NKB
Sambil Kepalamu Engkau Tundukkan
And Now Beloved Lord Thy Soul Resigning
Informasi Lagu
79
Nomor
Kode
NKB 79
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Metronom
0
Pencipta Lagu
Johann Gottfried Schinkt
Pencipta Syair
Johann Gottfried Schinkt
Penerjemah
B. Maruta
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Sambil kepalaMu Engkau tundukkan
dan berseru dengan suara besar,
jiwaMu, ya Penebus, ‘Kau serahkan
kepada BapaMu dengan sedar.
Rela ‘Kau, Tuhan, memikul sengsara
pun rela Dikau menghadapi maut.
Di dalam matiMu tampak sejaht’ra
sampai ke akhirnya, ya Anak Daud.
Ya Jurus’lamatku, ‘pabila nanti
‘ku meninggalkan alam yang fana.
B’rilah ‘ku damaiMu di dalam hati
dan pada jalanku t’rangMu baka.
B’ri mataku t’rus memandang salibMu
di kala t’lah menjelang ajalku.
Sambil terus ‘ku dipimpin tanganMu,
b’rilah ‘ku masuk perhentianMu.
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Sambil Kepalamu Engkau Tundukkan"** (dalam bahasa Inggris berjudul *And Now, Beloved Lord, Thy Soul Resigning*) adalah sebuah kidung atau himne yang sangat menyentuh hati, yang berfokus pada momen kematian Yesus Kristus di kayu salib.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Penulis Lirik: Johann Gottfried Schicht (bukan Schinkt)
Penting untuk meluruskan sedikit mengenai namanya: penulis lirik aslinya adalah **Johann Gottfried Schicht** (1753–1823), seorang komponis, konduktor, dan organis berkebangsaan Jerman yang sangat berpengaruh pada masanya. Ia adalah *Thomaskantor* (pemimpin musik di Gereja St. Thomas, Leipzig), jabatan yang pernah dipegang oleh J.S. Bach.
Namun, lirik aslinya dalam bahasa Jerman berjudul ***"Nun zeuchst du hin, du edles Seelenleben"***. Lirik ini kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Inggris dengan judul *“And Now, Beloved Lord, Thy Soul Resigning”*.
### 2. Konteks Teologis: Perenungan Jumat Agung
Lagu ini bukan lahir dari sebuah peristiwa dramatis personal penulisnya, melainkan lahir dari **tradisi liturgi Gereja Lutheran Jerman** yang sangat mendalam pada abad ke-18.
* **Fokus pada "Penyerahan Diri":** Lirik ini ditulis sebagai bentuk perenungan (meditasi) atas saat-saat terakhir Yesus sebelum menghembuskan napas terakhir-Nya. Kata "Sambil Kepalamu Engkau Tundukkan" merujuk langsung pada ayat Alkitab **Yohanes 19:30**: *"Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: 'Sudah selesai.' Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya."*
* **Makna Kedamaian:** Berbeda dengan lagu-lagu Jumat Agung yang mungkin menekankan rasa sakit fisik, lagu ini menekankan sisi "penyerahan diri" yang tenang. Ini adalah momen di mana Yesus secara sadar menyerahkan roh-Nya kepada Bapa.
### 3. Makna Lirik
Lirik ini mengajak jemaat untuk merenungkan kedekatan hubungan antara manusia dan Tuhan melalui kematian-Nya. Secara emosional, lagu ini membawa pendengar untuk:
1. **Menyaksikan Kematian-Nya:** Mengingat bahwa Tuhan rela menundukkan kepala-Nya (mati) demi menebus dosa manusia.
2. **Respons Manusia:** Setelah melihat pengorbanan tersebut, penulis mengajak pendengar untuk juga menyerahkan hidup mereka kepada Tuhan, seolah-olah "menundukkan kepala" dalam ketaatan dan penyerahan diri.
3. **Harapan Kebangkitan:** Meskipun bertema kematian, lagu ini biasanya memiliki nada yang tenang dan penuh harap, karena dalam teologi Kristiani, penyerahan diri Yesus di salib adalah jalan menuju kebangkitan.
### 4. Penggunaan dalam Ibadah
Lagu ini menjadi sangat populer dalam buku-buku nyanyian gereja (hymnal) di seluruh dunia karena nadanya yang khusyuk dan melankolis. Dalam tradisi gereja di Indonesia, lagu ini sering dinyanyikan dalam ibadah **Jumat Agung** atau **Perjamuan Kudus**.
Melodinya yang sederhana namun mendalam memungkinkan jemaat untuk masuk ke dalam suasana kontemplatif—suasana di mana kita berhenti sejenak dari kesibukan dunia untuk menghargai harga yang telah dibayar oleh Yesus.
### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **pengabdian musikal seorang komponis gereja**. Johann Gottfried Schicht menggunakan keahliannya untuk menerjemahkan ayat Alkitab yang paling krusial dalam iman Kristen—yaitu momen penyerahan nyawa Yesus—ke dalam bahasa musik yang puitis.
Lagu ini tetap relevan hingga hari ini karena fungsinya yang abadi: menjadi jembatan bagi manusia untuk merasakan kerendahan hati Tuhan yang mau menundukkan kepala-Nya demi keselamatan dunia.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Penulis Lirik: Johann Gottfried Schicht (bukan Schinkt)
Penting untuk meluruskan sedikit mengenai namanya: penulis lirik aslinya adalah **Johann Gottfried Schicht** (1753–1823), seorang komponis, konduktor, dan organis berkebangsaan Jerman yang sangat berpengaruh pada masanya. Ia adalah *Thomaskantor* (pemimpin musik di Gereja St. Thomas, Leipzig), jabatan yang pernah dipegang oleh J.S. Bach.
Namun, lirik aslinya dalam bahasa Jerman berjudul ***"Nun zeuchst du hin, du edles Seelenleben"***. Lirik ini kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Inggris dengan judul *“And Now, Beloved Lord, Thy Soul Resigning”*.
### 2. Konteks Teologis: Perenungan Jumat Agung
Lagu ini bukan lahir dari sebuah peristiwa dramatis personal penulisnya, melainkan lahir dari **tradisi liturgi Gereja Lutheran Jerman** yang sangat mendalam pada abad ke-18.
* **Fokus pada "Penyerahan Diri":** Lirik ini ditulis sebagai bentuk perenungan (meditasi) atas saat-saat terakhir Yesus sebelum menghembuskan napas terakhir-Nya. Kata "Sambil Kepalamu Engkau Tundukkan" merujuk langsung pada ayat Alkitab **Yohanes 19:30**: *"Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: 'Sudah selesai.' Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya."*
* **Makna Kedamaian:** Berbeda dengan lagu-lagu Jumat Agung yang mungkin menekankan rasa sakit fisik, lagu ini menekankan sisi "penyerahan diri" yang tenang. Ini adalah momen di mana Yesus secara sadar menyerahkan roh-Nya kepada Bapa.
### 3. Makna Lirik
Lirik ini mengajak jemaat untuk merenungkan kedekatan hubungan antara manusia dan Tuhan melalui kematian-Nya. Secara emosional, lagu ini membawa pendengar untuk:
1. **Menyaksikan Kematian-Nya:** Mengingat bahwa Tuhan rela menundukkan kepala-Nya (mati) demi menebus dosa manusia.
2. **Respons Manusia:** Setelah melihat pengorbanan tersebut, penulis mengajak pendengar untuk juga menyerahkan hidup mereka kepada Tuhan, seolah-olah "menundukkan kepala" dalam ketaatan dan penyerahan diri.
3. **Harapan Kebangkitan:** Meskipun bertema kematian, lagu ini biasanya memiliki nada yang tenang dan penuh harap, karena dalam teologi Kristiani, penyerahan diri Yesus di salib adalah jalan menuju kebangkitan.
### 4. Penggunaan dalam Ibadah
Lagu ini menjadi sangat populer dalam buku-buku nyanyian gereja (hymnal) di seluruh dunia karena nadanya yang khusyuk dan melankolis. Dalam tradisi gereja di Indonesia, lagu ini sering dinyanyikan dalam ibadah **Jumat Agung** atau **Perjamuan Kudus**.
Melodinya yang sederhana namun mendalam memungkinkan jemaat untuk masuk ke dalam suasana kontemplatif—suasana di mana kita berhenti sejenak dari kesibukan dunia untuk menghargai harga yang telah dibayar oleh Yesus.
### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **pengabdian musikal seorang komponis gereja**. Johann Gottfried Schicht menggunakan keahliannya untuk menerjemahkan ayat Alkitab yang paling krusial dalam iman Kristen—yaitu momen penyerahan nyawa Yesus—ke dalam bahasa musik yang puitis.
Lagu ini tetap relevan hingga hari ini karena fungsinya yang abadi: menjadi jembatan bagi manusia untuk merasakan kerendahan hati Tuhan yang mau menundukkan kepala-Nya demi keselamatan dunia.