Informasi Lagu
670
Nomor
Kode
KK 670
Buku
Kidung Keesaan
Metronom
0
Pencipta Lagu
Clement Cotterill Scholefield
Pencipta Syair
John Ellerton
Cross Ref.
KJ 328
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 5 bait
Ya Tuhan, hari tlah berakhir, Kau ganti malam yang teduh; pujian pagi kami ganti pujian malam bagiMu.
Syukur! GerejaMu berjaga menurut jam gilirannya, tetap umatMu beribadah seputar bola dunia.
Berurut pulau dan benua menyambut fajar yang cerah, tak putus umatMu semua bersilih-ganti menyembah.
Di sini hari sudah lalu, di sana pagi merekah: selalu oleh suara baru karyaMu dimuliakanlah!
Sedangkan kuasa dunia goncang, kekal, ya Tuhan, takhtaMu; akhirnya bangsa-bangsa datang menyambut KerajaanMu.
Slide Lirik 3 slide
Slide 1 — KK 670 1
Slide 2 — KK 670 2
Slide 3 — KK 670 3
Partitur / Not
Partitur Chord KK 670
Sejarah Lagu
Lagu himne **"Ya Tuhan, Hari T’lah Berakhir"** (judul asli bahasa Inggris: *"The Day Thou Gavest, Lord, Is Ended"*) adalah salah satu lagu pujian penutup yang paling dicintai di seluruh dunia. Lagu ini memiliki sejarah yang menarik, tidak hanya karena maknanya yang dalam, tetapi juga karena peranannya dalam sejarah Kekaisaran Inggris.

Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu ini:

### 1. Latar Belakang Penulis (John Ellerton)
Lirik lagu ini ditulis oleh **Rev. John Ellerton (1826–1893)**, seorang pendeta Gereja Inggris yang dikenal sebagai pakar himnologi (ilmu tentang lagu pujian). Ellerton memiliki dedikasi besar untuk menyusun buku-buku nyanyian jemaat.

Pada tahun 1870, ia menulis lagu ini untuk sebuah koleksi himne berjudul *A Liturgy for Missionary Stations*. Ellerton ingin menciptakan lagu yang cocok untuk menutup kebaktian malam, sebuah lagu yang memberikan rasa damai setelah hari yang panjang dan melelahkan.

### 2. Makna Lirik: "Matahari yang Tidak Pernah Terbenam"
Lirik lagu ini sangat puitis dan teologis. Inti dari lagunya adalah pengakuan bahwa **Tuhan tidak pernah tidur**. Saat jemaat di suatu tempat menutup kebaktian di malam hari, di sisi lain dunia, orang-orang Kristen lain baru saja memulai hari mereka dalam doa.

Bait yang paling terkenal adalah:
*"As o’er each continent and island, the dawn leads on another day, the voice of prayer is never silent, nor dies the strain of praise away."*
(Saat fajar menyingsing di setiap benua dan pulau, suara doa tak pernah hening, dan nyanyian pujian tak pernah berhenti).

Ini adalah pengingat bahwa gereja Tuhan bersifat universal dan penyembahan kepada Allah berlangsung terus-menerus tanpa henti di seluruh penjuru bumi.

### 3. Komposisi Musik (Clement Cotterill Scholefield)
Melodi yang sekarang kita kenal dengan nama **"St. Clement"** diciptakan oleh **Clement Cotterill Scholefield (1839–1904)**. Scholefield bukanlah seorang musisi profesional murni; ia adalah seorang pendeta, namun ia memiliki bakat musik yang luar biasa.

Ia menciptakan melodi ini pada tahun 1874. Konon, ia menggubah melodi ini saat ia sedang menjabat sebagai pendeta di sebuah paroki di London. Melodi ini dianggap sangat sempurna karena sifatnya yang tenang, khusyuk, namun megah, sehingga sangat pas untuk mengakhiri kebaktian.

### 4. Lagu untuk Ratu Victoria
Popularitas lagu ini melonjak secara global karena sebuah peristiwa sejarah yang sangat megah. Pada tahun **1897**, lagu ini dinyanyikan dalam perayaan **"Diamond Jubilee"** (peringatan 60 tahun takhta) **Ratu Victoria**.

Peristiwa tersebut menjadi simbol kebesaran Kekaisaran Inggris yang wilayahnya tersebar di seluruh dunia (yang saat itu dikenal dengan istilah *"the empire on which the sun never sets"*—kerajaan di mana matahari tidak pernah terbenam). Karena isi lagu ini berbicara tentang matahari yang terus menyinari bumi dan doa yang tidak pernah berhenti, lagu ini dianggap sebagai refleksi sempurna bagi kekuasaan Ratu Victoria yang mencakup wilayah global.

### 5. Warisan Lagu
Sejak perayaan Diamond Jubilee tersebut, lagu ini menjadi lagu "wajib" di banyak gereja berbahasa Inggris dan kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

Lagu ini memiliki kesan nostalgia dan kedamaian. Bagi banyak orang, bait terakhir yang berbunyi:
*"So be it, Lord; Thy throne shall never, like earth’s proud empires, pass away; Thy kingdom stands, and grows forever, till all Thy creatures own Thy sway."*
(Jadilah demikian, Tuhan; takhta-Mu tidak akan pernah lenyap seperti kekaisaran dunia yang angkuh; Kerajaan-Mu berdiri dan terus tumbuh, hingga semua ciptaan-Mu mengakui kuasa-Mu)

Lagu ini menjadi pengingat bahwa meskipun kekuasaan manusia (seperti kekaisaran) bisa runtuh, Kerajaan Allah bersifat kekal dan melampaui batas waktu serta geografi.

---
**Dalam konteks Indonesia:**
Lagu ini sering muncul di buku nyanyian gereja (seperti *Kidung Jemaat* No. 23 atau buku nyanyian lainnya) dengan terjemahan yang tetap mempertahankan nuansa refleksi malam hari dan penyerahan diri kepada Tuhan sebelum beristirahat.