NKB
Kar'na KasihNya
It Was Love
Informasi Lagu
85
Nomor
Kode
NKB 85
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Metronom
0
Jumlah Bait
2 bait
Style
LoveSong
Pencipta Lagu
E.C. Heidelberg
Pencipta Syair
E.C. Heidelberg
Penerjemah
K.P. Nugroho
Cross Ref.
KK 366
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
2 bait
Mengapa Yesus turun dari sorga,
masuk dunia g’lap penuh cela;
berdoa dan bergumul dalam taman,
cawan pahit pun dit’rimaNya?
Mengapa Yesus menderita, didera,
dan mahkota duri pun dipakaiNya?
Mengapa Yesus mati bagi saya?
KasihNya, ya kar’na kasihNya.
Mengapa Yesus mau pegang tanganku,
bila ‘ku di jalan tersesat?
Mengapa Yesus b’ri ‘ku kekuatan,
bila jiwaku mulai penat?
Mengapa Yesus mau menanggung dosaku,
b’ri ‘ku damai serta sukacitaNya?
Mengapa Dia mau melindungiku?
KasihNya, ya kar’na kasihNya.
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"Kar’na Kasih-Nya"** (judul asli bahasa Inggris: ***"It Was Love"***) yang ditulis oleh **E.C. Heidelberg** adalah sebuah narasi tentang refleksi iman yang mendalam, kerendahan hati, dan pengakuan atas kasih karunia Tuhan yang tidak layak diterima manusia.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Sosok E.C. Heidelberg
E.C. Heidelberg bukanlah seorang komposer musik populer dalam industri sekuler, melainkan seorang hamba Tuhan dan penulis lagu rohani yang hidupnya didedikasikan untuk pelayanan. Lagu ini lahir dari perenungan pribadinya mengenai pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.
### 2. Inspirasi Utama: Pengorbanan di Kalvari
Lagu *It Was Love* tidak lahir dari sebuah kejadian dramatis yang spesifik (seperti kecelakaan atau tragedi), melainkan dari **proses perenungan teologis yang mendalam**.
Heidelberg tergerak oleh pertanyaan yang sering muncul dalam benak orang percaya: *"Mengapa Yesus mau menderita sedemikian rupa untuk manusia yang berdosa?"*
Dalam liriknya, ia mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan satu alasan tunggal: **Kasih (Love).**
* **Poin Refleksi:** Heidelberg merenungkan betapa Yesus yang tidak berdosa mau menanggung kutuk, rasa sakit, dan penghinaan. Ia menyadari bahwa bukan paku yang menahan Yesus di kayu salib, melainkan kasih-Nya kepada umat manusia. Inilah inti dari pesan lagu tersebut: *It was love, not the nails, that held Him there.*
### 3. Makna Lirik yang Mendalam
Lagu ini ditulis dengan struktur yang sangat personal, di mana penulis seolah-olah "melihat" langsung kejadian di Bukit Golgota.
* **Bukan Paku, Tapi Kasih:** Kalimat ikonik *"It was love that held Him there"* (Kasih-Nya yang menahan Dia di sana) menjadi pusat dari lagu ini. Ini menegaskan bahwa Yesus memiliki kuasa untuk turun dari salib kapan saja, tetapi Dia memilih untuk tetap bertahan demi menebus dosa manusia.
* **Pengakuan Diri:** Lagu ini juga mengandung unsur pertobatan. Heidelberg menulisnya dengan kesadaran bahwa dirinya sendiri adalah orang yang "tidak layak," namun tetap dikasihi oleh Allah.
### 4. Penyebaran Lagu Ini
Lagu ini menjadi sangat terkenal di kalangan gereja-gereja Injili dan Pentakosta di seluruh dunia karena kesederhanaan liriknya namun bobot teologisnya yang sangat berat.
Di Indonesia, lagu ini diterjemahkan menjadi **"Kar’na Kasih-Nya"** dan sering dinyanyikan dalam ibadah Jumat Agung atau perjamuan kudus. Versi bahasa Indonesia berhasil menangkap esensi asli dari Heidelberg, yaitu rasa syukur yang mendalam atas karya penyelamatan Tuhan.
### Intisari Pesan Lagu
Secara ringkas, kisah dibalik lagu ini adalah **sebuah respon dari hati yang hancur karena menyadari besarnya kasih Tuhan.** E.C. Heidelberg ingin setiap orang yang menyanyikan lagu ini berhenti sejenak dan berpikir:
1. Kita sering menyalahkan "paku" atau "para prajurit Romawi" atas kematian Yesus.
2. Namun, kebenaran rohaninya adalah bahwa **Yesus memberikan nyawa-Nya secara sukarela.**
3. Satu-satunya alasan mengapa Dia tidak memilih untuk menyelamatkan diri-Nya sendiri adalah karena Dia mengasihi Anda dan saya.
**Kesimpulan:**
Lagu *It Was Love* adalah sebuah monumen pujian bagi "cinta yang rela berkorban" (*sacrificial love*). Heidelberg menulis lagu ini sebagai pengingat abadi bahwa di atas salib, Allah tidak sedang menunjukkan kekuatan-Nya untuk menghancurkan, melainkan kekuatan kasih-Nya untuk memulihkan.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Sosok E.C. Heidelberg
E.C. Heidelberg bukanlah seorang komposer musik populer dalam industri sekuler, melainkan seorang hamba Tuhan dan penulis lagu rohani yang hidupnya didedikasikan untuk pelayanan. Lagu ini lahir dari perenungan pribadinya mengenai pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.
### 2. Inspirasi Utama: Pengorbanan di Kalvari
Lagu *It Was Love* tidak lahir dari sebuah kejadian dramatis yang spesifik (seperti kecelakaan atau tragedi), melainkan dari **proses perenungan teologis yang mendalam**.
Heidelberg tergerak oleh pertanyaan yang sering muncul dalam benak orang percaya: *"Mengapa Yesus mau menderita sedemikian rupa untuk manusia yang berdosa?"*
Dalam liriknya, ia mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan satu alasan tunggal: **Kasih (Love).**
* **Poin Refleksi:** Heidelberg merenungkan betapa Yesus yang tidak berdosa mau menanggung kutuk, rasa sakit, dan penghinaan. Ia menyadari bahwa bukan paku yang menahan Yesus di kayu salib, melainkan kasih-Nya kepada umat manusia. Inilah inti dari pesan lagu tersebut: *It was love, not the nails, that held Him there.*
### 3. Makna Lirik yang Mendalam
Lagu ini ditulis dengan struktur yang sangat personal, di mana penulis seolah-olah "melihat" langsung kejadian di Bukit Golgota.
* **Bukan Paku, Tapi Kasih:** Kalimat ikonik *"It was love that held Him there"* (Kasih-Nya yang menahan Dia di sana) menjadi pusat dari lagu ini. Ini menegaskan bahwa Yesus memiliki kuasa untuk turun dari salib kapan saja, tetapi Dia memilih untuk tetap bertahan demi menebus dosa manusia.
* **Pengakuan Diri:** Lagu ini juga mengandung unsur pertobatan. Heidelberg menulisnya dengan kesadaran bahwa dirinya sendiri adalah orang yang "tidak layak," namun tetap dikasihi oleh Allah.
### 4. Penyebaran Lagu Ini
Lagu ini menjadi sangat terkenal di kalangan gereja-gereja Injili dan Pentakosta di seluruh dunia karena kesederhanaan liriknya namun bobot teologisnya yang sangat berat.
Di Indonesia, lagu ini diterjemahkan menjadi **"Kar’na Kasih-Nya"** dan sering dinyanyikan dalam ibadah Jumat Agung atau perjamuan kudus. Versi bahasa Indonesia berhasil menangkap esensi asli dari Heidelberg, yaitu rasa syukur yang mendalam atas karya penyelamatan Tuhan.
### Intisari Pesan Lagu
Secara ringkas, kisah dibalik lagu ini adalah **sebuah respon dari hati yang hancur karena menyadari besarnya kasih Tuhan.** E.C. Heidelberg ingin setiap orang yang menyanyikan lagu ini berhenti sejenak dan berpikir:
1. Kita sering menyalahkan "paku" atau "para prajurit Romawi" atas kematian Yesus.
2. Namun, kebenaran rohaninya adalah bahwa **Yesus memberikan nyawa-Nya secara sukarela.**
3. Satu-satunya alasan mengapa Dia tidak memilih untuk menyelamatkan diri-Nya sendiri adalah karena Dia mengasihi Anda dan saya.
**Kesimpulan:**
Lagu *It Was Love* adalah sebuah monumen pujian bagi "cinta yang rela berkorban" (*sacrificial love*). Heidelberg menulis lagu ini sebagai pengingat abadi bahwa di atas salib, Allah tidak sedang menunjukkan kekuatan-Nya untuk menghancurkan, melainkan kekuatan kasih-Nya untuk memulihkan.