Informasi Lagu
49
Nomor
Kode
BE 49
Buku
Buku Ende
Metronom
0
Cross Ref.
KJ 117
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 7 bait
Sai ro ma tu bara di Betlehem on, hamu na porsea hatop ma tu son! Marnida halasan ni rohanta i, tinongos ni Ama na di surgo i
O ida hamu ma di bara inon, Dakdanak na tubu disi borngin on Uli do rupaNa, mataNa tiur, o bereng Ibana, ho gabe tiur
Las roha Maria nang Josep disi, marnida na metmet na sorang tusi Marsomba tu patna do parmahan i, di ginjang marende pardisurgo i.
Pasinggang ma totmu hamuna sude, maniru parmahan marsomba muse Marende hamu na marlas roha i, maniru suruan na di ginjang i
Sai dok ma o Anak ni Debata i, ho ro sian ginjang dibaen asiMi Di hami sudena na mardosa on, mambaen haluaon di hami tongtong
Tung aha ulaning denggan di rohaM? Silehononnami baen las ni rohaM? Nang sere nang perak ndang pinangidoM Ai roha na ias sambing do lomoM
Antong rohanami ma peleanMi, o Jesus hasian sai jalo ma i Ias jala sonang ma baen angka i Tongtong gabe domu ma tu rohaMi.
Partitur / Not
Partitur Chord BE 49
Sejarah Lagu
Lagu **"Ihr Kinderlein, kommet"** (Hai, Anak Semua) adalah salah satu lagu Natal paling ikonik di dunia, terutama di negara-negara berbahasa Jerman. Kisah di balik lagu ini merupakan perpaduan antara spiritualitas masa lalu dan dedikasi seorang penulis untuk anak-anak.

Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu ini:

### 1. Penulis Lirik: Christoph von Schmid (1798)
Lirik lagu ini ditulis oleh **Christoph von Schmid**, seorang pendeta Katolik dan penulis cerita anak-anak asal Jerman. Pada tahun 1798, saat ia menjabat sebagai pastor di desa Illerrieden, Bavaria, ia menulis puisi berjudul *"Die Kinder bei der Krippe"* (Anak-anak di dekat palungan).

Christoph von Schmid dikenal sebagai pelopor sastra anak-anak yang bersifat mendidik dan religius. Ia menulis puisi ini dengan tujuan yang sangat sederhana: **mengajak anak-anak untuk membayangkan secara langsung peristiwa kelahiran Yesus.** Ia ingin membawa mereka "berjalan" ke Betlehem melalui imajinasi, agar pesan Natal tidak hanya menjadi teori, tetapi pengalaman emosional yang hangat.

### 2. Melodi: Johann Abraham Peter Schulz (1790)
Meskipun liriknya sangat terkenal, melodi yang kita kenal sekarang sebenarnya bukanlah melodi asli yang digunakan oleh Christoph von Schmid pada awalnya.

Melodi yang kita nyanyikan saat ini dikomposisikan oleh **Johann Abraham Peter Schulz** pada tahun 1790. Menariknya, Schulz awalnya menulis melodi ini untuk lagu yang sama sekali tidak berhubungan dengan Natal, berjudul *"Wie reizend, wie wonnig"* (Betapa menariknya, betapa nikmatnya).

Baru pada sekitar tahun 1832, melodi karya Schulz tersebut digabungkan dengan lirik karya Christoph von Schmid. Perpaduan ini ternyata sangat harmonis—nada yang lembut, ceria, namun khusyuk—sehingga lagu ini langsung menjadi standar perayaan Natal di Jerman dan menyebar ke seluruh dunia.

### 3. Makna di Balik Liriknya
Jika kita membedah liriknya, lagu ini bukan sekadar lagu pujian biasa. Lagu ini adalah **sebuah undangan**.

* **Undangan:** Bait pertama (*"Ihr Kinderlein, kommet, o kommet doch all!"*) adalah panggilan ramah kepada anak-anak untuk datang melihat keajaiban di palungan.
* **Visualisasi:** Lagu ini mengajak pendengar untuk melihat detail sederhana: palungan, jerami, bayi Yesus yang manis, dan suasana sunyi di Betlehem.
* **Pesan Moral:** Di bagian akhir lagu, Schmid tidak hanya menceritakan kelahiran, tetapi juga memberikan pesan moral agar anak-anak menjadikan Yesus sebagai teladan dalam kerendahan hati dan kasih.

### 4. Tradisi "Krippe" (Palungan)
Lagu ini menjadi sangat populer karena tradisi *Krippenspiel* (pertunjukan palungan) yang sangat kuat di Jerman. Pada malam Natal, keluarga-keluarga di Jerman biasanya menempatkan miniatur kandang Betlehem di rumah mereka. Lagu "Ihr Kinderlein, kommet" sering dinyanyikan tepat saat keluarga berkumpul di sekeliling miniatur tersebut.

### Mengapa Lagu Ini Begitu Bertahan?
"Hai Anak Semua" tetap dicintai hingga hari ini karena beberapa alasan:
1. **Kesederhanaan:** Liriknya mudah diingat oleh anak-anak, namun maknanya mendalam bagi orang dewasa.
2. **Kekuatan Imajinasi:** Lagu ini menempatkan pendengar sebagai "saksi mata" yang hadir langsung di kandang Betlehem bersama para gembala dan malaikat.
3. **Universalitas:** Lagu ini tidak berfokus pada teologi yang rumit, melainkan pada kehangatan momen kelahiran seorang bayi yang membawa kedamaian.

Di Indonesia, lagu ini sering diterjemahkan ke dalam berbagai versi dalam buku nyanyian gerejawi, yang terus dinyanyikan setiap musim Natal untuk mengingatkan kita kembali pada semangat kesederhanaan dan sukacita masa kanak-kanak saat menyambut kelahiran Yesus.