KK
Ya Bapa, Jamah Anakmu
Dear Lord And Father Of Mankind
Informasi Lagu
683
Nomor
Kode
KK 683
Buku
Kidung Keesaan
Metronom
0
Pencipta Lagu
Frederick Charles Maker
Pencipta Syair
Johngreenleaf Whittler
Cross Ref.
KJ 459
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
5 bait
Ya Bapa, jamah anakMu serta ampunilah, lenyapkan kerisauanku,
berilah kedamaianMu dan hidup berserah.
MuridMu taat mendengar panggilan kasihMu; jadikan
aku pun sedar mengikutMu dengan benar dan beriman teguh.
Betapa suci dan teduh, betapa khidmatnya, ketika Yesus
bertelut esa denganMu, Allahku, di damai yang baka.
Ya Tuhanku, tenangkanlah gejolak nafsuku; prahara, api
dan gempa redalah bila kudengar suaraMu yang lembut.
Turunkanlah sejahtera yang murni bak embun, teduhkan hati
yang resah; di hidupku wujudkanlah indahnya damaiMu.
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu "Dear Lord and Father of Mankind" (dalam bahasa Indonesia sering dikenal dengan judul "Ya Bapa, Jamah Anakmu" atau "Tuhan, Bapa Umat Manusia") adalah salah satu contoh bagaimana sebuah bagian dari karya sastra yang lebih besar dan kritis dapat diangkat menjadi sebuah himne rohani yang berdiri sendiri, dicintai, dan memiliki makna yang mendalam.
Mari kita selami kisah ini dengan detail:
---
### **1. Sang Penyair: John Greenleaf Whittier (1807-1892)**
Lirik lagu ini berasal dari puisi panjang karya **John Greenleaf Whittier**, seorang penyair dan reformis sosial Amerika yang sangat berpengaruh di abad ke-19. Whittier adalah seorang Quaker (anggota Society of Friends), dan keyakinan Quakerisme sangat membentuk pandangan hidup serta karyanya.
* **Latar Belakang Quaker:** Sebagai seorang Quaker, Whittier percaya pada "cahaya batin" (Inner Light) Tuhan dalam setiap individu, kesederhanaan, penolakan terhadap ritual yang berlebihan, pacifisme, dan komitmen kuat terhadap keadilan sosial (ia adalah seorang abolisionis terkemuka). Ia sangat menentang bentuk-bentuk agama yang berfokus pada penampilan luar atau pengalaman emosional yang dangkal.
* **Gaya Menulis:** Puisi-puisinya sering kali merangkum narasi, refleksi spiritual, dan komentar sosial dengan gaya yang mudah diakses dan tulus.
### **2. Puisi Asli: "The Brewing of Soma" (1872)**
Lirik himne ini diambil dari lima bait terakhir puisi Whittier yang berjudul **"The Brewing of Soma,"** yang diterbitkan pada tahun 1872. Untuk memahami makna lagu ini, kita harus memahami konteks puisi aslinya.
* **Soma:** "Soma" adalah minuman suci yang disebutkan dalam Veda, teks-teks kuno Hindu. Minuman ini diyakini memiliki kekuatan ilahi dan dapat menginduksi pengalaman ekstatis atau halusinasi yang membuat peminumnya merasa dekat dengan para dewa. Proses "pembuatan" (brewing) soma adalah ritual penting.
* **Kritik Whittier:** Dalam puisinya, Whittier menggunakan ritual Soma sebagai metafora untuk mengkritik bentuk-bentuk kekristenan atau praktik keagamaan di zamannya yang menurutnya terlalu berfokus pada:
* **Ritualistik yang berlebihan:** Penekanan pada upacara-upacara formal yang mengabaikan inti spiritual.
* **Emosionalisme yang dangkal:** Pencarian pengalaman religius yang mendebarkan secara emosional atau sensasional, bukan transformasi batin yang tulus.
* **"Kecanduan" spiritual:** Seolah-olah mencari "mabuk" rohani melalui cara-cara buatan (mirip dengan efek Soma), bukan penyerahan diri yang tenang dan rendah hati kepada kehendak Tuhan.
* **Pengajaran yang keras dan dogmatis:** Menjauhkan orang dari kesederhanaan iman yang sejati.
Whittier melihat bahaya dalam mengejar "getaran" spiritual atau pengalaman ekstatis, yang dapat mengalihkan perhatian dari pekerjaan nyata dalam membangun karakter moral dan hubungan yang tulus dengan Tuhan. Ia berpendapat bahwa iman sejati adalah tentang kerendahan hati, ketenangan batin, dan kepatuhan yang sederhana, bukan keributan atau kemeriahan.
Puisi "The Brewing of Soma" adalah seruan keras agar umat Kristen kembali kepada kesederhanaan dan kedalaman iman yang tenang, bukan mencari "soma" spiritual mereka sendiri melalui kegembiraan yang berlebihan atau ritual yang kosong.
### **3. Lahirnya Himne: Ekstraksi dan Adaptasi**
Pada akhir abad ke-19, ketika kompilator himne mencari lirik-lirik baru yang kuat, mereka menemukan kekayaan spiritual dalam beberapa bagian puisi Whittier. Meskipun sebagian besar puisi "The Brewing of Soma" bersifat kritis dan polemik, lima bait terakhirnya menyajikan seruan yang indah dan mendalam untuk kerendahan hati, kedamaian, dan penyerahan diri.
* **Penyuntingan:** Seorang penyunting himne (sering dikaitkan dengan Garrett Horder atau beberapa kompilator lainnya) memutuskan untuk mengekstrak lima bait terakhir ini. Bait-bait ini sedikit diubah untuk menjadi lebih cocok sebagai lirik himne.
* **Pergeseran Makna:** Dengan melepaskan diri dari konteks kritik "soma" yang lebih luas, bait-bait ini berdiri sebagai doa yang universal dan kuat untuk:
* **Ketenangan jiwa:** Memohon kedamaian dari kekacauan dunia dan keributan batin.
* **Kesederhanaan iman:** Menolak ritual kosong dan kemewahan demi hubungan yang tulus dengan Tuhan.
* **Kerendahan hati:** Mengakui keterbatasan manusia dan kebutuhan akan bimbingan ilahi.
* **Penyerahan total:** "Menjatuhkan jaring kami" (dropping our nets) adalah metafora untuk meninggalkan kekhawatiran dan ambisi duniawi, mengikuti panggilan Yesus (seperti nelayan yang meninggalkan jaringnya).
* **Kemurnian hati:** Memohon agar hati dibersihkan dari keserakahan dan kesombongan.
### **4. Sang Komposer: Frederick Charles Maker (1844-1927)**
Agar lirik ini dapat dinyanyikan, ia membutuhkan melodi. Pada tahun 1887, melodi yang paling terkenal untuk lirik ini digubah oleh **Frederick Charles Maker**, seorang organis dan komposer Inggris.
* **Melodi "REPTON":** Maker menciptakan melodi yang dikenal sebagai **"REPTON."** Melodi ini tenang, khidmat, dan mengalir, sangat cocok dengan nuansa kontemplatif dan rendah hati dari lirik Whittier. Keindahan dan kesederhanaan melodi ini membantu lirik Whittier untuk menancap dalam hati banyak orang. Melodi "REPTON" sering dianggap sebagai melodi yang sempurna untuk kata-kata ini, memperkuat pesan kedamaian dan penyerahan diri.
### **5. Pesan dan Warisan Lagu**
"Dear Lord and Father of Mankind" menjadi himne yang sangat populer di gereja-gereja Protestan di seluruh dunia. Pesannya masih sangat relevan hingga saat ini:
* **Anti-materialisme dan Anti-konsumerisme:** Dalam dunia yang serba cepat dan materialistis, lagu ini menyerukan agar kita menghentikan hiruk pikuk, membuang keserakahan, dan mencari kedamaian batin.
* **Otentisitas Spiritual:** Lagu ini menantang kita untuk mencari iman yang tulus dan mendalam, bukan yang dangkal atau berfokus pada sensasi. Ini adalah himne bagi mereka yang merindukan hubungan yang jujur dan rendah hati dengan Penciptanya.
* **Ketenangan di Tengah Badai:** Liriknya menawarkan penghiburan dan harapan bagi mereka yang mencari kedamaian di tengah kekhawatiran dan tekanan hidup.
Dalam intinya, "Dear Lord and Father of Mankind" adalah sebuah doa yang kuat untuk kerendahan hati, ketenangan jiwa, kesederhanaan iman, dan penyerahan diri total kepada kehendak Tuhan, yang berasal dari sebuah kritik tajam terhadap kekristenan yang berlebihan dan dangkal pada abad ke-19, dan dihidupkan oleh melodi yang indah dari Frederick Charles Maker.
Mari kita selami kisah ini dengan detail:
---
### **1. Sang Penyair: John Greenleaf Whittier (1807-1892)**
Lirik lagu ini berasal dari puisi panjang karya **John Greenleaf Whittier**, seorang penyair dan reformis sosial Amerika yang sangat berpengaruh di abad ke-19. Whittier adalah seorang Quaker (anggota Society of Friends), dan keyakinan Quakerisme sangat membentuk pandangan hidup serta karyanya.
* **Latar Belakang Quaker:** Sebagai seorang Quaker, Whittier percaya pada "cahaya batin" (Inner Light) Tuhan dalam setiap individu, kesederhanaan, penolakan terhadap ritual yang berlebihan, pacifisme, dan komitmen kuat terhadap keadilan sosial (ia adalah seorang abolisionis terkemuka). Ia sangat menentang bentuk-bentuk agama yang berfokus pada penampilan luar atau pengalaman emosional yang dangkal.
* **Gaya Menulis:** Puisi-puisinya sering kali merangkum narasi, refleksi spiritual, dan komentar sosial dengan gaya yang mudah diakses dan tulus.
### **2. Puisi Asli: "The Brewing of Soma" (1872)**
Lirik himne ini diambil dari lima bait terakhir puisi Whittier yang berjudul **"The Brewing of Soma,"** yang diterbitkan pada tahun 1872. Untuk memahami makna lagu ini, kita harus memahami konteks puisi aslinya.
* **Soma:** "Soma" adalah minuman suci yang disebutkan dalam Veda, teks-teks kuno Hindu. Minuman ini diyakini memiliki kekuatan ilahi dan dapat menginduksi pengalaman ekstatis atau halusinasi yang membuat peminumnya merasa dekat dengan para dewa. Proses "pembuatan" (brewing) soma adalah ritual penting.
* **Kritik Whittier:** Dalam puisinya, Whittier menggunakan ritual Soma sebagai metafora untuk mengkritik bentuk-bentuk kekristenan atau praktik keagamaan di zamannya yang menurutnya terlalu berfokus pada:
* **Ritualistik yang berlebihan:** Penekanan pada upacara-upacara formal yang mengabaikan inti spiritual.
* **Emosionalisme yang dangkal:** Pencarian pengalaman religius yang mendebarkan secara emosional atau sensasional, bukan transformasi batin yang tulus.
* **"Kecanduan" spiritual:** Seolah-olah mencari "mabuk" rohani melalui cara-cara buatan (mirip dengan efek Soma), bukan penyerahan diri yang tenang dan rendah hati kepada kehendak Tuhan.
* **Pengajaran yang keras dan dogmatis:** Menjauhkan orang dari kesederhanaan iman yang sejati.
Whittier melihat bahaya dalam mengejar "getaran" spiritual atau pengalaman ekstatis, yang dapat mengalihkan perhatian dari pekerjaan nyata dalam membangun karakter moral dan hubungan yang tulus dengan Tuhan. Ia berpendapat bahwa iman sejati adalah tentang kerendahan hati, ketenangan batin, dan kepatuhan yang sederhana, bukan keributan atau kemeriahan.
Puisi "The Brewing of Soma" adalah seruan keras agar umat Kristen kembali kepada kesederhanaan dan kedalaman iman yang tenang, bukan mencari "soma" spiritual mereka sendiri melalui kegembiraan yang berlebihan atau ritual yang kosong.
### **3. Lahirnya Himne: Ekstraksi dan Adaptasi**
Pada akhir abad ke-19, ketika kompilator himne mencari lirik-lirik baru yang kuat, mereka menemukan kekayaan spiritual dalam beberapa bagian puisi Whittier. Meskipun sebagian besar puisi "The Brewing of Soma" bersifat kritis dan polemik, lima bait terakhirnya menyajikan seruan yang indah dan mendalam untuk kerendahan hati, kedamaian, dan penyerahan diri.
* **Penyuntingan:** Seorang penyunting himne (sering dikaitkan dengan Garrett Horder atau beberapa kompilator lainnya) memutuskan untuk mengekstrak lima bait terakhir ini. Bait-bait ini sedikit diubah untuk menjadi lebih cocok sebagai lirik himne.
* **Pergeseran Makna:** Dengan melepaskan diri dari konteks kritik "soma" yang lebih luas, bait-bait ini berdiri sebagai doa yang universal dan kuat untuk:
* **Ketenangan jiwa:** Memohon kedamaian dari kekacauan dunia dan keributan batin.
* **Kesederhanaan iman:** Menolak ritual kosong dan kemewahan demi hubungan yang tulus dengan Tuhan.
* **Kerendahan hati:** Mengakui keterbatasan manusia dan kebutuhan akan bimbingan ilahi.
* **Penyerahan total:** "Menjatuhkan jaring kami" (dropping our nets) adalah metafora untuk meninggalkan kekhawatiran dan ambisi duniawi, mengikuti panggilan Yesus (seperti nelayan yang meninggalkan jaringnya).
* **Kemurnian hati:** Memohon agar hati dibersihkan dari keserakahan dan kesombongan.
### **4. Sang Komposer: Frederick Charles Maker (1844-1927)**
Agar lirik ini dapat dinyanyikan, ia membutuhkan melodi. Pada tahun 1887, melodi yang paling terkenal untuk lirik ini digubah oleh **Frederick Charles Maker**, seorang organis dan komposer Inggris.
* **Melodi "REPTON":** Maker menciptakan melodi yang dikenal sebagai **"REPTON."** Melodi ini tenang, khidmat, dan mengalir, sangat cocok dengan nuansa kontemplatif dan rendah hati dari lirik Whittier. Keindahan dan kesederhanaan melodi ini membantu lirik Whittier untuk menancap dalam hati banyak orang. Melodi "REPTON" sering dianggap sebagai melodi yang sempurna untuk kata-kata ini, memperkuat pesan kedamaian dan penyerahan diri.
### **5. Pesan dan Warisan Lagu**
"Dear Lord and Father of Mankind" menjadi himne yang sangat populer di gereja-gereja Protestan di seluruh dunia. Pesannya masih sangat relevan hingga saat ini:
* **Anti-materialisme dan Anti-konsumerisme:** Dalam dunia yang serba cepat dan materialistis, lagu ini menyerukan agar kita menghentikan hiruk pikuk, membuang keserakahan, dan mencari kedamaian batin.
* **Otentisitas Spiritual:** Lagu ini menantang kita untuk mencari iman yang tulus dan mendalam, bukan yang dangkal atau berfokus pada sensasi. Ini adalah himne bagi mereka yang merindukan hubungan yang jujur dan rendah hati dengan Penciptanya.
* **Ketenangan di Tengah Badai:** Liriknya menawarkan penghiburan dan harapan bagi mereka yang mencari kedamaian di tengah kekhawatiran dan tekanan hidup.
Dalam intinya, "Dear Lord and Father of Mankind" adalah sebuah doa yang kuat untuk kerendahan hati, ketenangan jiwa, kesederhanaan iman, dan penyerahan diri total kepada kehendak Tuhan, yang berasal dari sebuah kritik tajam terhadap kekristenan yang berlebihan dan dangkal pada abad ke-19, dan dihidupkan oleh melodi yang indah dari Frederick Charles Maker.
Cross Reference
KJ 459
Ya Bapa, Jamah AnakMu
KJ
Sama Tema
Doa Setiap Waktu
B'rilah, Bapa, Hari Ini
KK
Tuhan, Dengarlah Doa Kami
KK
Bapa Di Surga
KK
Dengarkanlah, Ya Tuhanku
KK
Indahnya Saat Yang Teduh
KK
Jika Jiwaku Berdoa
KK
Naikkan Doa Tak Enggan
KK
Bapa, Aku Berdoa
KK
Tuhan, Ajarkanlah Kehendakmu
KK
Tuhan, Engkaulah Hadir
KK
Tuhanku, Bila Hati Kawanku
KK
Ya Tuhan, Isi Hidupku
KK
Ya Tuhan, Tiap Jam
KK
Yesus Kawan Yang Sejati
KK