Informasi Lagu
222
Nomor
do=D
Nada Dasar
Kode
KPJ 222
Buku
Kidung Pasamuwan Jawi
Nada Dasar
do=D
Ketukan
3/4 ketuk
Metronom
0
Jumlah Bait
3 bait
Pencipta Lagu
Lewis Hartsough (1872)
Pencipta Syair
Lewis Hartsough (1872)
Cross Ref.
KK 82, KJ 13, BE 541, KKb 199
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Dumeling kapyarsa sabawa sung warti, supados sami sadhiya, rawuhnya Njeng Gusti. Gusti paringa manah kang suci, kenging kangge ngrumati rawuhnya Njeng Gusti. Reff
Kabingahan amba saestu nglangkungi, jalaran rawuhing Gusti, jagad den resiki. Reff
Kasucening manah, karesikaning tyas, dede saking labet amba, kejawi mung sihnya. Reff
Slide Lirik 3 slide
Slide 1 — KPJ 222 1
Slide 2 — KPJ 222 2
Slide 3 — KPJ 222 3
Partitur / Not
Partitur Chord KPJ 222
Sejarah Lagu
Kisah detail di balik lagu rohani yang sangat dikenal dan menyentuh hati, "SuaraMu Kudengar" atau "I Am Coming, Lord" / "I Hear Thy Welcome Voice" karya Lewis Hartsough.

Lagu ini bukan sekadar melodi dan lirik, melainkan lahir dari momen spiritual yang mendalam dan respons spontan terhadap panggilan iman.

**Latar Belakang Lewis Hartsough:**
Lewis Hartsough (1828-1919) adalah seorang pendeta Methodist, penginjil, dan penulis lagu asal Amerika. Ia dikenal sebagai seorang yang memiliki karunia musik dan sering memimpin pujian dalam pertemuan kebangunan rohani. Karyanya yang paling terkenal tak lain adalah "I Am Coming, Lord."

**Setting dan Momen Historis:**
Kisah ini bermula pada tahun **1872** di sebuah pertemuan kebangunan rohani (revival meeting) yang diadakan di **Epworth Methodist Church di Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat.** Hartsough saat itu bertugas sebagai pemimpin musik dalam acara tersebut.

Pendeta yang berkhotbah pada malam itu adalah **Rev. H. C. Northcott**. Khotbahnya berpusat pada tema panggilan Tuhan kepada umat manusia untuk datang kepada-Nya, bertaubat, dan menemukan kedamaian dalam Yesus Kristus. Ia mungkin merujuk pada ayat-ayat seperti Matius 11:28, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu."

**Panggilan Altar (Altar Call):**
Di akhir khotbahnya yang penuh kuasa, seperti tradisi dalam pertemuan kebangunan rohani, Rev. Northcott memberikan "panggilan altar" (altar call). Ia mengajak jemaat untuk merespons khotbahnya dengan maju ke depan, mengakui dosa-dosa mereka, menyerahkan hidup kepada Kristus, atau memperbarui komitmen mereka.

Dengan suara yang tulus dan penuh keyakinan, Rev. Northcott bertanya kepada jemaat, **"Will you come to Jesus now?" (Maukah Anda datang kepada Yesus sekarang?)** Atau mungkin ia bertanya, "Is there someone here who will make an immediate decision to follow Christ?" (Adakah seseorang di sini yang akan membuat keputusan segera untuk mengikuti Kristus?)

**Inspirasi yang Spontan:**
Lewis Hartsough, yang duduk di mimbar musik, merasa sangat tersentuh oleh khotbah dan terutama oleh seruan langsung dari Rev. Northcott. Hatinya tergerak oleh Roh Kudus. Ia merasa ada kebutuhan mendesak untuk merespons panggilan tersebut dengan sebuah lagu yang sederhana namun kuat, yang bisa dinyanyikan oleh semua orang saat itu juga. Ia ingin membantu jemaat menyalurkan respons iman mereka dalam bentuk nyanyian.

Dalam momen inspirasi yang luar biasa spontan itu, Hartsough meraih **flyleaf (halaman kosong di awal atau akhir buku) dari buku hymnal-nya** atau mungkin selembar kertas acak yang ia temukan (beberapa versi menyebutkan di atas amplop bekas). Dengan terburu-buru, ia mulai menuliskan lirik dan notasi musiknya.

**Lahirnya Sebuah Himne:**
Hartsough menuliskan lirik pembuka yang langsung menggemakan seruan pengkhotbah dan respons hati orang percaya:

* **Verse 1:**
* I hear Thy welcome voice, that calls me, Lord, to Thee;
* For cleansing in Thy precious blood, that flowed on Calvary.

* **Chorus (Refrain):**
* I am coming, Lord! Coming now to Thee!
* Wash me, cleanse me, in the blood that flowed on Calvary!

Hanya dalam beberapa menit, melodi dan lirik dasar telah terbentuk. Kesederhanaan dan ketulusan liriknya, ditambah dengan melodi yang mudah diingat dan penuh emosi, membuatnya langsung terasa beresonansi dengan hati yang merindukan pengampunan dan perdamaian.

**Nyanyian Pertama dan Dampaknya:**
Begitu Hartsough selesai menuliskan bait pertama dan refrain, ia tidak menunda. Dengan semangat yang membara, ia berdiri dan segera mengajarkan lagu baru ini kepada jemaat yang masih duduk dalam keheningan pasca panggilan altar.

Ia menyanyikan bait pertama dan chorus, kemudian mengulangnya agar jemaat bisa ikut. Tak butuh waktu lama bagi jemaat untuk memahami dan menangkap melodi serta liriknya. Segera, seluruh ruangan gereja dipenuhi oleh suara jemaat yang menyanyikan, **"I am coming, Lord! Coming now to Thee! Wash me, cleanse me, in the blood that flowed on Calvary!"**

Dampak dari nyanyian ini luar biasa. Atmosfer spiritual di gereja semakin mendalam. Banyak orang yang sebelumnya ragu-ragu untuk maju ke depan, kini merasa terdorong oleh lagu tersebut. Lagu itu menjadi ekspresi nyata dari hati yang ingin merespons panggilan Tuhan. Konon, malam itu banyak jiwa yang maju ke depan, menyerahkan hidup mereka, atau memperbarui iman mereka kepada Kristus. Lagu itu menjadi "kendaraan" bagi doa dan keputusan iman mereka.

**Warisan dan Pengaruh:**
Sejak malam itu di Cincinnati, "I Am Coming, Lord" menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Lagu ini menjadi salah satu himne kebangunan rohani yang paling banyak dinyanyikan dan diterjemahkan.

* **Kesederhanaan dan Kejelasan:** Liriknya yang lugas dan langsung menjadikannya sangat efektif. Ia tidak menggunakan bahasa yang rumit, melainkan langsung pada inti hubungan pribadi dengan Tuhan – Tuhan memanggil, dan aku datang.
* **Fokus pada Pengampunan:** Penekanan pada "darah yang mengalir di Kalvari" secara jelas menunjuk pada pengorbanan Kristus sebagai sumber pengampunan dosa.
* **Alat dalam Penginjilan:** Lagu ini menjadi lagu "wajib" dalam kampanye penginjilan, pertemuan kebangunan rohani, dan bahkan dalam gerakan-gerakan sosial seperti gerakan temperance (anti-alkohol) di mana orang-orang didorong untuk meninggalkan kebiasaan buruk dan datang kepada Tuhan.

Hingga hari ini, "SuaraMu Kudengar" / "I Am Coming, Lord" tetap menjadi lagu yang kuat, terus menginspirasi jutaan orang untuk merespons panggilan kasih Tuhan dan datang kepada-Nya dengan hati yang tulus. Kisahnya adalah bukti bagaimana inspirasi ilahi dapat muncul dalam momen yang paling tak terduga dan menghasilkan karya yang abadi.