BE
Na Sian Ginjang Do Au Ro
Informasi Lagu
46
Nomor
Kode
BE 46
Buku
Buku Ende
Metronom
0
Cross Ref.
KK 182, NR 26, MK 27, KJ 98, BN 46
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
11 bait
Na sian ginjang do au ro, barita na imbaru do
Huhut na uli situtu, Huboan tu sude hamu
Naung tubu do saborngin on, Anak ni na marbaju on
Anak na uli situtu, Na gabe las ni rohamu
I ma Tuhanmu Kristus i, na ro mangontok jea i
Silehon tua di hamu, huhut sisesa dosamu
Diboan hangoluan i silua ni AmaNa i
Ai naeng tu harajaon nii pasuangonNa jolma i
On ma partinandaan nii Di bara dapotonmu i
Peak di panggagatan do, huhut na binalutan do
Boti didok barita i, tinongos tu parmahan i
Tu nasa hajolmaon pe ditongos Debata dope
On pe rohangku tanda ma, luhutna i patangkas ma
Ai ise Posoposo i? Jesus alealem do i
Tuani ma Ho Jesus ro, dangolhu dieahi Ho
Ndang marsineang rohami di au parhamagoan i.
Longang tutu do rohangki marnida pangalahomi
Nang gok di Ho portibi on martohap Ho di dangolhon
O Jesus haholonganki bongoti dohot rohangki
Pabali sian i sude na tau mangago au muse
Haleluya, Haleluya na ro tu hita Debata
Martua hita baenon ni Saleleng ni leleng na i.
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu "Jauh Dari Surga Datangku" atau yang lebih dikenal dengan judul aslinya dalam bahasa Jerman, "Vom Himmel Hoch da komm ich her", adalah sebuah kisah yang sangat personal, pastoral, dan teologis dari Martin Luther, salah satu tokoh sentral Reformasi Protestan. Lagu ini bukan sekadar himne Natal biasa; ia adalah manifestasi dari visi Luther untuk membawa pesan Injil ke dalam kehidupan sehari-hari umat, terutama anak-anak.
Mari kita selami detail kisahnya:
**1. Konteks Abad ke-16: Peran Luther dan Musik**
Martin Luther (1483-1546) bukan hanya seorang teolog dan reformator ulung; ia juga seorang musisi dan komposer yang sangat menghargai kekuatan musik. Baginya, musik adalah karunia ilahi kedua setelah teologi. Ia percaya bahwa himne-himne dalam bahasa rakyat (bukan Latin) adalah alat yang sangat efektif untuk mengajarkan doktrin Kristen dan menguatkan iman umat. Ia ingin umat tidak hanya pasif mendengarkan, tetapi aktif bernyanyi dan memahami kebenaran Injil melalui lirik-lirik yang sederhana namun mendalam.
Pada masa Luther, perayaan Natal seringkali dipenuhi dengan tradisi-tradisi yang sudah bergeser jauh dari inti teologisnya, seperti kisah Santa Klaus (St. Nicholas) yang membawa hadiah. Luther, sebagai seorang ayah dan pastor, ingin mengarahkan fokus kembali kepada sosok Kristus itu sendiri sebagai pemberi hadiah terbesar bagi umat manusia.
**2. Motivasi Personal dan Keluarga: Menulis untuk Anak-anaknya**
Pada tahun 1535, Luther dan istrinya, Katharina von Bora, memiliki enam orang anak yang masih kecil. Perayaan Natal di rumah tangga Luther di Wittenberg adalah momen yang hangat dan penuh makna. Luther sangat ingin anak-anaknya memahami arti sebenarnya dari Natal: bahwa Allah, melalui Yesus Kristus, telah datang ke dunia sebagai hadiah terbesar bagi umat manusia.
Tradisi populer saat itu adalah "Spielmannslied" (lagu pemain/penyanyi) atau "Wiegenlied" (lagu pengantar tidur) yang anak-anak kenal. Ada sebuah melodi rakyat populer yang biasa dinyanyikan dengan lirik "Ich komm aus fremden Landen her" (Aku datang dari negeri asing), di mana seorang "orang asing" membawa berbagai hadiah. Melodi ini riang dan sangat dikenal oleh anak-anak Jerman kala itu.
Luther melihat kesempatan emas. Daripada menciptakan melodi baru yang mungkin asing, ia memutuskan untuk mengambil melodi yang sudah akrab di telinga anak-anaknya dan menggantinya dengan lirik-lirik yang sarat makna teologis. Ini adalah salah satu ciri khas reformasi Luther dalam musik gereja: "membaptis" melodi sekuler untuk tujuan sakral.
**3. Proses Penciptaan: "Orang Asing" Menjadi Malaikat atau Kristus Anak**
Luther dengan sengaja mengganti sosok "orang asing" yang membawa hadiah dengan sosok yang jauh lebih agung: **seorang malaikat yang mengumumkan kelahiran Yesus**, atau bahkan **Yesus Anak itu sendiri sebagai pembawa kabar gembira dan hadiah keselamatan**.
Ia membayangkan seolah-olah ia sendiri, mungkin dengan jenggot dan jubahnya, datang ke tengah-tengah keluarganya pada malam Natal, dan dengan suara malaikat, mengumumkan berita kelahiran Yesus. Atau ia membayangkan Kristus Anak datang langsung untuk menyampaikan kabar sukacita itu.
**Lirik Awal (Stanza Pertama):**
"Vom Himmel hoch da komm ich her,
ich bring' euch gute neue Mär,
der guten Mär bring ich so viel,
davon ich singen und sagen will."
("Dari surga tinggi datanglah aku,
kubawa kabar gembira baru bagimu,
berita baik yang kubawa amatlah banyak,
tentang itu ingin ku bernyanyi dan bertutur.")
Lirik ini dengan jelas menempatkan narator sebagai pembawa kabar dari surga, bukan lagi sekadar seorang pengembara. Kemudian, himne ini berlanjut dengan menjelaskan identitas Anak itu, tempat kelahirannya (palungan di Bethlehem), tujuan kedatangannya (untuk menyelamatkan manusia), dan undangan untuk bersukacita dan menyembah-Nya.
**4. Pesan Teologis yang Mendalam dalam Bahasa Sederhana**
"Vom Himmel Hoch" adalah ringkasan teologi Natal Luther yang kaya:
* **Inkarnasi (Penjelmaan):** Allah yang Mahatinggi merendahkan diri dan menjadi manusia, seorang bayi yang lemah, lahir di tempat yang sederhana. Ini adalah keajaiban terbesar.
* **Anugerah (Grace):** Kelahiran Kristus adalah anugerah murni dari Allah, bukan hasil usaha atau perbuatan manusia. Ia adalah hadiah yang tidak pantas kita terima.
* **Penebusan:** Kristus datang untuk membebaskan manusia dari dosa dan kematian, membawa damai dan sukacita.
* **Iman yang Aktif:** Lagu ini mengundang pendengar, terutama anak-anak, untuk secara aktif menerima kabar gembira ini, untuk datang dan melihat bayi di palungan, dan untuk merayakan-Nya.
* **Pengganti St. Nicholas:** Melalui himne ini, Luther secara efektif mengalihkan fokus dari tokoh St. Nicholas ke "Christkind" (Kristus Anak) sebagai simbol pemberi hadiah Natal, yang kemudian menjadi tradisi kuat di beberapa wilayah Jerman.
**5. Dampak dan Warisan**
"Vom Himmel Hoch da komm ich her" segera menjadi sangat populer di kalangan Protestan Jerman dan menyebar ke seluruh dunia. Lagu ini tidak hanya dinyanyikan di gereja-gereja, tetapi juga di rumah-rumah, menjadi lagu wajib pada perayaan Natal keluarga.
* **Pendidikan Katekismus:** Lagu ini berfungsi sebagai katekismus yang dapat dinyanyikan, mengajarkan kebenaran fundamental Injil kepada anak-anak dengan cara yang mudah diingat dan menyenangkan.
* **Pengaruh Budaya:** Hymne ini turut membentuk tradisi Natal di banyak budaya, menekankan kesederhanaan, sukacita, dan anugerah.
* **Karya Seni:** Melodinya yang indah dan liriknya yang kuat telah menginspirasi banyak komposer klasik, termasuk Johann Sebastian Bach, yang menggunakannya dalam oratorio dan karya-karya choral lainnya.
Singkatnya, "Jauh Dari Surga Datangku" adalah lebih dari sekadar lagu Natal. Ia adalah warisan dari hati seorang bapa, seorang pastor, dan seorang teolog yang ingin memastikan bahwa inti pesan Natal—yaitu cinta Allah yang tak terhingga yang datang ke dunia dalam diri seorang bayi—tetap hidup dan bergema dalam setiap hati, khususnya hati anak-anak. Ia adalah bukti kejeniusan Luther dalam menggunakan musik sebagai jembatan antara kebenaran ilahi yang agung dan pemahaman manusia yang sederhana.
Mari kita selami detail kisahnya:
**1. Konteks Abad ke-16: Peran Luther dan Musik**
Martin Luther (1483-1546) bukan hanya seorang teolog dan reformator ulung; ia juga seorang musisi dan komposer yang sangat menghargai kekuatan musik. Baginya, musik adalah karunia ilahi kedua setelah teologi. Ia percaya bahwa himne-himne dalam bahasa rakyat (bukan Latin) adalah alat yang sangat efektif untuk mengajarkan doktrin Kristen dan menguatkan iman umat. Ia ingin umat tidak hanya pasif mendengarkan, tetapi aktif bernyanyi dan memahami kebenaran Injil melalui lirik-lirik yang sederhana namun mendalam.
Pada masa Luther, perayaan Natal seringkali dipenuhi dengan tradisi-tradisi yang sudah bergeser jauh dari inti teologisnya, seperti kisah Santa Klaus (St. Nicholas) yang membawa hadiah. Luther, sebagai seorang ayah dan pastor, ingin mengarahkan fokus kembali kepada sosok Kristus itu sendiri sebagai pemberi hadiah terbesar bagi umat manusia.
**2. Motivasi Personal dan Keluarga: Menulis untuk Anak-anaknya**
Pada tahun 1535, Luther dan istrinya, Katharina von Bora, memiliki enam orang anak yang masih kecil. Perayaan Natal di rumah tangga Luther di Wittenberg adalah momen yang hangat dan penuh makna. Luther sangat ingin anak-anaknya memahami arti sebenarnya dari Natal: bahwa Allah, melalui Yesus Kristus, telah datang ke dunia sebagai hadiah terbesar bagi umat manusia.
Tradisi populer saat itu adalah "Spielmannslied" (lagu pemain/penyanyi) atau "Wiegenlied" (lagu pengantar tidur) yang anak-anak kenal. Ada sebuah melodi rakyat populer yang biasa dinyanyikan dengan lirik "Ich komm aus fremden Landen her" (Aku datang dari negeri asing), di mana seorang "orang asing" membawa berbagai hadiah. Melodi ini riang dan sangat dikenal oleh anak-anak Jerman kala itu.
Luther melihat kesempatan emas. Daripada menciptakan melodi baru yang mungkin asing, ia memutuskan untuk mengambil melodi yang sudah akrab di telinga anak-anaknya dan menggantinya dengan lirik-lirik yang sarat makna teologis. Ini adalah salah satu ciri khas reformasi Luther dalam musik gereja: "membaptis" melodi sekuler untuk tujuan sakral.
**3. Proses Penciptaan: "Orang Asing" Menjadi Malaikat atau Kristus Anak**
Luther dengan sengaja mengganti sosok "orang asing" yang membawa hadiah dengan sosok yang jauh lebih agung: **seorang malaikat yang mengumumkan kelahiran Yesus**, atau bahkan **Yesus Anak itu sendiri sebagai pembawa kabar gembira dan hadiah keselamatan**.
Ia membayangkan seolah-olah ia sendiri, mungkin dengan jenggot dan jubahnya, datang ke tengah-tengah keluarganya pada malam Natal, dan dengan suara malaikat, mengumumkan berita kelahiran Yesus. Atau ia membayangkan Kristus Anak datang langsung untuk menyampaikan kabar sukacita itu.
**Lirik Awal (Stanza Pertama):**
"Vom Himmel hoch da komm ich her,
ich bring' euch gute neue Mär,
der guten Mär bring ich so viel,
davon ich singen und sagen will."
("Dari surga tinggi datanglah aku,
kubawa kabar gembira baru bagimu,
berita baik yang kubawa amatlah banyak,
tentang itu ingin ku bernyanyi dan bertutur.")
Lirik ini dengan jelas menempatkan narator sebagai pembawa kabar dari surga, bukan lagi sekadar seorang pengembara. Kemudian, himne ini berlanjut dengan menjelaskan identitas Anak itu, tempat kelahirannya (palungan di Bethlehem), tujuan kedatangannya (untuk menyelamatkan manusia), dan undangan untuk bersukacita dan menyembah-Nya.
**4. Pesan Teologis yang Mendalam dalam Bahasa Sederhana**
"Vom Himmel Hoch" adalah ringkasan teologi Natal Luther yang kaya:
* **Inkarnasi (Penjelmaan):** Allah yang Mahatinggi merendahkan diri dan menjadi manusia, seorang bayi yang lemah, lahir di tempat yang sederhana. Ini adalah keajaiban terbesar.
* **Anugerah (Grace):** Kelahiran Kristus adalah anugerah murni dari Allah, bukan hasil usaha atau perbuatan manusia. Ia adalah hadiah yang tidak pantas kita terima.
* **Penebusan:** Kristus datang untuk membebaskan manusia dari dosa dan kematian, membawa damai dan sukacita.
* **Iman yang Aktif:** Lagu ini mengundang pendengar, terutama anak-anak, untuk secara aktif menerima kabar gembira ini, untuk datang dan melihat bayi di palungan, dan untuk merayakan-Nya.
* **Pengganti St. Nicholas:** Melalui himne ini, Luther secara efektif mengalihkan fokus dari tokoh St. Nicholas ke "Christkind" (Kristus Anak) sebagai simbol pemberi hadiah Natal, yang kemudian menjadi tradisi kuat di beberapa wilayah Jerman.
**5. Dampak dan Warisan**
"Vom Himmel Hoch da komm ich her" segera menjadi sangat populer di kalangan Protestan Jerman dan menyebar ke seluruh dunia. Lagu ini tidak hanya dinyanyikan di gereja-gereja, tetapi juga di rumah-rumah, menjadi lagu wajib pada perayaan Natal keluarga.
* **Pendidikan Katekismus:** Lagu ini berfungsi sebagai katekismus yang dapat dinyanyikan, mengajarkan kebenaran fundamental Injil kepada anak-anak dengan cara yang mudah diingat dan menyenangkan.
* **Pengaruh Budaya:** Hymne ini turut membentuk tradisi Natal di banyak budaya, menekankan kesederhanaan, sukacita, dan anugerah.
* **Karya Seni:** Melodinya yang indah dan liriknya yang kuat telah menginspirasi banyak komposer klasik, termasuk Johann Sebastian Bach, yang menggunakannya dalam oratorio dan karya-karya choral lainnya.
Singkatnya, "Jauh Dari Surga Datangku" adalah lebih dari sekadar lagu Natal. Ia adalah warisan dari hati seorang bapa, seorang pastor, dan seorang teolog yang ingin memastikan bahwa inti pesan Natal—yaitu cinta Allah yang tak terhingga yang datang ke dunia dalam diri seorang bayi—tetap hidup dan bergema dalam setiap hati, khususnya hati anak-anak. Ia adalah bukti kejeniusan Luther dalam menggunakan musik sebagai jembatan antara kebenaran ilahi yang agung dan pemahaman manusia yang sederhana.
Cross Reference
KK 182, NR 26, MK 27, KJ 98, BN 46
Jauh Dari Surga Datangku
BN
Jauh Dari Sorga Datangku
KJ
Jauh Dari Surga Datangku
KK
Jauh dari sorga datangku
MK
T'rus dari Sorga Datang-Ku
NR
Sama Tema
Hatutubu ni Tuhan Jesus
Di Na Saborngin I Do Binsar
BE
Ria Ma Hita Sasude
BE
Sai Ro Ma Tu Bara
BE
Marende Ma Hamu
BE
Tole Puji Ma Tuhanta
BE
Hatuaon Do
BE
Di Betlehem Do Tubu
BE
Sonang Ni Bornginna I
BE
Borngin Na Badia
BE
Sai Ro Ma Hamuna
BE
Nunga Jumpang Muse Ari Pesta
BE
Martumbur Tungkotungko
BE
O Jesuski Hupuji Ho
BE
Marolopolop Hamu
BE
Na Tau Las Ni Roha
BE
Halalas Ni Roha Godang
BE