UKP
Kasayang Tuhan dengan atah
Informasi Lagu
180
Nomor
G=1
Nada Dasar
Kode
UKP 180
Buku
Nyanyin Ungkup
Nada Dasar
G=1
Ketukan
3/4 ketuk
Metronom
0
Jumlah Bait
3 bait
Cross Ref.
KK 100, BE 183, KJ 39
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
1 bait
1.
Kasayang Tuhan dengan itah.
kasayang ihetoto hai.
Ohining keton hining brita
je horan Tuhan pangkahai.
mamprahan sintae,asie aie,
kasayang ije toto hai.
kasayang ije toto hai.
2.
Kajake patutu buah aku,
Toh asin Tuhan dengangku.
Hong Yesus aku sondau toto
kaliwus bara dosangku.
Toh awi en manjadi te?
kasayang Tuhan manun te.
kasayang Tuhan manun te.
3.
O Tuhan keleh ikau masi,
mahaga aku oloh aim;
te aku mimbit trimakasih,
mambrita tara dan kahaim.
Dan amon lepah umurku,
tarima aku, Tuhangku,
tarima aku, Tuhangku.
LN.No.66
Slide Lirik
3 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah mendalam di balik lagu pujian yang penuh makna, "Ku Diberi Belas Kasihan" atau dalam judul aslinya, "Mir ist Erbarmung widerfahren". Lagu ini adalah kesaksian hidup yang kuat tentang kasih karunia dan pemeliharaan Allah di tengah penderitaan yang hebat.
**Penulis Teks: Philipp Friedrich Hiller (1699-1769)**
Kisah di balik lagu ini berpusat pada kehidupan Philipp Friedrich Hiller, seorang pendeta Lutheran yang sangat dihormati dan seorang penyair himne yang produktif dari wilayah Württemberg, Jerman. Württemberg pada abad ke-18 adalah pusat gerakan Pietisme, sebuah gerakan dalam Protestantisme yang menekankan pengalaman pribadi akan iman, kesalehan batin, dan kehidupan yang kudus, yang sangat memengaruhi Hiller.
1. **Latar Belakang dan Pelayanan Awal:**
Hiller lahir pada tahun 1699 dan menempuh pendidikan teologi di Tübingen. Setelah lulus, ia melayani sebagai pendeta di berbagai jemaat. Ia dikenal karena khotbahnya yang berapi-api, kesalehannya yang mendalam, dan perhatiannya yang tulus terhadap umat. Ia adalah seorang gembala yang sangat dicintai oleh jemaatnya.
2. **Titik Balik: Penyakit yang Melumpuhkan (Sekitar Tahun 1751):**
Hidup Hiller mengalami perubahan drastis pada sekitar tahun 1751. Ia diserang oleh penyakit parah dan misterius yang secara bertahap merampas kemampuan fisiknya. Penyakit ini sangat progresif dan melumpuhkan.
* **Kelumpuhan:** Ia mulai kehilangan kemampuan bergerak, yang akhirnya membuatnya tidak bisa berjalan atau berdiri.
* **Kebutaan:** Lambat laun, penglihatannya juga memburuk hingga ia menjadi buta total.
* **Kehilangan Suara:** Lebih lanjut, ia juga kehilangan kemampuannya untuk berbicara dengan jelas dan keras, sehingga ia tidak bisa lagi berkhotbah—tugas yang sangat ia cintai dan yakini sebagai panggilan hidupnya.
Bayangkan seorang pendeta yang bersemangat, yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk memberitakan Firman Tuhan, tiba-tiba dirampas semua kemampuannya untuk melayani secara fisik. Ia tidak bisa melihat Alkitabnya, tidak bisa berdiri di mimbar, dan bahkan tidak bisa berbicara dengan jelas kepada jemaatnya. Ini adalah pukulan yang menghancurkan secara fisik, emosional, dan spiritual. Ia merasa seperti hidupnya sudah berakhir, pelayanannya musnah, dan ia menjadi beban.
3. **Belas Kasihan Allah di Tengah Kegelapan:**
Namun, justru di tengah kegelapan dan keputusasaan inilah, Hiller mengalami belas kasihan Allah secara mendalam dan pribadi. Meskipun tubuhnya hancur, rohnya tetap teguh. Ia menghabiskan waktu berjam-jam dalam doa dan perenungan, merenungkan janji-janji Allah. Ia tidak menyerah pada kepahitan, melainkan justru semakin menggantungkan diri pada Tuhan.
Secara ajaib, meskipun ia tetap buta dan lumpuh, Hiller mengalami pemulihan parsial yang luar biasa. Ia mendapatkan kembali kemampuannya untuk berbicara, meskipun dengan susah payah, dan yang paling penting, ia dapat mendiktekan pemikiran-pemikirannya. Ini adalah "belas kasihan" yang ia maksud. Ia tidak sepenuhnya sembuh secara fisik seperti semula, tetapi ia diberi kemampuan baru untuk melanjutkan pelayanannya dalam bentuk yang berbeda.
4. **Lahirnya "Mir ist Erbarmung widerfahren":**
Dari pengalaman transformatif inilah Hiller menulis "Mir ist Erbarmung widerfahren" (Ku Diberi Belas Kasihan). Lagu ini adalah kesaksian pribadinya tentang bagaimana Allah, dalam kasih karunia-Nya yang tak terbatas, mengintervensi hidupnya dan memberinya kekuatan serta cara baru untuk melayani, meskipun dalam keterbatasan fisik yang parah.
* **"Mir ist Erbarmung widerfahren, Erbarmung, deren ich nicht wert..."** (Ku diberi belas kasihan, belas kasihan yang tak layak kudapat...). Ini adalah pengakuan Hiller bahwa ia tidak pantas menerima kebaikan Tuhan, namun Tuhan tetap melimpahinya.
* Lirik-liriknya mencerminkan rasa syukur yang mendalam atas pemeliharaan Tuhan di tengah kesengsaraan, kekuatan yang diberikan-Nya untuk bertahan, dan harapan akan kehidupan kekal.
* Ia tidak lagi bisa berkhotbah dari mimbar, tetapi ia dapat menulis himne dan buku-buku renungan yang jauh lebih luas jangkauannya. Karyanya yang paling terkenal adalah *Geistliches Liederkästlein* (Kotak Lagu Rohani Kecil), kumpulan himne yang menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang. Melalui tulisan-tulisannya, ia terus menggembalakan jemaat dari tempat tidurnya, menjangkau lebih banyak hati daripada yang mungkin bisa ia lakukan dari mimbar.
**Penulis Melodi: Johann Ludwig Friedrich Hainlin (1719-1779)**
Sementara Hiller menulis teks yang mengharukan, melodi yang populer untuk himne ini sering dikaitkan dengan Johann Ludwig Friedrich Hainlin. Hainlin adalah seorang guru, organis, dan komposer yang juga berasal dari Württemberg, sezaman dengan Hiller. Ia dikenal karena kontribusinya pada musik gereja, sering kali menggubah melodi untuk himne-himne Pietis. Melodinya menangkap esensi kesalehan dan emosi yang dalam dari teks Hiller, menjadikannya mudah dinyanyikan dan diresapi. Melodi ini muncul dalam berbagai buku nyanyian rohani, terutama di Jerman, dan telah membawa teks Hiller semakin hidup bagi banyak umat.
**Warisan dan Makna Lagu:**
"Ku Diberi Belas Kasihan" telah menjadi salah satu himne Pietis yang paling dicintai dan berpengaruh.
1. **Kesaksian Pribadi:** Ini adalah contoh sempurna dari himne yang lahir dari pengalaman pribadi yang mendalam tentang penderitaan dan pemeliharaan ilahi.
2. **Pengharapan di Tengah Penderitaan:** Lagu ini terus memberikan penghiburan dan kekuatan bagi jutaan orang yang menghadapi penyakit, kehilangan, atau kesulitan hidup lainnya. Ini mengingatkan kita bahwa belas kasihan Allah tidak hanya ditemukan dalam penyembuhan total, tetapi juga dalam kekuatan untuk bertahan, dalam menemukan tujuan baru di tengah keterbatasan, dan dalam kehadiran-Nya yang menghibur.
3. **Iman yang Aktif:** Hiller menunjukkan bahwa iman sejati tidak goyah di tengah badai, melainkan justru semakin diperkuat dan menemukan cara baru untuk mengekspresikan diri dalam pelayanan kepada Tuhan.
4. **Warisan Abadi:** Lagu ini telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan tetap menjadi bagian integral dari liturgi dan ibadah di berbagai denominasi Kristen di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Singkatnya, lagu "Ku Diberi Belas Kasihan" adalah lebih dari sekadar kumpulan lirik dan melodi; ia adalah monumen hidup bagi kebaikan Allah yang tak tergoyahkan, bahkan ketika segala sesuatu di sekitar kita tampak runtuh. Ia adalah suara seorang hamba Tuhan yang, meskipun dirampas segalanya, menemukan bahwa belas kasihan Allah cukup untuk menopangnya dan memungkinkannya untuk terus melayani, menginspirasi generasi demi generasi.
**Penulis Teks: Philipp Friedrich Hiller (1699-1769)**
Kisah di balik lagu ini berpusat pada kehidupan Philipp Friedrich Hiller, seorang pendeta Lutheran yang sangat dihormati dan seorang penyair himne yang produktif dari wilayah Württemberg, Jerman. Württemberg pada abad ke-18 adalah pusat gerakan Pietisme, sebuah gerakan dalam Protestantisme yang menekankan pengalaman pribadi akan iman, kesalehan batin, dan kehidupan yang kudus, yang sangat memengaruhi Hiller.
1. **Latar Belakang dan Pelayanan Awal:**
Hiller lahir pada tahun 1699 dan menempuh pendidikan teologi di Tübingen. Setelah lulus, ia melayani sebagai pendeta di berbagai jemaat. Ia dikenal karena khotbahnya yang berapi-api, kesalehannya yang mendalam, dan perhatiannya yang tulus terhadap umat. Ia adalah seorang gembala yang sangat dicintai oleh jemaatnya.
2. **Titik Balik: Penyakit yang Melumpuhkan (Sekitar Tahun 1751):**
Hidup Hiller mengalami perubahan drastis pada sekitar tahun 1751. Ia diserang oleh penyakit parah dan misterius yang secara bertahap merampas kemampuan fisiknya. Penyakit ini sangat progresif dan melumpuhkan.
* **Kelumpuhan:** Ia mulai kehilangan kemampuan bergerak, yang akhirnya membuatnya tidak bisa berjalan atau berdiri.
* **Kebutaan:** Lambat laun, penglihatannya juga memburuk hingga ia menjadi buta total.
* **Kehilangan Suara:** Lebih lanjut, ia juga kehilangan kemampuannya untuk berbicara dengan jelas dan keras, sehingga ia tidak bisa lagi berkhotbah—tugas yang sangat ia cintai dan yakini sebagai panggilan hidupnya.
Bayangkan seorang pendeta yang bersemangat, yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk memberitakan Firman Tuhan, tiba-tiba dirampas semua kemampuannya untuk melayani secara fisik. Ia tidak bisa melihat Alkitabnya, tidak bisa berdiri di mimbar, dan bahkan tidak bisa berbicara dengan jelas kepada jemaatnya. Ini adalah pukulan yang menghancurkan secara fisik, emosional, dan spiritual. Ia merasa seperti hidupnya sudah berakhir, pelayanannya musnah, dan ia menjadi beban.
3. **Belas Kasihan Allah di Tengah Kegelapan:**
Namun, justru di tengah kegelapan dan keputusasaan inilah, Hiller mengalami belas kasihan Allah secara mendalam dan pribadi. Meskipun tubuhnya hancur, rohnya tetap teguh. Ia menghabiskan waktu berjam-jam dalam doa dan perenungan, merenungkan janji-janji Allah. Ia tidak menyerah pada kepahitan, melainkan justru semakin menggantungkan diri pada Tuhan.
Secara ajaib, meskipun ia tetap buta dan lumpuh, Hiller mengalami pemulihan parsial yang luar biasa. Ia mendapatkan kembali kemampuannya untuk berbicara, meskipun dengan susah payah, dan yang paling penting, ia dapat mendiktekan pemikiran-pemikirannya. Ini adalah "belas kasihan" yang ia maksud. Ia tidak sepenuhnya sembuh secara fisik seperti semula, tetapi ia diberi kemampuan baru untuk melanjutkan pelayanannya dalam bentuk yang berbeda.
4. **Lahirnya "Mir ist Erbarmung widerfahren":**
Dari pengalaman transformatif inilah Hiller menulis "Mir ist Erbarmung widerfahren" (Ku Diberi Belas Kasihan). Lagu ini adalah kesaksian pribadinya tentang bagaimana Allah, dalam kasih karunia-Nya yang tak terbatas, mengintervensi hidupnya dan memberinya kekuatan serta cara baru untuk melayani, meskipun dalam keterbatasan fisik yang parah.
* **"Mir ist Erbarmung widerfahren, Erbarmung, deren ich nicht wert..."** (Ku diberi belas kasihan, belas kasihan yang tak layak kudapat...). Ini adalah pengakuan Hiller bahwa ia tidak pantas menerima kebaikan Tuhan, namun Tuhan tetap melimpahinya.
* Lirik-liriknya mencerminkan rasa syukur yang mendalam atas pemeliharaan Tuhan di tengah kesengsaraan, kekuatan yang diberikan-Nya untuk bertahan, dan harapan akan kehidupan kekal.
* Ia tidak lagi bisa berkhotbah dari mimbar, tetapi ia dapat menulis himne dan buku-buku renungan yang jauh lebih luas jangkauannya. Karyanya yang paling terkenal adalah *Geistliches Liederkästlein* (Kotak Lagu Rohani Kecil), kumpulan himne yang menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang. Melalui tulisan-tulisannya, ia terus menggembalakan jemaat dari tempat tidurnya, menjangkau lebih banyak hati daripada yang mungkin bisa ia lakukan dari mimbar.
**Penulis Melodi: Johann Ludwig Friedrich Hainlin (1719-1779)**
Sementara Hiller menulis teks yang mengharukan, melodi yang populer untuk himne ini sering dikaitkan dengan Johann Ludwig Friedrich Hainlin. Hainlin adalah seorang guru, organis, dan komposer yang juga berasal dari Württemberg, sezaman dengan Hiller. Ia dikenal karena kontribusinya pada musik gereja, sering kali menggubah melodi untuk himne-himne Pietis. Melodinya menangkap esensi kesalehan dan emosi yang dalam dari teks Hiller, menjadikannya mudah dinyanyikan dan diresapi. Melodi ini muncul dalam berbagai buku nyanyian rohani, terutama di Jerman, dan telah membawa teks Hiller semakin hidup bagi banyak umat.
**Warisan dan Makna Lagu:**
"Ku Diberi Belas Kasihan" telah menjadi salah satu himne Pietis yang paling dicintai dan berpengaruh.
1. **Kesaksian Pribadi:** Ini adalah contoh sempurna dari himne yang lahir dari pengalaman pribadi yang mendalam tentang penderitaan dan pemeliharaan ilahi.
2. **Pengharapan di Tengah Penderitaan:** Lagu ini terus memberikan penghiburan dan kekuatan bagi jutaan orang yang menghadapi penyakit, kehilangan, atau kesulitan hidup lainnya. Ini mengingatkan kita bahwa belas kasihan Allah tidak hanya ditemukan dalam penyembuhan total, tetapi juga dalam kekuatan untuk bertahan, dalam menemukan tujuan baru di tengah keterbatasan, dan dalam kehadiran-Nya yang menghibur.
3. **Iman yang Aktif:** Hiller menunjukkan bahwa iman sejati tidak goyah di tengah badai, melainkan justru semakin diperkuat dan menemukan cara baru untuk mengekspresikan diri dalam pelayanan kepada Tuhan.
4. **Warisan Abadi:** Lagu ini telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan tetap menjadi bagian integral dari liturgi dan ibadah di berbagai denominasi Kristen di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Singkatnya, lagu "Ku Diberi Belas Kasihan" adalah lebih dari sekadar kumpulan lirik dan melodi; ia adalah monumen hidup bagi kebaikan Allah yang tak tergoyahkan, bahkan ketika segala sesuatu di sekitar kita tampak runtuh. Ia adalah suara seorang hamba Tuhan yang, meskipun dirampas segalanya, menemukan bahwa belas kasihan Allah cukup untuk menopangnya dan memungkinkannya untuk terus melayani, menginspirasi generasi demi generasi.
Cross Reference
Lapas bara, Tuhan Yesus
UKP
Salamat sondau itah wei
UKP
O Tuhan Yesus Ije Tempon Ikei
UKP
Patut aku hanjak toh
UKP
Kantoh mampahai Hatalla
UKP
Yesus Kristus aton Raja
UKP
O Tuhan yesus, Jaka Ikau Jaton
UKP
Yesus Raja pangkahalap
UKP
Halap Tuhan Yesus yoh ateiku
UKP
Kakenang atei ayum
UKP
O sarah kate jalam
UKP
O soho aku toh manyanyi
UKP
Sampai ah kahalap aran Yesus
UKP
Hung kueh kaabas aim
UKP
Tonggal ikau Tuhan Yesus
UKP
Yesus Juruslamatku je ingenang
UKP
O sanan bewei
UKP
Barat paham mawi arut
UKP
Rajangku o Tuhan Yesus
UKP
Kristus wei pambelomku
UKP
Tuhan Yesus wei
UKP
O Tuhan Yesus Klawa Aingku
UKP
Matangku toh jari mite
UKP
Matangku toh jari mite
UKP
Tuhan bewei pandohopku
UKP
lje teah belaie toto
UKP
Kakare itah handiai
UKP
lje rnawi taloh sala
UKP
Aloh barat riak hai
UKP
Amon hunjun tasik ain pambelom
UKP