Informasi Lagu
130
Nomor
do = G
Nada Dasar
Kode
KKb 130
Buku
Kidung Kabungahan
Nada Dasar
do = G
Ketukan
4/4 ketuk
Metronom
0
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 1 bait
1. Geura halaturkeun, wilujeng sumping, ka Anu kersa lungsur ti sawarga, eta Anu mulya sumping ka ieu dunya Kersa jadi sami sareng manusa, salam, salam 2. Geura halaturkeun, wilujeng sumping eh, dulur dulur hayu ngabageakeun, sepuh, anon, murangkalih, urang ngadeuheus Gusti teh ngersakeun nu mulya, nu hina, kenging rahmat 3. Geura halaturkeun, wilujeng sumping, ku hate anu bungah ngucap sukur Yesus anu mulya lebet ka alam dunya Eta kanyataan sih kurnia Allah, ka sadaya 1. Segera sampaikan, selamat datang pada yang sudi turun, dari surga Yang Mulia sudi datang ke dalam dunia Sudi jadi sama dengan manusia salam, salam 2. Segera sampaikan, selamat datang hai saudara semua, kita sambut tua, muda, kanak-kanak, marilah datang Tuhan menghendaki yang mulia yang hina, dapat rakhmat 3. Segera sampaikan, selamat datang dengan hati gembira, ucap syukur Yesus Yang Mulia datang ke dalam dunia Itu kenyataan karunia Allah pada kita
Slide Lirik 3 slide
Slide 1 — KKb 130 1
Slide 2 — KKb 130 2
Slide 3 — KKb 130 3
Partitur / Not
Partitur Chord KKb 130
Sejarah Lagu
Kisah detail di balik lagu Natal yang indah ini, "Nu zijt wellekome," yang kita kenal di Indonesia sebagai "S'lamat, S'lamat Datang."

Meskipun Anda menyebutnya sebagai karya Jerman, penting untuk dicatat bahwa lagu "Nu zijt wellekome" (yang diterjemahkan menjadi "S'lamat, S'lamat Datang" dalam bahasa Indonesia) sesungguhnya berasal dari **Belanda**, atau lebih tepatnya wilayah **Flanders yang berbahasa Belanda** (sekarang bagian dari Belgia dan Belanda). Ini adalah salah satu nyanyian Natal tertua yang diketahui dalam bahasa Belanda, dengan akarnya tertanam kuat di akhir Abad Pertengahan.

### Asal-Usul dan Sejarah Awal

1. **Abad Pertengahan Akhir (Abad ke-14 - 15 Masehi):** Melodinya diperkirakan berasal dari abad ke-14, sementara teks tertulis lengkap yang paling awal ditemukan berasal dari abad ke-15. Pada masa itu, banyak lagu rohani, terutama yang berhubungan dengan hari raya, berawal dari tradisi lisan, dinyanyikan oleh rakyat jelata dan para biarawan, seringkali menggabungkan elemen religius dengan melodi rakyat yang akrab. Ini mencerminkan perpaduan antara spiritualitas formal gereja dengan ekspresi iman yang lebih populer dan mudah diakses oleh masyarakat umum.

2. **Anonimitas:** Seperti banyak lagu rakyat dan rohani Abad Pertengahan, pencipta asli melodi dan liriknya tidak diketahui. Lagu ini adalah buah dari tradisi komunal, berkembang dan diteruskan dari generasi ke generasi melalui nyanyian.

3. **Teks Asli dalam Bahasa Belanda Pertengahan:** Lirik aslinya ditulis dalam bahasa Belanda Pertengahan (Middelnederlands) dan secara sederhana namun mendalam menyambut kelahiran Yesus Kristus. Bait pertamanya berbunyi:
"Nu zijt wellekome, Jesu, lieve Heer,
Gij komt van hoghe, al van de weerdigheid."
(Sekarang selamat datang, Yesus, Tuhan yang kekasih,
Engkau datang dari ketinggian, dari martabat [keilahian].)

4. **Publikasi Pertama (Abad ke-17):** Salah satu koleksi cetak tertua yang memuat lagu ini adalah **"Cantiones natalitiae"**, sebuah kumpulan lagu Natal yang diterbitkan di Belanda pada abad ke-17. Ini menunjukkan bahwa pada saat itu, lagu ini sudah menjadi bagian integral dari perayaan Natal di wilayah tersebut dan telah menjadi favorit yang diakui. Koleksi ini membantu melestarikan banyak lagu Natal kuno yang mungkin akan hilang jika tidak didokumentasikan.

### Makna Lirik dan Tema

Lagu "Nu zijt wellekome" adalah sebuah seruan sukacita dan penyambutan atas kedatangan Juruselamat. Melalui liriknya, ia menggambarkan elemen-elemen kunci kisah Natal dengan kesederhanaan yang mengharukan:

* **Penyambutan Kristus:** Inti lagu ini adalah undangan tulus untuk menyambut Yesus, sang Raja dan Tuhan yang datang dari surga.
* **Kisah Natal:** Liriknya perlahan-lahan mengisahkan kembali peristiwa Natal:
* Kelompok gembala yang bergegas ke Betlehem.
* Melihat bayi Yesus terbaring di palungan.
* Malaikat yang bernyanyi dan memuji Allah di tempat tinggi.
* Maria dan Yusuf yang hadir bersama bayi kudus.
* **Kerendahan Hati dan Kegembiraan:** Meskipun Yesus adalah Raja dan Tuhan, kelahiran-Nya terjadi dalam kesederhanaan yang ekstrem, di kandang dan palungan. Lagu ini merayakan kontras ini, memancarkan kegembiraan yang murni dan tanpa pretensi.
* **Panggilan Iman:** Lagu ini juga berfungsi sebagai pengingat bagi para pendengarnya untuk merayakan dan merenungkan makna kelahiran Kristus.

### Melodi yang Abadi

Melodi lagu ini sangat sederhana namun indah, bersifat strophic (berulang dengan lirik berbeda), yang membuatnya mudah dihafal dan dinyanyikan oleh jemaat, bahkan anak-anak. Irama yang lembut dan mengalir menciptakan suasana khidmat namun penuh sukacita, sempurna untuk perayaan Natal. Kesederhanaan inilah yang mungkin menjadi salah satu rahasia di balik daya tahannya selama berabad-abad.

### Penyebaran dan Adaptasi Global (Termasuk Indonesia)

Dari akarnya di Flanders, lagu ini menyebar ke seluruh Eropa dan kemudian ke seluruh dunia melalui misi gereja dan adaptasi budaya:

1. **Eropa:** Lagu ini diterjemahkan ke berbagai bahasa Eropa lainnya, meskipun mungkin tidak selalu sepopuler lagu-lagu Natal lain yang berasal dari Jerman atau Inggris.
2. **Indonesia ("S'lamat, S'lamat Datang"):** Di Indonesia, lagu ini dikenal luas dengan judul **"S'lamat, S'lamat Datang"**. Terjemahan ini berhasil menangkap semangat asli lagu tersebut dengan sangat baik, menjadi salah satu nyanyian wajib di gereja-gereja Protestan maupun Katolik selama masa Natal. Ia tercantum dalam buku nyanyian gereja seperti Kidung Jemaat (No. 120) dan Nyanyian Rohani. Kehadirannya di Indonesia menunjukkan kekuatan universal pesan Natal dan kemampuannya melintasi batas bahasa dan budaya.
3. **Kesalahpahaman "Jerman":** Mungkin karena banyaknya interaksi budaya dan penerjemahan antar bahasa Eropa pada masa lalu, atau karena kekayaan tradisi nyanyian Natal Jerman yang luas, terkadang ada kesalahpahaman mengenai asal-usul lagu ini. Namun, para ahli musikologi sepakat bahwa "Nu zijt wellekome" adalah permata asli dari tradisi Carol Belanda.

### Mengapa Lagu Ini Bertahan?

Lagu "Nu zijt wellekome" / "S'lamat, S'lamat Datang" terus dicintai dan dinyanyikan hingga hari ini karena beberapa alasan:

* **Pesan Abadi:** Pesan tentang harapan, cinta, dan kegembiraan atas kelahiran Yesus adalah abadi dan relevan bagi setiap generasi.
* **Kesederhanaan yang Mendalam:** Baik lirik maupun melodinya sederhana, tetapi memiliki kedalaman emosional dan spiritual yang kuat.
* **Koneksi dengan Tradisi:** Lagu ini menghubungkan para penyanyi dan pendengarnya dengan tradisi Natal yang kaya, memberikan rasa kontinuitas dan nostalgia.
* **Cocok untuk Semua Usia:** Baik anak-anak maupun orang dewasa dapat dengan mudah menyanyikan dan menikmati lagu ini.

Singkatnya, "S'lamat, S'lamat Datang" adalah sebuah warisan musikal yang berharga dari Abad Pertengahan Belanda, yang melampaui waktu dan batas geografis untuk menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Natal di seluruh dunia, termasuk di hati masyarakat Kristen di Indonesia. Ini adalah bukti kekuatan lagu sederhana yang mampu menyampaikan pesan ilahi dengan kehangatan dan sukacita yang tak lekang oleh waktu.