KKB
Pangangon Nu Keur Ngajaraga
Gembala Yang sedang Menjaga
Informasi Lagu
122
Nomor
do = G
Nada Dasar
Kode
KKb 122
Buku
Kidung Kabungahan
Nada Dasar
do = G
Ketukan
6/8 ketuk
Metronom
0
Jumlah Bait
2 bait
Cross Ref.
MK 37, NKB 62, KK 171, GB 149
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
2 bait
Pangangon nu keur ngajaraga, reuwaseun kaliwat saking
Ningal malaikat sarumping, cahayana murubmubyar
Eh, maraneh ulah sarieun, kami teh masihan warta
beja kabungahan rosa pisan, keur sabangsa sakabeh
Peuting ieu geus diwedalkeun, Mesias di Kota Daud
Dina pangokopan diebogkeun, ku lalamakan dibungkus
Bral pangangon ninggalkeun tegal,
brek sujud ka Murangkalih, marulangna pinuh kabungahan
pek embarkeun jeung muji
1.
Gembala yang sedang menjaga terkejutlah amat sangat
Melihat malaikat datang, cahayanya gilang gemilang
Hai, kalian janganlah takut, kami memberi berita
Warta kesukaan besar sekali untuk semua bangsa
2.
Malam ini sudahlah lahir Mesias di Kota Daud
Pada palungan dibaringkanNya, dengan lampin dibungkus
Berangkat gembala tinggalkan padang
Bersujud kepada Bayi, pulang penuh kesukaan
umumkan dan pujilah
Slide Lirik
2 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"De Herdertjes lagen bij nachte"** (Para Gembala Berjaga di Malam Hari) adalah salah satu lagu Natal paling ikonik dan tradisional dari Belanda. Lagu ini bukan sekadar lagu anak-anak, melainkan sebuah karya yang memiliki akar sejarah panjang dalam tradisi Kristiani di Negeri Kincir Angin.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Asal-Usul dan Penulis
Lagu ini pertama kali muncul dalam sebuah buku nyanyian Katolik Belanda berjudul ***"Oude en Nieuwe Lof-zangen"*** yang diterbitkan pada tahun **1850**. Penulis liriknya adalah **Jan Pieter Heije** (1809–1876), seorang dokter sekaligus penyair terkenal asal Belanda yang dikenal karena kontribusinya pada budaya populer melalui lagu-lagu anak dan lagu rakyat.
Meskipun liriknya dikaitkan dengan Heije, lagu ini sebenarnya merupakan adaptasi dari tradisi lisan yang sudah ada jauh sebelumnya. Melodi yang kita kenal sekarang bersifat anonim (tidak diketahui pencipta pastinya) dan berakar dari melodi rakyat tradisional Eropa yang telah mengalami beberapa kali penyesuaian selama berabad-abad.
### 2. Makna Lirik
Lirik lagu ini menceritakan kembali peristiwa Alkitab dari **Lukas 2:8-12**, di mana para gembala yang sedang berjaga di padang rumput pada malam hari dikunjungi oleh malaikat Tuhan yang membawa kabar tentang kelahiran Yesus di Betlehem.
**Struktur liriknya sangat sederhana dan repetitif:**
* **Bait pertama:** Menggambarkan para gembala yang menjaga domba-domba mereka di malam hari.
* **Refrain (Bagian paling terkenal):** *"Zingt jubelt nu, zingt jubelt nu, zingt jubelt nu, van blijdschap!"* (Bernyanyi dan bersukacitalah sekarang, karena sukacita!).
* **Bait selanjutnya:** Menceritakan tentang malaikat yang memberikan kabar gembira bahwa Juruselamat telah lahir di sebuah palungan di Betlehem.
Kesederhanaan lirik ini membuatnya sangat mudah diingat oleh anak-anak, itulah sebabnya lagu ini menjadi standar wajib di sekolah-sekolah dan gereja-gereja di Belanda saat perayaan Natal.
### 3. Mengapa Lagu Ini Begitu Populer?
Ada beberapa alasan mengapa *De Herdertjes* menjadi sangat legendaris di Belanda:
* **Identitas Budaya:** Lagu ini menjadi bagian dari identitas budaya Natal Belanda yang egaliter. Tidak seperti lagu-lagu Natal dari Inggris atau Jerman yang sering kali bernuansa megah dan klasik (seperti *Silent Night*), lagu Belanda ini terasa sangat "membumi" dan ceria.
* **Nuansa Keriaan:** Berbeda dengan banyak lagu Natal yang bernada syahdu atau sendu, *De Herdertjes* memiliki ritme yang cepat dan bersemangat. Bagian refrein "Zingt jubelt nu" sering dinyanyikan dengan energi yang tinggi, mencerminkan kegembiraan para gembala yang terburu-buru pergi ke Betlehem.
* **Warisan Pendidikan:** Karena ditulis oleh Jan Pieter Heije yang sangat peduli pada pendidikan anak, lagu ini dimasukkan ke dalam buku-buku pelajaran sekolah pada abad ke-19 dan awal ke-20. Hal ini memastikan lagu tersebut diwariskan dari generasi ke generasi.
### 4. Perbedaan dengan Versi Indonesia
Banyak orang Indonesia mengenal lagu ini melalui terjemahan **"Gembala yang ada di padang"** yang sering dinyanyikan di sekolah Minggu atau kebaktian Natal. Dalam versi Indonesia, beberapa penyesuaian dilakukan agar nadanya pas dengan bahasa, namun esensi kegembiraan yang melompat-lompat (seperti sedang berlari ke arah palungan) tetap dipertahankan.
### Kesimpulan
Kisah di balik *De Herdertjes lagen bij nachte* adalah kisah tentang bagaimana sebuah narasi Alkitab yang kuno diubah menjadi sebuah lagu rakyat yang ceria. Ia tidak mencoba untuk menjadi karya seni yang rumit, melainkan menjadi sarana bagi masyarakat (terutama anak-anak) untuk ikut serta merayakan Natal dengan cara yang sederhana, gembira, dan penuh sukacita—persis seperti semangat para gembala saat pertama kali mendengar kabar kelahiran Yesus.
Jika Anda mendengarkan lagu ini hari ini di Belanda, Anda akan merasakan suasana yang sangat nostalgia, karena lagu ini seolah-olah menjadi "pintu masuk" bagi setiap orang Belanda ke dalam kenangan masa kecil mereka di musim Natal.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Asal-Usul dan Penulis
Lagu ini pertama kali muncul dalam sebuah buku nyanyian Katolik Belanda berjudul ***"Oude en Nieuwe Lof-zangen"*** yang diterbitkan pada tahun **1850**. Penulis liriknya adalah **Jan Pieter Heije** (1809–1876), seorang dokter sekaligus penyair terkenal asal Belanda yang dikenal karena kontribusinya pada budaya populer melalui lagu-lagu anak dan lagu rakyat.
Meskipun liriknya dikaitkan dengan Heije, lagu ini sebenarnya merupakan adaptasi dari tradisi lisan yang sudah ada jauh sebelumnya. Melodi yang kita kenal sekarang bersifat anonim (tidak diketahui pencipta pastinya) dan berakar dari melodi rakyat tradisional Eropa yang telah mengalami beberapa kali penyesuaian selama berabad-abad.
### 2. Makna Lirik
Lirik lagu ini menceritakan kembali peristiwa Alkitab dari **Lukas 2:8-12**, di mana para gembala yang sedang berjaga di padang rumput pada malam hari dikunjungi oleh malaikat Tuhan yang membawa kabar tentang kelahiran Yesus di Betlehem.
**Struktur liriknya sangat sederhana dan repetitif:**
* **Bait pertama:** Menggambarkan para gembala yang menjaga domba-domba mereka di malam hari.
* **Refrain (Bagian paling terkenal):** *"Zingt jubelt nu, zingt jubelt nu, zingt jubelt nu, van blijdschap!"* (Bernyanyi dan bersukacitalah sekarang, karena sukacita!).
* **Bait selanjutnya:** Menceritakan tentang malaikat yang memberikan kabar gembira bahwa Juruselamat telah lahir di sebuah palungan di Betlehem.
Kesederhanaan lirik ini membuatnya sangat mudah diingat oleh anak-anak, itulah sebabnya lagu ini menjadi standar wajib di sekolah-sekolah dan gereja-gereja di Belanda saat perayaan Natal.
### 3. Mengapa Lagu Ini Begitu Populer?
Ada beberapa alasan mengapa *De Herdertjes* menjadi sangat legendaris di Belanda:
* **Identitas Budaya:** Lagu ini menjadi bagian dari identitas budaya Natal Belanda yang egaliter. Tidak seperti lagu-lagu Natal dari Inggris atau Jerman yang sering kali bernuansa megah dan klasik (seperti *Silent Night*), lagu Belanda ini terasa sangat "membumi" dan ceria.
* **Nuansa Keriaan:** Berbeda dengan banyak lagu Natal yang bernada syahdu atau sendu, *De Herdertjes* memiliki ritme yang cepat dan bersemangat. Bagian refrein "Zingt jubelt nu" sering dinyanyikan dengan energi yang tinggi, mencerminkan kegembiraan para gembala yang terburu-buru pergi ke Betlehem.
* **Warisan Pendidikan:** Karena ditulis oleh Jan Pieter Heije yang sangat peduli pada pendidikan anak, lagu ini dimasukkan ke dalam buku-buku pelajaran sekolah pada abad ke-19 dan awal ke-20. Hal ini memastikan lagu tersebut diwariskan dari generasi ke generasi.
### 4. Perbedaan dengan Versi Indonesia
Banyak orang Indonesia mengenal lagu ini melalui terjemahan **"Gembala yang ada di padang"** yang sering dinyanyikan di sekolah Minggu atau kebaktian Natal. Dalam versi Indonesia, beberapa penyesuaian dilakukan agar nadanya pas dengan bahasa, namun esensi kegembiraan yang melompat-lompat (seperti sedang berlari ke arah palungan) tetap dipertahankan.
### Kesimpulan
Kisah di balik *De Herdertjes lagen bij nachte* adalah kisah tentang bagaimana sebuah narasi Alkitab yang kuno diubah menjadi sebuah lagu rakyat yang ceria. Ia tidak mencoba untuk menjadi karya seni yang rumit, melainkan menjadi sarana bagi masyarakat (terutama anak-anak) untuk ikut serta merayakan Natal dengan cara yang sederhana, gembira, dan penuh sukacita—persis seperti semangat para gembala saat pertama kali mendengar kabar kelahiran Yesus.
Jika Anda mendengarkan lagu ini hari ini di Belanda, Anda akan merasakan suasana yang sangat nostalgia, karena lagu ini seolah-olah menjadi "pintu masuk" bagi setiap orang Belanda ke dalam kenangan masa kecil mereka di musim Natal.
Cross Reference
MK 37, NKB 62, KK 171, GB 149
Gembala Yang Ada Di Padang
GB
Gembala Yang Ada Di Padang
KK
Gembaia yang ada di padang
MK
Gembala yang Ada di Padang
NKB
Sama Tema
Natal
Natal Nu Mulia
KKb
Aya Berkah Bangsa Sadaya
KKb
Dinten Ieu Urang Sadudulur
KKb
Ieu Dinten Anu Mulya
KKb
Abdi Narima Kaasihan
KKb
Abdi Teh Estu Resep
KKb
Agung Tur Mulya
KKb
Ari Tegal Jeung Tanah Keri
KKb
Aya Berkah Bangsa Sadaya
KKb
Geura Halaturkeun Wilujeng Sumping
KKb
Geura Cacawis Maneh
KKb
Hayu, Dulur Dulur
KKb
Henteu Aya Deui Beja Di Dunia
KKb
Peuting Suci Jempe Simpe
KKb
Puji Allah, Puji Allah
KKb
Tina Tunggul Isai
KKb
Tuh Malaikat Nyaranyi
KKb
Wilujeng Dinten Natal
KKb
Kaasihan Gusti Allah
KKb
Peuting Endah
KKb
Natal Sumarambah Ka Sa Alam Dunya
KKb
Natal Nugraha Pangeran
KKb
Di Efrata Di Tempat Pangangongan
KKb