Informasi Lagu
186
Nomor
Do=Bes
Nada Dasar
Kode
KPJ 186
Buku
Kidung Pasamuwan Jawi
Nada Dasar
Do=Bes
Ketukan
4/4 ketuk
Metronom
92
Jumlah Bait
4 bait
Style
WestCoastPop, LoveSong
Pencipta Lagu
Johannes Mozes Malessy (1980)
Pencipta Syair
Johannes Mozes Malessy (1980)
Cross Ref.
KJ 450, KK 381
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
Urip kang samesthine, lamun tansah ngucap sukur, Neng ngarsane Sang Kristus, tan pantes takabur. Reff Jroning susah lan bungah sadhengah kaanan, Aku angidung memuji sukur, yeku karsa-Nya!
Nadyan prahara nempuh sarta ombak anyempyuh, aku trus muji sukur, konjuk mring Gustiku. Reff
Kanggo apa uripmu, lamun tanpa ngucap sukur? Kristus dadya Panebus, pasrah kanthi tulus. Reff
Dhuh Gusti mugi rena nampi atur kawula, Roh Suci anunggila, nuntun ing samarga. Reff
Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — KPJ 186 1
Slide 2 — KPJ 186 2
Slide 3 — KPJ 186 3
Slide 4 — KPJ 186 4
Partitur / Not
Partitur Chord KPJ 186
Sejarah Lagu
Lagu **"Urip Kang Smesthine"** (dalam bahasa Jawa berarti: "Hidup yang Seharusnya") adalah sebuah karya rohani yang sangat mendalam dan menyentuh hati banyak jemaat di Indonesia. Lagu ini diciptakan oleh **Johannes Mozes Malessy**, seorang tokoh yang dikenal memiliki kepekaan rohani yang tinggi melalui karya-karya musiknya.

Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik terciptanya lagu tersebut:

### 1. Sosok Sang Pencipta: Johannes Mozes Malessy
Johannes Mozes Malessy bukanlah sekadar komposer lagu rohani biasa. Beliau adalah seorang teolog dan musisi gereja yang memiliki kerinduan besar agar jemaat tidak hanya beribadah secara seremonial, tetapi juga menghayati makna hidup dalam iman kristiani di tengah dunia yang penuh tantangan. Beliau banyak menggubah lagu yang sarat dengan nilai-nilai etika hidup dan kedekatan dengan Tuhan.

### 2. Inspirasi dan Pesan Utama Lagu
Lagu "Urip Kang Smesthine" lahir dari refleksi mendalam Malessy mengenai **tujuan hidup manusia**. Pada masa itu (dan relevan hingga hari ini), Malessy mengamati bahwa banyak orang Kristen yang terjebak dalam rutinitas ibadah, namun kehilangan esensi "hidup yang seharusnya" (hidup yang memuliakan Tuhan).

Pesan utama lagu ini adalah tentang **penyerahan diri**. Liriknya berbicara tentang bagaimana seharusnya manusia menyadari bahwa hidup ini adalah milik Tuhan, dan oleh karena itu, harus dijalani sesuai dengan kehendak-Nya, bukan mengikuti keinginan diri sendiri.

### 3. Filosofi di Balik Lirik
Jika kita membedah liriknya, "Urip Kang Smesthine" adalah sebuah doa permohonan. Berikut adalah poin-poin filosofisnya:
* **Kesadaran akan Kelemahan:** Lagu ini mengakui bahwa manusia sering kali tersesat atau kehilangan arah.
* **Tuhan sebagai Penuntun:** Ada kerinduan untuk dipimpin oleh Roh Kudus agar hidup "lurus" atau "benar" sesuai dengan standar Tuhan.
* **Ketaatan:** Menggambarkan bahwa hidup yang benar adalah hidup yang bersedia untuk dibentuk oleh Tuhan, meski proses pembentukannya (seperti tungku pemurnian) tidak selalu mudah.

### 4. Mengapa Lagu Ini Menjadi "Klasik"?
Lagu ini menjadi sangat dicintai oleh jemaat, terutama di gereja-gereja yang menggunakan bahasa Jawa (seperti GKJW, GKI, atau gereja-gereja di Jawa Tengah dan DIY), karena beberapa alasan:

* **Kedalaman Bahasa:** Penggunaan bahasa Jawa yang halus (krama/madya) memberikan kesan syahdu dan khidmat saat dinyanyikan. Ini membuat doa yang dipanjatkan terasa sangat personal dan intim.
* **Melodi yang Kontemplatif:** Irama lagu ini biasanya lambat dan menuntut pendengar untuk merenung. Musiknya tidak "berteriak", melainkan "berbisik" ke dalam batin.
* **Relevansi Universal:** Meskipun menggunakan bahasa Jawa, pesan lagu ini melampaui sekat suku dan budaya. Siapapun yang mendengarkannya akan merasa diingatkan kembali untuk hidup benar di mata Tuhan.

### 5. Warisan Malessy
Johannes Mozes Malessy melalui lagu ini ingin meninggalkan warisan berupa pengingat bahwa **hidup adalah sebuah perjalanan menuju Tuhan.** "Urip Kang Smesthine" bukan sekadar lagu untuk dinyanyikan di hari Minggu, melainkan sebuah komitmen yang harus dihidupi dari hari Senin hingga Sabtu.

**Kesimpulan:**
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **kerendahan hati**. Malessy menciptakan lagu ini sebagai bentuk protes terhadap gaya hidup yang dangkal, dan mengajak setiap orang untuk kembali pada desain awal Tuhan bagi manusia: hidup dalam kebenaran, kasih, dan ketaatan yang total.

Jika Anda mendengarkan lagu ini sekarang, cobalah untuk menutup mata dan merenungkan setiap baitnya; Anda akan merasakan bahwa lagu ini adalah percakapan jujur seorang anak manusia dengan Penciptanya mengenai bagaimana seharusnya ia berjalan di dunia ini.