Informasi Lagu
84
Nomor
Do = C
Nada Dasar
Kode
NKB 84
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Nada Dasar
Do = C
Ketukan
6 ketuk ketuk
Metronom
0
Jumlah Bait
4 bait
Pencipta Lagu
Philip P. Bliss
Pencipta Syair
Frances Ridley Havergal
Penerjemah
Tim Nyanyian GKI
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
‘Ku b’rikan bagimu tubuhKu, darahKu, engkau pun ‘Ku tebus, selamat jiwamu. Bagimu ‘Ku b’ri hidupKu; apakah balasmu? Bagimu ‘Ku b’ri hidupKu; apakah balasmu?
TahtaKu mulia; dan rumah yang gerlap, telah ‘Ku tinggalkan, demi dunia gelap. ‘Ku tinggalkan semuanya; apakah balasmu? ‘Ku tinggalkan semuanya; apakah balasmu?
‘Ku sudah disesah, tersiksa dan pedih, supaya hilanglah dosamu yang keji. ‘Ku pikul salib bagimu; apakah balasmu? ‘Ku pikul salib bagimu; apakah balasmu?
Dan dari rumahKu, ‘Ku bawa bagimu kes’lamatan penuh, ampunan, kasihKu. Bagimu ‘Ku b’ri kurnia; apakah balasmu? Bagimu ‘Ku b’ri kurnia; apakah balasmu?
Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — NKB 84 1
Slide 2 — NKB 84 2
Slide 3 — NKB 84 3
Slide 4 — NKB 84 4
Partitur / Not
Partitur Chord NKB 84
Sejarah Lagu
Lagu **"Ku B’rikan Bagimu Tubuh-Ku, Darah-Ku"** (dalam bahasa Inggris berjudul **"I Gave My Life for Thee"**) memiliki kisah yang sangat menyentuh, yang melibatkan dua tokoh besar dalam sejarah musik gerejawi: **Frances Ridley Havergal** (penulis lirik) dan **Philip P. Bliss** (komposer musiknya).

Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu tersebut:

### 1. Inspirasi Frances Ridley Havergal (1858)
Frances Ridley Havergal adalah seorang penulis puisi dan himne asal Inggris yang sangat saleh. Lirik lagu ini lahir ketika ia berusia 22 tahun.

Kisah bermula saat ia sedang berkunjung ke Düsseldorf, Jerman. Suatu hari, saat ia sedang beristirahat, ia melihat sebuah lukisan besar di sebuah galeri seni. Lukisan itu adalah karya Domenico Feti yang menggambarkan **Yesus Kristus yang sedang menderita di kayu salib** dengan mahkota duri.

Di bawah lukisan tersebut, terdapat tulisan dalam bahasa Jerman: *"Dies habe Ich für dich erlitten; was hast du für Mich getan?"* (Artinya: **"Ini telah Kuderita bagimu; apa yang telah kauperbuat bagi-Ku?"**).

Saat membaca kalimat itu, Frances merasa seolah-olah Tuhan Yesus sedang menatapnya langsung dan bertanya kepadanya secara pribadi. Ia sangat tersentuh sehingga ia duduk dan langsung menulis lirik lagu tersebut saat itu juga. Ia menuliskan jawabannya kepada Tuhan atas pengorbanan-Nya di kayu salib.

### 2. Awalnya Hampir Dibuang
Menariknya, saat pertama kali menulis puisi tersebut, Frances merasa bahwa bait-bait yang ia tulis kurang memuaskan dan dianggapnya "kurang sempurna". Ia sempat meremas kertas berisi lirik tersebut dan **membuangnya ke dalam perapian.**

Namun, kertas itu tidak terbakar sepenuhnya. Kertas itu jatuh di bagian pinggir perapian dan tidak musnah. Ayahnya, William Henry Havergal, kemudian menemukan puisi itu, membacanya, dan merasa bahwa kata-katanya sangat indah serta sarat dengan iman yang mendalam. Sang ayah kemudian mendorong Frances untuk menyimpannya dan menyempurnakannya.

### 3. Bertemu dengan Philip P. Bliss
Bertahun-tahun kemudian, puisi tersebut diterbitkan. Philip P. Bliss, seorang musisi evangelis terkenal di Amerika Serikat yang sering bekerja sama dengan D.L. Moody, menemukan lirik tersebut.

Bliss sangat terkesan dengan pesan lagu itu. Pada tahun 1871, Bliss mengarang melodi yang kita kenal sekarang—melodi yang tenang, kontemplatif, namun penuh penyerahan diri. Kombinasi antara lirik yang introspektif dari Havergal dan melodi yang syahdu dari Bliss membuat lagu ini segera menjadi sangat populer dalam kebaktian-kebaktian kebangunan rohani di akhir abad ke-19.

### Makna Mendalam
Lagu ini bukan sekadar nyanyian, melainkan sebuah "perjanjian pribadi" antara orang percaya dengan Tuhan.

* **Bait pertama:** Mengingatkan pendengar akan harga yang dibayar Yesus (darah dan nyawa) agar manusia tidak binasa.
* **Bait berikutnya:** Menanyakan respon kita—waktu kita, hidup kita, talenta kita, dan kasih kita—apakah sudah kita berikan kembali kepada Tuhan?

### Fakta Menarik
Philip P. Bliss sendiri dikenal sangat mencintai lagu ini. Seringkali, sebelum ia bernyanyi, ia akan menceritakan kisah di balik lukisan tersebut kepada jemaat, agar mereka memahami bahwa lagu itu adalah sebuah pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap orang secara pribadi: *"Apa yang telah kauperbuat bagi-Ku?"*

Hingga hari ini, lagu ini tetap menjadi salah satu himne klasik yang paling kuat dalam mendorong refleksi diri mengenai makna pengabdian kepada Tuhan.