Informasi Lagu
267
Nomor
Kode
KJ 267
Buku
Kidung Jemaat
Metronom
0
Cross Ref.
KK 297, NKI 246, KPPK 404, PPK 238
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
Bila muka dengan muka aku pandang Penebus, sukacitaku berlimpah: Ia mati bagiku! Nanti muka dengan muka aku pandang Penebus; Agung dalam trang sorgawi aku pandang Tuhanku!
Masih kabur pandanganku, blum tersingkap tabirnya, tapi hari kemuliaan akan tiba segera.
Ku bahagia di sisiNya, hilang duka dan resah; jalan bengkok sudah lurus, yang gelap sudah cerah.
Nanti muka dengan muka langsung akan kukenal Tuhan Yesus, Juruslamat, Pengasihku yang kekal!
Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — KJ 267 1
Slide 2 — KJ 267 2
Slide 3 — KJ 267 3
Slide 4 — KJ 267 4
Partitur / Not
Partitur Chord KJ 267
Sejarah Lagu
Lagu **"Bila Muka Dengan Muka"** (judul asli: *Face to Face with Christ My Savior*) adalah salah satu nyanyian rohani (himne) paling mengharukan yang lahir dari sebuah peristiwa sederhana namun mendalam di akhir abad ke-19.

Berikut adalah detail kisah dibalik penciptaan lagu ini:

### 1. Sosok di Balik Lirik: Carrie Elizabeth Ews Breck (1855–1934)
Lirik lagu ini ditulis oleh seorang ibu rumah tangga bernama **Carrie E. Breck**. Ia bukanlah seorang penulis lagu profesional, melainkan seorang wanita yang sangat mencintai Tuhan dan keluarga. Ia dikenal sering menulis puisi sebagai ungkapan syukur atas kehidupan sehari-harinya.

Suatu hari di tahun 1898, Carrie sedang mengerjakan pekerjaan rumah tangganya. Saat ia sibuk, pikirannya melayang pada keindahan perjumpaan dengan Yesus Kristus kelak di surga. Ia membayangkan bagaimana rasanya setelah segala penderitaan dan pergumulan di dunia selesai, ia akhirnya bisa menatap wajah Juruselamatnya secara langsung.

Perasaan haru dan rindu itu begitu kuat hingga ia memutuskan untuk menuangkannya ke dalam bait-bait puisi. Ia menulis lirik tersebut dengan sangat cepat, seolah-olah kata-katanya mengalir langsung dari kerinduannya akan surga.

### 2. Pertemuan dengan Grant Colfax Tullar
Setelah menulis lirik tersebut, Carrie mengirimkannya kepada **Grant Colfax Tullar**, seorang komposer dan penerbit musik gerejawi yang cukup terkenal pada masa itu.

Tullar, yang saat itu bekerja di perusahaan penerbitan musik *Tullar-Meredith Co.*, menerima kiriman puisi tersebut. Konon, ketika Tullar membaca lirik tersebut, ia sangat terkesan dengan kedalaman maknanya. Ia merasa bahwa kata-kata itu membutuhkan irama yang khidmat namun penuh pengharapan.

Tullar kemudian mengomposisi melodi untuk lirik tersebut. Hasilnya adalah sebuah melodi yang lembut, reflektif, namun memiliki klimaks yang megah, yang sangat pas untuk mengekspresikan transisi dari kesedihan duniawi menuju kemuliaan surgawi.

### 3. Makna Dibalik Lirik
Lagu ini menjadi sangat populer karena liriknya menyentuh esensi dari iman Kristen mengenai "eskatologi" atau akhir zaman dengan cara yang sangat personal:

* **Bait Pertama:** Menggambarkan transisi setelah kematian ("bila badai hidup reda").
* **Bait Kedua:** Menggambarkan bagaimana wajah yang penuh kasih yang dulu disalibkan, akan menyambut kita.
* **Bait Ketiga:** Fokus pada janji bahwa tidak akan ada lagi air mata atau perpisahan saat kita bertemu muka dengan muka.

Pesan utamanya bukanlah tentang rasa takut akan kematian, melainkan **kerinduan untuk bertemu dengan Sang Kekasih Jiwa**.

### 4. Dampak Lagu Ini
Sejak dipublikasikan, lagu ini menjadi favorit di kebaktian-kebaktian penguburan dan acara perenungan iman. Banyak orang merasa terhibur saat kehilangan orang yang dicintai karena liriknya memberikan janji bahwa perpisahan di dunia ini hanyalah sementara, dan ada "pertemuan kembali" yang jauh lebih indah di hadapan Tuhan.

Di Indonesia, lagu ini diterjemahkan dengan sangat setia ke dalam bahasa Indonesia dan sering dinyanyikan di gereja-gereja dalam berbagai denominasi.

### Kesimpulan
Kisah dibalik "Bila Muka Dengan Muka" mengajarkan kita bahwa sebuah karya seni yang abadi tidak selalu lahir dari pergumulan yang hebat atau tempat yang megah. Lagu ini lahir dari **ketulusan seorang ibu di tengah rutinitas rumah tangganya**, yang menyisihkan waktu untuk merenungkan keabadian.

Hingga hari ini, lagu ini tetap relevan karena kerinduan akan perjumpaan dengan Tuhan adalah perasaan universal yang melintasi generasi.