Informasi Lagu
436
Nomor
Kode
KPJ 436
Buku
Kidung Pasamuwan Jawi
Metronom
65
Jumlah Bait
3 bait
Style
LoveSong
Cross Ref.
KJ 410, KPJ 436, KK 533
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Gusti nuntun lampah kula, saklangkung nggèn kula begja Celak miwah tebih ugi, kula tansah dipun kanthi Reff Nggih Gusti kang nganthi kula, astanya pyambak kang ngreksa Mila kula manut Gusti, Juru wilujeng sejati.
Dadosa ing wanci siyang punapa kesaput ratri, tyas peteng utawi padhang, kula tansah dipun kanthi
Gusti nuntun, kula pasrah klayan nrimah ing satitah. Sanadyan ta dugèng janji, kula tansah dipun kanthi.
Slide Lirik 3 slide
Slide 1 — KPJ 436 1
Slide 2 — KPJ 436 2
Slide 3 — KPJ 436 3
Partitur / Not
Partitur Chord KPJ 436
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu rohani yang sangat dicintai, "Tenanglah Kini Hatiku" atau aslinya "He Leadeth Me," adalah cerita yang mengharukan tentang inspirasi ilahi, kesederhanaan, dan bagaimana sebuah refleksi pribadi dapat menjadi sumber kekuatan bagi jutaan orang. Lagu ini melibatkan dua tokoh utama: **Joseph Henry Gilmore** yang menulis liriknya, dan **William Batchelder Bradbury** yang menggubah melodinya.

Mari kita selami kisah detailnya:

---

### Bagian 1: Inspirasi di Tengah Badai (Joseph Henry Gilmore)

**Konteks Waktu dan Tempat:**
Kisah dimulai pada bulan **Desember 1862**, di tengah-tengah **Perang Saudara Amerika** yang berkecamuk. Ini adalah masa-masa yang penuh ketidakpastian, kesedihan, dan kecemasan mendalam bagi bangsa Amerika. Ribuan nyawa telah melayang, keluarga terpecah, dan masa depan tampak suram.

**Sang Pendeta dan Khotbahnya:**
**Joseph Henry Gilmore** (1834-1918) adalah seorang pendeta Baptis, akademisi, dan putra dari Gubernur New Hampshire. Pada waktu itu, ia menjabat sebagai pendeta pengganti di **First Baptist Church di Philadelphia, Pennsylvania**.

Pada suatu hari Minggu yang dingin di bulan Desember, Gilmore berkhotbah tentang **Mazmur 23**. Mazmur ini, dengan gambaran tentang Gembala yang Baik dan domba-domba-Nya, telah lama menjadi sumber penghiburan. Namun, di tengah kekacauan perang, frasa "Ia membimbingku... Ia menuntun aku ke air yang tenang" (ayat 2-3) terasa memiliki makna yang jauh lebih dalam dan mendesak.

Gilmore tidak hanya berkhotbah secara intelektual; ia menyampaikan pesannya dengan hati yang terhubung langsung dengan kondisi jemaatnya dan negaranya. Dia menjelaskan bahwa bimbingan Tuhan bukanlah sekadar bimbingan seorang gembala kepada domba secara fisik, melainkan tuntunan spiritual yang konstan dalam setiap aspek kehidupan – baik dalam kegembiraan maupun kesedihan, dalam keberhasilan maupun kegagalan, dalam damai maupun perang.

**Momen Penulisan Lirik:**
Setelah khotbah yang menyentuh itu, Gilmore pergi makan siang di rumah salah satu jemaatnya, yaitu Mr. dan Mrs. Watts. Saat duduk di meja makan, pikiran dan perasaannya masih dipenuhi oleh kebenaran Mazmur 23 dan kebutuhan manusia akan bimbingan ilahi.

Dalam sebuah wawancara bertahun-tahun kemudian, Gilmore mengingat momen itu:
"Saya tidak pernah punya ide untuk menulis himne. Pada akhir kebaktian khotbah pada hari itu, di mana saya berbicara tentang Mazmur 23, dan terutama menekankan arti dari kata-kata 'Dia membimbingku,' ketika saya duduk untuk makan siang di rumah saudara kita, dan saya tidak dapat mengingat nama mereka sekarang, inspirasi tiba-tiba datang dan saya menuliskan kata-kata itu di selembar kertas pembungkus dari sebuah buku himne."

Dengan cepat, ia mencoretkan bait-bait lirik yang mengalir dari hatinya yang terinspirasi. Ia memberikannya kepada istrinya, yang menyukainya. Namun, Gilmore sendiri tidak terlalu memikirkannya lagi. Baginya, itu hanyalah sebuah ekspresi pribadi yang spontan, sebuah catatan kecil dari perenungan di tengah badai. Ia bahkan tidak menyalinnya ke buku catatannya dan tidak pernah menyangka bahwa puisi singkat itu akan menjadi lagu yang mendunia.

**Lirik Asli Joseph Henry Gilmore (1862):**

He leadeth me! O blessed thought!
O words with heav'nly comfort fraught!
Whate'er I do, where'er I be,
Still 'tis God's hand that leadeth me.

*Refrain:*
He leadeth me, He leadeth me,
By His own hand He leadeth me;
His faithful foll'wer I would be,
For by His hand He leadeth me.

Sometimes 'mid scenes of deepest gloom,
Sometimes where Eden's flowers bloom,
By waters still, o'er troubled sea,
Still 'tis His hand that leadeth me.

Lord, I would clasp Thy hand in mine,
Nor ever murmur nor repine;
Content, whatever lot I see,
Since 'tis my God that leadeth me.

And when my task on earth is done,
When, by Thy grace, the vict'ry's won,
E'en death's cold wave I will not flee,
Since God through Jordan leadeth me.

---

### Bagian 2: Melodi yang Menyatukan (William Batchelder Bradbury)

**Penemuan Kembali Lirik:**
Beberapa tahun kemudian, Gilmore pindah dari Philadelphia. Entah bagaimana, lirik yang ia tulis secara spontan itu ditemukan oleh seorang teman, **Reverend Robert Lowry** (seorang komposer himne terkenal lainnya, yang menulis "Shall We Gather at the River"). Lowry menyadari potensi besar dari puisi Gilmore yang sederhana namun penuh makna.

**Peran William Batchelder Bradbury:**
Lowry kemudian mengirimkan lirik tersebut kepada **William Batchelder Bradbury** (1816-1868). Bradbury adalah salah satu komposer himne dan lagu sekolah Minggu paling produktif di Amerika pada abad ke-19. Ia dikenal karena kemampuannya menciptakan melodi yang mudah diingat, menyentuh hati, dan cocok untuk dinyanyikan oleh jemaat awam. Karya-karyanya seperti "Jesus Loves Me" dan "Just As I Am" adalah contoh kejeniusannya dalam hal ini.

Ketika Bradbury menerima lirik Gilmore, ia sangat tergerak oleh pesan penghiburan dan kepercayaan yang terkandung di dalamnya. Ia segera menggubah melodi untuk lirik tersebut, menciptakan lagu yang sekarang kita kenal. Melodinya sederhana, khusyuk, namun penuh harapan, dengan ritme yang stabil yang secara sempurna mencerminkan gagasan tentang bimbingan ilahi yang teguh.

Bradbury menamai melodi ini **"AUGHTON"** atau terkadang disebut **"BRADBURY"** dan menerbitkannya pada tahun **1864** dalam buku lagu sekolah minggunya, **"Golden Censer."**

**Reaksi dan Penyebaran:**
Segera setelah diterbitkan, lagu "He Leadeth Me" menjadi sangat populer. Pesan yang menghibur tentang tuntunan Tuhan di tengah kesulitan sangat resonan dengan jiwa bangsa Amerika yang masih berjuang melewati dampak perang. Lagu ini menawarkan oasis spiritual, pelukan rohani yang sangat dibutuhkan di masa-masa penuh gejolak.

Gilmore sendiri sangat terkejut ketika ia mendengar lagunya dinyanyikan di banyak gereja. Ia tidak pernah menyangka bahwa tulisan spontannya akan menjadi begitu terkenal dan dicintai. Ia sering mengungkapkan rasa syukurnya bahwa Tuhan telah menggunakan sebuah momen kecil inspirasi untuk menghasilkan sesuatu yang begitu berarti bagi banyak orang.

---

### Legasi Abadi

"He Leadeth Me" terus menjadi salah satu lagu rohani yang paling banyak dinyanyikan di seluruh dunia. Diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk **"Tenanglah Kini Hatiku"** dalam bahasa Indonesia, lagu ini tetap relevan dan powerful.

Melalui lirik Joseph Henry Gilmore yang jujur dan tulus, dipadukan dengan melodi William Batchelder Bradbury yang sederhana namun indah, lagu ini menjadi pengingat abadi bahwa di tengah segala kerumitan dan ketidakpastian hidup, ada tangan tak terlihat yang membimbing, menuntun kita menuju kedamaian dan tujuan ilahi. Ini adalah lagu tentang iman, kepercayaan, dan kepastian bahwa kita tidak pernah berjalan sendirian.