KJ
Bila Tugasku Kelak Selesai
O That Will Be Glory / When All My Labours and Trials
Informasi Lagu
265
Nomor
Kode
KJ 265
Buku
Kidung Jemaat
Metronom
0
Cross Ref.
KK 298, NKI 170
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
Bila tugasku kelak selesai, slamat ku tiba di pantai permai
dan dari Tuhanku tak tercerai, itu bagiku bahagia baka.
Ku slamanya bahagia, bahagia, bahagia; bila kupandang
Tuhanku kelak, aku bahagia, bahagia tetap.
Bila kelak oleh kurniaNya aku disambut di sorga cerah
dan ku memandang sinar wajahNya, itu bagiku bahagia baka.
Ku slamanya bahagia, bahagia, bahagia; bila kupandang
Tuhanku kelak, aku bahagia, bahagia tetap.
Bila di sana ku jumpa teman, aku gembira dan amat senang,
tapi melihat Tuhan berkenan, itu bagiku bahagia baka.
Ku slamanya bahagia, bahagia, bahagia; bila kupandang
Tuhanku kelak, aku bahagia, bahagia tetap.
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu "Bila Tugasku Kelak Selesai," yang dalam bahasa aslinya berjudul "When All My Labours And Trials Are O'er," adalah salah satu himne Injili yang sangat dicintai dan memberikan penghiburan mendalam bagi umat Kristiani di seluruh dunia. Diciptakan oleh seorang komposer Injili yang sangat produktif, **Charles Hutchinson Gabriel**, lagu ini bukan sekadar melodi indah, melainkan sebuah manifestasi dari pengharapan abadi dan keyakinan akan janji surgawi.
Mari kita selami kisah detail di balik lagu yang penuh makna ini:
---
### **Latar Belakang Sang Komposer: Charles Hutchinson Gabriel (1856-1932)**
Untuk memahami "When All My Labours And Trials Are O'er," kita harus terlebih dahulu mengenal penciptanya, Charles Hutchinson Gabriel. Gabriel adalah salah satu komposer himne Injili paling penting dan produktif di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
* **Asal-Usul dan Bakat Alami:** Lahir pada tahun 1856 di Wilton, Iowa, Gabriel tumbuh besar di sebuah pertanian. Ia tidak pernah menerima pendidikan musik formal, tetapi bakatnya luar biasa. Ia belajar bermain piano dan organ secara otodidak, bahkan pada usia 17 tahun sudah mengajar musik di sebuah universitas.
* **Kehidupan Profesional:** Gabriel menjalani berbagai pekerjaan di bidang musik: mulai dari guru musik, penyanyi, hingga konduktor paduan suara. Namun, ia menemukan panggilan sejatinya dalam menulis lagu-lagu Injili. Ia pindah ke Chicago pada tahun 1892 dan mengabdikan hidupnya sepenuhnya untuk komposisi, aransemen, dan penyuntingan lagu-lagu gereja. Ia bekerja untuk beberapa penerbit musik Injili terkemuka seperti Rodeheaver Company.
* **Produktifitas Luar Biasa:** Gabriel dikenal karena produktivitasnya yang fenomenal. Diperkirakan ia menulis lebih dari 8.000 himne dan lagu Injili, seringkali menggunakan berbagai nama samaran (seperti Charlotte G. Homer untuk lirik, atau A. H. Ackley untuk musik, dan banyak lainnya). Beberapa karyanya yang paling terkenal termasuk "His Eye Is on the Sparrow," "I Stand Amazed in the Presence," "O That Will Be Glory for Me," dan tentu saja "When All My Labours And Trials Are O'er."
* **Gaya dan Tema:** Karya-karya Gabriel dicirikan oleh melodi yang mudah diingat, harmoni yang kaya, dan lirik yang berfokus pada tema-tema utama Injil: keselamatan, anugerah, pengorbanan Kristus, kedatangan kembali-Nya, dan pengharapan akan Surga.
### **Inspirasi di Balik "When All My Labours And Trials Are O'er" (1908)**
Lagu ini diciptakan dan diterbitkan pada tahun **1908**. Ada beberapa lapisan inspirasi yang mungkin melatarbelakangi Gabriel dalam menciptakan mahakarya ini:
1. **Pengalaman Hidup Universal:** Gabriel, seperti kebanyakan orang, pasti mengalami pasang surut kehidupan, "labours and trials" (segala kerja keras dan cobaan). Pada awal abad ke-20, kehidupan seringkali sulit dan penuh tantangan – baik secara fisik, ekonomi, maupun emosional. Penyakit, kematian dini, dan kerja keras adalah bagian tak terpisahkan dari realitas sehari-hari. Dalam konteks ini, janji akan istirahat dan kedamaian abadi di surga menjadi sebuah oase spiritual yang sangat dibutuhkan.
2. **Teologi Eskatologi Kristen:** Sebagai seorang komposer Injili, Gabriel sangat akrab dengan ajaran-ajaran Kristen tentang akhir zaman, kedatangan Kristus yang kedua, kebangkitan orang mati, dan kehidupan kekal di surga. Lagu ini adalah ekspresi puitis dan musikal dari doktrin sentral ini. Ia menekankan bahwa meskipun hidup di bumi penuh perjuangan, ada janji sukacita yang tak berkesudahan di hadirat Tuhan bagi orang-orang percaya.
3. **Kebutuhan Jemaat:** Pada masa Gabriel, musik Injili bukan hanya hiburan, tetapi juga alat evangelisasi dan penghiburan yang kuat. Lagu-lagu seperti ini dirancang untuk memberikan harapan, menguatkan iman, dan mengingatkan jemaat akan tujuan akhir perjalanan iman mereka. Jemaat yang lelah dengan beban hidup, atau yang sedang berduka atas kehilangan orang terkasih, menemukan pelipur lara dan kekuatan dalam lirik-lirik yang berbicara tentang "pantai indah" surgawi.
4. **Fokus pada Kristus:** Seperti banyak karyanya, Gabriel selalu mengarahkan fokus kepada Yesus Kristus. Puncak dari "glory" yang dinanti-nantikan bukanlah sekadar surga itu sendiri, melainkan "Just to be near the dear Lord I adore" (Hanya dekat Tuhanku yang kusembah). Ini mencerminkan hubungan pribadi yang mendalam dengan Sang Juruselamat sebagai inti dari kehidupan Kristen dan pengharapan surgawi.
### **Analisis Lirik dan Melodi**
Lirik lagu ini, baik dalam bahasa Inggris maupun terjemahan Indonesianya, sangat lugas dan penuh dengan gambar-gambar pengharapan:
* **Ayat 1:**
> "When all my labours and trials are o'er,
> And I am safe on that beautiful shore,
> Just to be near the dear Lord I adore,
> Will through the ages be glory for me."
> (Bila tugasku kelak selesai,
> Dan aku aman di pantai yang indah,
> Hanya dekat Tuhan yang kusembah,
> Akan menjadi kemuliaan bagiku selamanya.)
Ayat ini langsung menyentuh tema kelelahan duniawi dan kerinduan akan istirahat abadi. "Beautiful shore" adalah metafora untuk surga, tempat di mana semua perjuangan berakhir. Puncak dari kemuliaan adalah kehadiran Tuhan itu sendiri.
* **Refrain (Chorus):**
> "O that will be glory for me,
> Glory for me, glory for me;
> When by His grace I shall look on His face,
> That will be glory, be glory for me."
> (Oh, itu akan menjadi kemuliaan bagiku,
> Kemuliaan bagiku, kemuliaan bagiku;
> Bila oleh anugerah-Nya aku menatap wajah-Nya,
> Itulah kemuliaan, kemuliaan bagiku.)
Refrain ini adalah inti emosional dari lagu, sebuah seruan sukacita dan kepastian. Penekanan pada "by His grace" (oleh anugerah-Nya) menegaskan bahwa kemuliaan ini adalah karunia, bukan hasil usaha manusia. Melihat wajah Kristus adalah puncak dari segala pengharapan.
* **Ayat-ayat Lanjut:** Ayat-ayat berikutnya seringkali merinci aspek-aspek lain dari surga: tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi rasa sakit, reuni dengan orang-orang terkasih yang telah mendahului, dan kehidupan yang penuh pujian dan penyembahan. Ini semua melengkapi gambaran tentang surga sebagai tempat penghiburan dan sukacita abadi.
**Melodi:** Melodi yang diciptakan Gabriel untuk lagu ini sangat melengking, menghibur, dan mudah dinyanyikan. Aliran melodinya yang cenderung menaik pada bagian-bagian penting memberikan kesan optimisme dan pengharapan yang kuat. Ini adalah ciri khas musik Injili yang Gabriel kuasai dengan sempurna, menjadikannya mudah diakses dan berkesan di hati para pendengar.
### **Warisan dan Dampak**
"When All My Labours And Trials Are O'er" dengan cepat menjadi himne yang populer dan bertahan lama.
* **Penghiburan di Masa Sulit:** Lagu ini telah memberikan penghiburan yang tak terhitung jumlahnya bagi orang-orang yang berduka atau menghadapi tantangan hidup yang berat. Liriknya mengingatkan bahwa penderitaan di dunia ini bersifat sementara dan ada janji yang lebih besar menanti.
* **Harapan di Akhir Kehidupan:** Lagu ini sering dinyanyikan dalam kebaktian pemakaman atau peringatan, sebagai pengingat akan keyakinan Kristen pada kebangkitan dan kehidupan kekal. Ini membantu umat percaya untuk menghadapi kematian bukan dengan keputusasaan, melainkan dengan pengharapan.
* **Transkulturasi:** Popularitasnya telah melampaui batas bahasa dan budaya. Terjemahan bahasa Indonesianya, "Bila Tugasku Kelak Selesai," adalah salah satu himne yang paling dikenal dan dinyanyikan di gereja-gereja di Indonesia, membuktikan universalitas pesannya.
* **Bagian dari Kanon Injili:** Lagu ini telah masuk dalam banyak koleksi lagu Injili dan buku kidung di seluruh dunia, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari warisan musik Kristen.
---
Singkatnya, "Bila Tugasku Kelak Selesai" / "When All My Labours And Trials Are O'er" adalah kisah tentang pengharapan yang teguh di tengah cobaan hidup. Ini adalah karya Charles Hutchinson Gabriel yang mencerminkan imannya yang dalam pada janji surgawi dan pemahaman empatiknya tentang kerinduan manusia akan kedamaian abadi di hadirat Tuhan. Lagu ini terus menjadi sumber kekuatan dan penghiburan bagi jutaan orang, mengingatkan kita bahwa segala kerja keras dan cobaan akan berujung pada kemuliaan abadi di samping Sang Pencipta.
Mari kita selami kisah detail di balik lagu yang penuh makna ini:
---
### **Latar Belakang Sang Komposer: Charles Hutchinson Gabriel (1856-1932)**
Untuk memahami "When All My Labours And Trials Are O'er," kita harus terlebih dahulu mengenal penciptanya, Charles Hutchinson Gabriel. Gabriel adalah salah satu komposer himne Injili paling penting dan produktif di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
* **Asal-Usul dan Bakat Alami:** Lahir pada tahun 1856 di Wilton, Iowa, Gabriel tumbuh besar di sebuah pertanian. Ia tidak pernah menerima pendidikan musik formal, tetapi bakatnya luar biasa. Ia belajar bermain piano dan organ secara otodidak, bahkan pada usia 17 tahun sudah mengajar musik di sebuah universitas.
* **Kehidupan Profesional:** Gabriel menjalani berbagai pekerjaan di bidang musik: mulai dari guru musik, penyanyi, hingga konduktor paduan suara. Namun, ia menemukan panggilan sejatinya dalam menulis lagu-lagu Injili. Ia pindah ke Chicago pada tahun 1892 dan mengabdikan hidupnya sepenuhnya untuk komposisi, aransemen, dan penyuntingan lagu-lagu gereja. Ia bekerja untuk beberapa penerbit musik Injili terkemuka seperti Rodeheaver Company.
* **Produktifitas Luar Biasa:** Gabriel dikenal karena produktivitasnya yang fenomenal. Diperkirakan ia menulis lebih dari 8.000 himne dan lagu Injili, seringkali menggunakan berbagai nama samaran (seperti Charlotte G. Homer untuk lirik, atau A. H. Ackley untuk musik, dan banyak lainnya). Beberapa karyanya yang paling terkenal termasuk "His Eye Is on the Sparrow," "I Stand Amazed in the Presence," "O That Will Be Glory for Me," dan tentu saja "When All My Labours And Trials Are O'er."
* **Gaya dan Tema:** Karya-karya Gabriel dicirikan oleh melodi yang mudah diingat, harmoni yang kaya, dan lirik yang berfokus pada tema-tema utama Injil: keselamatan, anugerah, pengorbanan Kristus, kedatangan kembali-Nya, dan pengharapan akan Surga.
### **Inspirasi di Balik "When All My Labours And Trials Are O'er" (1908)**
Lagu ini diciptakan dan diterbitkan pada tahun **1908**. Ada beberapa lapisan inspirasi yang mungkin melatarbelakangi Gabriel dalam menciptakan mahakarya ini:
1. **Pengalaman Hidup Universal:** Gabriel, seperti kebanyakan orang, pasti mengalami pasang surut kehidupan, "labours and trials" (segala kerja keras dan cobaan). Pada awal abad ke-20, kehidupan seringkali sulit dan penuh tantangan – baik secara fisik, ekonomi, maupun emosional. Penyakit, kematian dini, dan kerja keras adalah bagian tak terpisahkan dari realitas sehari-hari. Dalam konteks ini, janji akan istirahat dan kedamaian abadi di surga menjadi sebuah oase spiritual yang sangat dibutuhkan.
2. **Teologi Eskatologi Kristen:** Sebagai seorang komposer Injili, Gabriel sangat akrab dengan ajaran-ajaran Kristen tentang akhir zaman, kedatangan Kristus yang kedua, kebangkitan orang mati, dan kehidupan kekal di surga. Lagu ini adalah ekspresi puitis dan musikal dari doktrin sentral ini. Ia menekankan bahwa meskipun hidup di bumi penuh perjuangan, ada janji sukacita yang tak berkesudahan di hadirat Tuhan bagi orang-orang percaya.
3. **Kebutuhan Jemaat:** Pada masa Gabriel, musik Injili bukan hanya hiburan, tetapi juga alat evangelisasi dan penghiburan yang kuat. Lagu-lagu seperti ini dirancang untuk memberikan harapan, menguatkan iman, dan mengingatkan jemaat akan tujuan akhir perjalanan iman mereka. Jemaat yang lelah dengan beban hidup, atau yang sedang berduka atas kehilangan orang terkasih, menemukan pelipur lara dan kekuatan dalam lirik-lirik yang berbicara tentang "pantai indah" surgawi.
4. **Fokus pada Kristus:** Seperti banyak karyanya, Gabriel selalu mengarahkan fokus kepada Yesus Kristus. Puncak dari "glory" yang dinanti-nantikan bukanlah sekadar surga itu sendiri, melainkan "Just to be near the dear Lord I adore" (Hanya dekat Tuhanku yang kusembah). Ini mencerminkan hubungan pribadi yang mendalam dengan Sang Juruselamat sebagai inti dari kehidupan Kristen dan pengharapan surgawi.
### **Analisis Lirik dan Melodi**
Lirik lagu ini, baik dalam bahasa Inggris maupun terjemahan Indonesianya, sangat lugas dan penuh dengan gambar-gambar pengharapan:
* **Ayat 1:**
> "When all my labours and trials are o'er,
> And I am safe on that beautiful shore,
> Just to be near the dear Lord I adore,
> Will through the ages be glory for me."
> (Bila tugasku kelak selesai,
> Dan aku aman di pantai yang indah,
> Hanya dekat Tuhan yang kusembah,
> Akan menjadi kemuliaan bagiku selamanya.)
Ayat ini langsung menyentuh tema kelelahan duniawi dan kerinduan akan istirahat abadi. "Beautiful shore" adalah metafora untuk surga, tempat di mana semua perjuangan berakhir. Puncak dari kemuliaan adalah kehadiran Tuhan itu sendiri.
* **Refrain (Chorus):**
> "O that will be glory for me,
> Glory for me, glory for me;
> When by His grace I shall look on His face,
> That will be glory, be glory for me."
> (Oh, itu akan menjadi kemuliaan bagiku,
> Kemuliaan bagiku, kemuliaan bagiku;
> Bila oleh anugerah-Nya aku menatap wajah-Nya,
> Itulah kemuliaan, kemuliaan bagiku.)
Refrain ini adalah inti emosional dari lagu, sebuah seruan sukacita dan kepastian. Penekanan pada "by His grace" (oleh anugerah-Nya) menegaskan bahwa kemuliaan ini adalah karunia, bukan hasil usaha manusia. Melihat wajah Kristus adalah puncak dari segala pengharapan.
* **Ayat-ayat Lanjut:** Ayat-ayat berikutnya seringkali merinci aspek-aspek lain dari surga: tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi rasa sakit, reuni dengan orang-orang terkasih yang telah mendahului, dan kehidupan yang penuh pujian dan penyembahan. Ini semua melengkapi gambaran tentang surga sebagai tempat penghiburan dan sukacita abadi.
**Melodi:** Melodi yang diciptakan Gabriel untuk lagu ini sangat melengking, menghibur, dan mudah dinyanyikan. Aliran melodinya yang cenderung menaik pada bagian-bagian penting memberikan kesan optimisme dan pengharapan yang kuat. Ini adalah ciri khas musik Injili yang Gabriel kuasai dengan sempurna, menjadikannya mudah diakses dan berkesan di hati para pendengar.
### **Warisan dan Dampak**
"When All My Labours And Trials Are O'er" dengan cepat menjadi himne yang populer dan bertahan lama.
* **Penghiburan di Masa Sulit:** Lagu ini telah memberikan penghiburan yang tak terhitung jumlahnya bagi orang-orang yang berduka atau menghadapi tantangan hidup yang berat. Liriknya mengingatkan bahwa penderitaan di dunia ini bersifat sementara dan ada janji yang lebih besar menanti.
* **Harapan di Akhir Kehidupan:** Lagu ini sering dinyanyikan dalam kebaktian pemakaman atau peringatan, sebagai pengingat akan keyakinan Kristen pada kebangkitan dan kehidupan kekal. Ini membantu umat percaya untuk menghadapi kematian bukan dengan keputusasaan, melainkan dengan pengharapan.
* **Transkulturasi:** Popularitasnya telah melampaui batas bahasa dan budaya. Terjemahan bahasa Indonesianya, "Bila Tugasku Kelak Selesai," adalah salah satu himne yang paling dikenal dan dinyanyikan di gereja-gereja di Indonesia, membuktikan universalitas pesannya.
* **Bagian dari Kanon Injili:** Lagu ini telah masuk dalam banyak koleksi lagu Injili dan buku kidung di seluruh dunia, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari warisan musik Kristen.
---
Singkatnya, "Bila Tugasku Kelak Selesai" / "When All My Labours And Trials Are O'er" adalah kisah tentang pengharapan yang teguh di tengah cobaan hidup. Ini adalah karya Charles Hutchinson Gabriel yang mencerminkan imannya yang dalam pada janji surgawi dan pemahaman empatiknya tentang kerinduan manusia akan kedamaian abadi di hadirat Tuhan. Lagu ini terus menjadi sumber kekuatan dan penghiburan bagi jutaan orang, mengingatkan kita bahwa segala kerja keras dan cobaan akan berujung pada kemuliaan abadi di samping Sang Pencipta.