kata. Ia tidak hanya menulis tentang fakta historis penyaliban, tetapi mengajak pembacanya untuk **"berdiri di bawah salib"** dan merenungkan apa artinya penderitaan itu bagi keselamatan jiwa manusia.
### 3. Makna Lirik: "Siapa Tergantung Begitu Tersiksa"
Judul lagu ini, *"Wie hangt er zo deerlijk geteisterd"*, secara literal berarti *"Siapa yang tergantung begitu tersiksa/teraniaya dengan parah"*.
* **Latar Belakang Teologis:** Luyken sangat dipengaruhi oleh teologi *Pietisme* yang menekankan empati mendalam terhadap penderitaan Kristus (*Compassio*). Lagu ini ditulis sebagai bentuk dialog batin antara jiwa manusia yang berdosa dengan Kristus yang tersalib.
* **Fokus pada Luka Kristus:** Luyken menggunakan bahasa yang sangat deskriptif dan emosional untuk menggambarkan luka-luka Kristus. Tujuannya adalah untuk membuat orang yang menyanyikannya merasa bahwa dosa-dosa merekalah yang menyebabkan penderitaan tersebut. Ini adalah ciri khas sastra abad ke-17 yang sering disebut sebagai *"Passionsfrömmigkeit"* (kesalehan akan sengsara).
### 4. Mengapa Lagu Ini Menjadi Ikonik?
* **Kedalaman Emosi:** Lagu ini tidak menggunakan bahasa yang megah atau teologis yang rumit. Ia menggunakan bahasa yang sangat manusiawi, seolah-olah seseorang sedang melihat langsung ke arah salib dengan air mata berlinang.
* **Pertanyaan Retoris:** Judulnya sendiri adalah sebuah pertanyaan yang menggugah. Bagi pendengar pada masa itu, pertanyaan *"Siapa?"* dijawab dengan kesadaran diri: *"Itu adalah Tuhanku, yang menanggung hukumanku."*
* **Warisan Luyken:** Jan Luyken dikenal sebagai salah satu penulis puisi rohani Belanda yang paling berpengaruh. Karyanya tetap bertahan selama berabad-abad karena kejujuran ekspresi imannya yang tidak dibuat-buat.
### 5. Adaptasi di Indonesia
Di Indonesia, lagu ini dikenal melalui buku-buku nyanyian gerejawi (terutama di lingkungan gereja-gereja yang berlatar belakang tradisi Reformed atau Belanda). Liriknya diterjemahkan untuk mempertahankan suasana duka yang mendalam (biasanya dinyanyikan dalam irama yang lambat dan khidmat, terutama pada Jumat Agung atau perjamuan kudus).
**Kesimpulan:**
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang seorang seniman yang telah "menemukan" kasih Tuhan dan ingin mengajak dunia untuk berhenti sejenak dari kesibukan hidup demi memandang salib. Jan Luyken tidak ingin kita hanya membaca kisah penyaliban sebagai sejarah, tetapi sebagai sebuah kenyataan yang seharusnya menghancurkan hati kita, membuat kita bertobat, dan akhirnya membawa kita pada sukacita karena pengampunan yang diberikan di atas salib tersebut.
Cross Reference
Sama Tema
Sengsara Yesus dan Jumat Agung
Di Larut Malam yang Gelap
KJ
Jurus'lamat Dunia
KJ
Tersalib dan Sengsara
KJ
Yesus, Tuhanku, Apakah DosaMu
KJ
Hai Dunia, Lihat Tuhan
KJ
Hai Dunia, Lihat Tuhan
KJ
Hai Dunia, Lihat Tuhan
KJ
Memandang Salib Rajaku
KJ
Kepala yang Berdarah
KJ
Pataka Raja Majulah
KJ
Lihat Bunda yang Berduka
KJ
'Ku Heran, Jurus'lamatku
KJ
'Ku Heran, Jurus'lamatku
KJ
Penebusku Disalib
KJ
Di Luar Tembok Negeri
KJ
Golgota, Tempat Tuhanku Disalib
KJ
Kar'na KasihNya Padaku
KJ
Yesus, Kau Kehidupanku
KJ
Lihatlah Kayu Salib
KJ
'Yang Sengsara' Itulah
KJ
Lihat Salib di Atas Bukit Golgota
KJ
Menjulang Nyata Atas Bukit Kala
KJ
Yesus Sayang Padaku
KJ
Kasih Tuhanku Sungguh Besar
KJ
Saat Sedih
KJ