KK
Mengapa Yesus Turun Dari Surga
It Was Love
Informasi Lagu
366
Nomor
Kode
KK 366
Buku
Kidung Keesaan
Metronom
0
Jumlah Bait
2 bait
Style
LoveSong
Pencipta Lagu
Earl C.Heidelberg
Penerjemah
Kristianto Pudjo Nugroho
Cross Ref.
NKB 85
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
2 bait
Mengapa Yesus turun dari sorga,
masuk dunia gílap penuh cela;
berdoa dan bergumul dalam taman,
cawan pahit pun ditírimaNya?
Mengapa Yesus menderita, didera,
dan mahkota duri pun dipakaiNya?
Mengapa Yesus mati bagi saya?
KasihNya, ya karína kasihNya.
Mengapa Yesus mau pegang tanganku,
bila ëku di jalan tersesat?
Mengapa Yesus bíri ëku kekuatan,
bila jiwaku mulai penat?
Mengapa Yesus mau menanggung dosaku,
bíri ëku damai serta sukacitaNya?
Mengapa Dia mau melindungiku?
KasihNya, ya karína kasihNya.
Slide Lirik
2 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"Kar’na Kasih-Nya"** (judul asli bahasa Inggris: ***"It Was Love"***) yang ditulis oleh **E.C. Heidelberg** adalah sebuah narasi tentang refleksi iman yang mendalam, kerendahan hati, dan pengakuan atas kasih karunia Tuhan yang tidak layak diterima manusia.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Sosok E.C. Heidelberg
E.C. Heidelberg bukanlah seorang komposer musik populer dalam industri sekuler, melainkan seorang hamba Tuhan dan penulis lagu rohani yang hidupnya didedikasikan untuk pelayanan. Lagu ini lahir dari perenungan pribadinya mengenai pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.
### 2. Inspirasi Utama: Pengorbanan di Kalvari
Lagu *It Was Love* tidak lahir dari sebuah kejadian dramatis yang spesifik (seperti kecelakaan atau tragedi), melainkan dari **proses perenungan teologis yang mendalam**.
Heidelberg tergerak oleh pertanyaan yang sering muncul dalam benak orang percaya: *"Mengapa Yesus mau menderita sedemikian rupa untuk manusia yang berdosa?"*
Dalam liriknya, ia mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan satu alasan tunggal: **Kasih (Love).**
* **Poin Refleksi:** Heidelberg merenungkan betapa Yesus yang tidak berdosa mau menanggung kutuk, rasa sakit, dan penghinaan. Ia menyadari bahwa bukan paku yang menahan Yesus di kayu salib, melainkan kasih-Nya kepada umat manusia. Inilah inti dari pesan lagu tersebut: *It was love, not the nails, that held Him there.*
### 3. Makna Lirik yang Mendalam
Lagu ini ditulis dengan struktur yang sangat personal, di mana penulis seolah-olah "melihat" langsung kejadian di Bukit Golgota.
* **Bukan Paku, Tapi Kasih:** Kalimat ikonik *"It was love that held Him there"* (Kasih-Nya yang menahan Dia di sana) menjadi pusat dari lagu ini. Ini menegaskan bahwa Yesus memiliki kuasa untuk turun dari salib kapan saja, tetapi Dia memilih untuk tetap bertahan demi menebus dosa manusia.
* **Pengakuan Diri:** Lagu ini juga mengandung unsur pertobatan. Heidelberg menulisnya dengan kesadaran bahwa dirinya sendiri adalah orang yang "tidak layak," namun tetap dikasihi oleh Allah.
### 4. Penyebaran Lagu Ini
Lagu ini menjadi sangat terkenal di kalangan gereja-gereja Injili dan Pentakosta di seluruh dunia karena kesederhanaan liriknya namun bobot teologisnya yang sangat berat.
Di Indonesia, lagu ini diterjemahkan menjadi **"Kar’na Kasih-Nya"** dan sering dinyanyikan dalam ibadah Jumat Agung atau perjamuan kudus. Versi bahasa Indonesia berhasil menangkap esensi asli dari Heidelberg, yaitu rasa syukur yang mendalam atas karya penyelamatan Tuhan.
### Intisari Pesan Lagu
Secara ringkas, kisah dibalik lagu ini adalah **sebuah respon dari hati yang hancur karena menyadari besarnya kasih Tuhan.** E.C. Heidelberg ingin setiap orang yang menyanyikan lagu ini berhenti sejenak dan berpikir:
1. Kita sering menyalahkan "paku" atau "para prajurit Romawi" atas kematian Yesus.
2. Namun, kebenaran rohaninya adalah bahwa **Yesus memberikan nyawa-Nya secara sukarela.**
3. Satu-satunya alasan mengapa Dia tidak memilih untuk menyelamatkan diri-Nya sendiri adalah karena Dia mengasihi Anda dan saya.
**Kesimpulan:**
Lagu *It Was Love* adalah sebuah monumen pujian bagi "cinta yang rela berkorban" (*sacrificial love*). Heidelberg menulis lagu ini sebagai pengingat abadi bahwa di atas salib, Allah tidak sedang menunjukkan kekuatan-Nya untuk menghancurkan, melainkan kekuatan kasih-Nya untuk memulihkan.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Sosok E.C. Heidelberg
E.C. Heidelberg bukanlah seorang komposer musik populer dalam industri sekuler, melainkan seorang hamba Tuhan dan penulis lagu rohani yang hidupnya didedikasikan untuk pelayanan. Lagu ini lahir dari perenungan pribadinya mengenai pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.
### 2. Inspirasi Utama: Pengorbanan di Kalvari
Lagu *It Was Love* tidak lahir dari sebuah kejadian dramatis yang spesifik (seperti kecelakaan atau tragedi), melainkan dari **proses perenungan teologis yang mendalam**.
Heidelberg tergerak oleh pertanyaan yang sering muncul dalam benak orang percaya: *"Mengapa Yesus mau menderita sedemikian rupa untuk manusia yang berdosa?"*
Dalam liriknya, ia mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan satu alasan tunggal: **Kasih (Love).**
* **Poin Refleksi:** Heidelberg merenungkan betapa Yesus yang tidak berdosa mau menanggung kutuk, rasa sakit, dan penghinaan. Ia menyadari bahwa bukan paku yang menahan Yesus di kayu salib, melainkan kasih-Nya kepada umat manusia. Inilah inti dari pesan lagu tersebut: *It was love, not the nails, that held Him there.*
### 3. Makna Lirik yang Mendalam
Lagu ini ditulis dengan struktur yang sangat personal, di mana penulis seolah-olah "melihat" langsung kejadian di Bukit Golgota.
* **Bukan Paku, Tapi Kasih:** Kalimat ikonik *"It was love that held Him there"* (Kasih-Nya yang menahan Dia di sana) menjadi pusat dari lagu ini. Ini menegaskan bahwa Yesus memiliki kuasa untuk turun dari salib kapan saja, tetapi Dia memilih untuk tetap bertahan demi menebus dosa manusia.
* **Pengakuan Diri:** Lagu ini juga mengandung unsur pertobatan. Heidelberg menulisnya dengan kesadaran bahwa dirinya sendiri adalah orang yang "tidak layak," namun tetap dikasihi oleh Allah.
### 4. Penyebaran Lagu Ini
Lagu ini menjadi sangat terkenal di kalangan gereja-gereja Injili dan Pentakosta di seluruh dunia karena kesederhanaan liriknya namun bobot teologisnya yang sangat berat.
Di Indonesia, lagu ini diterjemahkan menjadi **"Kar’na Kasih-Nya"** dan sering dinyanyikan dalam ibadah Jumat Agung atau perjamuan kudus. Versi bahasa Indonesia berhasil menangkap esensi asli dari Heidelberg, yaitu rasa syukur yang mendalam atas karya penyelamatan Tuhan.
### Intisari Pesan Lagu
Secara ringkas, kisah dibalik lagu ini adalah **sebuah respon dari hati yang hancur karena menyadari besarnya kasih Tuhan.** E.C. Heidelberg ingin setiap orang yang menyanyikan lagu ini berhenti sejenak dan berpikir:
1. Kita sering menyalahkan "paku" atau "para prajurit Romawi" atas kematian Yesus.
2. Namun, kebenaran rohaninya adalah bahwa **Yesus memberikan nyawa-Nya secara sukarela.**
3. Satu-satunya alasan mengapa Dia tidak memilih untuk menyelamatkan diri-Nya sendiri adalah karena Dia mengasihi Anda dan saya.
**Kesimpulan:**
Lagu *It Was Love* adalah sebuah monumen pujian bagi "cinta yang rela berkorban" (*sacrificial love*). Heidelberg menulis lagu ini sebagai pengingat abadi bahwa di atas salib, Allah tidak sedang menunjukkan kekuatan-Nya untuk menghancurkan, melainkan kekuatan kasih-Nya untuk memulihkan.
Cross Reference
NKB 85
Kar'na KasihNya
NKB
Sama Tema
Pernyataan Keyakinan Iman
Aku Percaya
KK
Andaikan, Yesus, 'Kau Bukan Milikku
KK
Bukanlah Kepada Kami
KK
Dalam Nama Yesus
KK
Di Bawah Salib Yesus
KK
Nun Di Bukit Yang Jauh
KK
Segala Benua Dan Langit Penuh
KK
Sejak 'Ku Ikut Tuhanku
KK
Seluruh Umat Tuhan
KK
Tuhan Allah Gembalaku
KK
T'lah Kutemukan Dasar Kuat
KK
Tuhan Bentengku
KK
Tuhanku Berjanji
KK
Tuhanku, Pimpinlah
KK
Yesus Tetap Mengasihi Aku
KK
Yesusku Cukup Bagiku
KK