KPJ
Jiwa-Raga Kawula
Informasi Lagu
161
Nomor
Kode
KPJ 161
Buku
Kidung Pasamuwan Jawi
Metronom
86
Style
Live8Beat
Cross Ref.
KJ 365B, KPKA 187, NKI 97, KPPK 350, NP 297, KPS 62
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Jiwa raga kawula konjuk mring Sang Pamarta,
mugi dados lantaran kamulyaning Pangeran,
kamulyaning Pangeran.
Tangan-suku kawula nindakken pakaryannya,
mrih sesami basuki, nampeni sihing Gusti,
nampeni sihing Gusti.
Dalah kedaling ilat nggih ngundhangken sih-rahmat,
temah asmaning Gusti datan kendhat pinuji,
datan kendhat pinuji.
Bandha lan kasugihan, wekdal, wah kasagedan,
nggih gesang sawetahnya dadya pisungsung nyata,
dadya pisungsung nyata.
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Take My Life and Let It Be"** (Tuhan, Ambil Hidupku) adalah salah satu himne yang paling dicintai di dunia. Kisah di balik lagu ini sangat menyentuh karena merupakan kristalisasi dari penyerahan diri total seorang wanita yang sakit-sakitan namun memiliki iman yang membara.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu ini:
### 1. Sosok Frances Ridley Havergal
Frances Ridley Havergal (1836–1879) adalah seorang penulis lagu rohani, penyair, dan musisi berbakat dari Inggris. Ia dikenal sebagai "Penyanyi Kerajaan" karena pengabdiannya yang luar biasa kepada Tuhan. Seumur hidupnya, ia sering menderita sakit fisik, namun ia mengubah penderitaan tersebut menjadi puisi dan melodi yang indah.
### 2. Momen Penciptaan (4 Februari 1874)
Latar belakang lagu ini terjadi ketika Frances sedang berkunjung ke rumah teman-temannya di **Areley House**, Inggris, pada awal Februari 1874.
Selama kunjungan tersebut, Frances menghabiskan waktu bersama sepuluh orang di rumah itu. Beberapa dari mereka belum mengenal Tuhan, sementara yang lain membutuhkan penguatan iman. Frances berdoa dengan sungguh-sungguh agar Tuhan menggunakan dirinya untuk menyentuh hati semua orang yang ada di rumah tersebut.
Doa itu dijawab dengan cara yang luar biasa. Pada malam tanggal 4 Februari 1874, Frances merasa Tuhan menyentuh hatinya secara mendalam. Ia merasa tergerak untuk menyerahkan setiap aspek kehidupannya—waktunya, bakatnya, suaranya, harta bendanya, hingga intelektualnya—secara total kepada Tuhan.
Dalam kegembiraan rohani yang meluap, ia menuliskan lirik lagu tersebut saat itu juga. Ia kemudian menulis dalam catatannya:
> *"Tuhan memberiku kata-kata ini satu per satu, saat aku berjalan-jalan di sepanjang koridor, dan saat aku kembali ke kamar tidurku, aku telah menyelesaikan semuanya."*
### 3. Makna Lirik: "Penyerahan Diri Total"
Lirik lagu ini unik karena merupakan daftar permohonan yang spesifik untuk penyerahan diri:
* **Waktu & Hari:** "Ambil hidupku dan biarlah kudus, bagi-Mu, Tuhan."
* **Tangan:** Untuk bekerja bagi Tuhan.
* **Kaki:** Untuk mengikuti jejak Tuhan.
* **Suara:** Untuk memuji Tuhan.
* **Bibir:** Untuk menyampaikan pesan Tuhan.
* **Harta:** Semua milik kita adalah milik-Nya.
* **Kehendak:** Agar kehendak-Nya yang terjadi, bukan kehendak kita.
Frances ingin memastikan bahwa penyerahan dirinya bukan sekadar konsep abstrak, melainkan melibatkan seluruh fungsi tubuh dan kehidupannya.
### 4. Tindakan Nyata setelah Menulis Lagu
Yang membuat lagu ini sangat otentik adalah Frances benar-benar menjalankan apa yang ia tulis. Setelah menulis lagu ini, ia melakukan tindakan konkret yang sangat radikal pada zamannya:
* **Perhiasan:** Frances mengumpulkan semua perhiasan emas dan permata miliknya yang mewah. Ia kemudian menjual semuanya dan memberikan uang hasil penjualannya kepada badan misi (Church Missionary Society). Ia merasa bahwa perhiasan tersebut tidak lagi sejalan dengan kerinduannya untuk hidup sepenuhnya bagi Tuhan.
* **Hidup Sederhana:** Setelah peristiwa itu, ia hidup dengan sangat sederhana, mengalokasikan seluruh energinya untuk menulis, mengajar, dan melayani mereka yang membutuhkan hingga akhir hayatnya pada usia 42 tahun.
### 5. Warisan
Lagu ini pertama kali dipublikasikan dalam koleksi puisi Frances berjudul *Loyal Responses* (1878). Melodi yang paling umum digunakan saat ini, yang bernama **"Hendon"**, dikomposisi oleh **Henri Abraham Cesar Malan**.
Lagu ini menjadi pengingat bagi jutaan orang Kristen di seluruh dunia bahwa menjadi milik Tuhan bukan hanya soal "berdoa", tetapi soal memberikan kendali penuh atas tangan, kaki, pikiran, dan harta kepada Sang Pencipta.
Frances Ridley Havergal meninggal lima tahun setelah menulis lagu ini, namun lirik yang ia tulis di koridor sebuah rumah di Inggris itu terus bergema di gereja-gereja di seluruh dunia hingga hari ini, menjadi doa penyerahan diri bagi siapa pun yang menyanyikannya.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu ini:
### 1. Sosok Frances Ridley Havergal
Frances Ridley Havergal (1836–1879) adalah seorang penulis lagu rohani, penyair, dan musisi berbakat dari Inggris. Ia dikenal sebagai "Penyanyi Kerajaan" karena pengabdiannya yang luar biasa kepada Tuhan. Seumur hidupnya, ia sering menderita sakit fisik, namun ia mengubah penderitaan tersebut menjadi puisi dan melodi yang indah.
### 2. Momen Penciptaan (4 Februari 1874)
Latar belakang lagu ini terjadi ketika Frances sedang berkunjung ke rumah teman-temannya di **Areley House**, Inggris, pada awal Februari 1874.
Selama kunjungan tersebut, Frances menghabiskan waktu bersama sepuluh orang di rumah itu. Beberapa dari mereka belum mengenal Tuhan, sementara yang lain membutuhkan penguatan iman. Frances berdoa dengan sungguh-sungguh agar Tuhan menggunakan dirinya untuk menyentuh hati semua orang yang ada di rumah tersebut.
Doa itu dijawab dengan cara yang luar biasa. Pada malam tanggal 4 Februari 1874, Frances merasa Tuhan menyentuh hatinya secara mendalam. Ia merasa tergerak untuk menyerahkan setiap aspek kehidupannya—waktunya, bakatnya, suaranya, harta bendanya, hingga intelektualnya—secara total kepada Tuhan.
Dalam kegembiraan rohani yang meluap, ia menuliskan lirik lagu tersebut saat itu juga. Ia kemudian menulis dalam catatannya:
> *"Tuhan memberiku kata-kata ini satu per satu, saat aku berjalan-jalan di sepanjang koridor, dan saat aku kembali ke kamar tidurku, aku telah menyelesaikan semuanya."*
### 3. Makna Lirik: "Penyerahan Diri Total"
Lirik lagu ini unik karena merupakan daftar permohonan yang spesifik untuk penyerahan diri:
* **Waktu & Hari:** "Ambil hidupku dan biarlah kudus, bagi-Mu, Tuhan."
* **Tangan:** Untuk bekerja bagi Tuhan.
* **Kaki:** Untuk mengikuti jejak Tuhan.
* **Suara:** Untuk memuji Tuhan.
* **Bibir:** Untuk menyampaikan pesan Tuhan.
* **Harta:** Semua milik kita adalah milik-Nya.
* **Kehendak:** Agar kehendak-Nya yang terjadi, bukan kehendak kita.
Frances ingin memastikan bahwa penyerahan dirinya bukan sekadar konsep abstrak, melainkan melibatkan seluruh fungsi tubuh dan kehidupannya.
### 4. Tindakan Nyata setelah Menulis Lagu
Yang membuat lagu ini sangat otentik adalah Frances benar-benar menjalankan apa yang ia tulis. Setelah menulis lagu ini, ia melakukan tindakan konkret yang sangat radikal pada zamannya:
* **Perhiasan:** Frances mengumpulkan semua perhiasan emas dan permata miliknya yang mewah. Ia kemudian menjual semuanya dan memberikan uang hasil penjualannya kepada badan misi (Church Missionary Society). Ia merasa bahwa perhiasan tersebut tidak lagi sejalan dengan kerinduannya untuk hidup sepenuhnya bagi Tuhan.
* **Hidup Sederhana:** Setelah peristiwa itu, ia hidup dengan sangat sederhana, mengalokasikan seluruh energinya untuk menulis, mengajar, dan melayani mereka yang membutuhkan hingga akhir hayatnya pada usia 42 tahun.
### 5. Warisan
Lagu ini pertama kali dipublikasikan dalam koleksi puisi Frances berjudul *Loyal Responses* (1878). Melodi yang paling umum digunakan saat ini, yang bernama **"Hendon"**, dikomposisi oleh **Henri Abraham Cesar Malan**.
Lagu ini menjadi pengingat bagi jutaan orang Kristen di seluruh dunia bahwa menjadi milik Tuhan bukan hanya soal "berdoa", tetapi soal memberikan kendali penuh atas tangan, kaki, pikiran, dan harta kepada Sang Pencipta.
Frances Ridley Havergal meninggal lima tahun setelah menulis lagu ini, namun lirik yang ia tulis di koridor sebuah rumah di Inggris itu terus bergema di gereja-gereja di seluruh dunia hingga hari ini, menjadi doa penyerahan diri bagi siapa pun yang menyanyikannya.
Cross Reference
KJ 365B, KPKA 187, NKI 97, KPPK 350, NP 297, KPS 62
Tuhan, Ambil Hidupku
KJ
Pisungsung Jiwa Raga
KPKA
Pakai Hidupku Ini
KPPK
Jiwa raga ku baktikan
KPS
Pakai Hidupku Ya Tuhan
NKI
Jiwa Raga Kubaktikan
NP
Sama Tema
Kidung Pangucap Sokur
Adrenging Tyas Kula
KPJ
Aku Tan Nate Mangerti
KPJ
Alon Sang Surya Gumiwang
KPJ
Caosna Pisungsungmu
KPJ
Ditansah Padha Bungaha
KPJ
Gesang Kawula
KPJ
Gusti, Kawula Ngaturken Badan-Nyawa
KPJ
Katur Ngarsa Paduka, Gusti
KPJ
Kawula Bombong
KPJ
Klawan Bungah Muji
KPJ
Konjuk Mring Kang Mahaagung
KPJ
Kula Ngaturken Sembah Bekti
KPJ
Kula Tansah Ngraosken Bingah
KPJ
Lah Ta Padha Mawasa
KPJ
Lamun Kawula
KPJ
Lubering Berkah Sing Gusti
KPJ
Mangga Saos Pisungsung
KPJ
Manungsa Nanem Wiji
KPJ
Mara Dha Aturna Pisungsungmu
KPJ
Mara Padha Ngaturake
KPJ
Neng Gunung Wah Neng Ngare
KPJ
Padha Saosa Sokur
KPJ
Para Manuk Ora Tau Anyebar
KPJ
Pasrah Sumarah Mring Gusti
KPJ
Pasrah Sumarah Mring Gusti
KPJ
Pasrah Sumarah Mring Gusti
KPJ
Pisungsung Kagem Gusti
KPJ
Pisungsung Konjuk Mring Gusti
KPJ
Puji Sokur Konjuk Gusti
KPJ
Puji Sokur Lan Panggunggung
KPJ
Saosna Badanmu
KPJ
Sukur Akanthi Tulus
KPJ
Sumarah Mring Allah
KPJ
Urip Kang Smesthine
KPJ