Informasi Lagu
673
Nomor
Kode
KK 673
Buku
Kidung Keesaan
Metronom
0
Pencipta Lagu
Tradisional Filipina
Pencipta Syair
Daniel Thambyrajah Niles
Penerjemah
Hermanus Arie Pandopo (H.A. Van Dop)
Cross Ref.
GB 197, KMM 114, NKB 109
Dengarkan di YouTube
Slide Lirik 3 slide
Slide 1 — KK 673 1
Slide 2 — KK 673 2
Slide 3 — KK 673 3
Partitur / Not
Partitur Chord KK 673
Sejarah Lagu
Lagu **"Bapa di Surga"** (atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan judul *Father in Heaven*) merupakan salah satu lagu pujian yang sangat ikonik di banyak gereja, terutama di Asia.

Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita perlu melihat dua sisi: **asal-usul melodinya** yang berasal dari tradisi Filipina dan **makna liriknya** yang ditulis oleh seorang teolog terkemuka asal Sri Lanka, **D.T. Niles (Daniel Thambyrajah Niles).**

Berikut adalah detail kisahnya:

### 1. Melodi: Warisan Tradisi Filipina
Melodi lagu ini berasal dari lagu rakyat Filipina yang sangat tua. Dalam banyak buku nyanyian gereja (*hymnal*), lagu ini sering diberi keterangan sebagai *"Philippine Folk Melody"* (Melodi Rakyat Filipina).

Lagu ini awalnya adalah sebuah lagu pengantar tidur atau nyanyian rakyat yang mencerminkan kedekatan masyarakat Filipina dengan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Masyarakat Filipina dikenal memiliki budaya musikal yang kuat, di mana melodi-melodi rakyat sering kali memiliki nuansa yang teduh, melankolis, namun penuh harapan. Melodi ini dipilih karena kesederhanaannya yang mampu menyentuh relung hati, sangat cocok untuk sebuah doa yang bersifat intim kepada Tuhan.

### 2. Lirik: Karya D.T. Niles
Lirik lagu ini ditulis oleh **D.T. Niles (1908–1970)**, seorang teolog, pengkhotbah, dan pemimpin gereja asal Sri Lanka (dulu Ceylon). Niles adalah tokoh penting dalam gerakan ekumenis dunia dan merupakan salah satu tokoh Asia yang paling berpengaruh dalam pemikiran teologi Kristen abad ke-20.

**Konteks Pemikiran Niles:**
D.T. Niles dikenal dengan kutipannya yang sangat terkenal: *"Kristen adalah hanya seorang pengemis yang memberitahu pengemis lain di mana mencari roti."* Filosofi ini tercermin dalam lagu "Bapa di Surga".

Niles menulis lirik ini sebagai sebuah **doa pengakuan akan ketidakberdayaan manusia dan ketergantungan penuh kepada Tuhan.** Ia tidak ingin membuat lagu yang terdengar megah dan sombong, melainkan lagu yang mengakui bahwa manusia sering kali tersesat, lemah, dan membutuhkan bimbingan Bapa.

### 3. Makna Mendalam Lagu Ini
Lirik "Bapa di Surga" (versi bahasa Indonesia: *Bapa di surga, kami menyembah-Mu...*) berfokus pada tiga aspek utama:

* **Penyembahan yang Intim:** Lagu ini bukan tentang teologi yang rumit, melainkan percakapan seorang anak dengan Bapanya. Ini adalah bentuk *surrender* (penyerahan diri).
* **Pengakuan Kebutuhan:** Niles, sebagai seorang teolog yang hidup di tengah pergolakan dunia pasca-perang dan tantangan di negara-negara dunia ketiga, ingin menekankan bahwa kekuatan manusia sangat terbatas. Hanya "Bapa di Surga" yang menjadi tempat perlindungan.
* **Universalitas:** Karena menggunakan melodi rakyat (bukan komposisi musik klasik Barat yang kompleks), lagu ini menjadi sangat mudah diterima oleh berbagai lapisan masyarakat di Asia. Ini menjadi simbol "Teologi Asia"—di mana iman Kristen tidak harus selalu dibungkus dengan tradisi Barat, tetapi bisa menggunakan nada dan perasaan yang akrab dengan budaya lokal.

### 4. Mengapa Lagu Ini Menjadi Legendaris?
Lagu ini menjadi "jembatan" bagi banyak orang Kristen di Asia untuk memuji Tuhan dengan identitas mereka sendiri.
* **Kesederhanaan:** Tidak ada perubahan nada yang sulit, membuat semua orang bisa menyanyikannya dengan khusyuk.
* **Kedalaman Rohani:** Meskipun sederhana, kata-kata yang dipilih Niles sangat teologis. Ia menggambarkan Tuhan sebagai pribadi yang mendengarkan, mengasihi, dan menuntun.

### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini adalah **pertemuan antara kehangatan budaya Asia (lewat melodi Filipina) dengan kedalaman pemikiran teologis seorang tokoh besar Asia (D.T. Niles).** Lagu ini diciptakan bukan untuk pertunjukan, melainkan sebagai alat bagi setiap orang untuk datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati—seorang anak yang datang kepada Bapanya—tepat seperti apa yang diinginkan oleh D.T. Niles dalam seluruh karya pelayanan hidupnya.

Saat kita menyanyikannya hari ini, kita sebenarnya sedang menyanyikan sebuah doa lintas budaya yang merayakan hubungan personal antara Sang Pencipta dengan ciptaan-Nya yang lemah.