Informasi Lagu
666
Nomor
Kode
KK 666
Buku
Kidung Keesaan
Metronom
0
Pencipta Lagu
Kitab Nyanyian Freylinghausen
Pencipta Syair
Herman Adriaan Bruining
Cross Ref.
KJ 326
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 5 bait
Pujian malam kunyanyikan; syukur, ya Tuhan, padaMu. Meskipun sinar surya hilang, Engkau tetap cahayaku. Tiada sayang ibu-bapak yang menandingi sayangMu: Tak putus ku Kau pelihara, Kau Sumber rahmat bagiku.
Dengan setia Kau menjaga, mengasuh dan membimbingku. Engkau sertaku tiap saat, pun dalam susah dan keluh. Sekarang tiba malam hari; tubuhku melepas lelah. Telah Kautolong dari pagi: syukurku, Tuhan trimalah!
Anugrah yang Engkau berikan tak beralaskan jasaku: jikalau dosaku Kauingat ku layak trima murkaMu. Syukur, di dalam darah Kristus pengampunanMu Tertera dan oleh pendamaian itu Kaubuat hatiku lega.
Ya Tuhan, malam ini juga padaMu aku berserah. Semoga ku bernyanyi pula ketika fajar merekah. Dan bila Kau memanggil aku selagi aku terlelap, Kiranya di depan takhtaMu sejahteraMu kukecap.
Kutahu siapa ku percaya, baik siang atau malam pun: Kau Gunung Batu keslamatan, landasan pengharapanku! Sesudah hariku berakhir dan aku tamat berlelah, kan Kusyukuri hari-hari yang tlah kaubri di dunia.
Slide Lirik 5 slide
Slide 1 — KK 666 1
Slide 2 — KK 666 2
Slide 3 — KK 666 3
Slide 4 — KK 666 4
Slide 5 — KK 666 5
Partitur / Not
Partitur Chord KK 666
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"Pujian Malam Kunyanyikan"** (atau dalam bahasa aslinya: *"K Wil U, O God, Mijn Dank Betalen"*) adalah sebuah perjalanan spiritual yang melintasi lintas budaya, bahasa, dan era. Lagu ini memiliki akar yang dalam pada tradisi Pietisme Jerman yang kemudian diterjemahkan dan diadaptasi ke dalam bahasa Belanda, hingga akhirnya menjadi bagian dari khazanah lagu gerejawi di Indonesia.

Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:

### 1. Akar dari "Freylinghausensches Gesangbuch"
Lagu ini berakar dari tradisi **Pietisme**, sebuah gerakan dalam agama Kristen Protestan di Jerman pada abad ke-17 dan ke-18 yang menekankan kesalehan pribadi dan kedalaman hubungan batin dengan Tuhan.

Kumpulan nyanyian yang menjadi sumber lagu ini adalah ***Freylinghausensches Gesangbuch***, yang disusun oleh **Johann Anastasius Freylinghausen** (1670–1739). Freylinghausen adalah seorang tokoh penting dalam gerakan Pietisme di Halle, Jerman. Buku nyanyian yang diterbitkannya menjadi salah satu koleksi paling berpengaruh pada zamannya karena memuat lagu-lagu yang sangat emosional dan berfokus pada ucapan syukur pribadi kepada Tuhan di penghujung hari.

### 2. Versi Belanda: Herman Adriaan Bruining
Versi yang kita kenal sekarang dengan lirik *"K wil U, o God, mijn dank betalen"* bukanlah terjemahan kata demi kata dari bahasa Jerman ke bahasa Indonesia, melainkan adaptasi dari bahasa Belanda.

**Herman Adriaan Bruining** (1866–1936) adalah tokoh yang bertanggung jawab atas penulisan lirik versi Belanda ini. Bruining adalah seorang pendeta dan teolog Belanda yang sangat berperan dalam kehidupan gerejawi di masa itu. Ia dikenal karena kemampuannya mengolah teks-teks rohani klasik ke dalam bahasa Belanda yang puitis dan menyentuh hati.

Dalam liriknya, Bruining menangkap esensi dari sebuah doa malam:
* **Pengakuan:** Mengakui kasih setia Tuhan sepanjang hari yang telah dilewati.
* **Penyerahan:** Menyerahkan diri ke dalam perlindungan Tuhan saat malam tiba.
* **Rasa Syukur:** Sebagai jawaban atas berkat yang diterima, seseorang ingin "membayar" (bukan dengan uang, melainkan dengan pujian) kepada Tuhan.

### 3. Masuk ke Indonesia (PKJ 28)
Di Indonesia, lagu ini dimasukkan ke dalam **Pelengkap Kidung Jemaat (PKJ) nomor 28**. Proses masuknya lagu ini ke dalam buku nyanyian gereja di Indonesia merupakan bagian dari upaya gereja-gereja di Indonesia untuk memperkaya khazanah musik liturgi dengan lagu-lagu klasik yang memiliki kedalaman teologis.

**Makna Lirik dalam Bahasa Indonesia:**
Dalam versi Indonesia, bait-baitnya menekankan bahwa meskipun hari telah berakhir dan dunia menjadi gelap, kasih Tuhan tetap terang.
* *“Pujian malam kunyanyikan, syukur bagi-Mu, ya Tuhan”* — Ini adalah deklarasi bahwa pujian tidak hanya dilakukan di pagi hari, tetapi juga menjadi penutup yang manis di malam hari.
* *“Tuntunlah aku dalam tidur, aman dalam naungan-Mu”* — Melambangkan penyerahan total seseorang kepada Tuhan sebelum beristirahat, sebuah tema klasik dalam tradisi Kristen yang menekankan bahwa Tuhan tidak pernah terlelap (Mazmur 121:4).

### 4. Mengapa Lagu Ini Begitu Menyentuh?
Kekuatan lagu ini terletak pada **melodinya yang tenang dan meditatif**. Lagu ini tidak dirancang untuk kemegahan, melainkan untuk keheningan.
* **Konteks Waktu:** Dinyanyikan di penghujung hari, saat seseorang melepaskan lelah setelah beraktivitas.
* **Koneksi Historis:** Dengan menyanyikan lagu ini, jemaat hari ini sebenarnya sedang terhubung dengan tradisi orang-orang Kristen di Jerman dan Belanda berabad-abad lalu yang juga berdoa dengan cara yang sama.

### Kesimpulan
Lagu "Pujian Malam Kunyanyikan" adalah sebuah jembatan sejarah. Ia lahir dari semangat kesalehan Pietisme Jerman (Freylinghausen), diolah dengan kepiawaian sastra Belanda (Bruining), dan kini menetap di hati umat Kristen Indonesia sebagai doa malam yang menenangkan. Lagu ini mengingatkan kita bahwa tidak peduli bahasa apa yang digunakan, rasa syukur atas pemeliharaan Tuhan adalah bahasa universal yang melampaui batas waktu dan negara.