Informasi Lagu
100
Nomor
do=g
Nada Dasar
Kode
KK 100
Buku
Kidung Keesaan
Nada Dasar
do=g
Ketukan
3/4 ketuk
Metronom
104
Jumlah Bait
5 bait
Pencipta Lagu
Johann Ludwig Friedrich Hainlin (1819)
Pencipta Syair
Philipp Friedrich Hiller (1767)
Penerjemah
Johannes Mozes Malessy (1983)
Cross Ref.
KJ 39 , BE 183, UKP 180
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 5 bait
Ku diberi belas kasihan, walau tak layak hatiku; tadi ku angkuh, kini heran: Tuhan, besarlah rahmat-Mu! Kidung imanku bergema: rahmat-Mu sungguh mulia, kidung imanku bergema: rahmat-Mu sungguh mulia!
Walau ku patut dihukumkan, Kaulah penuh anugerah: darah Putra-Mu dicurahkan membasuh dosa dan cela. Di manakah selamatku? Hanyalah dalam rahmat-Mu. Di manakah selamatku? Hanyalah dalam rahmat-Mu.
Ini tetap pengakuanku, jikalau orang ingin tahu: hanya berkat pengasihan-Mu rukunlah aku dan Engkau. Ku merendahkan diriku dan kuagungkan rahmat-Mu, ku merendahkan diriku dan kuagungkan rahmat-Mu.
Jangan seorang pun di dunia merampas harta hatiku: dasar percaya yang ku punya dan alas doa yang teguh; hidup dan mati ku tentram: rahmat-Mu, Tuhan, kugenggam, hidup dan mati ku tentram: rahmat-Mu, Tuhan, kugenggam.
Ya Tuhan, jangan ambil rahmat yang Kauberi kepadaku, karna dengannya aku slamat sampai ke dalam rumah-Mu: di sana kumuliakanlah rahmat-Mu slama-lamanya, di sana kumuliakanlah rahmat-Mu slama-lamanya.
Slide Lirik 5 slide
Slide 1 — KK 100 1
Slide 2 — KK 100 2
Slide 3 — KK 100 3
Slide 4 — KK 100 4
Slide 5 — KK 100 5
Partitur / Not
Partitur Chord KK 100
Sejarah Lagu
Kisah mendalam di balik lagu pujian yang penuh makna, "Ku Diberi Belas Kasihan" atau dalam judul aslinya, "Mir ist Erbarmung widerfahren". Lagu ini adalah kesaksian hidup yang kuat tentang kasih karunia dan pemeliharaan Allah di tengah penderitaan yang hebat.

**Penulis Teks: Philipp Friedrich Hiller (1699-1769)**

Kisah di balik lagu ini berpusat pada kehidupan Philipp Friedrich Hiller, seorang pendeta Lutheran yang sangat dihormati dan seorang penyair himne yang produktif dari wilayah Württemberg, Jerman. Württemberg pada abad ke-18 adalah pusat gerakan Pietisme, sebuah gerakan dalam Protestantisme yang menekankan pengalaman pribadi akan iman, kesalehan batin, dan kehidupan yang kudus, yang sangat memengaruhi Hiller.

1. **Latar Belakang dan Pelayanan Awal:**
Hiller lahir pada tahun 1699 dan menempuh pendidikan teologi di Tübingen. Setelah lulus, ia melayani sebagai pendeta di berbagai jemaat. Ia dikenal karena khotbahnya yang berapi-api, kesalehannya yang mendalam, dan perhatiannya yang tulus terhadap umat. Ia adalah seorang gembala yang sangat dicintai oleh jemaatnya.

2. **Titik Balik: Penyakit yang Melumpuhkan (Sekitar Tahun 1751):**
Hidup Hiller mengalami perubahan drastis pada sekitar tahun 1751. Ia diserang oleh penyakit parah dan misterius yang secara bertahap merampas kemampuan fisiknya. Penyakit ini sangat progresif dan melumpuhkan.
* **Kelumpuhan:** Ia mulai kehilangan kemampuan bergerak, yang akhirnya membuatnya tidak bisa berjalan atau berdiri.
* **Kebutaan:** Lambat laun, penglihatannya juga memburuk hingga ia menjadi buta total.
* **Kehilangan Suara:** Lebih lanjut, ia juga kehilangan kemampuannya untuk berbicara dengan jelas dan keras, sehingga ia tidak bisa lagi berkhotbah—tugas yang sangat ia cintai dan yakini sebagai panggilan hidupnya.

Bayangkan seorang pendeta yang bersemangat, yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk memberitakan Firman Tuhan, tiba-tiba dirampas semua kemampuannya untuk melayani secara fisik. Ia tidak bisa melihat Alkitabnya, tidak bisa berdiri di mimbar, dan bahkan tidak bisa berbicara dengan jelas kepada jemaatnya. Ini adalah pukulan yang menghancurkan secara fisik, emosional, dan spiritual. Ia merasa seperti hidupnya sudah berakhir, pelayanannya musnah, dan ia menjadi beban.

3. **Belas Kasihan Allah di Tengah Kegelapan:**
Namun, justru di tengah kegelapan dan keputusasaan inilah, Hiller mengalami belas kasihan Allah secara mendalam dan pribadi. Meskipun tubuhnya hancur, rohnya tetap teguh. Ia menghabiskan waktu berjam-jam dalam doa dan perenungan, merenungkan janji-janji Allah. Ia tidak menyerah pada kepahitan, melainkan justru semakin menggantungkan diri pada Tuhan.

Secara ajaib, meskipun ia tetap buta dan lumpuh, Hiller mengalami pemulihan parsial yang luar biasa. Ia mendapatkan kembali kemampuannya untuk berbicara, meskipun dengan susah payah, dan yang paling penting, ia dapat mendiktekan pemikiran-pemikirannya. Ini adalah "belas kasihan" yang ia maksud. Ia tidak sepenuhnya sembuh secara fisik seperti semula, tetapi ia diberi kemampuan baru untuk melanjutkan pelayanannya dalam bentuk yang berbeda.

4. **Lahirnya "Mir ist Erbarmung widerfahren":**
Dari pengalaman transformatif inilah Hiller menulis "Mir ist Erbarmung widerfahren" (Ku Diberi Belas Kasihan). Lagu ini adalah kesaksian pribadinya tentang bagaimana Allah, dalam kasih karunia-Nya yang tak terbatas, mengintervensi hidupnya dan memberinya kekuatan serta cara baru untuk melayani, meskipun dalam keterbatasan fisik yang parah.

* **"Mir ist Erbarmung widerfahren, Erbarmung, deren ich nicht wert..."** (Ku diberi belas kasihan, belas kasihan yang tak layak kudapat...). Ini adalah pengakuan Hiller bahwa ia tidak pantas menerima kebaikan Tuhan, namun Tuhan tetap melimpahinya.
* Lirik-liriknya mencerminkan rasa syukur yang mendalam atas pemeliharaan Tuhan di tengah kesengsaraan, kekuatan yang diberikan-Nya untuk bertahan, dan harapan akan kehidupan kekal.
* Ia tidak lagi bisa berkhotbah dari mimbar, tetapi ia dapat menulis himne dan buku-buku renungan yang jauh lebih luas jangkauannya. Karyanya yang paling terkenal adalah *Geistliches Liederkästlein* (Kotak Lagu Rohani Kecil), kumpulan himne yang menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang. Melalui tulisan-tulisannya, ia terus menggembalakan jemaat dari tempat tidurnya, menjangkau lebih banyak hati daripada yang mungkin bisa ia lakukan dari mimbar.

**Penulis Melodi: Johann Ludwig Friedrich Hainlin (1719-1779)**

Sementara Hiller menulis teks yang mengharukan, melodi yang populer untuk himne ini sering dikaitkan dengan Johann Ludwig Friedrich Hainlin. Hainlin adalah seorang guru, organis, dan komposer yang juga berasal dari Württemberg, sezaman dengan Hiller. Ia dikenal karena kontribusinya pada musik gereja, sering kali menggubah melodi untuk himne-himne Pietis. Melodinya menangkap esensi kesalehan dan emosi yang dalam dari teks Hiller, menjadikannya mudah dinyanyikan dan diresapi. Melodi ini muncul dalam berbagai buku nyanyian rohani, terutama di Jerman, dan telah membawa teks Hiller semakin hidup bagi banyak umat.

**Warisan dan Makna Lagu:**

"Ku Diberi Belas Kasihan" telah menjadi salah satu himne Pietis yang paling dicintai dan berpengaruh.

1. **Kesaksian Pribadi:** Ini adalah contoh sempurna dari himne yang lahir dari pengalaman pribadi yang mendalam tentang penderitaan dan pemeliharaan ilahi.
2. **Pengharapan di Tengah Penderitaan:** Lagu ini terus memberikan penghiburan dan kekuatan bagi jutaan orang yang menghadapi penyakit, kehilangan, atau kesulitan hidup lainnya. Ini mengingatkan kita bahwa belas kasihan Allah tidak hanya ditemukan dalam penyembuhan total, tetapi juga dalam kekuatan untuk bertahan, dalam menemukan tujuan baru di tengah keterbatasan, dan dalam kehadiran-Nya yang menghibur.
3. **Iman yang Aktif:** Hiller menunjukkan bahwa iman sejati tidak goyah di tengah badai, melainkan justru semakin diperkuat dan menemukan cara baru untuk mengekspresikan diri dalam pelayanan kepada Tuhan.
4. **Warisan Abadi:** Lagu ini telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan tetap menjadi bagian integral dari liturgi dan ibadah di berbagai denominasi Kristen di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Singkatnya, lagu "Ku Diberi Belas Kasihan" adalah lebih dari sekadar kumpulan lirik dan melodi; ia adalah monumen hidup bagi kebaikan Allah yang tak tergoyahkan, bahkan ketika segala sesuatu di sekitar kita tampak runtuh. Ia adalah suara seorang hamba Tuhan yang, meskipun dirampas segalanya, menemukan bahwa belas kasihan Allah cukup untuk menopangnya dan memungkinkannya untuk terus melayani, menginspirasi generasi demi generasi.