Informasi Lagu
675
Nomor
Kode
KK 675
Buku
Kidung Keesaan
Metronom
0
Pencipta Lagu
William Batchelder Bradbury
Pencipta Syair
William Walford
Cross Ref.
KJ 454
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Indahnya saat yang teduh menghadap takhta Bapaku: kunaikkan doa padaNya, sehingga hatiku lega. Di waktu bimbang dan gentar, jiwaku aman dan segar; ku bebas dari seteru di dalam saat yang teduh.
Indahnya saat yang teduh dengan bahagia penuh. Betapa rindu hatiku kepada saat doaku. Bersama orang yang kudus kucari wajah Penebus; Dengan gembira dan teguh kunanti saat yang teduh.
Indahnya saat yang teduh penampung permohonanku kepada yang Mahabenar yang bersedia mendengar. Sejak kulihat wajahNya, ku yakin pada firmanNya dan menyerahkan bimbangku di dalam saat yang teduh.
Slide Lirik 3 slide
Slide 1 — KK 675 1
Slide 2 — KK 675 2
Slide 3 — KK 675 3
Partitur / Not
Partitur Chord KK 675
Sejarah Lagu
Lagu **"Indahnya Saat Yang Teduh"** (judul asli: *Sweet Hour of Prayer*) adalah salah satu lagu himne paling dicintai di dunia. Dibalik melodi yang tenang dan liriknya yang menyentuh, terdapat kisah tentang seorang pria yang menemukan kekuatan luar biasa di tengah kelemahan fisiknya.

Berikut adalah detail kisah di balik terciptanya lagu tersebut:

### 1. Sosok Penulis Lirik: William Walford
Lirik lagu ini ditulis oleh **William Walford**, seorang pendeta buta yang tinggal di Coleshill, Inggris, pada awal abad ke-19. Walford bukanlah seorang penyair profesional atau tokoh besar, melainkan seorang hamba Tuhan yang hidup sangat sederhana.

Meskipun ia buta, Walford dikenal sebagai pria yang memiliki ingatan yang luar biasa tajam dan kehidupan doa yang sangat mendalam. Baginya, doa bukan sekadar rutinitas, melainkan "pelarian" dan sumber kekuatan utama di tengah keterbatasan fisiknya.

Pada tahun 1845, Walford menuliskan puisi ini sebagai ungkapan hati atas persekutuan pribadinya dengan Tuhan. Ia menulisnya di atas kertas dan memberikannya kepada seorang teman. Tidak ada catatan yang mengatakan bahwa Walford berniat menjadikan tulisan itu sebagai lagu untuk dinyanyikan publik; itu murni curahan hatinya.

### 2. Ditemukan oleh Seseorang yang Berjasa
Setelah ditulis, naskah puisi tersebut sempat tersimpan cukup lama. Kemudian, naskah itu sampai ke tangan **Thomas Salmon**, seorang editor surat kabar di New York, Amerika Serikat.

Salmon menyadari kedalaman spiritual dari bait-bait tersebut. Ia kemudian mengirimkan puisi itu ke kantor majalah *New York Observer* pada tahun 1845. Di sana, puisi tersebut diterbitkan dengan judul *"Sweet Hour of Prayer"*. Publik langsung jatuh hati pada lirik tersebut karena pesannya yang sangat relevan bagi siapa saja yang sedang mengalami masa-masa sulit.

### 3. Peran William Batchelder Bradbury
Kunci mengapa lagu ini kemudian menjadi sangat populer di seluruh dunia adalah keterlibatan **William Batchelder Bradbury**.

Bradbury adalah seorang musisi dan komposer himne yang sangat produktif di Amerika pada abad ke-19. Ketika ia membaca lirik karya Walford tersebut, ia merasa sangat terharu. Bradbury kemudian menciptakan melodi yang lembut, meditatif, dan tenang untuk mengiringi lirik tersebut.

Lagu ini pertama kali diterbitkan dalam buku himne Bradbury yang berjudul *Golden Chain* pada tahun 1861. Perpaduan antara lirik Walford yang penuh kerendahan hati dan melodi Bradbury yang elegan menjadikan lagu ini abadi.

### 4. Makna di Balik Lirik
Lagu ini sangat kuat karena menangkap esensi dari **"Doa sebagai tempat perlindungan."**

* **"Indahnya saat yang teduh"**: Menggambarkan bahwa di tengah dunia yang bising dan penuh tekanan, ada waktu di mana seseorang bisa "menepi" untuk berbicara dengan Tuhan.
* **"Melepaskan beban"**: Liriknya secara jujur mengakui bahwa hidup ini penuh dengan "duka dan kesukaran". Doa menjadi sarana untuk menyerahkan beban tersebut kepada Tuhan yang setia.
* **"Sesuai janji Firman-Mu"**: Menegaskan bahwa doa bukan sekadar curhat, melainkan keyakinan pada janji Tuhan bahwa Ia akan mendengar dan memberikan pertolongan.

### Mengapa lagu ini begitu membekas?
Hingga hari ini, lagu ini sering dinyanyikan dalam saat teduh pribadi, kebaktian doa, bahkan di saat-saat duka (pemakaman). Kisahnya mengajarkan kita bahwa **karya besar tidak selalu lahir dari tempat yang megah.**

Seorang pria buta yang hidup sederhana di sebuah desa di Inggris telah memberikan warisan rohani bagi jutaan orang selama hampir dua abad. Kisahnya mengingatkan bahwa di saat kita merasa lemah atau tidak berdaya, saat itulah kita justru menemukan kekuatan terbesar melalui persekutuan dengan Tuhan.

**Bait pertama yang legendaris:**
*Sweet hour of prayer! sweet hour of prayer!*
*That calls me from a world of care,*
*And bids me at my Father's throne*
*Make all my wants and wishes known.*

(Indahnya saat yang teduh, yang panggil aku menjauh, dari dunia yang menyesal, menghadap Bapa yang kekal.)